Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Menahan Diri


__ADS_3

AUTHOR


Sudah tiga hari Hega tinggal di apartemen pribadinya. Tiga hari pula Moza tidak bisa bertemu dengan kekasihnya itu.


Entah apa yang sedang ada di pikiran pria itu saat ini hingga memutuskan meninggalkan rumah dimana kekasihnya tinggal di dalamnya. Bukankah bisa dekat dengan Moza adalah hal yang paling diinginkannya ?!


Keputusan sepihak yang diambilnya bahkan tanpa berpamitan pada Moza, membuat gadis itu kebingungan apa yang sebenarnya terjadi pada kekasihnya. Padahal dua minggu lagi mereka akan bertunangan, lalu kenapa Hega seolah sedang berusaha menghindari dirinya ?


Pindah ke apartemen tanpa pamit.


Selama tiga hari tidak ada kabar, hanya pesan setiap malam sebelum tidur berisikan ucapan selamat tidur. Dan setelah itupun ponsel Hega tidak bisa dihubungi.


Moza benar-benar dibuat gelisah karena tidak bisa melihat Hega selama tiga hari ini.


Berbeda dengan Hega yang diam-diam masih bisa melihat Moza setiap pagi di kampus gadis itu karena Hega sudah memberi intruksi pada Ragil agar mengabarinya jika Moza sudah berangkat ke kampus.


Dan lagi-lagi Hega harus melihat ekspresi muram di wajah cantik kekasih hatinya. Gadis itu terlihat kurang bersemangat, beberapa kali wajahnya ditekuk.


Tapi mau bagaimana lagi, Hega masih harus belajar mengontrol dirinya sendiri. Hega belum bisa sepenuhnya mengendalikan dirinya ketika berhadapan dengan Moza.


Untuk pertama kalinya Hega merasakan hasrat luar biasa ketika bersama dengan seorang wanita. Bersama dengan Moza saat ini tidak hanya membuatnya selalu merasa bahagia namun juga Hega sudah berada dalam titik tidak bisa jauh dari gadis yang menjadi belahan jiwanya itu.


Tapi Hega sadar jika Moza masih terlalu muda untuk menikah, gadis itu masih memiliki banyak mimpi dan cita-cita yang ingin digapainya. Bukannya Hega akan mengekangnya jika menikah, Hega hanya tidak ingin menambah beban tanggung jawab kepada gadis yang dicintainya itu dengan menyandang status seorang istri.


Jika saja Moza bersedia menikah muda, tentu saja Hega akan dengan senang hati memberi kebebasan pada gadis itu untuk menggapai segala tujuannya. Tapi masalahnya adalah pada diri Hega sendiri. Pemuda itu sudah mencapai usia ideal untuk menikah dan juga menjadi seorang ayah tentunya.


Bagaimana jika Hega tak mampu mengontrol dirinya lagi, dengan status tunangan saja Hega seringkali hampir kehilangan kontrol dirinya setiap bersama kekasih cantiknya itu.


Apalagi jika status mereka sah dimata hukum dan agama sebagai pasangan suami istri nantinya ? Pastinya tidak ada lagi hal yang membatasi kedekatan keduanya, dengan kata lain Hega tak perlu lagi mengendalikan dirinya untuk melakukan apapun pada gadis itu jika status mereka telah resmi dan halal.


Hega memutuskan untuk belajar mengendalikan dirinya, sengaja mengambil jarak untuk sementara waktu. Ingin rasanya Hega berlari dan membawa gadis cantik itu dalam pelukannya. Tapi sekali lagi Hega teringat perkataan sang kakek beberapa hari yang lalu di ruang kerja Suryatama.


~ Flashback ~


Ruang Kerja Suryatama Saint



Suryatama sudah duduk di sofa saat Hega memasuki ruangan pribadi kakeknya itu.

__ADS_1


" Tinggalkan kami, Ben ! Aku akan memanggilmu jika diperlukan. " Titahnya pada sang Kepala Pelayan sekaligus asisten pribadinya itu seraya mengibaskan satu tangannya.


" Baik, Tuan Besar. " Benyamin membungkuk hormat pada kedua majikannya dan berjalan menuju pintu.


Suryatama menatap cucunya yang masih berdiri, " Duduklah ! "


Hega kemudian duduk di sofa berhadapan dengan kakeknya. Dari ekspresi pria di hadapannya, Hega tahu ada hal penting yang akan dibahas kakeknya itu.


" Ada apa, Kek ? " Tanya Hega akhirnya setelah cukup lama keduanya saling diam.


" Haah. " Dengusnya pelan, tampak Suryatama sedang mencari kata yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan cucunya.


" Kek, apa Hega melakukan sesuatu yang tidak kakek sukai ?! " Tanya Hega lagi.


Suryatama menatap lekat cucu kesayangannya, cucu kebanggaannya, tidak pernah sekalipun pemuda tampan dan gagah di hadapannya itu mengecewakannya.


Tapi sepertinya kali ini Suryatama harus mengambil tindakan jika tidak ingin terjadi hal yang diluar batas.


" Hega, kamu tahu kan jika akhir bulan kalian akan bertunangan ?! Kamu dan Moza. " Ucap Suryatama.


Hega mengernyitkan dahinya, " Tentu saja, Kek. Kenapa kakek menanyakan hal itu ?! "


" Kakek hanya mengingatkan, kalian baru akan bertunangan, bukan menikah. Jadi kakek berharap kalian bisa menjaga diri, terutama kamu. " Untuk pertama kalinya Suryatama menasehati cucunya itu perihal tindakan Hega, karena memang selama ini tidak pernah sekalipun Hega melakukan hal buruk ataupun mencoreng nama keluarga.


Suryatama memutar layar laptop di hadapannya agar menghadap ke arah Hega.


