Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Akhir Bahagia ???


__ADS_3

AUTHOR


" Hei, jangan bilang kamu enggak tahu apa artinya dipingit ?! " Ayu memelototi putrinya dengan galak.


" Momo tahu, bun. "


" Lalu kenapa ekspresi kamu begitu ?! Jangan bilang kamu tidak mau pakai acara pingitan ?! " Ayu melotot galak pada Moza membuat gadis itu sedikit merinding.


Aduh bunda ini kenapa si horor amat mukanya, aku salah apa coba ?!


" Bukan begitu, bun. Momo kira jaman sekarang sudah tidak pakai acara begituan. " Jawab Moza sekenanya.


" Enak saja, adat ya tetaplah adat. Harus dilestarikan dong, udah tradisi gak baik kalau dilewati. Apalagi kamu kan putri ayah dan bunda satu-satunya, jadi semua prosesi tradisi harus dijalankan sesuai urutannya. " Tutur Ayu sedikit ketus, mungkin batas kesabarannya sudah habis waktu menghadapi si calon mantu.


" Iyaaaa, terserah bunda. Momo tidak begitu mengerti tradisi begituan ngikut bunda saja. "


Moza yang paham betul keinginan sang bunda sedari dulu ingin mempersiapkan pernikahannya dengan sempurna akhirnya hanya bisa pasrah saja mengikuti setiap pengaturan sang bunda.


" Begitu dong, anak cantiknya bunda. Nah sekarang buruan mandi dan siap-siap ! Bunda akan bantu siapkan bajumu. " Menangkup pipi Moza dengan sayang.


" Iya, bun. Momo akan panggil Sasa untuk membantu bunda sementara Momo mandi dan ganti baju. "


" Biar bunda saja yang panggil Sasa, sana buruan kamu mandi ! "


" Siap ibu ratu. " Ujar Moza sembari menunduk hormat ala kerajaan dan berlalu menuju kamar mandi.


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


~ Ruang Keluarga ~


Selapas sarapan, semua keluarga berkumpul di ruang tengah sembari menunggu Moza yang sedang mengambil tas dan beberapa barang pribadinya.


Hega yang masih berharap ada keajaiban yang menggagalkan acara pingitan, diam-diam mengekor sang kekasih menuju kamarnya.


" Akh. . . Kakak ngagetin aku. " Pekiknya saat sepasang tangan kokoh melingkar di perutnya, Hega memeluk Moza dari belakang dan mendaratkan dagunya di bahu kiri sang kekasih.


" Ssst. . . Aku akan merindukanmu, Mo. Jadi biarkan begini dulu sebentar. " Ucap Hega lirih di telinga Moza.


" Hm, aku juga akan merindukan kakak. " Jawabnya sambil menepuk lembut punggung tangan Hega yang ada di perutnya.


Wajah tampan itu menoleh menghadap wajah cantik Moza, " Kenapa kamu tidak menolak saja si ? "


Moza sedikit memiringkan kepalanya ke kiri membalas tatapan sang calon suami, " Apanya ? "


" Pingitan. "


" Aku sudah tanya bunda, tapi kata bunda ini sudah adat dan tradisi. Jadi aku hanya mengikuti saja apa kata bunda. " Moza menjawab diiringi anggukan kecil.


" Memangnya kakak keberatan ?! " Sambung gadis itu.


Hega melepaskan pelukannya dan memutar tubuh kekasihnya agar menghadap ke arahnya. Kemudian kembali melingkarkan kembali kedua tangannya di pinggang ramping gadis itu dan menautkan jari-jati tangannya di belakang punggung Moza untuk mempererat pelukannya.


" Tentu saja aku keberatan, aku sudah membujuk bunda untuk mengurungkan niatnya untuk memingitmu, tapi gagal. " Jawabnya dengan nada muram kemudian menundukkan kepalanya seolah kehilangan semangatnya.


" Aku bahkan minta didiskon. " Gerutunya lagi.


