Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
[ Flashback ] Hega Nakal


__ADS_3

AUTHOR


Hega memang menuruti kekasihnya untuk berhenti bicara, tapi kemudian dengan jahilnya pemuda itu justru membuka mulutnya dan malah menggigit lembut telunjuk Moza saat gadis itu tengah lengah menoleh ke arah lain.


Hega mengecap dan melum😘t lembut jari Moza di dalam mulutnya. Seolah jari Moza adalah permen lolipop yang memberikan rasa manis di lidahnya.


D E G . . .


" Arrrggggh.... Apa yang kakak lakukan ? " Teriak Moza sambil menarik jari telunjuknya dari mulut Hega. Jantungnya hampir melompat keluar dari tubuhnya saking syoknya dengan ulah nakal kekasih tampannya itu.


" Memangnya apa yang aku lakukan, hem ? " Hega malah tersenyum datar dengan ekspresi wajah tanpa dosa.


" I-itu tadi, yang barusaja... " Moza semakin gelagapan.


" Memang kenapa ? " Masih pura-pura tidak mengerti dengan ekspresi menggoda.


" Memang kenapa kakak bilang ? " Pekik Moza yang merasa kesal setengah mati, menyipitkan kedua matanya sengit ke arah Hega.


" Iya kenapa ? " Hega memang sangat ahli membuat gadisnya terjepit dalam situasi yang justru akan memberikan menguntungkan bagi Hega sendiri nantinya.


" Ten-tentu sa-ja i-itu mem-buatku.... " Kalimat Moza semakin terbata-bata.


" Membuatmu apa, hem ? " Hega dengan jahilnya malah semakin mendekatkan diri ke arah tubuh Moza, mencondongkan wajahnya mendekat ke wajah kekasihnya yang sudah merah padam merona.


" Berhenti disitu, Kak ! Jangan mendekat ! " Moza yang terpojok di dinding tidak bisa lagi menghindar, gadis itu menatap ketus dan mengacungkan jari telunjuknya ke arah Hega.


Tapi bukannya menurut, pemuda itu malah semakin mendekat dengan senyum penuh arti tersungging di bibirnya.


Sejak kapan kak Hega jadi senakal ini si ? Apa memang dia berbakat nakal dari lahir ?!


Hega melempar handuk yang tadi ia gunakan menyeka keringatnya ke sembarang arah. Mengurung gadis itu dengan kedua tangannya bertumpu di dinding di samping kanan dan kiri tubuh Moza. Kemudian menatap bola mata indah milik kekasih cantiknya yang selalu membuatnya tidak bisa menahan diri.


" Kak... " Ucap Moza lirih. Gadis itu sudah tidak bisa kabur karena tubuhnya terhimpit antara dinding dan tubuh kekar kekasihnya.


" Hmm... " Hega memiringkan sedikit kepalanya.


" Ja-ngan se-seperti inii, Kak ! Na-nanti ada yang lihat. " Lirih Moza gelagapan.


" Memangnya kamu kira kita akan melakukan apa, hem ? Sehingga kamu takut dilihat orang. " Jurus andalan Hega mulai beraksi, bermain kata-kata adalah salah satu keahliannya.


Eh... Kenapa kedengarannya jadi aku si yang seolah berpikiran yang tidak-tidak ?! Kak kakak yang bertindak seenaknya dan membuat pikiranku traveling kemana-mana. πŸ™„πŸ™„


Moza mendelikkan kedua matanya kesal.


" Maksudku bukan begitu, Kak. A-aku...." Seketika otak Moza seperti dicuci bersih, kosong melompong, tidak bisa digunakan untuk berfikir jernih, dan tidak bisa melawan apapun ucapan pemuda yang sudah menguasai pergerakan tubuhnya.


" Tidak akan ada yang lihat. " Bisik Hega di telinga Moza dan kemudian menatap intens manik mata gadisnya.

__ADS_1


" Kak .... " Lirih Moza.


Hega kembali tersenyum, " Emph....." Dan dalam hitungan detik bibir Hega sudah mendarat di bibir Moza, menghentikan Moza yang masih ingin bicara.


Dengan sangat perlahan bibir Hega menyapu bibir ranum gadis kesayangannya, meraih tengkuk Moza


dengan tangan kirinya dan melingkarkan tangan kanannya di pinggang gadis itu.


Hega yang sedari awal hanya berniat ingin menggoda kekasihnya itu malah justru dirinya jatuh terbuai karena ulahnya sendiri.


Hega tahu ini tidak benar, tapi tubuhnya mengkhianati logikanya, mengkhianati akal sehat dan melumpuhkan kewarasannya.


Bukannya berhenti, Hega malah melanjutkan aktivitasnya di bibir gadis cantik yang masih diam tidak bergerak seolah tersihir oleh tindakan Hega yang tiba-tiba. Ciuman mereka semakin dalam, Hega melum😘t lembut bibir gadis yang dicintainya.


Sejak ciuman pertama mereka di villa dua minggu yang lalu, Hega terus berusaha menahan diri supaya tidak lagi lepas kendali.


Kegiatan baru yang menjadi candu untuknya, Hega yang dulunya selalu bisa mengendalikan diri, tapi tidak untuk saat ini, kali ini berbeda benar-benar berbeda, hasratnya terlalu kuat untuk dibendung lagi. Berduaan dengan Moza membuatnya sering kehilangan akal.


Awalnya Moza berusaha berontak dari serangan Hega yang tidak terduga itu. Namun kekuatan tangannya yang berusaha mendorong Hega menjauh justru semakin melemah.


Kini kedua tangan Moza justru mencengkeram erat kaos Hega di bagian dada, membuat kaos yang sedikit basah karena keringat itu semakin terlihat kusut.


