Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Permintaan Maaf


__ADS_3

AUTHOR


Di ambang pintu terlihat dua wanita yang masih tampak ragu untuk mendekat.


Bukan hanya karena tatapan mata tajam Hega yang seolah enggan menerima kedatangan Alina disana, namun juga karena rasa bersalah Alina pada gadis yang tengah terbaring di ranjang itu.


Moza mencondongkan badannya mengintip lebih jelas ke arah pintu, " Kenapa Kak Aliza berdiri disana, masuklah kak ! " Ucap Moza sambil tersenyum saat menyadari ada sosok lain di belakang Bara.


Hega melirik tajam Bara seolah mengisyaratkan sesuatu, dan Bara tahu jelas apa maksud tatapan sahabatnya itu.


Ngapain lo bawa dia kesini Bar ? ~ Hega ~


Lagi-lagi Hega menatap dengan sangat menakutkan, tampak jelas amarah Hega kembali terpancing dengan kedatangan Alina.


Yang tadinya hanya terlihat tatapan jengkel atas kedatangan Bara yang mengganggu aktifitas mesranya seketika berubah menjadi tatapan horor saat kemunculan Alina disana.


Biarlah masalah wanita diselesaikan oleh para wanita Ga, kita para pria memantau saja. ~ Bara ~


Aliza mulai mendekat mengikuti isyarat Bara, menggandeng lengan adik sepupunya, Alina. Gadis itu terlihat gemetar ketakutan, kepalanya masih menunduk seolah tidak memiliki keberanian menatap gadis yang masih duduk di ranjang.


Sekilas Alina mendongak menatap ke arah pemuda di samping Moza, namun Alina kambali menunduk dan bersembunyi di belakang punggung kakak sepupunya.


Sekilas saja Moza tahu gadis itu habis menangis karena terlihat kedua mata sembab Alina yang juga sedikit bengkak.


Aliza dengan lembut mengelus punggung Alina, seolah memberi kekuatan dan dukungan agar gadis itu segera melakukan apa tujuannya datang menemui Moza.


Moza masih terdiam menunggu gadis cantik dengan usia terpaut dua tahun lebih tua darinya itu untuk bicara.


Sedangkan disampingnya tampak Hega mulai kehilangan kesabaran. Dan sebenarnya sudah enggan berurusan dengan gadis yang terus-terusan mengejarnya selama lebih dari dua tahun ini.


" A-aku minta maaf, a-aku tahu jika a-pa yang ku la-kukan itu sa-lah. A-ku benar-benar me-nyesal. Maukah kamu me-maaf-kanku ? " Ucap Alina terbata-bata, gadis itu masih menunduk, terlalu takut menatap mata Moza apalagi Alina lebih merasa merinding dengan tatapan tajam Hega yang masih berdiri dalam diam di samping ranjang Moza.


" Cukup.... " Hega yang hendak menyela dan berniat mengusir Alina pergi karena Hega masih terlalu marah pada tindakan yang dilakukan gadis itu pada Moza, tunangannya.


Tapi belum selesai Hega mengucapkan kalimatnya, Moza menarik ujung kemeja Hega, kemudian menggeleng pelan mengisyaratkan agar Hega tidak meneruskan kalimatnya itu.


" Huuuff.... " Hega hanya bisa menghela nafas berat dan diam menuruti kemauan kekasihnya, mengusap wajahnya gusar.


" Kenapa kakak harus minta maaf ?! Bukankah yang terjadi itu hanya kecelakaan, aku tahu kakak juga pasti tidak sengaja menabrakku. " Ucap Moza dengan sangat tenang kemudian tersenyum simpul.

__ADS_1


Mendengar ucapan gadis itu, seketika membuat semua mata menatap padanya. Tak percaya dengan apa yang keluar dari bibir gadis itu.


Dia ini memang baik atau pura-pura baik ?! Jelas-jelas kalau aku mendorongnya dengan sengaja.


Batin Alina mulai gelisah, menatap Moza dengan tatapan yang sulit diartikan.


Belum juga satu orangpun merespon ucapannya, Moza kembali membuka suara.


" Jadi jangan diperpanjang lagi. "


Nyawamu hampir saja dipertaruhkan, kenapa kamu sesantai dan setenang itu menanggapi masalah ini ?! Bagaimana jika aku tidak ada di sana ? Atau bahkan jika tak ada siapapun yang melihat kejadian itu.


Hega menatap Moza dengan ekspresi sedikit kesal dengan kesabaran atau mungkin keluguan kekasihnya itu.


Lagi-lagi Moza hanya tersenyum menanggapi tatapan mata yang ditujukan padanya, " Aku juga salah kok, saat itu aku sedang tidak fokus mendadak berbalik badan, apalagi aku juga sedang mendengarkan musik di ponselku membuatku tidak mendengar ada seseorang di belakangku. Maaf atas kecerobohanku ya kak, membuat heboh dan mengganggu acara liburan kita. "


GLEK...


Alina dengan susah payah menelan salivanya, mendengar kalimat demi kalimat dari mulut Moza membuat Alina semakin merasa bersalah. Bagaimana bisa gadis itu mengira jika apa yang terjadi hanya sebuah kecelakaan saja. Padahal memang benar jika dirinya memiliki niat buruk pada gadis yang ternyata adalah kekasih dari pria yang dicintainya itu.


