Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Bukan Jomblo Lagi


__ADS_3

AUTHOR


" Moza. " Suara lembut seorang pemuda menyebut namanya dari belakang.


" Eh... Iya. " Gadis itu sontak menoleh ke arah sumber suara.


" Hai, masih ingat aku kan ?! " Tanya pemuda itu.


" Emmm...." Moza tidak asing dengan wajah di hadapannya, hanya saja gadis itu lupa siapa nama pemuda tampan yang sedang berdiri sambil membawa sebuket bungan mawar kuning di tangannya itu.


" Kak Geo. " Sambung gadis itu saat ditemukannya ingatan tentang pemuda itu


" Hmm. Bisa minta waktunya sebentar ?! Ada yang ingin aku katakan. " Pemuda bernama Geofano itu tersenyum mengetahui jika Moza masih mengingat dirinya.


" Hah ?! " Tanpa sadar terpekik karena kaget, Moza tahu persis situasi apa yang sedang dihadapinya saat ini.


Oh no... Dimana kamu Julian ?! Kenapa tiba-tiba aku merasa sangat merindukanmu disaat seperti ini ?!


Gumam gadis itu dalam hati.


" Bisakan ?! " Tanya pemuda itu lagi.


" Ehh... Iya. Kita bicara disini saja ya kak ?! " Pintanya sopan.


" Oke, gak masalah dimana saja. "


" Jadi apa yang mau kakak katakan ?! " Moza terlihat berusaha tenang, namun kenyataannya saat ini gadis itu sedang merasa gelisah.


Aaaaaa..... kenapa aku seperti ini si ?! Jika dia mau tembak ya tinggal aku tolak seperti biasanya kan ?! Tapi kenapa sekarang aku jadi punya rasa gak tegaan gini si ?!


Selama ini Moza memang selalu bisa bersikap cuek dan menolak siapa saja yang menyatakan cinta padanya dengan cara yang sopan, dan sesekali sadis jika berurusan dengan tipe pria yang tidak bisa diatasinya dengan kesopanan.


Tapi semenjak merasakan sendiri yang namanya patah hati, entah kenapa sisi manusiawi Moza yang selama ini hilang entah kemana sedikitnya mulai muncul kembali mempengaruhi sikapnya pada lawan jenisnya


Biasanya dia akan cuek saja setelah menolak seorang pria, tapi sekarang gadis itu harus berfikir beberapa kali bagaimana caranya menolak agar tak menyakiti hati orang itu.


Dan ini adalah percobaan pertama bagi gadis itu, bagaimana menolak seseorang tanpa harus menyakiti hatinya.


Aaahh.... Tentu saja itu mustahil, yang namanya ditolak ya pasti tetap bikin sakit hati lah.


Bagaimanapun halus dan sopannya penolakan itu.


" Kamu pasti tahu kan kalau aku selama ini memperhatikan kamu. " Ucap pamuda yang memakai setelan rapi itu.


" Eh.. I-itu."


Moza memang sempat ingat sosok Geo karena pemuda itu adalah Ketua dari Senat Mahasiswa di kampusnya.


Sebagai salah satu mahasiswi berprestasi di kampus, Moza dan Amira seringkali ditunjuk untuk mewakili mahasiswa seangkatannya untuk mengikuti beberapa kegiatan kampus yang otomatis mempertemukannya dengan sosok Geofano.


Dan memang pemuda itu seringkali mengirim salam untuk Moza melalui teman ataupun sahabat Moza.


Serta beberapa kali mengirim hadiah yang pastinya ditolak dan dikembalikan secara sopan oleh gadis itu melalui perantara yang mengantarnya.


" Ya meskipun aku juga tahu kamu sama sekali tidak menaruh perhatian balik padaku atau sekedar melirik ke arahku. " Lanjut pemuda itu sadar diri dan kemudian menggaruk tengkuknya tampak canggung.


Aaaaa.... Kenapa aku tiba-tiba merasa jadi orang jahat si ?!


Moza masih berdiri di posisinya berusaha tetap tenang.


" Aku tahu bukan satu atau dua pria yang menyukaimu dan menyatakan cintanya padamu. Dan tentu saja aku tahu jawabanmu pada mereka. "


Please kalau kakak sudah tahu apa jawabanku tolong jangan lanjutkan.