Manik mata Moza melebar saat mendengar gerutuan kecil pria tampan itu yang masih dapat didengar oleh telinganya karena posisi tubuh mereka yang bahkan tidak ada jarak sama sekali.


" Heh ? Didiskon ? Memangnya kakak sedang beli baju buat lebaran minta diskon segala, ck. . ?! " Tutur Moza nyaris terkikik kemudian berdecak malas dan memukul pelan bahu Hega saat mendengar ucapan konyol kekasihnya.


" Enak saja, ngapain aku minta diskon baju lebaran kalau seluruh mall nya saja bisa aku beli. " Sombongnya dengan tersenyum masam.


" Diih, sombongnya, iih . . . " Desis Moza kemudian mencebikkan bibirnya.


" Hehe, maaf, aku hanya bercanda, Mo. Aku tadi minta diskon pingitannya dari satu minggu jadi tiga hari, tapi ditolak mentah-mentah sama bunda. " Terangya diselingi senyum kecut yang malah membuat sang gadis terbahak dengan ekspresi imut lelaki yang sebentar lagi akan menjadi imam dalam rumah tangganya itu.


" Hahaha. . . "


" Kok kamu malah tertawa sih ? Seneng ya mau jauh-jauh dari aku ?! " Gerutunya kesal.


" Bukan gitu kak . . . " Kelit Moza seraya menggaruk tengkuknya canggung saat dilihatnya sang kekasih tengah salah paham padanya.

__ADS_1


" Sudah lah, kak, kita turutin aja ya maunya para orang tua. Pasti semua juga untuk kebaikan kita kok. " Sambungnya seraya mengulas senyum semanis mungkin untuk meredakan kekecewaan pemuda itu.


" Hem, ya sudah terpaksa. " Pasrah Hega akhirnya.


Huft. . .


Baru saja Moza menghela nafas lega, namun sepertinya sang calon suami masih ada keinginan terselubung dibalik senyum pasrahnya.


Hega menunduk, mencondongkan wajahnya mendekat ke arah wajah gadis yang masih ada dalam dekapannya, " Tapi beri aku vitamin dulu dong, Momo sayang. "


" Uhuk. . . A-apa ? Vi-vita-min ? " Tanya Moza gelagapan, dan pemuda di hadapannya itu hanya mengangguk dengan wajah tanpa dosa.


" T-tapi kak. . . "


" Tidak ada tapi, aku tidak akan melepasmu jika kamu tidak memberikan apa mauku. " Kekeuh Hega mode manja dengan kedua tangan semakin erat melingkar di pinggul kekasihnya.


Tubuh keduanya semakin menempel erat, detak jantung Moza berpacu semakin cepat, bahkan tiba-tiba nafasnya terasa engap dan tenggorokannya terasa tercekat sehingga gadis itu harus menelan salivanya dengan susah payah.


G L E K . . .


Aduh, ini belum nikah loh Kak Hega udah makin nakal aja, dan kenapa pikiran aku bawaanya udah traveling kemana-mana si ???


Hei, setan mesum, jangan dulu dekat-dekat di kepala aku. Belum waktunya kalian meracuni jiwa polosku.


Moza bergumam dalam hatinya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran nakal di kepalanya.


Ya semenjak kejadian di apartemen Hega beberapa waktu yang lalu, membuat Moza merasa merinding disko setiap kali berdekatan dengan kekasih tampannya dengan sangat intim seperti saat ini.


" Kak, jangan begini dong ! Aku harus segera turun, ayah bunda pasti sudah menungguku, lepasin ya ! " Rengek Moza sembari meronta kecil dalam dekapan sang kekasih.


" Tidak mau ! Aku kan tidak bisa melihatmu selama seminggu kedepan, jadi aku harus dapat kompensasi yang layak, huh. " Memang sulit melawan kepala batu seorang Hega yang sudah kekeuh mempertahankan kemauannya.


" Eh iya, ya. Satu minggu. " Gumam Moza lirih, ada sesuatu yang tengah mengganjal di pikirannya.


" Hm. Jadi ayo berikan aku vitamin sekarang juga ! " Ujar Hega yang sepertinya salah mengartikan maksud ucapan gadisnya.


