Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Akward Lunch


__ADS_3

HEGA


" Baiklah ayo kita berteman, dan tidak ada beban jika bertemu. "


Aku tersenyum puas mendengar kalimat yang sedari tadi kutunggu-tunggu keluar dari bibirnya. Jika perempuan lain jangankan kuajak berteman, langsung kuajak menikah mungkin mereka akan langsung mengiyakan.


Tapi tidak dengan gadis yang satu ini, membuatnya mengucapkan kata 'teman' saja harus membuatku membujuknya susah payah.


Urusan bagaimana aku mendekatinya akan kupikirkan nanti, setidaknya sekarang gadis di hadapanku ini tidak akan menghindar lagi jika bertemu denganku.


Setidaknya sekarang aku bisa bebas dan leluasa menemuinya kapanpun aku mau, tanpa perlu mencari-cari alasan untuk bertemu dengannya atau hanya sekedar melihatnya.


Apa begini rasanya memperjuangkan cinta, tak pernah terbayangkan sebelumnya aku akan mengejar seorang gadis hingga membuatku nyaris tidak waras seperti ini.


" Kak Hega tidak makan ? " Tanyanya membuyarkan lamunanku yang sedari tadi gemas melihat wajah imutnya yang tengah mengunyah makanan dengan sesekali menunjukkan ekspresi kesal yang tak bisa disembunyikannya.


Kenapa wajah kesalmu itu justru terlihat imut dan menggemaskan dimataku.


" Oh iya. " Jawabku singkat sambil mengambil makanan di hadapanku.


Kurang lebih hampir satu jam kami menghabiskan waktu untuk makan siang bersama, dengan obrolan-obrolan ringan yang masih terasa sedikit canggung.


Aku tahu jika gadis ini masih belum sepenuhnya nyaman berada di dekatku.


" Aduh.... Aku lupa membelikan makan siang dan minuman untuk teman-temanku. Mereka pasti akan mengomeliku nanti. Aku harus pergi, terima kasih makan siangnya. " Ucapnya tiba-tiba sambil beranjak dari kursinya.


Huft.... Masih juga ingin kabur....


Aku tersenyum geli melihat ekspresi lega di wajahnya yang dari tadi gelisah, menggunakan teman-temannya untuk lari dariku.




🍒🍒🍒


MOZA


Benar-benar entah kesialan ataukah keberuntungan aku bisa makan siang di tempat yang bagus seperti ini. Mungkin dua-duanya, aku bahkan tidak ingat apakah makanan tadi masuk lewat mulut ataukah hidungku.


Makan dengan santai apanya ? Nyatanya baru saja kami makan siang dengan sangat canggung.


Bagaimana tidak canggung, jika seseorang menatap tajam padaku saat aku makan. Entah berapa kali aku hampir tersedak setiap kali melihat tatapan mata itu. Rasanya makananku sulit masuk ke tenggorokan.


Untungnya aku menemukan cara untuk segera kabur dari kecanggungan ini. Segera aku pergi meninggalkan pria itu di belakangku tanpa menoleh ke arahnya lagi.

__ADS_1


Menggunakan teman-temanku sebagai alasan, dengan cepat aku memasuki lift dan kembali ke butik.


Sampai di pintu aku mengatur nafasku yang setengah terengah karena berjalan dengan terburu-buru. Khawatir Deana, Amira dan Renata akan mengomel padaku yang menghilang cukup lama.


Tapi pemandangan apa yang kulihat di hadapanku saat ini, sia-sia kecemasanku saat kulihat mereka bertiga dan baru kuingat juga ada Julian yang datang membantu tengah bersantai menikmati makanan yang sama persis dengan makanan yang kumakan tadi.


" Darimana aja kamu Mo ? Nih kita sisain jatah lo. " Ucap Julian sambil menunjuk beberapa makanan di atas meja.


" Gak usah sisain buat dia, pasti udah makan dia tadi. Iya kan bang ? " Sambar Deana sambil mengedipkan matanya.


Sontak aku menoleh ke belakang, kulihat pria itu berdiri bersandar di pintu butik, memasukkan kedua tangan di saku celananya, mengangguk pelan ke arah Deana.


" Makasih ya abang ganteng kiriman makan siangnya. " Ucap Renata yang masih mengunyah makanan di mulutnya.


