
AUTHOR
PRAAANG....
Tinjunya secepat kilat melayang ke arah lemari kaca yang tepat berada di belakang Alina.
Kaca lemari pajangan pecah berhamburan ke lantai, darah segar mulai mengalir dari punggung tangan Hega.
Tapi bahkan pemuda itu tidak terlihat kesakitan sama sekali seolah luka di tangannya bukanlah apa-apa.
Kemarahan membutakan indera perasanya, yang ada di kepalanya saat ini hanyalah secepat mungkin menyingkirkan parasit yang mengganggu kekasihnya.
Alina membekap mulutnya, berusaha menahan tangisnya. Untuk pertama kalinya Alina melihat sisi mengerikan dari pria yang sangat dicintainya.
Gadis itu beringsut lemah, tubuhnya terjatuh di lantai dan masih sesenggukan menahan tangisnya.
Hega yang selama ini selalu tenang dalam menyelesaikan segala permasalahan. Logikanya selalu berfungsi sempurna, semarah apapun dirinya tidak pernah sekalipun meggunakan tinjunya secara langsung saat menghadapi hal yang menyulut emosinya.
Tapi sungguh kali ini berbeda, kehadiran seorang Moza Artana memang memberikan banyak perubahan pada diri pemuda itu.
Yang dilihat Bara selama ini mungkin baru sisi menggelikannya saja dari seorang pria yang sudah terlanjur menjadi budak cinta kekasihnya.
Dan Bara tak menyangka dirinya akan melihat sisi mengerikan dari pria bucin yang beberapa hari ini menjadi bahan bullyannya atas kebucinan pemuda itu.
Entah sudah berapa kali Bara menghela nafas berat dan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Ga, tenang dulu. " Bara mendekati Hega yang terlihat sangat menakutkan.
Bara benar-benar sedang dalam kesulitan, bukan hanya Hega satu-satunya yang butuh ditenangkan.
Pemuda yang ada di sampingnya juga tak kalah menakutkannya.
Ekspresi Julian sama murkanya, kecelakaan Moza beberapa minggu lalu saja masih membuatnya ingin sekali mencekik leher Selena.
Jika saja Hega tidak menahannya mungkin Julian sudah mendamprat habis perempuan yang sudah mencelakai sahabatnya itu.
Saat itu Hega bukannya tidak mau bertindak, tapi pemuda itu masih ingin fokus pada kesembuhan kekasihnya.
Dan tentu saja dengan kemampuan Hega, tidak sulit untuk membalas kejahatan yang telah diperbuat oleh anak tiri dari Joseph Grace itu.
" Dek, sebaiknya lo bawa Julian ke atas. Lihat kondisi Momo cantik. Temani sahabat-sahabat kalian. " Ucapnya pada Dimas yang masih mematung di tempatnya.
" Bang. " Sela Julian, bola matanya terlihat memerah menahan amarah, kedua tangannya mengepal geram.
" Kali ini aja jangan bantah gue dek, para gadis itu juga pasti tak kalah syok dengan kejadian ini. Kalian sebagai sahabat mereka yang paling dekat dengan mereka, mereka butuh kalian disana. " Bara menepuk bahu Julian, pemuda itu pasrah, mengangguk dan berjalan gontai menuju lantai 3.
" Huft. " Bara menghela nafas berat, tinggal satu lagi si keras kepala yang harus dibujuknya agar tenang.
Dan Bara tahu ini tidak akan mudah, Bara memberikan isyarat pada Aliza untuk membawa Alina ke dalam kamar.
Wanita itu mengangguk dan membantu adik sepupunya untuk berdiri dan memapahnya kembali ke kamar mereka.
Hega terlihat sangat kacau, sorot matanya diselimuti kebencian dan amarah yang sangat besar. Hega sudah menjatuhkan tubuhnya di atas sofa setelah meninju habis lemari pajangan berisikan beberapa buku dan barang-barang lainnya.
Hega bersandar di sofa dan menengadahkan kepalanya ke atas, menutup matanya dengan lengan kanannya.
Sedangkan lengan kirinya dibiarkan menjuntai di sisi badannya dengan darah masih menetes di sana, mengotori sofa dengan noda merah.
Hening beberapa saat. Bara masih menunggu reaksi sahabatnya, Bara tahu kemarahan Hega belum mereda.
" Dimana dia ? " Tanyanya dengan sorot mata yang menakutkan saat disadarinya hanya tinggal Bara saja yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
" Alina gue suruh berdiam di kamarnya. " Jawab Bara tenang.
" Panggil dia Bar ! " Pinta Hega dingin.
" Dan jangan lupakan wanita itu ! " Tambahnya sebelum Bara sempat bersuara.
" Ga, tenangkan dulu diri lo ! " Bara menelan salivanya dengan susah payah.
Dia tahu betul apapun yang diucapkannya saat ini tidak akan mampu mempengaruhi keputusan seorang Hega Saint.
" Gimana gue bisa tenang Bar ?! Beraninya perempuan itu mengulang kejahatannya. Gue bahkan belum memberikan balasan yang setimpal atas kejahatannya waktu itu. " Kalimatnya terasa jelas penuh dendam, ya, tentu saja Bara memahaminya. Tapi situasi sedang tidak pas untuk menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.
" Arrggh...." Tak mendapat respon dari sahabatnya, Hega kembali mengerang marah.
