Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Gadis Kesayangan Presdir


__ADS_3

AUTHOR


Sejak Moza datang untuk pertama kalinya ke kantor Hega atas permintaan Kakek Suryatama untuk mengantar berkas. Maka sejak saat itu pula lah berita tentang gadis misterius penakhluk hati sang Presdir juga mulai menjadi bahan pembicaraan.


Berita kemunculan gadis kesayangan Presdir di Gedung Pusat GI Group menjadi trending topic di kalangan karyawan baik di grup chat kantor ataupun bisik-bisik di sudut kafetaria perusahaan.


Meskipun nyatanya hanya penghuni lantai 15 dan tiga karyawan resepsionis saja yang tahu persis penampakan gadis misterius yang menjadi pembahasan yang sedang ramai diperbincangkan itu.


Dan tidak ada satupun yang berani mengorek lebih dalam lagi karena kehidupan Presdir muda mereka itu adalah salah satu dalam deretan daftar yang paling dilarang untuk menjadi objek ke kepoan karyawan.


Hanya Anita yang mendapat pemberitahuan langsung dari Hega jika gadis itu adalah tunangannya. Dan tentu saja Anita tahu hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh keluar dari bibirnya perihal urusan pribadi sang Presdir.


Jadi para karyawan yang berada dibawah Anita, yang menunggu di ruang staff sekretaris dengan tatapan penasaran dan harap-harap cemas. Mereka harus menelan kekecewaan karena tidak mendapat informasi apapun dari sang sekretaris utama.


Yang mereka tahu hanya lah jika gadis cantik bernama Moza tersebut diberikan kebebasan penuh untuk keluar masuk kantor Presdir kapan saja.


⚘⚘⚘


Beberapa menit sebelumnya, Hega yang hendak keluar dari ruang rapat yang ada di lantai 10 setelah rapat dengan jajaran kepala divisi, ingin segera pergi menemui kekasihnya. Tapi bukannya menghubungi Moza, Hega memilih menelepon Ragil untuk mengetahui keberadaan gadis itu.


~ Dalam Panggilan Telepon ~


( Selamat siang Tuan Muda. )


" Ragil dimana nona Moza sekarang ? "


( Nona ada di kantor Tuan Muda, apakah Tuan Muda belum bertemu dengan Nona ? )


" Apa maksudmu dia ada di kantorku ? "


( Sepertinya Tuan Besar meminta Nona mengantarkan sebuah berkas, dan seharusnya Nona sudah ada di ruangan Tuan Muda sekarang karena Nona sudah masuk sekitar 20 menit yang lalu. )


" Baiklah, terima kasih. Lanjutkan tugasmu ! "


( Baik, Tuan Muda. )


Tut tut tut.....


~ End Call ~

__ADS_1


" Anita, coba cek apa ada tamu di ruangan saya ?! Dan pesankan makan siang ! " Titah Hega seraya berjalan menuju lift hendak naik ke ruangannya.


" Baik Presdir. " Anita mengambil ponselnya melakukan panggilan pada salah satu bawahannya di lantai 15, tidak butuh waktu lama Anita sudah mendapatkan informasi yang diminta si boss yang entah karena apa tiba-tiba berjalan sangat cepat di depannya sehingga ia harus tergopoh-gopoh mengikuti langkah kaki Presdirnya itu.


" Tidak ada siapapun yang datang ke ruangan Anda, Presdir. "


Hega menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap sekretarisnya. Kemudian melirik ke arah Julian, dengan cepat menuju lift menekan lantai 1 menuju lobby.


Dan benar saja dugaannya, gadis kesayangannya tertahan di lobby dan terlihat barusaja berdebat kecil dengan resepsionis.


~ Flashback End ~


⚘⚘⚘


Moza melilitkan tangannya di lengan Anita, berjalan menyusuri lobby utama Gedung Pusat GI Group. Tidak seperti sambutan yang ia dapatkan saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, kali ini ketiga wanita cantik di meja resepsionis jelas-jelas tersenyum dan membungkuk hormat menyambut kedatangannya.


Moza mengikuti langkah Anita menuju lift khusus, dan tidak butuh waktu lama suara lift berdenting di lantai tujuan mereka, lantai 15.


Tapi suasana tengah sepi karena ini masih jam makan siang, Anita mengantar kekasih atasannya itu memasuki ruangan Presdir sesuai instruksi. Sebelumnya Anita sudah memberi perintah pada office boy membawakan secangkir teh dan beberapa makanan ringan.


" Presdir akan segera tiba, nona bisa memanggil saya jika membutuhkan sesuatu. " Ucap Anita sopan.


Moza tersenyum menatap salah satu orang kepercayaan Hega itu, " Panggil saja saya Moza, mbak Anita. "


" Hmph.... Setidaknya jika kita hanya berdua, tolong panggil nama saja. Saya merasa punya kakak perempuan saat bersama mbak Anita. " Pinta Moza seraya tersenyum lembut.


" Baiklah, no... eh Moza. Saya permisi ada yang harus saya kerjakan. " Pamitnya dijawab anggukan oleh gadis yang sudah duduk di sofa mewah di ruangan pimpinan tertinggi perusahaan.


