
AUTHOR
Deana yang tadinya terus ditahan oleh Mami Linda untuk mengulur waktu agar memberikan kesempatan pada Dimas mendekati Moza lagi, berhasil meyakinkan wanita itu agar menyusul Moza dan Dimas.
Dan disanapun Mami Linda langsung memahami situasi apa yang tengah terjadi, apalagi saat menangkap dua pasang mata yang saling menatap satu sama lain dengan bahasa yang yang tak terucapkan namun terlihat jelas isi hati keduanya dalam kediaman itu.
" Dea sayang, apa Hega adalah pria yang dicintai Momo cantik ? " Tanya Mami Linda pelan dijawab anggukan oleh gadis disampingnya itu.
Seketika Mami Linda lemas tak bersemangat lagi, Mami Linda juga pernah muda, dia tahu persis apa arti tatapan mata kedua insan di hadapannya itu.
Mami menyerah Dea, saingan anak Mami terlampau berat.
Mami Linda bergumam pelan menggandeng Deana, dan gadis itu hanya menghela nafas berat mengelus pelan punggung tangan wanita itu.
Mami Linda tahu persis siapa pemuda yang ada dihadapannya, yang sedang menatap lekat gadis yang ingin dijadikannya menantu itu.
Pemuda itu adalah sahabat putra sulungnya Bara. Dia mengenal baik pemuda itu, latar belakang keluarga dan pendidikannya.
Tapi bukan itu saja yang membuatnya lantas dengan mudahnya menyerah untuk menjadikan Moza menantunya.
Jika alasannya hanya karena kekayaan, meskipun keluarga Prasetya tidak bisa dibandingkan dengan keluarga Saint. Tapi Mami Linda percaya diri bisa memberikan kebahagiaan dan kenyamanan untuk calon menantunya.
Tapi tidak hanya latar belakang keluarga saja yang menjadi alasannya, namun Mami Linda tahu persis bagaimana sifat dan karakter pemuda yang saat ini menjadi saingan cinta putra bungsunya.
Pemuda yang bisa dibilang sempurna dalam semua aspek, kecuali sifat dinginnya tentu saja. Bahkan ibu Bara itu sempat berpikir jika saja dia memiliki seorang putri tentu saja Hega akan menjadi sosok menantu sempurna untuknya.
Tentu saja selalu membuat Bara mengomel dan protes jika sang Mami selalu memuji sahabatnya itu ketimbang dia yang adalah anaknya sendiri.
" Kita bertemu lagi nanti ya Rania sayang, kakak harus pergi sekarang. " Akhirnya Moza menolak dengan lembut permintaan Hega.
" Kakak cantik janji ya akan makan es krim dengan Rania ? " Rengek gadis kecil itu memasang wajah imutnya.
" Pinky promise. " Jawabnya sambil mengulurkan jari kelingkingnya pada gadis kecil di pelukan Hega dan Rania menyambutnya dengan senyum ceria.
Kedua gadis cantik berbeda generasi itu menautkan jari kelingking mereka. Saling berjanji untuk bertemu lagi, terukir sebuah senyum tipis di bibir Hega, mendapati kesempatan lain untuk bertemu gadis itu.
Dia akan menggunakan janji Moza yang dibuat dengan Rania untuk bertemu kembali gadis itu, mungkin terdengar licik dan jahat. Tapi Hega tak peduli, asalkan dia bisa kembali melihat gadis itu dari dekat dan mendengar suaranya. Atau hanya sekedar berbagi udara yang sama.
Moza mengikuti langkah kaki Deana dan Mami Linda kembali ke salon. Melanjutkan rencana mereka untuk perawatan rambut dan wajah disana.
Moza yang tidak mengikuti perawatan hanya duduk manis di salah satu sudut ruangan yang disediakan salon untuk tempat menunggu, sebuah mini cafe dengan bebebapa set meja kursi khusus bagi pelanggan salon.
__ADS_1
" Apa lelaki itu bang Hega ? " Tanya Dimas akhirnya.
Moza yang sempat melamun seketika bingung harus menjawab apa, dan akhirnya gadis itu hanya mengangguk saja.
Dimas tak ingin bertanya lebih jauh meskipun akhir-akhir ini dia sedikitnya tahu jika gadis itu sedang patah hati. Yang ternyata pria yang membuat Moza jatuh cinta dan patah hati sekaligus adalah pria yang selama ini sangat dia kagumi.
Seketika Dimas merasa patah arang, seolah kesempatan untuk mendekati gadis itu sekali lagi tertutup rapat.
Bagaimana gue bisa membuat lo mencintai gue Mo, sedangkan di mata lo hanya terlihat bayangan bang Hega saja. Gue gak akan mampu bersaing dengannya.... ~ Dimas ~
" Apa tidak akan pernah ada kesempatan untuk kita Mo ? " Tanya Dimas memberanikan dirinya untuk terakhir kalinya.