" Bawa wanita itu kesini Bar ! " Ucapnya kemudian, menatap jengkel pada pria yang masih berdiri di hadapannya.
" Ga. " Bara hanya bisa memanggil nama sahabatnya dengan parau.
" Bar, jangan buat gue mengulang untuk kedua kali ! " Kali ini bukan lagi permintaan, tapi Hega mengucapkannya dengan nada memerintah.
Bara tak tahu apa lagi yang harus diicapkannya untuk menenangkan sahabatnya. Untunglah ditengah-tengah keputus asaan, Derka datang bak seorang ksatria yang muncul dalam keadaan genting.
Kedua pria itu saling tatap, Bara terlihat bagaikan seorang jendral yang kehabisan strategi untuk menenangkan sang raja yang tengah murka di medan perang.
Yang siap mengamuk dan membantai siapa saja yang menghalangi jalannya.
" Ga, istri cantik lo udah bangun, buruan naik temui dia ! Dia pasti butuh lo sekarang. "
Mendengar ucapan Derka, amarah Hega seolah mulai mereda. Ya begitulah memang Derka selalu menyebut Moza setiap kali berbicara pada Hega, padahal awalnya Derka ingin menyebut gadis itu dengan sebutan adik ipar, toh memang usia Derka lebih tua beberapa bulan dari Hega. Tapi Hega selalu memelototinya dengan tajam dan mengatakan,
Gue gak punya kakak buaya macam lo. Jadi jangan panggil tunangan gue seperti itu. Lo gak layak !
Tapi pembawaan Derka yang santai membuatnya tak ambil pusing dengan ucapan menjengkelkan Hega, toh memang Derka sudah paham betul sisi sahabatnya yang seperti itu
Arogan dan menyebalkan, ditambah lagi mulut pedas dan tampang juteknya yang akan membuat siapapun yang melihatnya saja malas untuk berinteraksi dengannya.
Tapi yang membuat Derka dan Bara heran, entah mengapa sisi Hega yang seperti itu tak membuat para wanita menjauhinya, justru sebaliknya semakin menggilai pemuda yang bahkan tidak ada manis-manisnya itu ketika menghadapi wanita.
" Bar ! " Hega melirik Bara dengan tajam.
" Pergi sana, gue yang akan urus sisanya. Bener kata Derka, Momo cantik lebih butuh kehadiran lo. "
" Der, bantu Hega bersihin luka di tangannya terlebih dulu ! " Sambung Bara menunjuk punggung tangan Hega dengan ekor matanya.
" Gak perlu ! " Tolaknya dan hendak beranjak dari duduknya.
" Haish...ย Lo mau buat istri lo pingsan lagi liat tangan lo luka dan penuh darah kayak gitu ?! "
" Ck..." Hega hanya bisa pasrah dan berdecak malas menganggapi ucapan Bara yang memang benar adanya.
Dengan terpaksa ia menurut, menunggu Derka membersihkan lukanya dan memberi perban di telapak tangan kirinya.
๐ป๐ป๐ป
~ Di Kamar Utama, Kamar Hega ~
Moza masih terlelap dalam tidurnya, Deana duduk di pinggir ranjang menemani sahabatnya.
Sedangkan ketiga gadis lainnya terkulai lemah di sofa tak jauh dari ranjang besar yang ditempati Moza.
Julian tampak bersedekap dan bersandar di dinding, menatap lekat kondisi sahabatnya yang terbaring lemah. Begitu juga Dimas yang duduk di kursi kecil di dekat ranjang.
__ADS_1
Semua terperanjat saat Hega memasuki kamar diikuti oleh Bara dan Derka di belakangnya.
Dimas segera bangkit dari kursinya, ikut bersandar di samping Julian.
" Hei, lo bilang Momo cantik udah bangun ? " Bisik Bara lirih merangkul bahu Derka.
" Lo kira kalau gue gak ngomong gitu, tuh iblis bakal bisa lo atasi apa ?! " Ikut berbisik.
Hega menarik kursi yang tadi diduduki oleh Dimas, mendekatkan kursi itu tepat di sisi ranjang.
" Apa dia tertidur ? " Hega bertanya pada Deana yang sedari tadi duduk bersila di atas ranjang di samping tubuh Moza, Hega kemudian mengelus kepala Moza lembut.
" Iya tadi habis diberi suntikan Momo langsung tidur bang. " Deana mengangguk pelan.
Mendengar jawaban Deana tentu saja Hega langsung melirik tajam ke arah Derka.
GLEK....
Mati gue ! Tolongin gue Bar ! ~ Derka ~
...๐งก๐๐๐๐โค...
...Curhatan atau ghibahan ? ๐...
Bacanya kan gratis, poin vote juga didapat gratis tanpa harus keluar uang.
So, apa salahnya sumbang VOTE buat author...
Jika kalian enggan vote minimal kalian tidak lupa like dan komentar ya.
Beban kah bagi teman-teman memberikan apresiasi kepada para author ?
Tidak hanya saya ya,
...All the authors whose works you read...
...Please appreciate their efforts...
...Please support us......
...๐...
...Like...
...โค...
...Komentar juga dong...
...๐...
...Lanjut Vote ๐...
...๐งก...
...Next Follow Author ya ๐...
...๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐...
...Kalau banyak yang vote...
...Malam ini Babang Hega Up lagi ๐...
__ADS_1