Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Jogging Mesra


__ADS_3

AUTHOR


Teriakan Moza menandakan bahwa gadis itu masih tetap dibuat kaget dengan kehadiran kekasihnya di Villa.


Atau mungkin mungkin memang benar jika gadis itu masih belum terbiasa melihat wajah tampan kekasihnya yang mempesona secara tiba-tiba.


Hampir saja tubuh mungil itu terjengkang ke samping, jika saja tangan kokoh Hega tak sigap menangkap pergelangan tangan kekasihnya dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.


DEG...


Keduanya tampak jelas sama-sama tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagia di raut wajah mereka masing-masing.


Mereka duduk dalam diam, tatapan saling mengagumi kesempurnaan satu-sama lain.


Kenapa aku tiba-tiba jadi teringat tampang juteknya dulu ya ?! Kalau tidak marah atau jutek saja dia sangat tampan.


Moza terpana menatap wajah di hadapannya, teringat beberapa moment saat tidak sengaja melihat kejutekan pemuda itu setiap kali ada wanita yang mendekatinya dengan banyak modus, seperti pura-pura tertabrak atau menjatuhkan diri di hadapan pemuda itu.


Haish... Tidak ! Jutekpun dia tetap tampan kok ... Aaaaa kenapa aku jadi ngawur gini si ?!


Wajah Moza seketika merona lalu mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir pikiran aneh yang baru saja terlintas di kepalanya.


Kemudian dengan cepat memalingkan wajahnya dari tatapan mata pemuda di hadapannya.


Netra hitam Hega masih menatap lekat gadis cantiknya dalam diam.


Dari ekpresi wajahnya saja sudah terlihat jelas jika Hega bisa membaca apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya itu, yang membuat wajah ayu Moza tiba-tiba memerah seperti tomat.


Kenapa kamu sangat polos dan menggemaskan begini si ? Aku jadi tidak sabar ingin memakanmu.


Hega tersenyum gemas, kemudian beranjak dari kursinya dan meraih tangan gadisnya.


" Kak mau kemana ?! " Moza tersentak, mencoba melepaskan tanganya dari genggaman Hega.


" Jogging. " Hega menjawab dengan santainya.


" Aaah... aku tidak mau. " Tolaknya tegas.


" Kenapa ? Kakimu masih sakit ? Kalau begitu kita jalan-jalan pagi saja. Atau bersepeda, aku akan memboncengmu. " Mendapat penolakan, seketika Hega menoleh memperhatikan kekasihnya dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Moza langsung menggeleng cepat saat terlihat raut wajah cemas kekasihnya.


" Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedang malas. " Decak gadis itu enggan beranjak dari tempatnya.


Hega mengabaikan alasan gadis itu, tetap menarik dengan lembut tangan Moza agar mengikuti langkahnya.


" Kaak... " Rengekan Moza tak mempengaruhi niat Hega untuk mengajak gadis itu jalan-jalan pagi.


Setidaknya ia ingin membiasakan kekasihnya itu untuk olah raga pagi demi stamina dan kesehatannya.


" Udara pagi bagus untuk kesehatan, ayo kita jalan-jalan. Aku akan menggendongmu jika kamu lelah. " Bujuknya mesra.


" Tidak, aku jalan saja. Tapi lepaskan dulu tanganku kak ! "


Moza akhirnya pasrah, mengikuti saja kemauan kekasihnya. Toh sepertinya memang dirinya tak akan bisa melawan kekeras kepalaan pemuda itu.


" Tidak mau, nanti kamu kabur. " Semakin erat menggenggam tangan Moza.

__ADS_1


" Nanti ada yang lihat kak. " Terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Hega.


" Mereka semua masih tidur. Lagipula memangnya kenapa kalau ada yang lihat ?! Aku kan sedang menggenggam tangan tunanganku sendiri. "


Begitu santainya Hega menanggapi setiap kalimat protes dari kekasihnya. Membuat gadis manis itu selalu dibuat kesal oleh tingkah Hega yang seringkali seenaknya sendiri.


Aarghhh... Kenapa dia selalu bisa menjawabku si ? Dan aku tak pernah menang melawanya. Sangat menyebalkan.


Moza menghentak-hentakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Pipinya mengembang sangat menggemaskan.


" Kenapa kakak tidak pernah mengalah saat berdebat denganku si ?! " Lagi-lagi bibir mungil Moza menyebik sebal, benar-benar terlihat imut dimata Hega.


Dan seketika terlintas ide jahil di kepalanya agar kekasih manisnya itu tak bisa menolak ajakannya.


" Aku akan mengalah padamu dalam semua hal kecuali untuk yang satu itu. Toh ini.juga baik untuk kesehatanmu. Jadi menurutlah padaku, hm ! Atau aku tidak akan meminta ijin lagi untuk yang kemarin. " Seringainya nakal.


GLEK..


Yang kemarin ? Maksudnya cium ?!!!


Aaaa....aku gak mau, kak Hega ijin aja aku gak siap. Apalagi kalau dia nekat menciumku tanpa peringatan dan ijin terlebih dulu. Bisa-bisa aku langsung pingsan karena jantungan.


Moza menggerutu dalam hati membayangkan yang tidak-tidak di kepalanya.


Kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya mengakhiri lamunan bodohnya.


" Baiklah kakak menang. Ayo kita jalan-jalan pagi. " Akhirnya Moza mengalah dan menuruti keinginan Hega untuk jogging berdua.


" Itu baru calon istriku yang manis. " Mencubit lembut pipi Moza dan mengusap kepalanya.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Dengan langkah gontai akhirnya Moza mengikuti kemauan kekasihnya untuk olahraga pagi.


Tentu saja setelah sedikit adegan perdebatan tak penting, keduanya menyusuri jalan menuju perkebunan.


Berlari-lari kecil sambil sesekali tersenyum ramah pada penduduk sekitar yang sudah memulai aktivitas mereka.



Hega membawa Moza menuju area perkebunan teh, di sana netra mereka dimanjakan dengan hamparan kebun teh yang menyejukkan.


Puncak Kebun Teh yang berada di ketinggian 900 mdpl, yang berjarak sekitar 48 km dari pusat kota.


Memberikan sensasi menyatu dengan alam di tengah udara sejuk tanpa polusi. Membuat mereka seketika merasa rileks dan nyaman berlama-lama disana.


Pemandangan alam hijau tanaman daun teh yang tertata rapi. Bak savana yang menutupi lereng bukit


benar-benar memanjakan mata, memberi ketenangan dan kedamaian yang tidak bisa didapatkan saat berada di kota dengan berbagai macam rutinitas dan kebisingannya.


Lelah berjalan dan sesekali berlari kecil hampir sekitar satu jam, Hega memutuskan membawa kekasihnya untuk istirahat di salah satu gazebo yang ada di area perkebunan.


" Apa kakimu baik-baik saja ? " Hega berjongkok di depan gadisnya yang tampak sangat kelelahan, menyentuh pergelangan kaki Moza dan memijatnya dengan lembut.


" Ahh... Aku tidak apa-apa kak. Hentikan ! " Perlakuan Hega bukannya membuat Moza merasa nyaman justru sebaliknya, rasanya geli seperti digelitiki.


" Aku hanya cemas, kakimu kan baru saja sembuh. Sini aku pijat lagi. " Mencoba meraih kembali pergelangan kaki Moza tapi sekali lagi gadis itu menolaknya.

__ADS_1


Bukankah kakak yang memaksaku jogging ?! Memijit apanya ? Kakak bukannya memijitku, tapi malah menggelitiki aku. Mau mengerjaiku ya ?! ~ Moza ~


" Sini kakinya ! " Hega sudah duduk di samping Moza dan mengangkat kaki kekasihnya di atas pahanya.


Melepas sepatu olah raga Moza dan memijat perlahan pergelangan kaki gadis itu.


" Akh... Sakit kak ! " Moza terpekik saat tanpa sengaja Hega menekan sedikit lebih kuat di bagian telapak kaki.


" Eh... Maaf, aku tidak sengaja. " Hega reflek melepaskan tangannya dari kaki Moza, dan dengan cepat gadis itu menarik kakinya dari pangkuan kekasihnya.


" Kakak sedang memikirkan apa si ? " Moza tahu jika tadi Hega sempat melamun sesaat.


" Tidak ada. "


" Bohong. "


" Hmmm... Hanya teringat kenangan masa lalu. "


" Apa ? Dengan mantan kekasih kakak ?! " Moza menatap penasaran apa yang membuat pemuda di sampingnya itu kehilangan fokusnya sejenak tadi.


" Tidak. Tentu saja tidak. " Reflek menoleh secepat kilat membantah dugaan Moza.


" Aku tidak punya mantan, kamu yang pertama dan akan jadi yang terakhir. " Sambungnya tegas.


BLUSH....


" Eh.... "


" Kenapa ? Tidak percaya ? " Netra Hega menyipit menatap gadis yang berekspresi seolah tak percaya pada ucapannya.


Moza menggeleng pelan, sebenarnya Bara pernah mengatakan pada Moza jika dirinyalah gadis pertama yang membuat Hega jatuh cinta.


Tapi bukan berarti dirinya juga pacar pertama pemuda itu kan ?


Bukankah ada kalanya pria bisa menjalin hubungan dengan seorang wanita bahkan tanpa cinta sekalipun.


Julian contohnya, Moza tahu dari beberapa mantan kekasih Julian. Tidak semuanya berpacaran dengan sahabatnya itu karena Julian mencintai atau sekedar suka, melainkan hanya untuk status semata.


Hega meraih kedua telapak tangan kekasihnya, menggenggamnya erat dan menatap kedua mata Moza dengan tatapan yang sulit dibaca.


Ada keraguan yang dilihat dimata indah Moza terhadap kejujurannya.


๐Ÿ’š๐Ÿ–ค๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œ๐Ÿ’™


Style jogging Hega & Moza pagi ini ya, Cocok gak ?!



Maaf part nya masih datar-datar saja ya, dan mungkin membosankan ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Semoga kalian bersabar bacanya... Sesabar babang Hega yang gagal terus sayang-sayangannya ๐Ÿคฃ


โžก๏ธ Hari ini semoga bisa up lagi, ganti.yang kemarin.


Like dan komentarnya ya sayang


Vote nya jan lupa ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2