Masih memasang ekspresi datarnya, berharap ada iklan yang menjeda atau mengganggu pembicaraan mereka.


" Dan aku berharap jika mungkin ada sedikit kesempatan untukku. Aku menyukaimu, maukah kamu memberiku kesempatan untuk bisa lebih dekat denganmu dan mencoba membuatmu menyukaiku juga ?! " Sambung pemuda itu sambil memberikan buket mawar kuning di tangannya.


" Eumm.... Kak, maaf. Tapi aku tidak bisa. " Jawab Moza seketika.


" Kenapa ? Bisakah kamu memberiku alasan yang masuk akal ?! "


" Aku tidak memiliki perasaan apapun pada kakak melebihi rasa hormat seorang junior pada seniornya. " Jawab Moza sopan.


" Tidak bisakah kamu memberiku kesempatan ?! Bukankah kamu juga sedang tidak berkencan dengan siapapun ?! " Pemuda itu masih belum mau menyerah.


Ahh maksudnya aku jomblo gitu ? Darimana juga dia bisa tahu kalau aku jomblo, dan memangnya kenapa kalau aku jomblo ?! Terus kalau aku jomblo aku harus menerimanya begitu ?!


Mendengar ucapan pemuda itu entah kenapa Moza merasa kesal.


Ehh... Sekarang aku kan bukan jomblo lagi ?!


Aku sudah punya pacar, lebih tepatnya tunangan.


Mendadak teringat status barunya yang melekat pada dirinya sejak dua minggu lalu, dari seorang jomblo sejak lahir yang mendadak punya pasangan.


Dan bukan pasangan biasa, bukan sekedar pacar atau kekasih melainkan calon suami.


" Moza. Kamu mendengarkanku kan ?! "


" Eh iya kak maaf. "


" Jangan bilang kamu sudah punya pacar untuk menolakku, karena aku tidak pernah mendengar soal itu. "


Hei aku beneran punya pacar tau, aaahhh menyebalkan. Julian mana si ?


Aku berharap Julian itu Jin yang bisa muncul seketika saat aku menyebut namanya....


Aaahhhh aku memang gila !


Moza meremas dressnya mulai gelisah, hingga suara penyelamat muncul dari belakang punggungnya.


Jin yang namanya berulang kali disebutnya sedari tadi. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


" Maaf kak, jika kakak tidak pernah mendengarnya bukan berarti Moza memang tidak sedang berpacaran dengan siapapun kan ? " Suara bariton Julian menyelesaikan kebuntuan Moza.


" Julian ?! " Moza dan Geo bersamaan.


" Maaf kak, gue ganggu. Tapi gue ada perlu sama Momo. " Jawab Julian santai.


Gue jadi malaikat penyelamat lo ya ?!


Bisik Julian.


Bukan ! Kamu lebih pantas disebut jin daripada malaikat. Hehehe....


Balas Moza dengan ikut berbisik.


" Moza, apa yang dimaksud Julian kamu memang sudah punya pacar ?! " Tanya Geo memastikan.


Moza menggangguk membenarkan dugaan pemuda itu.


" Lebih tepatnya calon suami kak ! " Julian menambahkan dengan menekankan kata suami.


" Eh..." Moza menyikut lengan sahabatnya itu.


Terlihat jelas gurat kekecewaan di wajah Geofano, tetapi sejenak kemudian pemuda itu tersenyum.


" Terima kasih sudah memberiku alasan yang tepat agar aku bisa menyerah. " Ucapnya kemudian.


" Eh... " Moza dan Julian menoleh bersamaan ke arah pemuda itu.


" Hmmm. Kamu tahu ?! Jika banyak dari mereka yang kamu tolak selama ini masih belum bisa move on dari kamu. Karena apa ? Karena mereka sepertinya tidak mendapatkan alasan yang jelas kenapa kamu menolak mereka, seperti yang baru saja kamu lakukan padaku. "


" Emmm... Kak Geo, maaf ! "


" It's okey. Sebenarnya aku sudah tahu dari awal jika kamu akan menolakku. " Pemuda itu tersenyum.