Samar-samar gadis itu bahkan bisa merasakan roti sobek abs di perut Hega yang tertutup kaos yang tengah diremasnya itu, membuat rona merah di pipinya semakin jelas terlihat.


Moza memejamkan kedua matanya saat ciuman Hega semakin menggoda bibirnya, apalagi saat pemuda itu menghisap bergantian bibir atas dan bawahnya. Kemudian sedikit memberikan gigitan lembut membuat gadis itu mau tidak mau memberikan celah pada Hega untuk bisa memperdalam ciumannya.


Jika saja lengan kokoh Hega yang melingkar di pinggang Moza tidak menahan tubuh gadis itu, maka sudah sedari tadi tubuh Moza akan beringsut jatuh ke lantai.


Aaah... Hega sudah lepas kendali, sedangkan Moza masih pasif dalam kuasa kekasihnya, tidak membalas perlakuan Hega di bibirnya, bukan karena malu atau apa. Tapi memang gadis itu benar-benar masih sangat polos untuk urusan percintaan apalagi berciuman.


Sedangkan bagi Hega sendiri, meskipun Moza adalah gadis pertama yang diciumnya. Tapi insting seorang pria tentu tidak bisa disamakan dengan seorang wanita. Hega seolah sudah lihai dalam hal berciuman, padahal sama halnya dengan Moza, ini juga adalah ciuman kedua bagi Hega setelah first kiss mereka di villa beberapa wakti yang lalu.


Cukup lama mereka terhanyut dalam ciuman hangat dan dalam itu. Hingga keduanya hampir kehabisan nafas, jantung keduanya berdebar bersahutan, nafas keduanya ngos-ngosan.


Mereka sama-sama bisa merasakan deru nafas mereka yang sudah sama-sama tersengal, tapi tidak juga berniat menghentikan ciumannya, kedua pipi Moza merona sangat merah. Hega menghentikan aksinya saat dirasa nalarnya hampir dibutakan oleh hasrat kelelakiannya.


Bagaimanapun kuatnya dia menahan diri, Hega juga hanyalah seorang pria normal yang bisa saja tergoda untuk mendapatkan lebih dari yang baru saja dinikmatinya.


Bagaimanapun ini adalah pertama kalinya setelah 26 tahun kehidupannya Hega mengalami masa seperti ini. Jatuh cinta dan menginginkan seorang wanita yang membuatnya selalu lepas kendali.


Mungkin benar apa yang dikatakan kakek Suryatama, bersama dengan gadis yang dicintainya dalam satu atap bisa jadi membuatnya kesulitan untuk mengontrol dirinya lagi.


Hega melepaskan pagutannya, nafas keduanya menderu, Hega kemudian menempelkan keningnya di kening Moza, hidung mancung keduanya juga ikut menempel.


Hega mengusap bibir Moza dengan ibu jarinya dengan posisi yang tidak berubah sedikitpun.


Jantung Hega berdetak tidak beraturan, sama halnya dengan yang dirasakan oleh Moza.

__ADS_1


Terlihat jelas kegugupan gadis cantik itu saat tanpa sadar Moza menggigit bibir bawahnya sendiri, membuat Hega sepertinya akan menggila jika terus bertahan disana.


Hega kemudian mengecup kening Moza dengan lembut dan memeluk erat gadis itu. Memejamkan matanya sejenak berusaha mengembalikan kewarasannya.


" Maaf. " Bisik Hega dengan suara parau, mengecup pucuk kepala Moza dan mengelus lembut rambut panjang kekasihnya yang terurai.


Gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang Hega, pikirannya melayang entah kemana, tatapan matanya kosong menerawang.


" Ayo. " Hega melepaskan pelukannya, menautkan jarinya di jari-jari kekasihnya.


" Ah.... Kemana ?! " Moza tersentak, seketika tersadar dari lamunannya, nalarnya jelas belum kembali sepenuhnya.


" Keluar dari sini. Kalau kita tetap disini, aku tidak jamin bisa menahan diri lagi. " Tutur Hega jahil seraya mengerlingkan satu matanya menggoda.


" Eh... " Moza kembali merona, wajahnya terasa panas dan tubuhnya masih gemetar.


" Ayo, lagipula aku sudah selesai berolahraga, aku akan mandi dulu lalu kita bisa sarapan bersama. " Menggenggam lembut telapak tangan Moza dan menariknya keluar ruangan olahraga.


" Ah... Iya, sarapan. " Baru lah gadis itu teringat apa tujuannya tadi mencari kekasihnya itu, untuk mengajaknya sarapan.


Tapi yang terjadi justru tidak bisa dibayangkan oleh Moza, bukannya memanggil Hega untuk segera menyudahi kegiatan olahraganya dan sarapan bersama, mereka malah sarapan bibir di ruang olahraga.


Moza sangat malu mengingatnya, wajahnya benar-benar memerah seperti kepiting rebus.


~ Flashback End ~


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...



Yang belum puas lihat penampakan Bang Hega yang habis olahraga. Inih Thor kasih bonus lagi visualnya.


Eh ada yang komentar kalau babang Hega kurang gagah loh ? Maklum chapter2 sebelumnya Bang Hega selalu rapi pakai baju tertutup, kagak kelihatan ototnya.


Nah kalau udah lihat kek gini, sudah cukup gagah dan seksi kan Bang Hega kita ?!! 😁😁😁


HEGA : Berisik !! Ganggu gue lagi selca aja lu thor....


Hadeh, tumbenan situ narsis di kamera si ?!


HEGA : Mau gue kirimin foto gue ke Momo thorr...


Apa faedahnya coba ?!


HEGA : Biar Momo makin klepek-klepek sama gue...


Serah lu dah....

__ADS_1


__ADS_2