
AUTHOR
" Gimana kalau cewek itu naksir sama gue ? "
Pertanyaan Bara yang kelewat percaya diri itu seolah bisa bersaing dengan Hega soal siapa yang lebih menarik dimata wanita, sedikit membuat Hega untuk pertama kalinya merutuki kesempurnaan yang ada pada dirinya.
Tampan, bertubuh tinggi dan gagah, pengusaha yang cerdas dan briliant serta berkompeten dalam banyak hal. Tuan Muda pewaris kekayaan berlimpah keluarga Saint.
Jika bisa dia ingin melepas predikat itu, kekayaan dan jabatan mungkin bisa dilepasnya. Tapi dia tidak bisa berbuat apapun pada karunia yang diberikan Tuhan pada bentuk fisiknya.
Faktor utama yang membuat banyak gadis menginginkannya. Dan dia khawatir jika gadis yang akan ditemuinya hari ini termasuk dalam kategori wanita yang mudah terpesona pada tampilan fisiknya saja.
" Malah bagus jika sampai terjadi seperti itu. " Ucap Hega datar mengomentari ucapan narsis Bara dengan kalimat yang mengandung unsur kenarsisan di dalamnya.
" Tapi lo pernah ngaca gak Bar ? " Lanjut Hega sinis kemudian menyeringai dengan senyum iblisnya.
" Maksud lo ? " Dahi Bara berkerut bingung.
" Kira-kira kalau kita berdiri bersebelahan, siapa yang lebih ...." Seringai Hega lagi mencela kepercayaan diri sahabatnya itu.
" CIH.... Cukup gak usah lo teruskan. Dasar sahabat laknat lo Ga. " Omel Bara memotong kalimat Hega yang pastinya akan terdengar menyebalkan di telinga jika sampai kalimat itu diteruskan. Bibir Bara monyong-monyong gak jelas karena kesal.
Memang benar adanya jika selama ini para gadis akan lebih tergila-gila pada sosok dingin Hega, meskipun Bara tak kalah tampan dari sahabatnya itu.
Entah pesona apa yang membuat para gadis lebih terobsesi pada sosok cuek dan jutek seperti sahabatnya itu. Padahal sikap Hega tidak ada manis-manisnya pada perempuan.
Justru sebaliknya, dingin dan acuh, seolah menganggap para gadis yang mengejarnya selama ini hanyalah sosok transparan, tak terlihat.
Bahkan semasa kuliah, banyak gadis yang mendekati Bara dengan tujuan agar bisa dekat dengan Hega. Memanfaatkan Bara untuk pdkt dengan pemuda yang sulit didekati itu, dan pastinya tidak ada yang berhasil.
Hega memasuki ruang istirahat yang ada di ruang kerjanya, mandi dan mengambil setelan jas di lemari yang ada di ruangan tersebut.
Setelah merasa cukup rapi, Hega kembali melangkahkan kakinya menghampiri Bara.
" Ayo Bar, lo iku gue. " Ucapnya sembari merapikan dasinya.
" Heh.... Ngapain gue ngikutin lo kencan buta ?! " Cibir Bara malas.
" Kencan buta kepala lo. "
" Ketemu cewek yang merupakan calon istri lo, yang lo sendiri gak tahu wujud dan penampakan tuh cewek seperti apa. Jika bukan kencan buta lalu apa dong namanya ? Kencan Kejutan ? Atau gue sebut aja beli kucing dalam karung eiiitss sorry gue ralat, nemu istri dalam..... "
Belum sempat melanjutkan celotehan ngawurnya, lagi-lagi wajah tampan Bara menjadi korban bantal terbang yang dilempar oleh sahabatnya itu.
" Ugh... Lo beneran sahabat laknat Ga, seneng bener nyiksa gue. " Rintih Bara.
" Ayo buruan, atau bukan bantal lagi yang akan melayang ke muka tengil lo itu ! " Ancam Hega.
