Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Rencana Pertunangan


__ADS_3

AUTHOR


Suryatama menatap semua orang bergantian, terlihat akan menyampaikan keputusan yang memang sudah diambilnya.


" Baiklah jika tidak ada yang keberatan, bagaimana jika acaranya kita adakan akhir bulan ini. Dan setelah itu kita akan mencari hari yang tepat untuk acara lanjutannya. Entah itu mau sebulan setelahnya atau menunggu Moza lulus terserah, tapi sebenarnya lebih cepat lebih baik. Karena Papi sudah sangat tua, Papi ingin segera menimang cicit. " Ujar Suryatama berbinar bahagia.


" Ugh.... APAH ?! Uhuk....uhuk... " Moza seketika tersedak oleh salivanya sendiri.


" Sayang, ini minumlah ! " Ucap Ayu sembari membantu Moza meminum segelas air.


Dengan cepat Moza meneguk habis air mineral yang disodorkan ibunya. Kemudian menatap tajam kekasihnya lagi-lagi meminta penjelasan, dan jawaban pria di samping bundanya itu tetap sama, Hega hanya mengedikkan bahunya pura-pura tak tahu dengan apa yang sedang menjadi topik perbincangan para orang tua itu.


" A-apa yang kakek maksudkan tadi ?! Ada acara apa akhir bulan ? " Tanya Moza dengan ragu, sepertinya telinganya salah dengar atau mungkin kakek Suryatama yang salah bicara.


" Apakah Hega tidak memberitahumu, Nak ?! " Tanya sang kakek dengan raut wajah heran, beralih menatap tajam ke arah cucu lelakinya.


Moza kembali melirik ke arah Hega, pemuda itu tetap tenang tak berkutik. Kemudian Moza kembali mengarahkan pandangannya pada sang kakek, sedetik kemudian gadis itu menggeleng.


Suryatama menggeleng-gelengkan kepala memijat celah diantara kedua alisnya, dan kemudian berdecak kecil, " Dasar anak nakal, kenapa kamu tidak memberitahukan pada tunanganmu jika kita akan mengadakan acara pertunangan kalian secara resmi ?! "


" APAAH... ?! " Lagi-lagi Moza tersentak saking terkejutnya dan langsung membekap mulutnya sendiri dengan tangannya karena tidak sengaja berteriak, menatap tajam ke arah Hega yang terlihat sangat santai mendengar kabar tersebut.


Apalagi ini Tuhan ?!


Moza masih terbengong di posisinya, berusaha mencerna satu per satu kalimat yang dilontarkan oleh Kakek Suryatama.


Sejurus kemudian Moza menatap sengit ke arah Hega dan betapa kesalnya Moza saat mendengar alasan yang keluar dari bibir menyebalkan kekasihnya itu.


" Hega belum sempat membicarakannya dengan Momo, Kek. Kakek tahu sendiri Hega barusaja selesai dinas di Bali selama beberapa hari dan saat di villa Hega lupa mengatakannya karena terlalu asyik bersantai. " Jawab Hega dengan ekspresi tidak bersalah sama sekali.


" Dasar kamu ini, lihatlah tunanganmu sampai syok mendengarnya ! Kamu memang bocah kurang ajar ! " Maki Suryatama kesal melihat tingkah laku cucunya yang memang menyebalkan sedari kecil.


" Sudahlah Pi, yang penting semuanya sudah jelas kan. Kita tinggal melanjutkan pembicaraan tentang rincian acaranya. " Potong Aryatama menengahi perdebatan antara Papi dan putranya itu.

__ADS_1


" Iya, Om Surya. Mungkin memang Hega belum mendapat waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Moza. "


Aaargh.... Kenapa Ayah malah membelanya si ? Yang putri Ayah itu kan aku. Huuuu.....


Gerutu Moza menatap kecewa pada sang ayah dan beralih menatap kesal Hega.


" Tuan Besar, makan siang akan siap 10 menit lagi. " Sela Paman Ben sopan yang barusaja mendapat laporan dari kepala dapur.


Benyamin memang Kepala Pelayan yang handal, bahkan pria yang sudah lama bekerja pada Suryatama itu tahu kapan waktu yang tepat untuk menghentikan kekacauan atau keributan yang seringkali terjadi antara Tuan Besarnya dengan sang cucu.


" Ya baiklah kalau begitu, lebih baik kalian berdua membersihkan badan kalian terlebih dulu. Dan segeralah menyusul ke ruang makan. Kita akan melanjutkan pembahasan tentang ini nanti setelah makan siang. " Ucap Suryatama mengarah pada Hega dan Moza.


Hega mengangguk dan segera beranjak dari sofa setelah berpamitan pada kedua orang tua Moza dan juga Papanya.


Disusul Moza mengekor di belakang Hega dengan tatapan yang seolah akan membuat lubang di punggung Hega dengan tatapan setajam sinar laser itu.


