
AUTHOR
Moza terus menghindar, mendorong wajah Hega yang masih berusaha mendekatinya.
" Aaaaa.... Dasar kakak mesum, ini baru namanya makan yang benar. " Teriak Moza seraya mencomot sepotong sushi dengan tangannya dan menyuapkannya dengan paksa ke mulut Hega membuat pria tampan itu terpaksa mengunyahnya.
" Cih... Kamu ini tidak peka sekali, aku kan sedang ingin sayang-sayangan dengan kamu. " Gerutu Hega setelah menelan sushi di mulutnya.
" Hihihihi.... Nanti sayang-sayangannya kalau sudah halal ya, Kak. " Celetuk Moza tanpa sadar, disela-sela kegiatan mengunyahnya, setelah mengisi mulutnya sendiri dengan sepotong sushi.
Hega terperanjat mendengar kata halal dari mulit Moza, menatap lekat kekasihnya yang sedang menikmati makanannya. Tiba-tiba bibirnya kelu hendak mengucapkan kalimat yang terasa sudah ada di ujung lidahnya.
Hega menejamkan kedua matanya sejenak, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, " Mo, bagaimana kalau kita langsung menikah saja ! " Ucap Hega lirih akhirnya.
Entah karena terlalu lirihnya suara Hega atau memang fikiran Moza yang sedang tidak pada tempatnya, sehingga membuat gadis itu kurang peka pendengarannya.
Moza menoleh dan menatap Hega, " Hem... Apa Kak ? " Tanya Moza yang meminta Hega untuk mengulang ucapannya.
" Ah... Tidak jadi, lupakan saja ! Ayo lanjutkan saja makannya ! " Hega mencoba mengalihkan pembicaraan, ingin rasanya mengulang kata menikah tapi Hega masih ragu, khawatir jika Moza akan merasa terbebani dengan permintaannya.
Lagipula mana ada lamaran seperti ini, tidak romantis sama sekali. Hega harus berfikir keras bagaimana caranya melamar Moza dengan romantis agar gadis itu tidak akan bisa menolaknya.
Dan selanjutnya acara makan berlanjut dengan obrolan ringan, sejenak kemudian tampak Hega memandangnya dengan tatapan aneh. Pria itu mengulas senyum di bibir tipisnya yang berwarna kemerahan bak buah ceri yang sangat menggoda untuk dikecup.
Aaa... Gila apa yang barusaja aku pikirkan coba ?!
Batin Moza menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Hega kembali mendekatkan tubuhnya ke arah Moza, membuat Moza memundurkan badannya hingga mentok di sandaran sofa. Wajah keduanya semakin dekat, jantung Moza serasa ingin meloncat keluar dari tubuhnya.
G L E K . . . .
" A-apa yang ma-u ka-kak lakukan ?! " Moza yang sudah semakin terjepit tidak bisa lagi menghindar.
Hega mengurung tubuh Moza dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya mengarah ke bibir Moza, mengusap lembut sudut bibir gadis itu dengan ibu jarinya.
" Memang apa yang kamu pikir mau aku lakukan, hem ?! Aku hanya membersihkan saus yang menempel di bibirmu. " Ucap Hega tanpa rasa bersalah telah membuat Moza gelagapan, kemudian memasukkan ibu jarinya ke dalam mulutnya sendiri membersihkan saus yang sudah berpindah ke jarinya itu.
" Manis. " Goda Hega seraya mengerling nakal ke arah gadisnya yang tampak kikuk.
" Aaahh.... " Moza mendorong Hega hingga hampir terjungkal.
" Itu kan saus sambal, Kak. Bagaimana mungkin rasanya manis ?! Lidah kakak bermasalah ya ?! " Omel Moza kesal.
" Hahaha... Beneran manis kok, mungkin karena tadi sausnya menempel di bibirmu jadi rasanya berubah jadi manis. " Hega tersenyum tanpa dosa.