" Haish... Iya iya, dasar lo ini seenaknya aja sama gue. Lagipula ngapain gue ngikutin lo kesana coba ? " Protes Bara tapi tetap menuruti sang sahabat untuk menemaninya.
" Siapa tahu lo bener. " Hega berjalan menuju lift, diikuti Bara disampingnya dan satu orang di belakang mereka yang merupakan bodyguard Hega.
" Hah.... ?! " Bara tak mengerti.
" Ya siapa tahu selera tuh cewek modelan kayak lo gini. Jadi.... " Hega menggantung kalimatnya dengan licik.
" Sialan lo Ga, masa lo mau pake gue lagi buat mengalihkan perhatian cewek dari lo si ?! Aliza mau gue taruh mana. Bisa ngamuk dia kalo tahu gue genit-genit sama perempuan lain. " Cerocos Bara saat mengetahui maksud sahabatnya itu, kemudian mengomel tak jelas kesana-kemari.
" Bukankah selama ini lo gak pernah ketahuan ya sama Aliza ? Jadi tinggal lo pinter-pinter main kucing-kucingan seperti biasanya. Atau gue yang bakal bantu lo kasih tahu Aliza kelakuan lo di belakang dia. " Cibir Hega sinis kemudian menyeringai.
__ADS_1
" Cih. Sialan lo. Bukan temen udah gue timpuk lo pake sepatu gue. "
" Kalau lo berani coba aja. " Hega memperingatkan dengan datar
" Udah ngikut aja. Anggap saja lo lagi nemenin gue ketemu klien. " Lanjutnya masih dengan nada datar yang sama.
Pak Bakti sudah menunggu di lobi Gedung Pusat Golden Imperial Group, membuka pintu belakang saat tuan mudanya sudah mendekat.
Kemudian tampak Pak Bakti menatap ke arah Bara.
" Saya ada rapat nanti setelah bertemu kakek, jadi Bara sekalian ikut dengan saya. " Hega yang tahu arti tatapan mata supir pribadinya itu langsung memberi penjelasan, pria itu mengangguk mengerti.
" Baik Tuan Muda, silahkan. " Hega memasuki mobil, dan Bara duduk di sisi satunya.
Sedangkan pengawal tadi berada di mobil yang berbeda bersama satu rekannya yang merangkap supir, melajukan mobil di belakang mobil yang dinaiki Hega.
โข
โข
โข
๐๐๐
Perjalanan sekitar setengah jam, tibalah di tempat yang tak asing baginya. Bara menatap Hega dengan tanda tanya.
Gak salah nih tempatnya ? Masa ketemu calon istri dan mertua di rumah sakit si ? Gak ada tempat yang lebih keren apa ?!
Bara geleng-geleng kepala tak mengerti dengan situasi yang dihadapinya.
" Hotel lo gak ada ruangan yang kosong Ga ? Sampai kencan buta lo diganti disini ?! " Goda Bara menahan tawa, sambil jarinya menunjuk gedung bernuansa putih di hadapannya.
" Pak Bakti yakin tidak salah tempat ? "
" Memang disini tuan muda. " Pria tersebut mematikan mesin mobil, keluar terlebih dahulu dan membukakan pintu untuk majikan mudanya.
" Hahahha.... Jangan bilang calon bini lo dokter atau suster disini Ga. " Ejek Bara tak sanggup lagi menahan tawanya.
" Ketawa lagi kalau lo masih punya nyali ! " Ancam Hega membuat Bara seketika mingkem, kicep tak bersuara, menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar tak lagi keceplosan.
Hega menatap kearah gedung rumah sakit mewah itu, mengancingkan jasnya dan berjalan dengan arahan Pak Bakti yang sudah membawa bouquet bunga tulip putih berukuran cukup besar.
Haaahhhh... Apa ini juga atas perintah kakek ? Kakek benar-benar mempersiapkan segalanya dengan baik. Tulip putih ? Kenapa tidak mawar merah saja sekalian.....