" Eh, bukan itu maksudku, kak. " Memukul lengan Hega.


" Lalu ?! " Menyipit bingung.


Gadis itu bahkan tidak menyadari jika kalimatnya barusan akan menjadi senjata untuk Hega.


Ting. . .


Mendengar celetukan sang kekasih, muncul lah ide brilian di kepala pengusaha muda itu untuk membatalkan acara pingitan yang sangat ditentangnya itu.


Terukir tipis sebuah seringai licik di bibir pemuda itu, " Ah, iya. Bagaimana dengan kuliahmu ? Sepertinya kamu harus membolos selama seminggu penuh. " Ujar nya dengan nada memprovokasi.


Hega tahu bagaimana sifat kekasihnya, yang jangankan membolos, terlambat masuk kelas saja tidak akan pernah gadis itu lakukan lakukan. Bahkan menurut cerita dari Julian, Moza dan Deana adalah dua orang yang paling sulit diajak kompromi soal absensi kehadiran di semua mata kuliah yang mereka emban.


Bahkan pernah sekali Julian mengajak kedua sahabat cantiknya itu untuk membolos, bukannya persetujuan yang didapatnya, melainkan pukulan dan omelan sekaligus. Bukan hanya pukulan dan omelan biasa, melainkan pukulan dan omelan yang akan membuat badannya merinding luar biasa.


Deana dengan tinju bar-barnya, Moza dengan kalimat-kalimat pedasnya.


Ada kalimat yang selalu diingat Julian hingga saat ini sampai-sampai pemuda itu tidak berniat mengajak kedua gadis itu membolos lagi.


Seorang sahabat yang baik adalah mereka yang membawamu dalam kebaikan, dan bukan sebaliknya. Berhenti mengikuti kami jika kamu hanya ingin memberikan pengaruh dan kebiasaan buruk kepada kami. Kami tidak butuh orang seperti itu untuk disebut sebagai sahabat !!! ~ Moza Artana ~


Kalimat itulah yang membuat Julian kicep, tidak ada nyali lagi untuk mengajak kedua gadis itu membolos.


Tampak kening Moza mengerut, " Bolos ? "


Hega mengangguk.


" Seminggu penuh ? " Kening gadis cantik itu semakin mengerut saja.


" Hem. " Lagi-lagi pemuda tampan itu mengangguk dengan seringai tipis yang berhasil dia sembunyikan dari sang kekasih.


" Tidak mau. " Jawab Moza tegas.


Yes. . . !!! Itulah yang diinginkan Hega, senjata untuk menggagalkan pingitan.


" Ya, mau bagaimana lagi ?! Ini kan adat dan tradisi, ya kamu mau tidak mau kita harus mengikutinya, hem. " Ujar Hega mengulangi kalimat yanh tadi dilontarkan sang calon istri, dan pemuda itu mengucapkannya dengan nada didramatisir.


" Lepaskan aku, kak ! Aku akan bicara pada bunda. " Pinta gadis itu seraya mendorong tubuh Hega, dan dengan sukarela pemuda itu melepaskan pelukannya dan membiarkan gadisnya kembali ke bawah

__ADS_1


Bahkan Moza melupakan tujuannya kembali ke kamar adalah untuk mengambil tas kecilnya dan beberapa barang pribadinya.


Hega mengikuti langkah gadis itu dengan antusias dan senyum kemenangan di wajahnya.


" Bun. . . "


" Sudah ? Katanya tadi mau ambil tas ?! Lalu mana tas mu ? " Tanya Ayu saat putrinya sudah duduk di sampingnya tanpa membawa apapun dari kamarnya.


" Ah, aku lupa bun. Tapi itu nanti saja, Momo sepertinya tidak bisa pulang hari ini. " Ucap gadis itu lugas, membuat semua orang menatapnya dengan heran.


" Kenapa begitu ? " Tanya sang bunda.