" Haish.... Mana mungkin bisa begitu ?! Kakak mau mengerjaiku ya ?! " Moza melotot ketus ke arah Hega yang terlihat serius dengan ucapannya.
Hega mengangguk seolah membenarkan ucapan Moza, " Emmm.... Iya ya, mana mungkin bisa begitu ?! " Seringai nakal terukir di bibir Hega.
D E G . . .
__ADS_1
Kenapa tersenyum seperti itu tiba-tiba si ?! Jangan katakan kak Hega sedang merencanakan sesuatu...!
Moza mendadak merinding melihat senyum khas Hega yang sangat sangaatttt dikenalnya dan seribu persen membuat tengkuknya terasa dingin.
" Bagaimana kalau aku langsung membersihkan saus di bibirmu dengan bibirku ? Jadi aku bisa memastikan apa benar bibirmu yang membuat saus sambal extra pedas itu tadi berubah jadi manis... " Binar nakal tampak menari-nari di manik mata Hega yang tengah menatap intens kekasihnya.
" AAAAaaaa...... " Teriak Moza reflek membekap mulut Hega yang sudah kembali mendekat padanya dan mendorongnya menjauh.
Untung saja ruangan Hega kedap suara, jika tidak maka tidak bisa dibayangkan apa yang akan dipikirkan oleh semua karyawan penghuni lantai 15 itu. Bisa jadi teriakan Moza akan menghebohkan dan menjadi bahan ghibahan seru di kantor staff sekretaris Presdir.
βββ
" Apa kamu ada rencana lain setelah ini ? " Tanya Hega setelah selasai menghabiskan makan siangnya.
Moza meraih tissue membersihkan bibirnya, " Tidak ada, Kak. " Jawabnya seraya menggeleng pelan.
" Kalau begitu ayo kita pergi ke suatu tempat ! "
Moza menoleh sekilas, " Kemana ? "
" Membeli ponsel baru untukmu. "
" Eh.... ?! " Dahi Moza mengerut
Aku kan sudah punya ponsel baru, lebih tepatnya ponsel mahal keluaran terbaru. Memang mau diganti lagi ?! Ini saja aku belum terbiasa menggunakannya dan masih harus banyak belajar, buat apa coba ganti ponsel lagi ?!
" Bukankah tempo hari kamu bilang jika kamu tidak suka ponsel yang dipilih oleh Julian ?! "
" Ah.... Itu, bukan begitu maksudku, Kak. Aku hanya tidak terbiasa menggunakan ponsel mahal yang secanggih itu. " Jawab Moza kikuk.
" Bukannya tidak suka ? Hanya saja aku tidak nyaman saja membawa-bawa ponsel yang harganya saja lebih mahal daripada harga sepeda motor baru. " Gumam Moza seraya menyebikkan bibirnya membuat Hega terkekeh pelan.
" Lagipula kenapa juga kakak meminta Julian yang membeli ponsel untukku ?! " Protes Moza yang tahu jelas hobi sahabatnya itu yang gemar berganti ponsel setiap muncul ponsel model terbaru dan yang pastinya harganya mahal.
" Aku tidak memintanya, dia sendiri yang menawarkan diri untuk melakukannya. Dia bilang kalau dia itu paling up to date perihal gadget, jadi aku pikir Julian pasti tahu ponsel paling bagus yang sesuai dengan kebutuhanmu. " Ucap Hega membela diri.
Aaaa...Justru karena itu anak terlalu up to date dan bahkan penggila gadget yang malah jadi masalah buatku ?! Ponsel ini selain warnanya saja yang memang aku suka, selebihnya ini jelas bukan seleraku. Ini selera bocah itu.
Gumam Moza dalam hati menepuk keningnya frustrasi.
" Jadi bagaimana ?! " Tanya Hega membuyarkan lamunan Moza.
" Apanya yang bagaimana ?! "
" Jadi beli ponsel baru ?! "
Haish... Kenapa kederangarnnya beli ponsel seperti beli permen si ?! Ganti ponsel baru dan aku harus belajar beradaptasi lagi dengan benda kotak pipih itu ?! Aaarghhh.... Aku tidak mau, aku tidak punya waktu untuk mempelototi benda itu hanya untuk membiasakan diri kembali dengan hal baru.
