
" Simpanlah, karena jika kamu menolak maka akan kubuat kamu jatuh cinta padaku dan dengan sukarela memakai kembali kalung itu di lehermu. " Jawab Hega penuh percaya diri.
Ahhhh..... Percaya diri sekali sih ? Apa dia bersikap begitu karena dia sadar kalau dirinya itu tampan ?
Ish.... ~ Moza ~
" Cih, kakak percaya diri sekali sih ? " Cibir Moza tersenyum getir.
" Terima kasih. " Ucap Hega dengan nada bangga meskipun dia sadar kalimat gadis itu bukan pujian melainkan sindiran.
Arrgggg itu sindiran tau, kenapa malah kamu artikan sebagai pujian sih ? ~ Moza ~
" Kenapa kakak begitu menyebalkan ? " Kepercayaan diri Hega membuat Moza semakin kesal.
" Jika aku tidak begitu, mana mungkin aku bisa membuat kamu nyaman padaku ? " Balas lelaki itu.
" Cih siapa bilang aku begitu ? " Decak Moza mengelak, padahal yang dikatakan Hega memang benar jika dirinya nyaman berada didekat pemuda itu.
" Buktinya kamu sekarang duduk manis bersamaku, berarti kamu merasa nyaman berada di dekatku kan ? Kalau tidak mana mungkin..... " Lagi-lagi dengan penuh percaya diri Hega membuat gadis di hadapannya seolah tak berkutik
" Baiklah iya iya cukup, jangan dilanjutkan. " Moza pasrah menanggapi lelaki yang dianggapnya sangat pandai bicara itu.
" Jadi kakak tidak akan memberikan aku pilihan untuk menolak kakak ? " Lanjut sang gadis.
" Tentu saja pilihan itu tetap ada. " Jawab Hega santai dengan senyum miring penuh arti.
" Tapi tadi kakak bilang kakak akan .... " Balum juga Moza menyelesaikan kalimatnya, pria itu kembali menyela.
" Pilihan itu tetap ada, tapi aku kan tidak bilang jika aku akan membiarkanmu memilih pilihan itu. " Seloroh Hega datar.
" Hah.... Bukankah itu sama saja dengan aku tidak punya pilihan lainnya selain menerima kakak ? " Kalimat Hega semakin membuat kekesalan Moza mencapai puncaknya.
" Memangnya kamu ingin menolakku ? " Tanya Hega dengan menekankan kata 'menolakku'.
" Siapa yang tahu ? " Jawab gadis itu acuh.
" Jangan pernah sedikitpun berpikir untuk menolakku ! " Ucap pemuda itu dengan nada sedikit memerintah.
" Itu kan terserah aku kak, kakak tidak bisa mengatur perasaanku. " Malas mengomentari lagi, Moza masih menjawab dengan nada acuh.
" Memang benar, tapi bukankah sudah kukatakan jika aku akan membuatmu mencintaiku. Jadi lebih baik gunakan waktumu untuk mencintaiku juga daripada berpikir untuk menolakku, yang pastinya itu juga akan menyakiti hatimu nanti. " Tegas pemuda itu penuh keyakinan.
" Aaaaa.... Kenapa kakak tidak bisa berhenti bersikap seenaknya sih. " Hega yang sudah menyentuh batas kesabaran Moza itu membuat gadis itu sedikit berteriak frustrasi.
" Karena kamu begitu berharga untuk aku abaikan begitu saja, jadi aku tidak akan pernah menyerah padamu. " Namun pemuda itu tetap tenang menanggapi teriakan sang gadis.
" Huh... Terserah, lakukan saja apa yang kakak inginkan. " Lelah berdebat akhirnya membuat gadis itu pasrah.
" Benarkah aku boleh melakukan apapun yang aku inginkan ? " Tanya Hega dengan nada nakalnya.
" Iya, aku sudah lelah berdebat dengan kakak. " Lagi-lagi Moza hanya bisa pasrah.
" Jangan menyesal sudah mengatakannya ya ! "
__ADS_1
" Tentu saja, lagipula apa lagi yang mau kakak lakukan yang bisa membuatku lebih kesal dari ini. " Cibir sang gadis sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.
" Baiklah, jadi bersiaplah. " Ucap Hega sambil beranjak dari kursinya, berdiri di samping kursi gadis itu, membungkukkan badannya sehingga kepalanya sejajar tepat di hadapan Moza.
Perlahan menyentuh bibir Moza dengan ibu jarinya.
Deg....
" Aaaahhhh.... Apa yang mau kakak lakukan ? " Berusaha menghindar menjauhkan bibirnya dari sentuhan Hega.
Namun dengan sigap lagi-lagi Hega menahan tengkuk gadis itu dengan tangan kirinya, membuat Moza semakin gelagapan tetapi tak bisa meloloskan diri.
Jarak keduanya saat ini begitu dekat, membuat keduanya sama-sama merasakan jantung mereka berdegup kencang.
Glek....