Alina menggigit sudut bibirnya berusaha menahan tangisnya.


" Kita lupakan saja masalah ini ya, lagipula aku sudah tidak apa-apa kok. Tapi kalau kakak akan merasa lega setelah minta maaf, maka baiklah aku memaafkan kakak. " Ucap Moza lagi, membuat semua orang yang ada disana benar-benar tak bisa berkata-kata lagi.


Hega benar-benar dibuat frustrasi dengan kepolosan kekasihnya, tangannya mengepal menahan amarah. Tapi Hega tak ingin menunjukkan sisi mengerikan dirirnya di hadapan gadis yang dicintainya.


" Te-terima k-kasih. " Ucap Alina akhirnya dibalas anggukan oleh Moza.


" Jika sudah selesai keluarlah ! " Hega kembali duduk di tepi ranjang, menghadap ke arah Moza dan membelakangi Alina, mengabaikan Alina yang seperti ingin mengucapkan sesuatu padanya.


" Kak Hega, bi-sakah Alina bicara dengan kakak ? " Jelas terdengar Alina mengumpulkan keberanian terakhirnya untuk mengucapkan kalimat itu.


" Tidak ada yang perlu saya bicarakan dengan kamu. Jadi keluarlah ! Bawa dia pergi, Bar ! " Hega masih tak bergeming dari posisinya, tak menoleh sedikitpun dan hanya fokus pada gadis di depannya. Wajahnya benar-benar tampak kesal seperti ingin membunuh seseorang.


Heh... Kenapa aku harus lihat wajah juteknya sekarang si ? Apa begini tampang jutek kak Hega jika dilihat dari dekat ?! Tapi dia memang benar-benar tampan...☺


Huuhh.... Pantas saja para wanita yang dulu sering kulihat mendekatinya terus saja mengejarnya meskipun sudah tahu kelakuan menyebalkan Kak Hega.


Batin Moza mengingat kembali beberapa kenangan di masa lalu.

__ADS_1


Haish.... Hei Moza Artana, sadarlah ! Ini bukan saatnya kamu mengagumi wajah pacarmu ! Lihat-lihat situasi dong !


Gumamnya masih dalam hati mengumpati kebodohannya yang masih sempat-sempatnya berfikir kesana-kemari dalam situasi canggung yang tengah terjadi.


Bara tak bisa berbuat apa-apa jika sudah seperti ini kondisinya, Bara tahu pasti bagaimana keras kepalanya Hega. Jika Hega mengatakan A maka artinya adalah A, tidak mungkin berubah bagaimanapun membujuknya.


Dan tentu saja jika nekat membujuk pria itu merubah keputusannya, maka hasilnya sudah pasti, api amarah Hega bisa saja semakin membesar dan membakar siapa saja yang berusaha untuk mempengaruhi keputusannya yang sudah mutlak itu.


Bara menghela nafas berat, tapi dia tetap merasa lega setidaknya Hega tidak akan meledakkan amarahnya di hadapan kekasih cantiknya.


Baru saja Bara hendak berbalik badan membawa Alina keluar dari kamar itu, sekali lagi telinganya dikejutkan oleh ucapan yang keluar dari bibir kekasih sahabatnya itu.


" Berikan dia kesempatan untuk bicara kak ! " Moza tahu jelas situasi yang sedang terjadi, Moza meraih tangan Hega dan tersenyum,


" Tidak ! " Tegas Hega dingin.


Kenapa jawabnya ketus sekali si ?! ~ Moza ~


Ekspresi Moza mendadak sedikit cemberut, tapi kali ini otaknya bekerja cukup cepat untuk mengatasi kekasih keras kepalanya itu.


Perlahan satu tangan Moza beralih mengelus pipi Hega, " Kak, jangan seperti anak kecil yang terus menghindar atau menyelesaikan sesuatu dengan kemarahan, selesaikan dengan baik sekarang juga ! "


Hega masih acuh, keputusannya masih tetap sama. Jangankan untuk bicara dengan Alina, menatap wajah gadis itu saja sudah bisa membuat Hega sangat murka.


" Atau kakak mau aku merasa tidak tenang karena ada seorang gadis cantik yang terus menatap kekasih tampanku ini dengan penuh cinta. " Lanjut Moza manja, tapi kali ini dengan sangat lirih berbisik di telinga Hega.


Hega sontak menatap tajam ke arah Moza, " Kamu ?! "


..._ Bersambung _...


" Cinta itu bisa membuat bahagia. Namun cinta buta juga bisa berbahaya, saat kecemburuan karena cinta akan membuat siapapun seketika menjadi buta dalam menilai benar dan salah dalam setiap langkah yang harus dipilihnya untuk menggapai bahagia. " ( Sherinanta )


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


* Babang Hega, Momo tahu loh kalau tuh perempuan suka sama lu.


* Apakah Hega akan memaafkan Alina seperti yang dilakukan Moza ?


* Apakah Alina akan menyerah pada cintanya ?

__ADS_1


__ADS_2