~ Flashback ' Gara-gara Julian ' ~
Acara tahun baru di villa tidak hanya memberi memori indah pada Moza. Semua kejutan dan perlakuan romantis Hega benar-benar membuat Moza merasa sangat beruntung dicintai oleh pria seperti Hega.
__ADS_1
Tidak hanya tampan, tapi Hega juga punya banyak cara untuk membuat hati Moza semakin mencintai sahabat dari almarhum kakaknya itu.
Tapi tidak hanya menciptakan memori menyenangkan, acara tahun baru pertama Moza berstatus non-jomblo itu juga dilengkapi dengan insiden yang tidak menyenangkan. Bukan hanya dirinya yang hampir mati tenggelam, tapi juga mengorbankan benda pipih kesayangannya.
Sebenarnya bukan masalah besar bagi Moza dengan tidak adanya ponsel, toh Moza bukan tipikal gadis yang gemar berselarcar di dunia maya ataupun gandrung bermain game online. Tapi tidak bisa disangkal jika benda kotak itu juga memiliki nilai penting tersendiri bagi seorang Moza.
Banyak catatan penting dan agenda yang tercatat disana, belum lagi semua foto kenangan bersama teman-teman dan keluarganya juga tersimpan di benda pipih itu.
Dan pagi itu saat berangkat ke kampus bersama kekasihnya, Hega menyodorkan sebuah paperbag sebelum kekasihnya itu turun dari mobilnya.
" Apa ini, Kak ? "
" Buka saja ! "
" Eh.... "
" Semua data dari ponsel lama kamu yang ikut terjun ke kolam renang tempo hari sudah dipindahkan ke ponsel itu. Nomornya juga masih sama. Tapi aku tidak tahu apa kamu suka dengan model ponsel itu. " Jelas Hega seraya membantu melepaskan seatbelt Moza.
Moza membuka kotak yang barusaja dikeluarkannya dari dalam paperbag.
" Ini... " Moza terbelalak melihat isi kotak berwarna putih itu, menoleh pada Hega meminta penjelasan.
" Julian yang membelinya, jadi kalo tidak sesuai seleramu maka proteslah pada temanmu itu ! " Jawab Hega santai.
" Bukan itu maksudku, Kak. "
" Lalu ?! " Tanya Hega tidak mengerti.
" Kenapa ? Kamu tidak suka ?! Ayo kita beli yang baru saja kalau kamu tidak suka ! " Sambungnya lagi bahkan sebelum Moza menjawab pertanyaannya sebelumnya.
Moza menggeleng cepat, " Ah... Tidak, Kak. Bukannya tidak suka, hanya sepertinya ini agak.... "
" Agak apa ?! "
Aaahhh....Aku akan terlambat masuk kelas jika terus berdebat tentang benda kotak ini. Lebih baik ditunda dulu protesnya.
Batin Moza mengatupkan bibirnya rapat-rapat menahan diri untuk tidak lagi melanjutkan acara protesnya.
" Ah, tidak. Lupakan ! Aku harus segera masuk kelas. Terima kasih tumpangannya dan ponsel barunya ya, Kak. " Hega mengangguk dan Moza segera keluar dari dalam mobil setelah mendapatkan kecupan di kening dari Hega.
Satu lagi aturan baru yang dibuat Hega, kecupan di kening setiap kali berpisah saat melakukan kegiatan masing-masing. Ahhh...Dasar tukang cari kesempatan.
~ Flashback End ~
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
MAAF YA INI Update Side Story keseharian mereka yang memang enggak penting-penting amat si. ππ
Emang kagak penting thor... Kagak penting banget πππ
MAAFKAN Sekali lagi.... Next next chapter akan masuk Main Part lagi kok π€π€π€
__ADS_1
...ππ...
...TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CHAPTER INI...