⚘⚘⚘



Seperti yang disebutkan sebelumnya, lantai 15 benar-benar adalah area kekuasaan Presdir.


Moza menghabiskan waktu makan siangnya bersama Hega di salah satu sudut ruangan pribadi yang ada di kantor Hega.


Duduk di sofa sembari menyantap sajian makan siang pesanan Anita atas perintah atasannya tentu saja. Beberapa hidangan Japanese Food, makanan favorit Moza tertata rapi di meja ruang santai Hega, aneka Sushi, kare-raisu, yakitori dan gyudon dan beberapa menu lain.


Melihatnya saja sudah membuat air liur menetes, entah sejak kapan pula Moza mulai menyukai menu makanan khas negeri Sakura itu.

__ADS_1


Tapi menu yang ada di atas meja benar-benar berlebihan jika hanya untuk dirinya dan Hega saja, mungkin jika ada Deana disana, Moza tidak perlu cemas karena sahabatnya itu juga sesama pecinta Japanese Food, dan akan tiba-tiba nafsu makan Dea akan menggila saat disuguhi makanan dari negara asal kartun kucing biru pemilik pintu kemana saja itu.


Hega baru saja duduk setelah menuangkan segelas susu strawberry yang diambilnya dari dalam lemari es pribadinya. Dan ini juga salah satu kebiasaan baru yang diterapkan di ruangannya sejak kedatangan kekasihnya kesana.


Yaitu harus selalu tersedia minuman yang berasal dari hewan bernama 'sapi' itu setiap hari di dalam lemari pendingin, karena Moza bisa datang kapan saja menemuinya di kantor dan Hega ingin menyiapkan minuman favorit gadis kesayangannya itu.


" Jangan menemuinya lagi jika kamu tidak ingin ! " Ucap Hega memecah keheningan seraya meletakkan gelas berisi cairan berwarna merah jambu di hadapan Moza. Kemudian duduk di samping kekasihnya yang sedang mencapit oishi sushi dengan sumpit di tangannya.


Moza menoleh sekilas, " Ah... Maksud kak Hega, kak Alina ? "


" Hem. "


Moza meletakkan sumpitnya, menatap lekat Hega dan menyentuh ujung jemari kekasihnya.


" Hmph... Kadang wanita harus bisa menjaga perasaan wanita lainnya meskipun ada rasa tidak suka. " Ujar Moza santai.


Satu alis Hega sedikit naik, " Jadi karena itu juga kamu membelanya waktu itu dengan mengatakan jika dia tidak sengaja menabrakmu hingga kamu terjatuh ke kolam renang dan tenggelam ?! " Tanya Hega dengan nada tidak suka.


" Hmm.... Mungkin. " Jawab Moza seraya mengedikkan bahunya.


" Kenapa ?! " Kening Hega mengerut bingung.


Moza melirik Hega sekilas, " Huft.... Kakak tahu ? Mungkin hal biasa dan dianggap wajar saat dua orang pria bertengkar dan berkelahi dan bahkan saling memukul satu sama lain untuk memperebutkan seorang wanita. " Ucapnya kemudian..


Hega terdiam tidak menyela, mencoba memahami setiap ucapan kekasihnya.


" Tapi tidak sebaliknya, jika dua orang wanita yang bertengkar karena berebut satu pria maka mereka akan terlihat hina. " Lanjut gadis itu dengan nada yang sedikit muram.


Moza meraih gelas berisi susu strawberry di hadapannya, meneguknya beberapa kali dan kemudian meletakkan kembali gelas itu di tempatnya semula.


" Itulah kenapa seorang wanita yang merebut kekasih ataupun pasangan dari wanita lain yang seringkali disebut sebagai pelakor, di mata masyarakat akan terlihat buruk dan sulit bagi wanita tersebut menanggalkan image nya sebagai perusak hubungan orang lain. " Ucapnya setelah menyeka bibirnya dengan tissu.


" Berbeda dengan pria yang merebut kekasih atau pasangan pria lain justru dianggap biasa, malah tidak jarang dianggap sebagai sesuatu yang membanggakan karena telah berhasil memenangkan atau merebut seorang wanita dari pria lainnya. Seolah wanita adalah sebuah piala yang menjadi simbol kehebatan mereka. "


Miris rasanya ketika Moza mengatakan hal itu dengan mulutnya sendiri, tapi memang itulah pandangan masyarakat kita saat ini. Moza mengingat masa-masa sekolahnya dulu, saat dimana dirinya pernah menjadi bahan taruhan beberapa pemuda di sekolahnya bahkan sekolah lainnya.


Tentu saja Moza tidak pernah menanggapinya, menganggap hal itu hanya sebagai tingkah konyol dan kekanakan para murid pria yang kurang kerjaan saja.


" Dan ketika seorang wanita melakukan segala cara bahkan cara yang paling buruk sekalipun demi mendapatkan cinta seorang pria, maka sebenarnya harga diri wanita itu sedang jatuh sejatuh-jatuhnya. "

__ADS_1


" Jadi maksud kamu, saat itu kamu memilih menjaga harga dirinya begitu ? Harga diri wanita yang bahkan hampir saja membuat nyawa kamu dalam bahaya. " Nada suara Hega naik satu oktaf, semakin kesal rasanya.


Moza tersenyum getir.


__ADS_2