Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Frustrasi


__ADS_3

AUTHOR


" Kak.... " Rengek Ryuza sambil menjatuhkan kepalanya di meja, menyembunyikan wajahnya diantara kedua lengannya yang terlipat di atas meja.


" Pft.... Iya iya adikku sayang, apa kamu mau menginap ? " Tanya Moza gemas pada tinggal gila sang adik.


Pemuda itu langsung berbinar, menatap memelas ke arah sang kakak. Kemudian lagi-lagi menjatuhkan kepalanya tapi kali ini di pundak sang kakak.


" Jadi boleh aku menginap ? " Rayu pemuda itu sok manis dijawab anggukan sang kakak.


" Satu minggu ya kak. " Lanjutnya dengan mengedipkan kedua matanya berulang kali.


" Dasar ngelunjak. " Omel Moza memukul punggung pemuda itu.


" Hahahahaha..... " Sontak membuat ketiga sahabat Moza tertawa terbahak melihat adegan unik tersebut.


" Apa kalian ketawa ? " Lagi-lagi Ryuza reflek memasang ekspresi iblisnya.


" Duh dasar ini anak. Jangan biarin dia menginap Mo, biar tahu rasa dia. " Goda Deana.


Sekejap mata tajam melotot Ryuza berubah ramah dilengkapi senyum mempesona andalannya.


" Maafkan Ryu, kakak-kakak semua. " Ucap pemuda itu dengan tersenyum sangat manis dihadapan ketiga sahabat kakaknya itu.


Amira dan Renata yang memang baru pertama kali bertemu pemuda itu tentu saja terpesona dengan sikap manis Ryuza dan melupakan wajah iblis yang tadi sempat membuat mereka merinding.


" Cih. " Sedangkan Deana yang sangat mengenal baik perangai pemuda itu hanya berdecak malas.


Begitulah kurang lebihnya kepribadian seorang Ryuza Arvana Dama, hanya manis pada sang kakak, menjadi adik yang manja dan imut.


Namun pada orang lain akan bersikap dingin tanpa ekspresi, bahkan pada orang tuanya sendiri saja juga kerap kali bertingkah menyebalkan, terutama dengan sang ayah yang selalu sulit akur.


Begitulah drama yang terjadi sehingga Ryu berhasil mendapatkan ijin untuk menginap di tempat sang kakak.


Bu Dina pemilik kos pun dengan mudah mengijinkan karena memang mengenal pemuda itu saat pertama kali Moza datang ke tempat kos miliknya diantar oleh keluarganya.


Apalagi tempat kos yang ditempati Moza bukan kamar-kamar yang berada dalam satu rumah besar. Melainkan flat-flat dengan taman besar di tengah tengahnya, berisi beberapa gazebo untuk tempat menerima tamu.




🍒🍒🍒

__ADS_1


Kembali kepada cerita sang Presdir, Hega memutuskan menahan diri, menunda keinginannya untuk menemui gadisnya.


Tujuan utamanya sekarang adalah menyelesaikan masalah perjodohan yang diputuskan sang kakek secara sepihak tanpa berunding dahulu dengannya. Jika saja sang kakek tidak membawa-bawa nama sang Mama, Hega pasti tidak akan memperdulikan apapun keputusan yang diambil sang kakek untuknya.


Keesokan harinya Hega yang tengah sibuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda selama dirinya pergi ke LA.


Ceklek....


Terdengar suara pintu terbuka tanpa ada pemberitahuan. Dilihatnya sosok sang kakek memasuki ruangannya bersama sang ayah.


" Kenapa kakek tidak memberitahu akan datang ? " Tanya Hega sambil menghampiri kakek dan papanya kemudian mencium punggung tangan kedua pria itu.


" Apa kakek perlu ijin jika ingin menemui cucunya ? Apalagi ini kan masih perusahaan kakek. " Ucap sang kakek.


" Bukan begitu maksud Hega kek. Hega sudah berencana akan datang mengunjungi kakek sore ini. "


" Lebih cepat kita membahas masalah perjodohanmu, maka akan lebih baik. Usiamu sudah lebih dari cukup untuk menikah. " Ucap sang kakek langsung pada topik yang memang ingin diselesaikan oleh Hega.


" Jangan membahasnya lagi kek, meskipun kakek mengatakan itu adalah permintaan terakhir almarhumah Mama, Hega sudah memikirkannya matang-matang. Mama akan mengerti Hega, Mama selalu mengutamakan kebahagiaan Hega kek. Jadi siapapun pilihan Hega, Mama pasti akan mendukung jika itu membuat Hega bahagia. Jadi tolong hentikan perjodohan yang Papa dan Kakek atur tanpa sepengetahuan Hega. " Tegas Hega pada kedua pria di hadapannya.