" Tapi aku akan merasa jika diriku adalah benar-benar seorang pria jika aku berani mengatakan isi hatiku meski aku tahu akhirnya akan ditolak juga. Hehehe...."


Moza hanya bisa berdehem dan tersenyum canggung menanggapi ucapan seniornya itu.


" Mo, anak-anak sudah pada nungguin mau balik ngajakin ke kafenya Dimas. " Sambar Julian yang mulai tak tahan dengan basa-basi gak jelas itu.


Aarhhhh.... Momo ayo balik ! Tumbenan si lo ngeladenin penggemar lo selama ini ?! Biasanya juga lo langsung ngeloyor pergi setelah nolak mereka.


Batin Julian tak sabar, melirik ke arah sahabatnya yang sangat terlihat juga ingin segera pergi dari tempat itu.


Dan seketika mendapat ide untuk membuat Moza segera pergi mengikutinya.


" Dan barusan di kantin 'my hubby ' nelpon gue, katanya gue disuruh anter lo ke suatu tempat. " Berbisik di telinga Moza dengan nada jahil.


" Aaaah.... kamu ngintipin ponsel aku Jul ?! " Menoleh ke arah Julian kemudian memukul lengan pemuda itu karena merasa kesal sekaligus malu.


" Hehe. " Julian malah terkikik.


" Moza. " Sela Geofano yang terabaikan merasa urusannya belum selesai.


" Okey my Queen. " Goda Julian membuat Moza melotot tajam.


" Maaf aku harus pergi kak. Selamat atas kelulusan kakak. " Ucap Moza setelah kepergian Julian.


" Apa lelaki yang beruntung itu adalah Julian Adiputra ?! " Tanya pemuda itu lagi.


Moza hanya menggeleng dan kemudian tersenyum.


" Aku harap bisa bertemu pria beruntung yang mampu memiliki hatimu. " Lanjut Geofano.


" Hmm... Semoga kakak juga segera menemukan gadis yang pantas menerima perasaan tulus kakak. " Untuk pertama kalinya Moza mendoakan pria yang ditolaknya.


" Hahahahaa.... Beruntung sekali aku mendapatkan doa setelah ditolak. "


Pemuda itu malah tergelak, karena yang dia dengar selama ini gadis di hadapannya itu akan segera pergi dengan ekspresi dingin dan datarnya setelah menolak siapapun yang menyatakan cinta padanya.


Dan dia malah mendapatkan permintaan maaf sekaligus doa dari gadis itu.


" Sepertinya aku terkenal sebagai gadis jahat ya ?! " Canda Moza yang mulai bisa membawa diri dalam berbincangan itu.


" Lebih tepatnya Ratu Es yang memikat sekaligus mematahkan hati. Hehehe... " Balas Geo yang direspon Moza dengan tersenyum tipis.


" Meskipun terlambat, bisakah kita berteman ?! " Lanjut pemuda itu sembari mengulurkan tangannya.


" Tentu saja kak. " Moza dengan tulus membalas uluran tangan Geo.


" Oh iya, bisa gak kamu terima bunga ini ? Anggap aja sebagai hadiah pertemanan sekaligus perpisahan. " Geo menyodorkan buket bunga mawar kuning di tangannya.


" Eh... Baiklah, terima kasih. Sampai jumpa kak. " Moza terpaksa menerimanya, karena merasa tak enak hati telah menolak pernyataan cinta pemuda itu.


Toh sekedar bunga apa salahnya. Kemudian berjalan menjauhi pemuda yang terlihat tersenyum dengan wajah pias.


" Sampai jumpa Moza Artana. " Ucap pemuda itu menatap punggung gadis yang disukainya.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


๐Ÿ Epilog ๐Ÿ


~ Di kantin ~


Julian masih setia mendengarkan ocehan Renata yang membahas rencana tahun baru dengan sangat antusias.


Sambil menikmati semangkuk bakso yang hampir tandas.


Saat hendak menyeruput es teh karena kepedasan, ponsel di sakunya bergetar.

