
AUTHOR
Tapi Bara malah melotot dan bersungut, mungkin beginilah percakapan antara mereka jika diartikan secara lisan.
" Gue akan bawa Alina pergi. " ~ Bara ~
" Tunggu dulu, Bar ! " ~ Hega menggeleng ~
" Lo gak khawatir gitu kalau mereka berantem gara-gara lo ?! Atau lo malah seneng ada dua wanita jambak-jambakan memperebutkan lo ?! ~ Bara sambil mempraktekkan menjambak rambutnya sendiri ~
" Lo pikir tunangan gue sebar-bar itu apa ? Diam saja dan tunggu ! " ~ Hega mendelik tajam ke arah Bara ~
Anita yang melihat kedua atasannya berbicara dengan bahasa isyarat hanya bisa geleng-geleng kepala.
Hega kembali tersenyum dan senyumnya justru semakin lebar saja mendengar kalimat demi kalimat kekasihnya. Apalagi saat gadis itu mengatakan jika Hega adalah miliknya dan sebesar apa cinta Moza padanya.
Hega benar-benar tidak tahan ingin segera memeluk kekasih cantiknya yang sedang dalam mode singa galak dibalik sikap tenangnya itu.
Tidak salah aku begitu mencintaimu, kamu benar-benar berhasil membuatku tergila-gila padamu. Gadisku yang terlihat polos dan sangat tenang tapi ternyata kamu gadis yang sangat tegas. Kamu tahu dengan jelas kapan waktu yang tepat untuk bertindak mengintimidasi dan memojokkan lawan bicaramu.
Ujar Hega dalam hati, merasa bangga pada karakter kekasihnya yang kuat dan penuh percaya diri.
" Lo pasti seneng kan, Ga ?! " Cibir Bara melihat Hega yang tak henti-hentinya tersenyum hingga mungkin bibir Hega akan sobek karena terlalu panjangnya tarikan senyum yang melengkung di bibir sahabatnya itu.
" Menurut lo ?! " Jawab Hega santai tanpa sedikitpun melihat ke arah Bara, mata elangnya masih fokus menatap wajah cantik Moza melalui celah sekat bermotif bunga di sampingnya.
Tak lama terdengar suara gebrakan meja yang lebih keras dari sebelumnya, dan salah satu gadis itu pergi meninggalkan restoran.
" Kalian berdua benar-benar pasangan serasi. Gue gak nyangka dibalik pembawaan Moza yang kalem dan tenang itu tersembunyi sisi mengerikan seperti itu, gak salah gue julukin dia singa cantik hahahaha. " Gumam Bara terpingkal tanpa sengaja.
" Sssttt.... " Hega melotot tajam pada Bara membuat pria itu reflek membekap mulutnya sendiri.
" Ups... Sorry.... "
Sreeetttt....
Seketika muncul gadis cantik yang tengan menatap ke arah Hega dan Bara dengan tatapan campur aduk, antara kesal, jengkel, kaget dan malu sekaligus.
Jadi itu tadi suara tunangan Presdir ?! Pantas saja suaranya seperti tidak asing, ckckck.... Presdir pasti sedang kegirangan setengah mati mendengar pengakuan jika tunangannya begitu mencintainya.
__ADS_1
Gumam Anita dalam hati, wajar saja Anita belum hafal suara Moza karena baru bertemu satu kali beberapa hari lalu dengan si gadis penakhluk atasan galaknya itu.
Saat itu Moza tengah mengantar sebuah berkas untuk atasannya dan kedatangannya menjadi pusat perhatian seluruh penghuni lantai 15 Golden Imperial Group.
" Apa yang kakak lakukan disini ?! " Moza menggeser kursinya mengintip meja di balik sekat dan seketika berdiri mendapati siapa yang ada disana dan sedari tadi menguping pembicaraannya.
" Ehhh.... Dek, sorry gue gak ikut-ikutan. " Ucap Bara sembari mengangkat kedua tangannya ke atas.
" Kakak mengikuti aku ?! " Moza membulatkan matanya menatap tajam Hega.
" Aku juga ada pertemuan disini , aku dan Bara bahkan sudah duduk disini lebih dulu saat aku lihat kamu datang tadi. " Ucap Hega membela diri.
" Lalu kenapa kakak tidak menyapaku ?! Benar kan kakak sengaja mau menguping pembicaraanku. " Omel Moza lagi dengan tatapan kesal.
" Enak saja, memangnya waktuku seluang itu apa ? Dan kamu kira aku kurang kerjaan dengan sengaja menguping pertengkaran kalian, hem ? Aku sedang rapat tau. " Balas Hega sekenanya, memang benar dia sedikit sengaja menguping pembicaraan kekasihnya itu.
" Rapat apa ?! " Moza malah melotot galak pada kekasihnya yang jelas-jelas sengaja menguping pembicaraannya dengan Alina.
" Tanya saja mereka berdua ! Kami sedang menunggu klien. " Elak Hega lagi seraya menunjuk ke arah Bara dan Anita bergantian dan kedua orang itu mengangguk membenarkan ucapan Hega.
" Mereka kan bekerja pada kakak, tentu saja mereka akan membela kakak. " Gerutu Moza ketus.