Sial aku kan hanya ingin menggodanya saja, tapi kenapa sekarang aku jadi benar-benar ingin mencium bibir mungil yang hobi menggerutu ini ? ~ Hega ~
Dia mau melakukan apa padaku ? Terlebih di tempat umum seperti ini. Hei.... gila juga harus ada batasnya dong. Memangnya kita sedang syuting drama korea apa ? ~ Moza ~
" Kamu benar-benar seperti anak kecil, belepotan saat memakan es krim. " Ucap Hega kemudian sambil mengusap lembut bibir Moza yang belepotan es krim.
Menyadari pikiran konyol yang sempat terlintas di kepalanya membuat gadis itu reflek berteriak saat sadar Hega hanya ingin menghapus sisa es krim di bibirnya.
" Ahhh..... Kenapa tidak mengatakannya saja sih ? Aku bisa membersihkannya sendiri. " Ucap gadis itu gelagapan.
" Memangnya apa yang kamu pikir akan aku lakukan ? " Tanya Hega menggoda sambil melepaskan tangannya dari tengkuk Moza kemudian kembali duduk di kursinya.
Gak mungkin kan aku bilang kalau aku berpikir kamu akan menciumku ? Memangnya aku mesum apa ? ~ Moza ~
" Manis. " Ucap Hega kemudian setelah memasukkan jari yang tadi digunakannya mengusap bibis gadis itu ke dalam mulutnya sendiri, menjilat sisa es krim yang menempel disana.
" Ugh.... Tentu saja manis, itu kan es krim. "
" Sepertinya karena menempel di bibirmu yang membuat es krim ini terasa lebih manis. Aku jadi ingin tahu bagaimana rasanya...... " Ucap Hega menggoda dan sengaja menggantung kalimatnya.
" Kak...... " Teriak Moza marah sekaligus malu mendengar kalimat pemuda itu.
" Pft.... Kenapa ekspresimu sangat imut sih ? Ayo aku antar kamu ke kampus, bukankah kamu ada jadwal kuliah jam 9 pagi. " Ucapnya sambil beranjak dari kursinya dan membelai lembut kepala Moza.
Gadis itu kemudian mengekor di belakang pemuda itu, diam-diam merutuki Hega dari balik punggungnya.
Hega yang bisa menebak apa yang dilakukan gadis itu di belakangnya, hanya bisa tersenyum gemas tanpa sedikitpun menoleh ke belakang.
Kedua pasangan itu entah sejak kapan mulai menjadi pusat perhatian dimanapun mereka berada. Pasangan yang terlihat sangat serasi, pria tampan gagah dan dewasa, bersanding dengan seorang gadis cantik mungil dan manja.
Padahal hampir setiap mereka bersama akan selalu ada perdebatan konyol yang terjadi.
β’
β’
πππ
__ADS_1
Perjalanan selama kurang lebih 30 menit menuju kampus Moza, baru saja hendak turun dari mobil setelah Hega membantu melepaskan seatbeltnya.
Gadis itu kembali pada posisi duduk lagi tapi badannya menghadap ke arah kursi kemudi.
" Kenapa ? Apa kamu belum rela berpisah denganku ? " Godanya Hega sambil menunjukkan senyum terbaiknya, memamerkan jajaran gigi putih yang tertata rapi dan mempesona.
" Ck. " Moza hanya berdecak sambil memutar bola matanya jengah mendengar godaan pria itu.
" Masih ada yang ingin kamu tanyakan ? " Mendengar decak malas gadis itu, Hega mulai menormalkan nada bicaranya.
" Kapan kakak memasang kalung ini di leherku ? " Tanya Moza aambil menyentuh liontin kalung yang menggantung di lehernya.
" Hmmmm. Kapan ya ? " Pura-pura mengingat-ingat sambil memainkan telunjuk di dagunya.
" Kak..... " Teriak Moza kesal.
" Kenapa memangnya ? " Melihat gadisnya sangat kesal, dengan serius dia kembali bertanya.
" Tidak ada, aku hanya penasaran saja bagaimana bisa aku tak menyadarinya. Padahal mungkin saha bahaya tengah mengancamku waktu itu. " Cibir gadis itu ketus.
" Hei, jangan berlebihan. Aku kan hanya memakaikan kalung saja bukan memakanmu. " Mendengar dirinya tengah dicurigai oleh Moza, Hega membantah tak terima.
" Siapa tahu saat aku tidur.... " Ucapnya yang kembali terhenti karena malu mengatakannya, dan lagi-lagi menggigit bibirnya sendiri.
π
Hmmm ada yang minta dicium nih... ?
Kode kode gigit bibir.....
Akankah kali ini Hega masih bisa menahan diri ?
Ataukah akan terjadi sesuatu yang diinginkan πππ
Ahay.... Masih mau lanjut kah ????
Comment Ya.... ππ€ Cium πatau tidak ???
π
β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€β€
β‘οΈβ‘οΈ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....β€
PLEASE DON'T BE SILENT READER......πΉπβ.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Dukung akuh agar semangat MengHALU..... ππ
Terima kasih ππππ
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya πππππ
__ADS_1