__ADS_1


drrrt....drrrt


~ Bossy Boss Calling ~


" Yah bang, hah... "


( Julian ?! ) - Nada heran -


" Iyah bang gue dengerin ada apah ? "


( Kenapa suara kamu begitu ? )


" Ah huh... Ini gue kepedesan, bentar yah. "


Meneguk langsung es teh tanpa sedotan.


" Iya bang kenapa ? "


( Selesainya urusan di kampus tolong antar Moza ke restoran Green Imperial di jalan XX. )


" Okeh bang, anaknya tadi pergi terima telpon dari abang gak balik-balik. " - Setengah berbisik -


( Apa ?! Itu sudah 15 menit yang lalu. Tolong kamu cari dia Julian ! ) - Cemas -


" Lah ?! " - Kaget dan ikut cemas -


( Sekarang Julian ! Saya tunggu kabar dari kamu. Assalamualaikum. )


Tut tut tut


" Waalaikumsalam. "


~ End Call ~


Dih belum juga gue jawab salam udah ditutup aja nih !


Gerutu Julian setelah panggilan teleponnya berakhir secara sepihak.


" Kenapa lo Jul ?! " Tanya Deana heran dengan ekspresi pemuda itu yang tampak aneh setelah menerima telepon.


" Iya kenapa lo Jul, muka lo gitu amat. Siapa yang telpon si ?! " Renata ikut penasaran.


" Eh... gue keluar bentar ya. Jagain bakso gue ! "


" Dih ogah bakso udah abis juga mau jagain kuahnya doang, kucing juga ogah nyamber Jul. " Cibir Deana.


" Hehe iya lupa. Pokoknya tunggu bentar disini. "


" Mau kemana si lo ? " Tanya Deana.


" Nyariin Momo bentaran. " Jawabnya sambil setengah berlari keluar kantin.


" Mereka berdua kenapa si ? Tadi Momo terima telpon sampai dibelain keluar kantin, sekarang si Julian bingung nyariin Momo setelah terima telpon juga. " Dahi Deana mengerut heran dengan kelakuan kedua sahabatnya dan menatap Amira dan Renata yang sama merasa herannya.


โ€ข โ€ข โ€ข


Keluar dari kantin Julian menyusuri area terdekat mencari keberadaan temannya yang tidak kunjung kembali setelah menerima telepon.


Lo kemana si Mo ?! Kenapa gak langsung balik si kalau udah selesai telponannya ?!


Mencari keberadaan sahabatnya sembari menggerutu sendiri.


Dan di dekat kursi taman di samping pohon besar dilihatnya gadis yang dicari, terlihat sedang berbicara dengan seorang pemuda yang tak asing dimata Julian.


Ngapain tuh si Momo sama Ketua Senat Mahasiswa ?! Eh bawa bunga segala.


Julian mendekat ke arah dimana Moza sedang berbicara dengan pemuda bernama Geofano itu.


Dan Julian menunggu saat yang tepat untuk menyela pembicaraan kedua orang itu.


" Maaf kak, jika kakak tidak pernah mendengarnya bukan berarti Moza memang tidak sedang berpacaran dengan siapapun kan ?! " Akhirnya pemuda itu angkat bicara saat dilihatnya sang sahabat benar-benar sedang butuh pertolongannya.


" Julian. " Membuat kedua orang itu sama-sama terkejut hingga tak sengaja menyebut nama Julian hampir bersamaan.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’œ


Maaf ya waktu update nya sedang kurang konsisten.


Kenapa ? Beneran kan gara-gara lu ngelapak lain ?!


Serius enggak kok. Akuh lagi sibuk dengan tugas di dunia nyata. Jadi waktu ngehalunya berkurang.


Alasan lu mah ?!


Beneran. Tapi sebagai gantinya setiap update agak panjangan kok episodenya.


Masa si ? Gak berasa tuh ?!


Iya kok biasanya per episode 1000-1200 kata, ini bisa 1600-1800 kata (lumayan kan) Hehehe


Serah lu lah, yang penting jangan putus ceritanya....


Siap Boskuh.... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Cieh gue dipanggil boss, berasa jadi sultan gue mah...


Boss Sultan bagi poin dong vote akuh ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ๐Ÿ˜ƒ


Jangan pelit, orang pelit kolornya sempit ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ

__ADS_1


__ADS_2