Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Ada Apa Dengan Presdir ?


__ADS_3

AUTHOR


Suasana kantor GI Group masih seperti biasa, lalu lalang pekerja yang sibuk dengan berbagai tugas. Ada juga yang sedari pagi bahkan tidak beranjak dari kursinya sambil sibuk dengan banyaknya berkas dan penyusunan laporan.


Sudah setahun yang sejak Hega memimpin perusahaan, awal bulan adalah waktu yang dianggap paling menyeramkan bagi seluruh karyawan, tidak hanya divisi marketing yang sibuk dengan tugas mereka menyusun laporan, namun divisi perencanaan juga tak kalah sibuk dengan rencana untuk pencapaian target di awal bulan.


Presdir yang dikenal galak itu tidak akan segan-segan mengeluarkan kata-kata pedas jika ada sedikit saja ada kesalahan. Namun ia juga adalah sosok yang menghargai usaha dan kemampuan karyawannya, buktinya dengan adanya reward yang ia akan berikan bagi karyawan yang memiliki kinerja terbaik.


Untuk itulah setiap bulan akan selalu ada penilaian kinerja karyawan, yang tentu saja hadiah yang diberikan tidak tanggung-tanggung. Dari mulai smartphone dan tablet terbaru dari merk terbaik, laptop, bonus gaji dua sampai tiga kali lipat, tiket liburan hingga jackpot mobil bagi karyawan yang bisa mempertahankan peringkat kinerjanya selama tiga bulan berturut-turut.


Ditengah-tengah kesibukan karyawanya, akhir-akhir ini sang Presdir lebih memilih bekerja dalam ketenangan dibalik meja kerja di ruangan Presdir miliknya yang bernuansa monocrome.


Entah apa yang mengganggu pikiran pria itu, sehingga ia melewatkan rutinitasnya berkeliling perusahaannya untuk melakukan inspeksi berkala mengecek kinerja karyawan setiap divisi.


Sebagai seorang pimpinan, ia adalah tipikal yang perfeksionis, yang menginginkan kesempurnaan dalam setiap hal, sehingga ia tak segan-segan turun langsung melihat situasi kerja karyawannya. Namun sifat bicara pedas nya memang tidak bisa dihindari, namun ia juga tidak akan ragu untuk memberi solusi langsung jika ada kendala yang terjadi.


Bagus ya, jadi bukan sekedar 'omdong'. Berani mengomentari harus siap juga memberi solusi. Bukan asal menuntut ini dan itu. 👍


Tidak hanya sang sahabat yang juga merupakan wakilnya yang merasa keheranan dengan tingkah laku sahabatnya itu. Bahkan para karyawan juga ikut pemasaran terhadap tindak tanduk sang Presdir yang tidak seperti biasanya.


Terutama bagi kalangan karyawan wanita, yang menjadi seperti kurang semangat bekerja karena tidak bisa melihat sosok tampan sang Presdir.


Tengah fokus pada layar laptop di hadapannya, sehingga ia tak menyadari ada kehadiran sang sahabat yang sedari tadi mengamati dirinya sambil setengah bersandar di pintu.


" Apa matahari terbit dari barat ? Ataukah Gunung Fujiyama tiba-tiba mencair ? " Tanya Bara yang sepertinya hampir tak tahan lagi melihat kelakuan aneh sahabatnya.


" ". Tanpa berkata apa-apa Hega hanya mengernyitkan dahinya sambil melihat kearah sumber suara, seolah tak mengerti maksud pertanyaan tersebut.


" Hey, jangan memasang tampang seolah lo gak tahu apa maksud gue. Beberapa hari ini lo kelihatan aneh, you know. " Ucap Bara kemudian sambil melangkah masuk dan duduk di sofa empuk di sudut ruangan.


" Apanya yang aneh ? " Tanyanya acuh.


" Presdir yang selalu rutin melakukan pengecekan divisi perusahaan, rapat darurat yang membuat jantungan karyawannya, tiba-tiba selama lebih dari seminggu ini bersikap sangat tenang sampai membuat seluruh karyawan merinding, seolah-olah akan ada badai besar yang datang setelah ketenangan sang Presdir yang lebih mengerikan daripada amarahnya." Ungkap Bara dengan menggebu.


" Yah, biarpun ada sisi bagusnya juga sih lo stay calm seperti ini, paling tidak karyawan cewek yang mengundurkan diri atau dipecat jadi berkurang. Galau lah gue kalo di kantor nanti lebih banyak karyawan cowoknya, gak bisa liat yang seger-seger, sepet aja nih mata." Lanjutnya setengah menyindir.


" Seger-seger makan es batu sana. " Celetuk Presdir tampan yang sekarang sudah menginjak usia 26 tahun itu.


Merasa yang teman tidak berada dalam mood yang baik untuk bergurau, Bara mengaktifkan mode seriusnya.


" Emang lo kenapa sih ? Bohong kalo lo bilang gak ada apa-apa. " Tanyanya dengan wajah serius.

__ADS_1


" Kita temenan bukan setahun dua tahun Ga, whats wrong my bro ? " Tanya Bara semaking memburu karena merasa diabaikan.


" Huuh. " Merasa ada tatapan menuntut dari sang teman, Hega hanya mampu menghela nafas panjang, sambil menghentikan pekerjaan yang memang sedari tadi hampir tidak bisa dilakukaannya karena kehilangan fokus, dan kemudian mengangkat gagang telepon di mejanya dan menekan beberapa tombol.


" Bawakan dua kopi. " katanya kepada seseorang yang adalah sekretasinya.


Lalu meletakkan kembali gagang telepon dan kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa di samping tempat sahabatnya duduk.


" Gue gak bisa fokus sama kerjaan." katanya singkat membuat sosok disampinya sedikit terlonjak dengan pengakuan temannya itu.