" Tertawa saja terus, kakak senang kan diperebutkan oleh dua gadis. " Moza berdecak kesal dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
" Tentu saja senang, apalagi mendengar semua pernyataan cintamu untukku. Aku sangat senang sampai ingin memelukmu sekarang juga. " Tutur Hega diselingi tawa pelan seraya berdiri dan menyambar tubuh gadis cantik kesayangannya.
" Akh.... Stop ! Dasar tidak tahu malu, lihat-lihat situasi dong. " Protes Moza berusaha berontak dari rengkuhan tangan Hega yang sudah melingkar di pinggulnya.
" Ough... Bagaimana jika kita pergi ke ruanganku ?! Jadi aku bisa bebas memelukmu. " Goda Hega dengan tidak tahu malu dan mendarat lah cubitan kecil jari Moza di perutnya.
" Auwh... Sakit Momo sayang. " Reflek Hega melepaskan Moza dari rengkuhannnya, mengelus perutnya dan meringis antara geli dan sedikit nyeri juga.
" Rasakan, siapa suruh tingkah kakak sangat menggelikan. Dan lagipula bukannya kakak tadi mengatakan jika kakak mau rapat ?! " Omel Moza dengan judesnya.
" Biarkan Bara yang melanjutkannya. " Titah Hega seenak jidatnya kemudian memeluk lagi Moza dari belakang dan mendaratkan dagunya di pucuk kepala Moza membuat gadis itu merona malu karena tubuhnya sudah melekat erat di tubuh pria tampan itu.
" Hei, jangan seenaknya dong, Ga ! " Bara mendelik tajam dan bersungut kesal.
" Lanjutkan rapatnya Bar ! Katakan pada klien kita jika mereka sudah terlambat. Dan lo tahu kan batas toleransi gue. " Perintah Hega lagi dengan nada yang tidak mau dibantah.
__ADS_1
" Cih... Ini juga belum 15 menit, Ga. " Omel Bara jengah.
" Lanjutkan atau batalkan saja, terserah lo. " Jelas kali ini Bara tidak bisa membantah ucapan Hega yang sedang dalam mode bucin tingkat dewa.
Apapun yang dikatakannya, Bara yakin tidak akan membuat Hega berubah pikiran. Jika ada Moza, maka semua prioritas Hega hanya akan tertuju pada kekasihnya itu.
" Anita, pesankan makan siang di ruangan saya ! Saya akan makan siang bersama tunangan saya. " Titah Hega pada Anita yang masih duduk terbengong melihat tingkah Presdir nya.
Fix adegan awuwu mereka berdua sukses membuat Anita gigit jari, pasangan tidak tahu tempat yang memamerkan kemesraannya tanpa rasa bersalah telah membuat kedua orang yang menjadi penonton itu ikut baper dan geli sendiri.
Terutama Anita yang untuk pertama kalinya melihat sisi menggelikan si boss super perfeksionisnya yang selama ini selalu dingin pada semua wanita ternyata bisa bucin juga pada kekasihnya.
Ini beneran Presdir Hega Saint yang jutek tiada tara itu kan ? Haish..... Jika aturan tidak boleh ikut campur dan menyebarkan segala informasi tentang Presdir tidak ada dalam surat kontrak kerja sebagai sekretaris Presdir. Maka fix aku ingin sekali berbagi gosip panas ini ke seluruh penjuru perusahaan. Biar patah hati berjamaah itu para pemuja Presdir, terutama para wanita yang tidak henti-hentinya mengejar Presdir dan mengganggu ketenangan kerjaku dengan teror mereka yang selalu menanyakan tentang Presdir. Aku sudah lelah menjawab telepon dari penggemar Presdir....
Gumam Anita dalam hati.
" Anita, apa kamu mendengar ucapan saya ?! " Hega mengibaskan tangannya di depan wajah sekretarisnya sontak membuat Anita terperanjak seketika.
" Eh... Baik, Presdir. Segera saya siapkan. " Jawab Anita setengah terlonjak kaget, dengan cepat berdiri dan saat hendak beranjak pergi untuk melakukan perintah atasannya itu lengannya ditahan oleh gadis di samping si boss.
" Tunggu ! Aku akan pergi bersama mbak Anita. " Ucap Moza melepaskan tangan Hega yang sudah melingkar lagi di pinggulnya.
" Eh... Kenapa ?! " Tanya Hega heran.
" Kakak ingat pertama kali aku datang ke kantor kakak ?! " Tanya Moza dan Hega mengangguk.
" Aku tidak mau jadi tontonan lagi seperti itu. Memalukan. " Gerutu Moza kesal.
" Ta-tapi..."
" Pokoknya aku akan kesana dengan mbak Anita, jika kakak tidak setuju maka aku lebih baik pulang saja. " Moza melengos.
" Huft.... Iya, baiklah. Pergilah, aku akan segera menyusul. " Pasrah Hega akhirnya, mengusap wajahnya kasar tak lupa cekikikan mengejek terdengar dari pria yang masih duduk santai di sofa.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
...JANGAN LUPA...
...β LIKE β KOMENTAR β VOTE β...
__ADS_1