
AUTHOR
Permainan masih terus berlanjut, kali ini Renata yang mengambil alih, memutar dengan keras botol yang ada di atas meja.
Moza yang tengah meneguk air mineralnya langsung tersedak saat bibir botol itu berhenti dan mengarah padanya.
Sebelum ditanya, gadis itu dengan cepat memutuskan.
" Dare. " Ucapnya datar.
" Yah... Padahal gue mau tanya-tanya nih soal hmmm... " Goda Renata kecewa dan beringsut di kursinya.
Gadis centil itu hanya tahu jika sahabatnya itu tengah dekat dengan pemuda yang selalu dipanggilnya Abang Cakep itu. Tapi Renata tidak tahu jelas perkembangan hubungan kedua orang itu. Membuat dirinya penasaran, apalagi mendengar celetukan Julian tadi jika saat ini Moza tengah patah hati.
Renata yang memiliki tingkat ke kepoan di atas rata-rata itu nyaris tak bisa menahan diri untuk bertanya.
Dan harapannya sia-sia saat mendapati sang sahabat lebih memilih tantangan daripada kejujuran.
" Hahahahaha... Miss kepo gagal menginvestigasi mangsa.... " Goda Deana.
" Okey, siapa yang mau kasih tantangan. " Tanya Deana.
" Gue. " Jawab Dimas agak ragu.
" Ekhem... Jangan bilang lo mau tantang Momo buat pacaran sama lo. Jangan macem-macem lo Dim ! " Julian memperingatkan namun dibalut dengan kalimat jahil.
" Sial lo, emang gue licik macam lo Jul. Suka cari kesempatan dalam kesempitan. " Ujar Dimas tak terima melempar bantal sofa ke arah wajah Julian.
" Hehehe.... Siapa tahu aja lo gak mau melewatkan kesempatan. Sorry if i'm wrong bro ! " Julian terkikik.
" Jadi tantangannya ? " Tanya Renata.
" Kan kita kenal udah lama nih, kita berenam berteman dan dekat. Tapi baru-baru ini saja kita tahu bakat desain tersembunyi lo yang cuma lo anggap keisengan itu. " Jelas Dimas.
" And then ? " Sela Renata tak sabar dengan kalimat panjang nan lebar Dimas.
" Tantangannya, jika lo memang menganggap kita semua sahabat, tunjukin sama kita hobi rahasia lo yang tidak kita ketahui, jika ada si. " Lanjut Dimas yang disambut binar ceria dan penasaran dari teman-temannya.
" Kalau gak ada ?! " Tanya Amira polos.
" Yah udah mission failed hehehe. " Cengir Dimas.
Kecuali Deana, semua mata sahabatnya mengarah pada Moza yang masih duduk tenang, sedangkan Deana malah terlonjak dan bertepuk tangan dengan antusias. Seolah tahu jika ada bakat tersembunyi lainnya dari sahabatnya itu.
Padahal baru saja Moza ingin pura-pura tidak punya hobi lainnya, tapi reaksi Deana membuat teman-temannya yang lain menatap curiga padanya.
" Yah... Deana sepertinya tahu sesuatu nih. Jadi sepertinya cuma Dea aja yang lo anggap sahabat spesial ya Mo ? " Tanya Renata dengan ekspresi kecewa.
" Haaah.... Baiklah, jika itu mau kalian. " Moza pasrah akhirnya.
" Yey... Good choice Momo sayang. " Ucap Deana memberi semangat sambil bertepuk tangan.
" Haish, kamu ikut Dea. " Ucap Moza menatap tajam gadis yang tengah bertepuk tangan antusias itu.
" Heh, kenapa gue ikutan. Kan.... " Protes Dea menyebikkan bibirnya.
" Siapa suruh kamu membuat mereka curiga, coba tadi kamu diam saja, aku akan pura-pura tidak punya hobi lainnya. " Bisik Moza saat merangkul Dea menuju panggung.
" Hehehe.... Gue terlampau antusias, tapi gue cuma backing ajah loh ya Mo. " Deana masih protes.
" Hm. "
Moza dan Dea duduk di kursi yang ada di atas panggung dengan stand mic di depan kursi tersebut. Beruntung kafe sedang mulai sepi karena malam sudah semakin larut.
Moza memangku sebuah gitar dan mengatur tinggi stand mic, begitu pula Deana sudah membawa sebuah gitar elektrik berwarna hitam kemudian mengepaskan stand mic di hadapannya sejajar bibirnya.
Melihat pergerakan dua gadis itu, Julian dan ketiga temannya berpindah ke meja yang ada di depan panggung. Menanti pertunjukkan yang akan ditampilkan kedua sahabatnya.
Dengan hitungan ketiga Moza mulai memetik senar gitar berwarna coklat muda di pangkuannya, melantunkan intro sebuah lagu.