" Maafkan aku Dim, sampai kapanpun hanya akan ada persahabatan diantara kita. Jika kamu berharap lebih dari itu, aku benar-benar tidak bisa. "
Sekali lagi jawaban yang sama yang didengar Dimas, kalimat yang sama persis dengan jawaban Moza saat Dimas menyatakan cintanya dulu.
Maafkan aku Dimas, aku tahu aku tidak berhak menyakitimu.
Tapi hatiku tidak bisa memberikan rasa yang sama seperti yang kamu berikan padaku.
Setidaknya kita masih bisa berteman.
Hatiku sungguh tidak bisa melihat lelaki lain, dan akupun tak ingin jatuh cinta lagi.
Moza membatin pilu, mengingat wajah Hega yang kembali menari-nari di kepalanya. Kemudian tanpa sadar gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali mencoba menghapus wajah itu dari kepalanya.
" Oke, aku akan menyerah sekarang. Tapi bisakah lo gak menghindari gue seperti sebelumnya ? Biarkan gue menata hati gue dan move on dengan sendirinya. "
" Waktu itu seperti yang pernah aku bilang, aku hanya ingin memberimu ruang untuk menata perasaanmu. Aku tidak mau kamu terus berharap dan sulit terlepas dari perasaanmu jika kita masih sering bertemu. " Tegas Moza.
" Bertemu ataupun menghindar tidak menjamin gue bisa melupakan dan.menghapus perasaan gue sama lo Mo. Jadi biarlah waktu yang akan mengatasi semuanya. " Balas Dimas dewasa.
Sepertinya kamu benar Dim, menghindar untuk bertemu dan bersembunyi dari orang yang kita cintai tidak menjamin kita bisa melupakannya.
Tidak melihatnya tak lantas membuatku bisa berhenti mencintainya dengan mudah.
Justru aku semakin tersiksa karena merindukannya. Jadi aku juga tidak akan sembunyi lagi, aku juga akan dengan tegar menghadapi cinta yang menyakitkan ini.
Batin Moza, memaksakan senyum dibibirnya dan mengangguk setuju pada permintaan Dimas untuk tetap bersikap seperti biasanya. Membiarkan waktu yang mengatasi segala kecanggungan diantara mereka berdua.
Begitu pula dengan dirinya yang tak akan menghindari Hega lagi, Moza tak ingin lagi sembunyi dan menghindar. Berharap dirinya akan lebih kuat ketika terbiasa bertemu pemuda yang dicintainya itu.
__ADS_1
Karena kedepannya pastinya akan muncul banyak situasi yang bisa saja mempertemukan dirinya dengan pemuda itu baik tanpa sengaja ataupun tidak.
Apalagi mengingat lokasi butiknya adalah Mall milik pemuda itu, belum lagi lingakaran sosial disekitarnya juga sedikit banyak berhubungan dengan pria tersebut.
Ditambah lagi situasi hari ini yang bisa dibilang seratus persen kebetulan, pertemuan yang benar-benar tidak terduga antara mereka.
Seperti Dimas yang menyerah pada hatinya untuk Moza, maka gadis itu juga memutuskan untuk menyerah. Karena memang tidak ada lagi kesempatan yang bisa mempersatukan mereka.
๐ Epilog ๐
Hega menatap punggung gadis itu menjauh dari tempatnya berdiri, dengan posisi Rania tetap berada dalam gendongannya.
Rania menatap kakaknya dengan penuh tanda tanya.
" Apa kakak mengenal kakak cantik itu ? " Tanya Rania polos.
" Iya, apa kamu menyukai kakak cantik itu Rania sayang ? " Hega bertanya kembali sambil mencubit gemas pipi adiknya seraya berjalan meninggalkan area taman mall.
" Iya aku menyukainya. " Jawab Rania mengangguk mantap.
" Apa kamu akan bahagia jika kakak cantik itu menjadi kakakmu ? "
Gadis kecil itu tampak berfikir, dahinya berkerut sangat lucu kemudian dengan antusias menjawab pertanyaan sang kakak.
" Rania sudah memiliki kakak yang sangat tampan, tapi Rania akan senang jika Rania juga bisa memiliki kakak yang sangat cantik seperti kakak itu. " Ucapnya kemudian tersenyum cerah.
Baiklah Rania sayang, kakak akan membuat kakak cantik itu menjadi kakakmu. ~ Hega ~
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Bantu VOTE agar karya ini naik RANK yah....
Terima kasih ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU....
โ LIKE ๐
โ COMMENT โ๐
__ADS_1
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