Secara Hega adalah tipikal yang selalu mengutamakan pekerjaan, masalah apapun yang dihadapinya tidak akan bisa mengalihkan perhatian sahabatnya itu dari pekerjaannya.


You know, he's workaholic.


" Why. " Tanya Bara singkat dengan dahinya yang semakin berkerut


Tok tok tok


Belum sempat Hega menjawab pertanyaanya sahabatnya pintu ruangannya diketuk, disusul masuknya sosok wanita dengan sebuah nampan berisi dua cangkir kopi.


Dia adalah sekretaris terakhir yang masih bertahan selama setahun terakhir ini, tentu saja selain karena kemampuan kerjanya yang bagus juga karena sekretarisnya itu bukanlah tipe wanita seperti sekretarisnya yang sebelumnya.


Anita adalah wanita berusia 27 tahun dengan gaya berpakaian yang rapi, tutur kata yang sopan tanpa ada nada menggoda yang hampir selalu dia dengar dari wanita-wanita yang selama ini ada di sekitarnya.


" So ? " Tanya Bara dengan cepat setelah Anita pergi.


Tampak Hega sedang menimbang-nimbang sesuatu, seolah mencari kata yang tepat untuk mulai menceritakan kegelisahannya pada sang teman.


" Gadis itu... " Katanya kemudian setelah beberapa saat mereka berada dalam keheningan.


" Gadis ? ? Gadis yang mana. " Terlihat Bara tampak sedang mengingat-ingat sesuatu.


" Gadis yang sering di kafe adik lo, bersama teman-temannya. " Katanya kemudian.


" " . Bara masih mengerutkan dahinya tampak masih belum mendapat pencerahan sosok yang dimaksud sahabatnya. Karena memang sungguh sesuatu yang langka mendapati sahabatnya itu membicarakan wanita.


" Oh, that girl. Si gadis singa with sketch book ? " Jawabnya kemudian yang mengingat sosok gadis cuek dengan tatapan ketus.


Sejak pertemuan pertama mereka di kafe setahun yang lalu, tanpa sengaja terus terjadi pertemuan selanjutnya. Secara kafe Dimas menjadi tempat berkumpul adik Bara itu dengan beberapa temannya, dimana juga menjadi tempat istirahat siang yang hampir selalu dituju oleh Hega dan Bara jika jam makan siang dengan alasan dekat dan nyaman.


Tentu saja tidak setiap hari karena pastinya sebagai Presiden Direktur sebuah perusahaan multinasional ia pasti memiliki beberapa jadwal rapat dengan banyak klien perusahaan yang selalu dia minta kepada sekretarisnya untuk di atur pada jam makan siang untuk efisiensi waktu.

__ADS_1


Gadis yang dimaksud tentu saja adalah salah satu teman Dimas, adik Bara. Gadis cantik berambut panjang, kulit putih, dengan mata kecoklatan, hidung mancung dan bibir tipis yang mungil.


Gadis yang juga pernah membuat hati Dimas dipenuhi bunga-bunga cinta. Meskipun akhirnya Dimas harus merelakan hatinya itu karena ingin mengembalikan persahabatan mereka.


Bara dengan sifat ekstrovert nya membuat dirinya mudah bergaul dan akrab dengan siapa saja, tak terkecuali teman-teman dari sang adik.


Intensitas pertemuan yang dibilang cukup sering itu membuat Hega dan Bara beberapa kali terlibat obrolan dengan enam sekawan itu, meskipun Bara jauh lebih aktif dalam percakapan dan gurauan di setiap pertemuan, sedangkan Hega yang memiliki karakter bertolak belakang dengan sahabatnya itu lebih memilih duduk di meja terpisah atau hanya menjadi pengamat dan pendengar saja jika terpaksa duduk dalam satu meja yang sama.


Mungkin saat-saat itulah tanpa sengaja dan bahkan mungkin tanpa disadarinya Hega selalu memperhatikan sosok gadis yang asyik sendiri di sudut meja dekat jendela.


Nampak tenang dengan pensil di tangan dan buku sketch di hadapannya, seolah tak terpengaruh ataupun terganggu dengan kehebohan yang berada disekelilingnya.


Meskipun sepertinya ia tetap mengikuti arah permbicaraan yang tengah terjadi di sekelilingnya, terbukti dengan jawaban yang dilontarkan olehnya setiap kali teman-temannya meminta respon atau pendapatnya.


Interesting girl, pikir Hega sekilas yang lalu dia sanggah sendiri dalam hati saat tiba-tiba tersadar dengan pikirannya tentang gadis itu.


☘☘


☘☘☘☘


^^ Kita seringkali tidak mengetahui apa saja yang akan terjadi di masa depan, dari sekian banyak orang yang kita temui, tidak ada yang tahu sosok mana yang hanya akan lewat seperti angin, dan siapa yang akan singgah di hati kita dan menetap disana. Maka hargailah setiap pertemuan, karena bisa saja orang yang kamu acuhkan justru dialah yang nantinya begitu berharga untuk diperjuangkan . ^^ ( Sherinanta )


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


KARYA INI HANYA FIKTIF SEMATA DAN IMAJINASI SERTA PANDANGAN PENULIS.


JIKA ADA KEMIRIPAN, KEHALUAN, ATAU KEJANGGALAN PADA SETIAP ALURNYA MAKA HARAP DIMAKLUMI.


➡️ NAMANYA JUGA NOVEL ( CERITA KHAYALAN ), HASIL KEHALUAN ISENG PENULIS.


➡️ KALAU 100% REAL SESUAI PENGALAMAN ITU NAMANYA CURHATAN... 😁😁😁🤗🤗🤗


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Terima kasih 😊😘😘😍

__ADS_1


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


__ADS_2