Jari jemari kirinya menari-nari mengikuti chord gitar sesuai lagu yang dipilihnya.
Dan jari kanannya memetik senar gitar hingga mengeluarkan lantunan musik yang indah. Begitu pula yang dilakukan Deana.
Keempat sahabatnya menatap terperangah, saat dengan lentiknya jari-jari kedua gadis itu menari-nari di atas gitar mereka masing-masing.
Mulut Renata dan Amira kembali ternganga saat suara indah Moza mulai melantunkan lirik lagu.
Begitu pula Dimas dan Julian yang menatap dengan pandangan terpesona seolah sedang jatuh cinta.
Kau kan slalu tersimpan di hatiku
Meski ragamu tak dapat ku miliki
Jiwaku kan slalu bersamamu
Meski kau tercipta bukan untukku
Saat akan memasuki reff, Moza memejamkan matanya sesaat, kemudian mulai bersenandung kembali. Diiringi dengan suara Deana sebagai backing vocal yang suaranya juga cukup bagus.
__ADS_1
Tuhan berikan aku hidup satu kali lagi
Hanya untuk barsamanya
Ku mencintainya sungguh mencintainya
Rasa ini sungguh tak wajar
Namun ku ingin tetap bersama dia
Untuk selamanya
Teman-temannya dan beberapa pengunjung kafe yang masih tersisa ikut menggerakkan badan mereka sesuai irama musik. Dan ada pula yang ikut bersenandung lirih.
Saat mata gadis itu kembali terbuka, mata indahnya menangkap sosok pria yang namanya masih tersimpan rapi di hatinya. Membuat sudut hatinya bergetar.
Mengapa cinta ini terlarang
Saat ku yakini kaulah milikku
Mengapa cinta kita tak bisa bersatu
Saat ku yakin tak ada cinta selain dirimu
Dan saat kembali menyanyikan reff lagu tersebut, matanya mulai terasa berkabut, dipejamkan kembali kedua matanya agar tak satupun air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Kedua gadis itu benar-benar membawakan lagu Cinta Terlarang yang di populerkan oleh duo The Virgin itu dengan sangat baik.
Seolah mereka juga tampak bagaikan duo penyanyi yang sudah sering melakukan pertunjukkan.
Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan menikmati pertunjukan istimewa dari dua gadis cantik bersuara merdu itu.
Hingga lagu berakhir, dan Moza menyelesaikan petikan gitarnya dan berhambur ke arah toilet setelah meletakkan kembali gitarnya.
" Mo. " Teriak Deana.
" Biar gue aja De. " Julian mencegah Deana mengejar Moza, kemudian melangkahkan kakinya menuju sudut toilet.
Menunggu gadis itu keluar dari toilet kafe.
Dengan sedikit mata sembab Moza keluar dari toilet, Julian segera menghampiri gadis itu.
Entah karena tak tahan lagi dengan air mata yang seolah tak mau berhenti atau memang karena gadis itu benar-benar sedang butuh sandaran, Moza berhambur menjatuhkan dirinya di pelukan Julian.
Terisak di dada bidang sahabatnya itu, Julian dengan lembut menepuk-nepuk punggung Moza, berusaha menenangkan sahabat cantiknya.
Moza mengangguk pelan dengan posisi wajahnya masih tenggelam di dada Julian.
" Ayo. " Julian memapah Moza yang masih enggan menunjukkan wajah sedihnya, tetap bersembunyi dalam dekapan sahabatnya.
Mereka meninggalkan kafe setelah Julian berpamitan pada Amira, Renata, Deana dan Dimas dengan isyarat mata dari kejauhan.
Deana mengikuti Julian dan Moza membawakan tas milik sahabatnya itu. Deana menatap sayu keintiman dua sahabatnya itu. Dan Julian melirik ke arah Deana dengan tatapan mata yang sulit diartikan.
Sedangkan Moza masih menyembunyikan wajahnya di dada Julian hingga memasuki mobil.
Dari sudut kafe sepesang mata masih menatap mengamati mereka. Lebih tepatnya menatap ke arah Moza dengan wajah piasnya.
โข
โข
๐๐๐
Hega yang akan melakukan perjalanan bisnis ke Jepang esok hari, menyempatkan diri datang ke kafe milik Dimas. Karena Julian ijin untuk pulang lebih awal dari kantor karena ada janji bersama sahabatnya untuk berkumpul di kafe tersebut.
Saat sampai di kafe, pemuda itu tidak mendekat ke meja Julian dan teman-temannya. Hanya mengamati dari salah satu sudut ruangan yang pastinya tak bisa dilihat dari tempat Julian.
Beberapa kali matanya memerah dan tangannya mengepal geram saat mendapati Dimas yang tengah diam-diam menatap Moza.