" Semoga sesuai dengan selera kalian. " Ucapnya sambil masuk dan duduk di salah satu sofa yang masih belum tertata di tempat yang seharusnya.


" Abang gak lihat tuh makanannya pada ludes, nih cewek-cewek aja kelihatannya feminim dan manis, aslinya sudah macam beruang kelaparan pada doyan makan. " Cibir Julian, yang kemudian mendapat tatapan tajam dari kami berempat.


Kugigit bibir bawahku menyesali kebodohanku, pasti saat ini dia mentertawakanku dalam hati.


Aku kabur dengan alasan teman-temanku padahal diam-diam dia sudah mengirim makan siang untuk mereka.


Sial.... Konyolnya aku, pliss sembunyikan aku dimanapun....


" Diem Jul. " Segera kujitak kepalanya tanpa ampun membuatnya mengaduh kesakitan.




🍒🍒🍒


AUTHOR


Julian dan Moza masih saja berdebat, Hega menyaksikan pertengkaran dua sahabat itu dengan mata elangnya.


" Tega lo sama gue, harusnya lo iba nih sama gue yang baru aja putus. " Ucap Julian sambil mengelus dadanya memelas.


" Bodo amat, sekarang aja kamu merana gitu, paling besok udah dapat gebetan baru. Mengasihanimu adalah perbuatan yang sia-sia. " Gerutu Moza sambil melotot ke arah Julian.


" Yah kalo gue gak dapat cewek baru, lo aja gimana jadi cewek gue ? Asli deh buat yang terakhir. " Goda Julian.


Sontak kalimat Julian membuat Amira, Deana dan Renata menyemburkan makanan yang ada di mulut mereka ke arah Julian.


" Dasar jorok kalian. " Gerutu Julian sambil membersihkan remahan kue yang tersembur ke arah bajunya.

__ADS_1


" Salah sendiri bercanda gak pake saringan. " Omel Amira.


Klotak.....


Hega pun yang tadinya tengah membalas chat dari Bara tak kalah terkejutnya. Ponsel yang digenggamnya lolos begitu saja, jatuh menghantam lantai marmer.


" Bang hapenya jatuh. " Suara Julian menyadarkan Hega dari keterkejutannya.


Dipungutnya ponselnya di lantai, beranjak dari sofa.


" Silahkan kalian lanjutkan, saya ada urusan lain. " Pamitnya pada gadis-gadis itu ramah, namun menatap tajam ke arah Julian.


Perlahan berjalan mendekati Moza, dan berbisik di telinga gadis itu.


" Ini terakhir kalinya saya membiarkan kamu kabur. Sampai ketemu lagi. " Ucapnya sambil tersenyum jahil dan keluar dari butik.


Moza masih terperangah di tempatnya, memijat celah diantara kedua alisnya frustrasi.


" Lo kenapa Mo ? " Tanya Deana.


" Sini duduk, kayaknya lo kelewat syok sama ucapan bocah tengil ini. " Sambung Amira sambil menarikku duduk di sampingnya.


" Yaelah, gue juga cukup ganteng buat jadi pacarnya Momo, pake syok segala. Yang ada seneng kali. Iya kan Mo ? " Ucap Julian penuh percaya diri sambil memainkan kedua alisnya.


Moza tersenyum menanggapi celotehan Julian membuat Julian merasa dibela, baru juga akan mengatakan sesuatu lagi gadis itu sudah lebih dulu mengucapkan kalimat yang membuatnya mati kutu.


" Di mimpimu. " Ucap Moza dingin kemudian menyeruput ice latte yang masih utuh, membuat ketiga gadis lainnya tertawa terbahak-bahak mengejek Julian.


" Lo dari mana aja tadi Mo ? " Tanya Renata mengulangi pertanyaan Julian tadi.


" Jalan-jalan cari angin. " Jawab gadis itu yang tidak sepenuhnya berbohong karena memang kenyataannya dia pergi untuk menyegarkan pikirannya.


" Jalan-jalan cari angin tapi dapatnya cowok ganteng ya Mo ? " Goda Deana penuh arti membuat teman-temannya mengernyit bingung, sedangkan sahabatnya itu hanya tersenyum kecut.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕

__ADS_1


__ADS_2