" Momo kan harus kuliah, bun. Tidak mungkin Momo membolos selama seminggu penuh. "


Hega yang barusaja terlihat di tangga tampak tersenyum tipis, dan senyum itu tertangkap oleh mata sang kakek.


" Kan kamu bisa ijin, sayang. " Bujuk sang bunda.


" Tidak mau, bun. Momo tidak pernah absen sekalipun, apalagi kan Momo kuliah disana dengan beasiswa juga, bun. Jadi. . . "


" Sayang. . . " Ayu bingung mau membujuk putrinya dengan cara apa, sejak sekolah memang putrinya itu paling sulit untuk diminta ijin, jika tidak dalam keadaan sakit parah.


" Ekhem. . . Sepertinya kakek tahu kenapa kamu tiba-tiba menolak pulang. " Ujar Suryatama datar seraya melirik sekilas sang pembuat masalah, siapa lagi jika bukan cucunya yang licik.


Moza mengerti maksud ucapan Suryatama saat melihat kehadiran Hega disana.


" Tidak kok, kek. Kak Hega tidak mengatakan apapun sama Momo. " Elaknya seembari mengibaskan kedua tangannya di depan wajahnya.


" Apa dia juga tidak mengatakan soal ijin ke kampus bisa diurus dengan mudah ?! " Tanya Suryatama menyelidik.


" Eh ?! "


" Arya, minta sekretarismu mengurus cuti kuliah sementara untuk calon menantumu ! Dan katakan padanya untuk memastikan agar ini tidak berpengaruh pada beasiswanya. Kalau perlu liburkan itu kampus selama seminggu supaya tidak ada mata kuliah yang aktif sehingga tidak ada catatan ijin dalam absensi kehadiran Moza. "


" Iya, Pi. Arya akan urus soal itu. "


HAAAH. . . Moza membulatkan kedua matanya mendengar perintah aneh sang kakek pada calon ayah mertuanya itu.


Moza tahu keluarga calon suaminya ini kaya raya, tapi sampai punya pengaruh untuk meliburkan aktivitas sebuah universitas ternama. Gadis itu belum bisa membayangkan keberkuasa apa keluarga yang akan dimasukinya itu.


" Bagaimana, sayang ? Kamu sudah bisa pulang ke rumah dengan tenang kan ? Jadi jangan memikirkan yang lain dulu, fokus saja pada acara pernikahan kalian nanti ! "


" Tapi, kek ?! "


" Tenang saja, semua akan diatur sesuai dengan keinginanmu. " Tutur Surya meyakinkan calon cucu menantunya.


" Baiklah, kek. Momo menurut saja apa yang sudah diatur oleh para orang tua. " Tidak ada lagi yang bisa dilakukan Moza selain pasrah.


" Tapi. . . "


" Ada apalagi, sayang ?! "


" Tidak perlu sampai meliburkan semua kegiatan di kampus hanya untuk membersihkan catatan kehadiran Momo, kek. " Pintanya lirih.


" Seperti yang kamu mau, sayang. Jadi persiapkan saja dirimu untuk acara penting kalian nanti ! "


" Iya, kek. "


" Bun, Momo akan ambil tas sebentar. "


" Biarkan Sasa yang mengambilnya ! Kamu akan diganggu lagi oleh bocah sialan itu jika kamu naik lagi nanti. " Ujar Suryatama sambil melirik galak pada sang cucu lelakinya.


" Tidak kok, kek. Momo akan segera kembali, sekalian mau ke kamar mandi sebentar. " Tolak Moza lembut dan langsung berlari menuju kamarnya di lantai tiga.


Hega yang gagal total bernegosiasi sampai detik terakhir, mau tidak mau akhirnya menyerah dan melepas keberangkatan sang calon istri beserta calon mertuanya untuk pulang ke kota asal mereka.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


...KALIAN KOK UDAH GAK MAU KOMEN SIH ? 😭😭😭...


...KEK NYA UDAH GAK ADA YANG BACA KALI YA ?!...


...APA SAMPAI SINI AJA KALI YA CERITANYA. . ....


Pokoknya intinya mereka akan menikah, punya anak dan Happy ending πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2