Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Tidak Melihatnya Tak Menjamin Aku Bisa Melupakannya


__ADS_3

AUTHOR


" Apa saat kamu putus dengan Erlando rasanya juga sesakit ini De ? "


Pertanyaan Moza terasa bagaikan petir yang menyambar bahkan saat tidak ada tanda akan turun hujan.


Deana menutup matanya, tidak berani menatap sahabatnya yang tadi sedang menatap langit-langit kamar beralih menatap dirinya karena Deana tak juga bersuara.


" Hei... Kamu kenapa Dea ? Apa ada sesuatu yang aku tidak tahu ? " Tanya Moza penasaran.


" Ehem... Enggak kok, semua tentang Erlan sudah gue ceritakan sama lo Momo. "


" Lalu kenapa ekspresimu menjadi pucat begitu ? " Selidik Moza.


" Aahh... Gue cuma kaget aja, sudah lama gue gak denger nama Erlan. Hehe... " Jawab Dea berusaha biasa-biasa saja.


Please.... Jangan sampai Momo curiga sama gue ? Atau dia akan marah dan bahkan kecewa berat sama gue. ~ Deana ~


Jika saat ini pikiran dan hati Moza sedang dalam kondisi normal, gadis itu pasti akan segera tahu jika Deana sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi nyatanya kondisi Moza sendiri sedang dalam mode kacau balau bin berantakan.


" Oh... Aku kira kamu menyembunyikan sesuatu. Maaf juga karena sudah menyebut-nyebut namanya. " Ujar Moza akhirnya.


" Gak masalah, lagipula mungkin gue merahasiakan sesuatu dari lo. " Deana mengelak lega.


Fyuuuh.... Untunglah, nyaris saja. Lagian ngapain nyebutin nama itu sih. Jadi inget tampang brengs*k nya itu kan. Aaarrrrggh.... Sory Mo, gue pasti cerita suatu hari nanti. Kalau gue udah siap dan saat lo udah bahagia dengan cowok yang lo cintai nantinya. ~ Deana ~


" Eh, ngomong-ngomong mau lo apain si beruang itu ? " Tanya Deana menunjuk boneka beruang besar yang duduk di sofa, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Aarrrrh beg* nya lo Dea, ngapain tanya soal itu sekarang ? Gimana kalau Momo mewek lagi coba ?!


Deana menggigit bibirnya merutuki pertanyaannya yang salah waktu.


" Upsss. Maaf Mo, gue .... " Sesal Dea.


" Hmmm.... Gak apa-apa De, aku belum kepikiran mau aku apakan dia. Sayang kan kalau dibuang, yah mungkin aku simpan saja lah. Toh dia kan gak salah, kak Hega juga gak salah. Waktulah yang mungkin tidak tepat untuk kami. " Jawab Moza sambil menghela nafas dalam.


" Tapi lo bakal terus keinget bang Hega kalau lihat tuh beruang. " Protes Deana.


" Tidak melihat beruang itupun tidak menjamin aku bisa melupakan dia kan ? Jadi biarlah beruang itu tetap disini bersamaku, setidaknya aku ingat jika pernah ada seorang pria yang begitu mencintaiku. " Desah Moza menutup kedua matanya, sekilas terlintas wajah tampan yang selalu menghiasi hari-harinya itu.


" Mo, lo cinta banget ya sama bang Hega ? " Deana memiringkan badannya menghadap sahabatnya.


Moza mengangguk perlahan, kemudian air matanya menetes perlahan di pipinya.


" Lo akan menemukan pria yang mencintai lo sebesar bang Hega mencintai lo Mo, bahkan mungkin lebih. " Ucap Deana menggenggam tangan Moza, namun gadis itu hanya tersenyum getir.


" Julian perhatian banget sama lo kan, gue rasa dia .... " Lanjut Deana yang tanpa sadar meremas piyama tidurnya.


Moza sadar apa yang akan diucapkan sahabatnya itu, sontak merubah posisi tidurnya, duduk bersila di atas ranjang.


" Kamu ketularan gilanya si Jul ya Dea, mana mungkin aku dan Julian bisa punya hubungan seperti itu. Ngaco kamu. " Protes Moza menepuk kaki Deana.

__ADS_1


" Tapi kalau tuh anak serius sama lo gimana coba, masa lo gak mau ? "


" Enggak lah, sebaik apapun dia, aku dan Julian tetap gak mungkin Dea. "


" Jadi lo gak punya perasaan lain sama Julian ? "


" Enggak lah Deana Mayangsari. Kamu kenapa sih ? "


Hufff.... Baguslah kalau begitu.....


Eitsss.... Apa yang baru saja lo pikirkan Dea ?


Apa-apaan rasa lega yang terlintas di hati lo berusan ?


Jika Momo gak suka sama Julian,


bukan berarti bocah tengil itu gak boleh suka sama Momo kan ?


Batin Deana tanpa sadar meremas-remas tangannya sendiri dan menggigit-gigit bibirnya frustrasi.


" Kenapa ? Apa karena dia playboy yang suka ganti-ganti pacar semudah ganti baju ? "


" Heeemmmm, bukan karena itu. Tapi memang aku dan Julian sama-sama tidak pernah punya perasaan satu sama lain melebihi kasih sayang untuk sahabat. "


" Cih.... Seyakin itukah lo ? Bagaimana jika Julian diam-diam suka sama lo ? "


" Aku yakin diantara kami murni persahabatan. " Jawab Moza mantap.


