Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Restu ( Bagian 2 )


__ADS_3

AUTHOR


Membayangkan akan hadir Moza kecil diantara keluarga mereka jelas membuat Ardi diam-diam merasa sangat senang. Dan Ardi bertekad akan memberikan kasih sayang sepenuhnya pada cucu yang sudah terbayang di kepalanya itu.


Setidaknya Ardi ingin menebus masa dimana dia tidak bisa memberikan kasih sayang dan waktu secara maksimal pada putrinya.


Tanpa sadar Ardi Dama tersenyum setelah bayangan bayi mungil miniatur putrinya itu ada dalam gendongannya. Dan ekspresi itu tidak luput dari perhatian Suryatama.


" Lihat lah ! Sepertinya ayah mertuamu setuju dengan kakek, bukankah anak-anak mereka pasti akan sangat menggemaskan nantinya ? Iya kan nak Ardi ? " Ardi sedikit tersentak saat mendapat pertanyaan itu seolah merasa ketahuan apa yang sedang dipikirkannya.


" Oh... Iya Om Surya, tentu saja. " Jawabnya seraya tersenyum.


" Ah... Tentu saja mereka akan terlihat manis dan lucu, asal mereka tidak menuruni kelakuan menyebalkan Papahnya. Cukup meniru Mama nya saja. " Goda Suryatama melirik Hega dengan tersenyum smirk.


" Itu kan anak Hega, Kek. Tentu saja mereka juga akan mirip Hega nantinya. Lagipula apa yang salah dengan Hega ?! Dilihat sekejap mata saja tidak ada yang kurang dari Hega. " Protes Hega bersungut-sungut pada kakeknya dengan penuh percaya diri, tidak terima jika anaknya tidak diijinkan mirip dengannya.


Memang kalau tidak mirip denganku mau mirip siapa coba ? Mereka kan anakku, tentu saja harus mirip denganku...!!! Aaahhhh... Dasar kenapa juga harus membahas yang belum ada ?! Lagipula itu kan sudah pasti jika anak-anakku akan mirip denganku, masih juga diperdebatkan.


" Wajahmu sih tidak ada masalah, yang bermasalah itu kelakuan menyebalkanmu itu. Keras kepala dan tidak pernah mau kalah, seenaknya sendiri . . . " Omel Suryatama tanpa henti.


Arya yang mendengar perdebatan itu mulai merasa pening.


" Haish . . . Hega seperti itu kan juga karena Hega menuruni sifat dari Papi. Dan kenapa juga kalian berdebat untuk hal yang belum nyata. Mereka menikah saja belum, papi malah sudah ribut dengan Hega soal anak Hega dan Moza. " Sela Arya geli sembari geleng-geleng kepala mendengar perdebatan tidak jelas antara kakek dan cucunya itu.


" Dan kamu Hega, kenapa juga kamu meladeni kekekmu membahas itu ? Kalian berdua memang sama saja, keras kepala dan mau menang sendiri ! " Sambung Arya seraya melirik putranya.


Arya memang sudah terlampau sering berada diantara dua pria yang hobi berdebat itu hingga membuatnya bosan dan lelah dengan sifat keras kepala keduanya.


Dan tidak pernah sekalipun Arya membela salah satu diantaranya, satu sisi adalah Papinya dan satu sisi adalah putranya. Terlebih lagi Arya tidak mau terlibat dalam perdebatan dua pria yang sama-sama keras kepala itu.


" Hega minta jangan membahas itu dulu, Kek ! Hega dan Momo kan juga masih ingin berduaan dulu setelah menikah. Iya kan, Momo sayang. " Ucap Hega tanpa basa-basi, mengerlingkan matanya pada sang kekasih, membuat sang calon istrinya itu semakin merona malu.


" Kak... " Moza memelototi Hega yang sedang tercengir setelah mengatakan hal yang membuat Moza malu setengah mati.

__ADS_1


" Apa salahnya segera punya anak, Mama Muda lagi trend saat ini. Iya kan Nak Ayu ?! " Suryatama masih tidak mau menyerah justru meminta dukungan ibunda Moza dan wanita paruh baya di samping Moza itu mengangguk dan tersenyum seraya mengelus kepala putrinya.


" Apa itu sebutannya yang lagi hits saat ini.... " Sambung Suryatama berusaha mengingat-ingat sesuatu.


" Ah... Macan alias Mama Cantik, aku benar kan Ben ?! " Ujar Suryatama menoleh pada Asisten Pribadinya yang sedari tadi setia berdiri di samping sofa kebesarannya. Dan pria itu mengangguk membenarkan dan kemudian terdengar tawa bahagia Suryatama.


" Kakek . . . !!! " Lagi-lagi Hega menyela dan menyipitkan matanya ke arah sang kakek, meminta agar pria itu menghentikan pembicaraan tentang 'anak'.


" Iya, iya, kakek menyerah. Terserah kalian berdua saja ! " Dengus Suryatama akhirnya terpaksa menyerah.


" Baiklah, kita kembali ke pokol pembahasan kita tadi saja. Jadi semuanya sudah setuju untuk mempercepat pernikahan mereka ya ?! " Tanya Suryatama.


" Tuan Besar, jika boleh saya ingin menyarankan untuk mengubah tanggalnya. Karena tanggal acara pertunangan tinggal dua minggu lagi sedangkan persiapan untuk pernikahan pasti akan lebih rumit dan banyak detail kecil yang harus disiapkan. " Sela Benyamin dengan sopan.


" Kau benar, Ben. Bagaimana jika minggu kedua bulan depan ? Setidaknya kita masih ada waktu selama satu bulan untuk menyiapkan semuanya. Bagaimana menurut kalian semua ? " Suryatama memberi saran dengan bijaksana.