" Lihatlah sendiri ! "


Betapa kagetnya Hega melihat apa yang ditangkap oleh kamera CCTV di Ruang Olahraga beberapa hari yang lalu.


" Kamu tentu tidak lupa kan, jika semua area rumah ini kecuali kamar tidur dan kamar mandi semuanya dipasang kamera pengawas ? "


Hega menekan salah satu tombol di keyboard laptop itu, menghentikan video. Kemudian menjatuhkan punggungnya bersandar di sofa. Menutup matanya sejenak dan memijat-mijat celah di antara kedua alisnya. Terlihat jelas jika Hega begitu merasa bersalah sekaligus malu atas tindakannya.


" Kakek bukannya orang tua yang kolot, kakek tahu bagaimana gaya berpacaran anak muda jaman sekarang. Tapi jika kamu sebegitu tidak bisanya menahan dirimu, bagaimana jika kalian langsung menikah saja ?! "


Hega seketika membuka matanya, membulatkan manik matanya secara sempurna saat mendengar kalimat kakeknya.


" Tapi, Kek. " Ah... Bukannya ingin menolak, sejujurnya pemuda itu akan dengan senang hati menerima saran kakeknya.

__ADS_1


Raut wajah Suryatama mengeras, sepertinya salah mengartikan respon cucunya.


" Kenapa ? Jangan bilang kamu belum siap menikah ? Lihat lah sendiri apa yang kamu lakukan pada calon tunanganmu ! Kamu masih berniat untuk main-main ?! " Singgung pria tua itu mulai galak.


" Bukan begitu, Kek. Hega hanya tidak yakin bagaimana pendapatnya nanti. Kami barusaja berpacaran, mendengar kata pertunangan saja Momo begitu kagetnya dan mengacuhkan Hega lebih dari dua hari. Bagaimana nanti kalau Hega tiba-tiba mengatakan untuk langsung menikah, bisa-bisa dia malah ngambeknya lebih lama, Kek. " Ucap Hega frustrasi, kemudian mengacak rambutnya sendiri karena kesal.


" HAH ! Kamu ini sejak kapan jadi sepengecut ini ?! Cobalah dulu ! Siapa tahu dia setuju. " Suryatama mendesah, merasa lega sekaligus kecewa dengan cucunya.


Lega karena ternyata Hega tetap lah cucu kebanggaan nya, berprinsip dan bertanggung jawab, serta serius dalam setiap tindakan yang dilakukannya. Namun sekaligus kecewa bagaimana bisa pria sehebat Hega ternyata sepengecut ini dalam urusan percintaan.


" Bagaimana kalau dia menolak, Kek ? Lagipula Momo masih terlalu muda untuk menikah. Dia masih punya banyak waktu untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. " Sungut Hega pelan, suaranya terdengar kurang bersemangat dan lesu.


" Apanya yang terlalu muda ? Moza kan sudah 20 tahun lebih, jaman kakek dulu umur segitu sudah punya dua anak. " Cibir sang kakek.


" Itu kan jamannya kakek. Jaman sekarang usia seperti Moza masih butuh banyak bersenang-senang. " Gerutu Hega.


" Itu hanya alasanmu saja, bilang saja jika kalian menikah kamu hanya ingin menguasai sendiri istrimu. Dan enggan untuk berbagi, dan bisa jadi kamu tidak akan membiarkan istrimu pergi bergaul dengan teman-temannya lagi. Cih.... Dasar possesif. " Maki Suryatama ketus.


" Bukan begitu juga, Kek. Kenapa kakek malah memojokkanku sih ?! Memangnya kalau kami menikah kakek tidak mau segera punya cicit apa ?! " Protes Hega membela diri.


" Tentu saja kakek mau, dasar bocah. Pintar sekali kamu mendebat kakek. "


" Itu maksud Hega, Kek. Hega tidak mau membebani Moza dengan hal itu, Hega ingin Moza menikmati usia mudanya yang masih ingin mengejar cita-cita dan impiannya. "


" Ya, tinggal kamu saja yang harus pintar menahan diri agar istrimu tidak hamil dulu. Kalian kan bisa pacaran setelah menikah, sekalian memberi waktu pada Moza untuk melanjutkan impiannya, menikmati masa mudanya. " Saran Suryatama terdengar masuk akal di telinga Hega, tapi tentu saja tidak akan mudah menerapkannya dalam kenyataan.


Menahan diri ?! Haish... Mana bisa semudah itu ?! ~ Hega ~


" Mana bisa begitu, Kek. Mau tunangan saja Hega sering lepas kendali, bagaimana kalau sudah menikah. Memangnya kakek kira cucu kakek ini tidak normal apa ?! "


" Haahahaha..... Iya juga ya, kakek sempat lupa kamu kan singa perjaka yang kelaparan. Hahahahhaa.... "


" Ck..... Tertawa saja kakek sepuasnya. Jika tidak ada lagi yang akan kakek bicarakan, Hega pamit. " Hega beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu, tapi baru dua langkah Suryatama memekik dan meneriakinya.


" Hei.... Tunggu dulu ! Kita belum mendapatkan solusinya tahu, dasar bocah kurang ajar. "


Pemuda itu berhenti dan berbalik menghadap kakeknya, " Hega sudah memikirkannya. "


" Apa ? "

__ADS_1


" Hega akan tinggal di apartement Hega untuk sementara waktu hingga Hega bisa mengontrol diri Hega sendiri, Kek. Setidaknya dengan tidak berdekatan dengan Moza, mungkin Hega bisa sedikit mengendalikan diri. " Otak pemuda itu memang bekerja cukup efektif dalam.mencari solusi setiap masalah yanh terjadi, baik dalam urusan pribadi ataupun pekerjaan.


~ Flashback End ~


__ADS_2