Ish.... Apa-apaan kakak ini ? Membuatku kelihatan bodoh di hadapan semua orang dengan tidak mengatakan apapun. Dan lihat itu wajahnya yang seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Huuuh....


Gerutu Moza melihat kelakuan Hega yang kembali seenaknya sendiri.


Moza terlalu sibuk dengan lamunannya dan mengumpat dalam hati, hingga tidak sadar jika dirinya sudah menginjak lantai 3. Dan pria di hadapannya tengah berdiri bersandar di sofa dengan kaki bersilang dan kedua tangan berada di dalam saku celananya.


" Jangan mengumpatiku dalam hati, nanti muncul jerawat di wajah cantikmu. Katakan saja langsung jika ada yang kamu keluhkan tentangku ! " Ucap Hega yang sudah dalam posisi berbalik badan menatap kekasihnya yang memang sedari tadi sedang menggerutu tentangnya di balik punggungnya.


Haish... Lihatlah gayanya yang sudah seperti model pakaian pria itu ! Huuuu..... πŸ˜“πŸ˜– Kenapa kakak tampan begitu si ?! Sejenak aku jadi lupa jika aku sedang marah.


Ish...... Jika saja kakak tidak menyebalkan, pasti skor kakak sebagai seorang pria akan sangat sempurna. Aaaarghhh... Apa si yang ada di kepalaku ini sebenarnya ?! Sudahlah lebih baik aku mengabaikannya, aku terlalu lelah dan kesal untuk meladeninya sekarang.


Bukan makian yang didapat Hega tapi wajah masam Moza yang menatap ketus padanya. Moza bukannya tidak mau memaki kekasihnya itu, saat ini bahkan gadis itu ingin mencakar wajah tampan kekasihnya yang terlihat sangat menyebalkan.


Tapi Moza tahu, dirinya tidak akan bisa menang berdebat dengan Hega. Yang ada gadis itu justru akan mati kesal mendapati seribu alasan yang akan keluar dari mulut Hega yang mendadak semanis madu jika sedang memperdayainya.


Moza memilih diam, mengacuhkan Hega dan berbelok acuh memasuki kamarnya. Meninggalkan Hega yang sedang bersedekap di hadapannya dengan tatapan heran.

__ADS_1


Eh... Kok dia malah diam saja ? Bukannya biasanya dia akan memasang wajah kesal sambil mengomel padaku ?!


Hega terheran dengan sikap Moza yang terlihat aneh, tapi belum sempat berkata-kata lagi, dilihatnya Moza sudah memasuki kamarnya dan menutup pintu.


Hufft... Lebih baik aku mandi dulu, akan aku bujuk dia nanti.


Gumamnya pelan kemudian memasuki kamarnya.


🌻🌻🌻


Kembali ke ruang makan, semua sudah berkumpul duduk mengelilingi meja panjang dengan nuansa modern berwarna putih.


Sama sekali tidak ada suara di meja makan, hanya dentingan sendok dan garpu yang sesekali beradu dengan piring marmer.


Setelah lebih dari setengah jam menyelesaikan makan siang, sepertinya pembahasan lanjutan tentang apa yang dibicarakan tadi di ruang keluarga akan kembali berlanjut.


Para pelayan membereskan satu per satu sisa makanan di meja, diganti beberapa dessert, tak lupa teh dan kopi.


" Jadi kita sepakati jika akhir bulan saja acara pertunangannya ya ?! Setidaknya waktu satu bulan ini akan cukup untuk menyiapkan beberapa hal. " Ucap Suryatama kembali membuka percakapan.


Dan setelah perbincangan panjang hampir dua jam akhirnya semua poin-poin penting yang harus disiapkan sudah diputuskan dan tercatat secara terperinci di tangan Paman Ben.


Setiap kali para orang tua bertanya pada kedua tokoh utama, Hega mengatakan jika semuanya terserah pada keputusan para orang tua saja, dan dia menurut saja toh memang para orang tua yang lebih tahu mengenai perhitungan tanggal dan hari baik.


Dan untuk apa saja yang perlu disiapkan diserahkannya semua di tangan Paman Ben, Hega hanya perlu menyiapkan beberapa poin penting, salah satunya adalah cincin pertunangan. Dan itu adalah perkara mudah bagi Hega, mengingat pemuda itu memiliki perusahaan pribadi yang beegerak di bidang perhiasan khususnya berlian.


Sedangkan Moza, gadis itu hanya bisa mengangguk setuju karena memang Moza tidak memiliki persiapan apapun untuk ikut ambil bagian dalam pembahasan pertunangan yang menurutnya sangat mendadak tersebut.


Salahkan Hega yang tidak memberitahukan perihal tersebut pada Moza. Membuat Moza hanya bisa iya iya saja dan mengangguk pasrah setiap kali para orang tua menanyakan persetujuannya mengenai beberapa hal.


Lihat saja, Kak ! Aku akan membalas kakak nanti πŸ˜—.


Gumam Moza dalam hati karena masih kesal pada tunangannya yang menyebalkan.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2