Hega menggerutu dalam hatinya, sedangkan Bara terkikik kecil saat mendapati ekspresi sahabatnya itu saat melihat Pak Bakti membawa bouquet bunga di tangannya.
Hega memenuhi keinginan kakeknya untuk menemui gadis itu dan keluarganya. Dan disinilah sekarang dirinya berada, di lobi sebuah rumah sakit ternama di kota ini.
Rumah sakit yang juga salah satu aset keluarga Saint, karena kakek Suryalah yang menjadi penyokong dana terbesar bagi rumah sakit tersebut.
Rumah sakit milik keluarga salah satu sahabatnya, Derka Raharsa. Rumah sakit yang pernah dia tuju saat membawa Moza yang sedang pingsan di kosnya beberapa minggu yang lalu.
Tak disangka sekarang dia menginjakkan kakinya kembali di tempat ini. Namun bukan karena gadis yang dicintainya, melainkan demi memenuhi perintah kakeknya sekaligus permintaan terakhir dari sahabatnya, Arka.
Tolong kamu jaga adik saya jika suatu saat saya tidak bisa berada di sampingnya.
Bahagiakan dia, karena kamulah satu-satunya yang bisa saya percaya.
Kalimat terakhir yang diucapkan sahabatnya beberapa hari sebelum insiden yang merenggut nyawa kakak dari gadis yang akan dia temui hari ini.
__ADS_1
Kalimat permohonan yang selalu terngiang-ngiang di telinganya, dan muncul di setiap mimpinya tentang sahabatnya yang telah tiada itu.
Gadis yang memang sudah dijodohkan dengannya sejak kecil. Calon istri pilihan sang Mama yang juga sudah berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa.
Di depan salah satu ruangan VVIP, Hega melihat sang kakek yang sedang bersama seorang pria paruh baya yang tampak seumuran dengan ayahnya Aryatama.
Pria paruh baya itu menatap ke arahnya dengan keraguan, terlihat sedang mencoba menggali ingatannya. Sesaat kemudian tampak gurat keyakinan di wajah pria itu.
Melihat pemuda yang dikenalnya, pria itu langsung memeluk cucu dari kakek Surya yang sedari tadi tampak ragu-ragu mendekat ke arah mereka.
Hega dengan sedikit gemetar membalas pelukan pria itu, saat pemuda itu menyadari jika pria itu adalah ayah dari sahabatnya, Arka.
( To Be Continue )
๐
Haduh siap-siap akuh dimaki-maki nih di komentar. ( Cari tempat ngumpet dulu deh ๐๐๐ )
๐
๐๐๐๐
Hega : Yaelah thor tega banget gue digantungin lagi. Gue udah capek diginiin. ๐ฅ๐ฃ
Me : Sabar ya, sedikit lagi. Semua akan indah pada waktunya.๐ค
Hega : Kalau lo lama-lamain gue mana bisa sabar.๐
Me : Yakin deh dikit lagi ๐๐๐
Hega : Awas lo kalo lo molorin lagi, gue ajak para readers buat demo ๐
Me : Jangan dong, iya iya gak lagi gantungin dirimu lagi dan php in readers. Ampuuun ๐๐๐๐๐ฃ๐ฃ๐ฃ๐ญ๐ญ๐ญ
๐
Yang sudah geregetan pengen ngomelin akuh, pliss sabar dulu ya....
Tapi kalau tetep mau ngomelin akuh ya gak papa kok..... Akuh pasrah...
Itung ~ itung supaya kolom komentarnya gak kosong ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
Penantian kalian ada di next part. ๐ค๐ค๐ค๐๐๐
Semoga sesuai dengan harapan kalian ya.
Kalau enggak ya mapkan akuh.....
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Terima kasih yang masih setia membaca kisah Hega dan Moza ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...
โ LIKE ๐
__ADS_1
โ COMMENT โ๐
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