" Tapi Nak.. " Arya angkat bicara namun dipotong oleh sang papi.


" Sttt... Kamu diam saja Arya, biar aku yang bicara pada putramu. " Potong kakek Surya.


" Baik Pi. " Jawab Arya menurut pasrah.


" Huft... Berhentilah membelanya kek, Hega lihat sendiri hari itu anak kakek ini bertemu dengan Keluarga Grace di rumah kedua. " Ucap Hega dengan nada dingin sambil menatap tajam ke arah Papanya.


" Dengarkan Papa dulu Nak. " Arya yang tidak tahu apa yang dimaksud putranya berusaha menjelaskan.


" Cukup Pa, berhentilah mengganggu dan mencampuri kehidupan pribadiku. Cukup Papa gunakan Rania untuk menjebakku waktu itu, jangan juga gunakan kakek apalagi menyebut-nyebut nama Mama untuk melancarkan rencana Papa. " Amarah kembali merasuki hati Hega.


" Hega, cukup. Berhenti menuduh Papamu. Jika kakek mengatakan Papamu tidak terlibat, maka artinya Papamu benar-benar tidak tahu apa-apa. " Kalimat penuh ketegasan Surya membuat Hega pasrah.


" Jadi apa yang kakek inginkan dari Hega ? Menuruti keinginan kakek ? Tidak, kakek tahu bagaimana keras kepalanya Hega kan. Bahkan jika kakek menarik kembali semua aset dari keluarga Saint untuk Hega, jawaban Hega tetap sama. Yaitu TIDAK. " Hega semakin menunjukkan betapa keras kepalanya dirinya.


Ingin menunjukkan bahwa tidak ada satupun yang bisa mengatur kehidupannya, baik karir ataupun cinta. Semuanya adalah mutlak ada di tangannya.


" Dengarkan penjelasan dari kakek dulu baru putuskan. " Ucap sang kakek tenang.


" Kakek tahu apapun yang akan kakek katakan, tidak akan merubah keputusan Hega. "


" Baiklah, jika apa yang akan kakek katakan tidak bisa mempengaruhimu, maka kakek juga akan menyerah. Lakukan apapun maumu. " Ucap kakek Surya yakin jika apa yang akan dikatakannya pasti merubah pemikiran cucunya itu.

__ADS_1


" Arya, keluarlah ! Tunggu Papi diluar, biarkan Papi berbicara berdua dengan putramu. " Perintah Suryatama pada putranya yang dijawab anggukan oleh pria berusia 47 tahun itu.


Seperginya Aryatama, Hega terlibat pembicaraan serius dengan sang kakek. Sekitar satu jam lamanya kedua pria berbeda generasi itu berada di ruang Presdir tanpa ada satu halpun yang terdengar.


Hening, dan mencekam. Itulah suasana yang mungkin menggambarkan suasana Lantai 15 Golden Imperial Group dua hari ini.


Mood buruk sang Presdir yang pastinya berimbas pada suasanya kantor. Jika dalam keadaan normal saja Presdir muda itu menuntut kesempurnaan dalam setiap hasil kerja karyawannya, maka jika dalam kondisi suasana hati yang kacau seperti ini, justru semakin meninggkatkan level kesempurnaan sang Presdir.


Tidak ada sedikitpun kesalahan yang akan ditolerir olehnya.


Satu jam berlalu, akhirnya keluarlah sang kakek dari ruang kerja cucunya. Arya yang sedari tadi ditemani oleh Bara di ruang tunggu mendatangi ayahnya yang sudah mengisyaratkan untuk pulang.


Bara mengantar kedua orang tersebut sampai lift dan membungkukkan badannya mengantar kepergian kakek dan ayah dari sahabatnya itu. Setelah itu melihat Julian yang baru saja datang dan atas permintaannya.


Julian yang seharusnya cuti selama tiga hari atas ijin Hega, terpaksa diminta Bara untuk datang ke kantor membantu menghandle beberapa pekerjaan yang tertunda. Kedua pemuda itu menuju ruang Presdir.


Aaarrrggghhh.....


Terdengar suara teriakan murka bercampur frustrasi dari ruangan dengan pintu yang setengah terbuka itu, membuat teriakan amarah pemuda itu terdengar hingga ruangan staff sekretaris yang tentunya membuat siapapun yang ada disana bergidik ngeri.


🌟


Hayooo.....


Kakek Surya bilang apa ya ?????


Sampai tuh kantor sudah seperti kena gempa ?


Xixixixixi...


MASIH MAU LANJUT KAH ?????!!! Comment yah supaya semangat tulisnya dan nanti malam bisa UP.... 💋😍😘


🌟


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍

__ADS_1


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


__ADS_2