" Kalau kami terserah anak-anak saja, Om Surya. Kami selaku orang tua akan mendukung dan membantu semaksimal mungkin, itu kan acara penting anak-anak kami yang insyAllah hanya akan terjadi sekali seumur hidup mereka. Benar begitu kan, mas Arya ? " Melihat sang suami mengangguk saja, Ayu mewakili suaminya berbicara.


" Iya, tentu saja. " Jawab Arya singkat seraya menganggukan kepalanya.


" Ben, kau segera buat rincian persiapannya ! Jangan sampai ada satu hal pun yang terlewatkan ! "


" Baik Tuan Besar. " Benyamin mengangguk sopan.


Tapi kebahagiaan seolah tidak bisa berjalan semulus keinginan mereka saat suara langkah kasar mendekati ruang keluarga dimana mereka tengah berkumpul saat inl.


" Ryu yang tidak setuju. " Suara teriakan dari arah pintu utama membuat semuanya sontak menoleh ke arah sumber suara.


" Ryu... " Teriak Ardi dan Ayu bersamaan.


" Ryu masih belum bisa sepenuhnya percaya sama abang, Ryu tahu abang udah berusaha keras buat meyakinkan Ryu kalau abang memang pantas buat Kak Momo. Dan Ryu akui abang cukup bisa diandalkan dan Ryu setuju kak Momo bertunangan sama abang. Tapi untuk menikah, abang masih belum sampai pada titik dimana abang bisa meyakinkan Ryu jika abang lah pilihan terbaik untuk kak Momo. Jadi Ryu keberatan jika kalian menikah secepat ini. Ryu menentang ! "


" RYU... Jaga bicaramu ! " Teriak Ardi Dama.

__ADS_1


" Ayah, Bunda. Ryu tidak pernah meminta apapun selama ini. Ryu hanya minta waktu agar Ryu bisa yakin jika kakak Ryu satu-satunya akan benar-benar bahagia dengan pria pilihannya. " Tegas pemuda itu seraya pergi meninggalkan semua orang dalam keadaan syok.


Hega seketika berdiri dan hendak menyusul pemuda itu, tapi Moza dengan cepat beranjak dari sofanya, menahan lengan Hega.


Gadis itu menggeleng pelan, " Aku yang akan bicara padanya, Kak. " Ucapnya seraya tersenyum seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Kemudian Hega mengangguk dan membalas senyuman Moza dengan senyum yang sama.


⚘⚘⚘


• Taman Kediaman Saint •


Ryuza berjalan cepat keluar dari rumah utama menuju taman besar di depan bangunan mewah itu. Pemuda itu tampak sangat merasa kecewa mendengar keputusan pernikahan sang kakak yang tiba-tiba.


Moza menyusul sang adik saat pemuda itu meninggalkan ruang keluarga dengan tatapan mata kecewa. Ryuza menjatuhkan tubuhnya di kursi taman, wajahnya terlihat kacau. " Apapun yang akan kakak katakan tidak akan bisa mengubah pendapatku, Kak. "


Moza ikut mendaratkan dirinya duduk di samping pemuda itu, kursi taman panjang dari besi berwarna putih terdapat pegangan di samping kanan dan kirinya.


Moza menatap nanar ke arah langit biru dengan beberapa awan putih bertebaran membentuk gumpalan-gumpalan acak di atas sana.


" Ryu, kakak sangat mencintainya. " Kalimat pertama yang diucapkan Moza tentu saja tidak bisa membuat seorang Ryuza luluh seketika. Pemuda itu masih tak bergeming di dari posisinya.


Ryuza tentu tidak akan bisa dibujuk dengan mudah, pemuda itu sudah memantapkan diri jika dirinya akan tetap pada keputusannya. Ryuza merasa masih butuh waktu untuk melihat sehebat apa calon kakak iparnya itu.


Ryuza memang sempat merasa takjub dengan usaha Hega selama beberapa minggu ini setiap kali sahabat kakak sulungnya itu selalu meluangkan waktu di tengah kesibukannya untuk datang menemuinya di luar kota hanya untuk meladeni tingkah menyebalkan dirinya.


Ryuza punya banyak cara untuk menguji kualitas calon kakak iparnya itu, mulai dari bertanding basket, sepak bola dan beberapa kali beradu kekuatan dan teknik dalam beberapa jenis seni bela diri. Jangan lupakan juga bagaimana Ryuza berusaha membuat Hega jengkel dengan segala tingkah menyebalkannya. Tapi bukan Hega jika tidam bisa memutar otaknya untuk melawan bocah remaja itu.


Dan usaha Hega sebenarnya sudah cukup bisa melunakkan hati Ryuza, perlahan merelakan kakaknya untuk bersanding dengan pria yang memang mau tidak mau harus diakui Ryuza memiliki nilai nyaris sempurna dari segala aspek kompetensi dalam diri pria itu.


Tapi betapa kesalnya Ryuza saat dirinya mulai setuju membuka dirinya untuk calon kakak iparnya itu, Ryuza malah mendengar berita pernikahan yang tiba-tiba. Rasanya Ryuza seperti sedang ditikung oleh calon suami kakaknya itu, bilangnya minta restu bertunangan, saat dia mengiyakan malah berubah menjadi pernikahan.


Ryuza seolah merasa seperti ada seseorang yang membujuknya mati-matian untuk menitipkan sesuatu miliknya yang paling berharga. Dan saat pemuda itu menyetujuinya, seseorang itu malah dengan seenaknya meminta untuk langsung memilikinya.


ingin rasanya Ryuza meninju sekali lagi calon kakak iparnya yang kurang ajar itu.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2