" Mana aku tahu. Yang jelas aku dan Julian hanya akan menjadi teman, sekarang ataupun nanti. "


" Kita gak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, jadi jangan terlalu yakin dulu Momo sayang. Ingat kan saat dia bilang mau membawa lo kerumah dia jadi menantu, itu apa artinya coba, tuh anak serius kali mau nikah sama lo entar buat menuhin janjinya sama bang Hega. " Desak Deana.


Entah setan apa yang tengah merasuki Deana saat ini sehingga gadis itu ingin terus memastikan perasaan antara Moza dan Julian. Padahal di sudut hatinya terasa ada sesuatu yang menusuk ketika mengatakan perihal Julian dan Moza.


" Entahlah, seperti yang kamu bilang tadi jika kita tidak tabu apa yang akan terjadi di masa depan. Dan sepertinya aku setuju dengan ucapanmu itu. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Aku tidak mau berangan-angan, lebih baik menjalani apa adanya. " Jawab Moza dengan nada tenang, kemudian tersenyum pada sahabatnya itu.


" Aku mau mandi dulu, bukankah hari ini ada klien yang mau memesan gaun pesta. Kita harus ke butik. " Lanjut Moza kemudian beranjak menuju kamar mandi.


Deana tak bergeming dari tempatnya, terdiam memikirkan apa yang baru saja dia bicarakan dengan Moza. Dengan gusar dijatuhkannya tubuhnya di ranjang, memeluk guling dan menyembunyikan wajahnya di bawah guling.


Bukan tanpa sebab gadis itu terus membahas tentang kemungkinan hubungan antara Moza dan Julian, pasalnya Deana sempat mendengar sesuatu yang saat Moza tengah menginap di tempatnya, hal membuatnya begitu gelisah hingga saat ini.




~~ Flashback ~~


Hari ke-3 saat Moza menginap di rumah keluarga Prasetya.


Deana terbangun dari tidurnya karena haus dan botol air minum di kamarnya sudah kosong. Dengan gontai melangkah keluar kamar sembari sesekali menguap dan mengusap matanya yang masih mengantuk.

__ADS_1


Saat hendak turun tangga, didengarnya suara Bara dan Julian yang sedang mengobrol di balkon. Sebenarnya Deana ingin mengabaikannya dan langsung turun ke dapur, tapi langkahnya terhenti saat didengarnya kakak sepupunya menanyakan sesuatu pada Julian, pertanyaan yang juga beberapa hari ini menyeruak di hati dan pikiran Deana.


" Lo yakin tidak sedang jatuh cinta sama Momo cantik dek ? "


Deg....


Deana gemetar di balik pintu balkon yang setengah terbuka, menggigit kuku jarinya sendiri menunggu jawaban Julian.


" Iya bang, gue yakin. "


" Lalu kenapa Hega sebegitu percayanya sama lo untuk jaga Momo ? "


Bara tahu dari Hega jika sahabatnya itu harus merelakan Moza demi kebahagiaan gadis yang dicintainya itu. Dan Hega tampak yakin mempercayakan gadis itu pada Julian.


Deana menelan ludahnya sendiri gugup menunggu jawaban Julian.


Terdengar Julian menghela nafas dalam, kemudian bercerita tentang apa yang diucapkannya pada Hega saat di kamar hotel waktu mereka sedang perjalanan bisnis di Singapura.


" Lo yakin bisa menjalani pernikahan tanpa cinta dek ? "


" Yakin bang, papi gue buktinya. Pernikahan papi yang tanpa cinta dengan sahabatnya justru bertahan lebih lama daripada dengan wanita yang dicintai papi gue bang. Dan lebih buruknya wanita yang dicintai papi itu .... " Jelas Julian terputus.


" Aaahhh.... Gue gak perlu jelasin pasti bang Bara juga sudah tahu kan cerita keluarga gue. Hahahaa... " Lanjut Julian, terdengar ada kegetiran dalam tawanya barusan.


Bara tak kuasa berkomentar lagi, hanya menepuk pundak Julian.


Sedangkan di balik pintu, Deana seketika lemas mendengar jawaban Julian, seketika berlari kembali ke kamarnya dengan perasaan kacau. Gadis itu kembali duduk di salah satu sisi ranjang, melihat sahabatnya yang sudah terlelap dengan pulasnya.


Lo beneran udah gila Julian, gimana bisa lo berfikir akan menjaga Momo sampai sejauh itu ? Bahkan sampai pernikahan ? Aaarrrghhh..... Lo bahkan gak cinta sama Momo, dan gue tahu Momo juga begitu.


Gumam Deana dalam hati. Deana yang selama ini selalu mengira dirinyalah sahabat yang paling mementingkan perasaan dan kebahagiaan Moza, mendengar kalimat demi kalimat Julian tadi, tiba-tiba tak tahu kenapa hatinya terasa terusik.


Entah karena dia merasa Julian sudah menang beberapa langkah melampaui dirinya menjadi sahabat yang lebih baik untuk Moza, atau ada rasa cemburu lainnya yang menggelitik dirinya.


~~ Flashback End ~~


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Bantu VOTE agar tulisanku ini naik RANK yah....


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU....


✔ LIKE 👍


✔ COMMENT ✍💌


✔ VOTE 💱💲 yah 💋💋💋

__ADS_1


__ADS_2