Darahnya kembali mendidih saat Julian menggenggam tangan gadis itu.
Dasar bocah ngelunjak, gue suruh jagain malah modusin.
Umpat Hega lirih, Bara yang dari tadi ikut mengamati meja seberang itu hanya bisa terkikik mengejek.
" Makanya sana samperin, daripada lo emosi sendiri di sini. " Cibir Bara sambil nyengir.
" Diem lo Bar, mau gue sumpal mulut bawel lo itu. " Geram Hega.
" Hehehe.... Ampun deh boss. "
Saat emosinya hampir tak bisa di bendung lagi, ingin menghampiri dan menculik gadis itu dari sana. Langkahnya terhenti saat melihat gadis itu tengah naik ke atas panggung bersama sahabatnya Deana.
Hega dan Bara sama-sama terperangah menyaksikan duet akustik antara kedua gadis itu. Hega sekali lagi dikejutkan oleh sisi lain dari gadis yang dicintainya.
Menatap kagum dan terpesona pada penampilan gadis itu, terlebih lagi saat mendengar suara indah nan merdu Moza yang seakan menghipnotisnya untuk segera berlari memeluk gadis itu.
Apalagi saat mendengar lirik lagu yang terasa menyayat hati, dan ketika kedua mata mereka saling bertemu, Hega seolah turut merasakan sakit yang dirasakan oleh gadis itu dari getaran suaranya.
__ADS_1
Dan memang benar hati mereka memang tengah merasakan sakit yang sama karena rintangan cinta mereka yang belum bisa dihapuskan.
Saat akhir lagu gadis itu bergegas turun panggung dan menuju arah toilet.
Julian yang seolah tahu sesuatu, seketika reflek tatapannya menyisir ke penjuru kafe. Dan benar saja dugaannya jika penyebab meledaknya luapan perasaan Moza tengah berdiri di belakangnya.
Hega menatap Julian dan mengangguk, memberikan isyarat untuk segera menyusul gadis itu dan menenangkannya.
Dan sekali lagi Hega harus menahan diri dari kecemburuannya saat melihat gadis itu tengah berada dalam dekapan Julian.
Sekali lagi Julian melirik ke arah Hega mengisyaratkan jika dirinya akan mengantar gadis itu pulang, dan Hega mengangguk dan tersenyum getir.
Seharusnya aku yang menenangkanmu saat hatimu sedang goyah dan terluka
Menghapus air mata yang menetes dari mata indahmu
Dan mendekapmu memberi kenyamanan dan rasa aman
Tapi bagaimana aku bisa melakukannya jika akulah penyebab semua itu
Penyebab luka hatimu dan air matamu.
Aku mohon tunggulah sebentar lagi
Sedikit lagi aku pasti bisa membuatmu bahagia di sisiku
Hega meninggalkan kafe setelah melihat kepergian Moza dan Julian.
๐๐๐๐
Hega : Momo sayang kok gak bilang bisa main gitar dan nyanyi ? ๐
Moza : Memang kenapa kak ? ๐
Hega : Kan bisa aku ajak ngamen nanti...๐
Moza : Kok ngamen si kak ? Perusahaan kakak bangkrut ya ? ๐ค
Hega : Bukan ngamen cari duit Momo sayang. ๐
Moza : Lah terus......๐ค
Hega : Cari dukungan like komentar dan vote dong. ๐
Moza : Oooowww.....๐
Hega : Kok oooww doang si ? ๐
Moza : Aku pasrah kak mau di komen dan vote apa enggak. Yang penting bisa sama kakak. ๐ค
Hega : Duh kamu bikin aku makin cinta. Tapi kalau buat ngumpulin yang lain mau ? ๐
Moza : Apa kak ? ๐ค
Hega : Ngumpulin restu buat halalin kamu.... ๐๐
Moza : Idih dari kemarin itu mulu si. ๐
Hega : Habisnya authornya pelit, aku gak bisa cium kamu kalau belum dihalalin. ๐ค
Me : Idih akuh dibawa-bawa. Salah situ mah kurang ngegas nyosornya babang Hega.... ๐๐
Hega : Jadi boleh nih thor.... ๐คฉ
Me : Boleh, kalo dianya mau ( menunjuk ke arah Moza ). ๐
Hega : Momo sayang.... ( puppies eyes ) โน๐
Moza : Belum halal kak....๐
Hega : Thoooorrr ( memelas )๐๐
Me : Auk ah gelap.... Ngamen aja sono berdua cari komentar dan vote. Ntar akuh pikirin lagi soal cium๐ nya. ๐
๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jika kalian suka Episode ini, jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...
โ LIKE ๐
โ COMMENT โ๐
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐
__ADS_1