
AUTHOR
" Eum... Papa tidak melakukan hal itu, Nak. Kakekmu yang langsung datang pada orang tua mamamu untuk meminta ijin pada mereka untuk menikahkan putri mereka dengan papa. " Jawab Arya datar.
Jawaban yang tentu saja membuat Hega melotot tajam menatap sang Papa, " Jadi papa tidak melamar Mama secara pribadi ? Seperti lamaran romantis begitu ? " Tanyanya menyelidik.
Ada apa dengan anak ini sebenarnya ? Kenapa tiba-tiba membahas hal seperti ini ? Lamaran romantis ?
Apa benar dia putraku yang biasanya hanya akan bertemu denganku untuk membahas masalah bisnis ?
Dan hari ini tiba-tiba menelpon dan datang terburu-buru dengan wajah gelisah membahas sesuatu yang ternyata diluar dugaanku. Atau kepalanya habis terbentur sesuatu ?
Batin Arya bertanya-tanya seraya menatap putranya dengan keheranan.
Arya seketika kembali tergelak, " Hahahahaha.... "
Namun sedetik kemudian wajah pria paruh baya itu kembali datar.
" Tidak. " Ucapnya dengan nada sedatar ekpresinya.
Netra hitam Hega menyipit terlihat lesu dan kecewa, " Lalu dengan tente Rasti ?! " Tanya nya lagi karena mungkin saja pernikahan kedua papanya berbeda cerita.
Arya terlihat mengingat-ingat, " Ah... maminya Rania ? "
" Iya, bagaimana papa melamarnya ? " Menatap dengan penasaran.
" Papa juga tidak melakukan hal semacam itu pada maminya Rania. Lagipula kan kamu juga sudah tahu bagaimana ceritanya papa bisa menikahi mami Rasti. " Jawab Arya lagi dengan ekspresi dan nada seperti sebelumnya, datar-datar saja.
Hega kembali beringsut di sofa dan menunduk lesu mendengar jawaban mengecewakan dari sang papa. Nyatanya keputusan untuk datang ke tempat papanya dan meminta saran adalah hal yang sia-sia.
Dua kali menikah tidak lantas membuat Aryatama memiliki pengalaman tentang lamaran romantis yang bisa dibagi dengan putranya.
" Haish... Menyebalkan ! Ternyata ini semua karena papa. " Omelnya kemudian penuh kekesalan.
Dahi Arya mengerut, " Eh ?! Kok malah papa yang disalahkan ?! " Protes sang papa.
Hega membalas tatapan sang papa dengan wajah juteknya, " Hega menurun sifat papa yang kaku dan tidak peka, tidak romantis dan hanya gila kerja. " Gerutu Hega menyalahkan sang papa.
Bukannya marah, Aryatama malah kembali tertawa bahkan dengan suara tawa yang lebih keras daripada sebelumnya.
" Hahahahaha.... Maafkan Papa. Papa waktu muda juga sepertimu, sibuk bekerja, tidak ada waktu memikirkan romansa remaja. Itu juga kan karena kakekmu, jadi jangan hanya salahkan papa ! Salahkan saja kakekmu ! " Ucapnya membela diri.
" Ck . . . Kalau itu Papa saja yang melakukannya ! " Hega hanya berdecak kesal dan membuang muka menanggapi pembelaan diri papanya.
Arya sontak memajukan tubuhnya, memelototi putranya, " Haish.... Kamu mau papa dicekik oleh kakekmu, hah. " Arya malah mengomel menanggapi saran putranya, dan Hega malah tercengir tipis tak peduli.
" Ah.. Iya, papa baru ingat. Kenapa kamu tidak tanya saja pada mamimu ?! Papa dengar dulu mamimu dilamar dengan romantis oleh almarhum pamanmu. "
Arya memang selalu menyebut Rasti dengan kata mami di hadapan putranya, berharap pemuda itu mau menerima istrinya yang juga sahabat dari ibu kandung Hega itu sebagai ibu keduanya. Meskipun hingga saat ini Hega belum sampai pada tahap bersedia memanggil Rasti dengan sebutan ibu atau sejenisnya.
Mata Hega seketika berbinar, tapi tak lama kembali muram, " Tapi, Pah. "
Bagaimanapun hubungannya dengan istri kedua sang papa itu belum terlalu baik, meskipun kesalahpahaman diantara mereka sudah terselesaikan, tapi hubungan antara Hega dan ibu tirinya itu belum sampai di tahap Hega bisa meminta saran percintaan.
" Tanyakan saja padanya ! Mamimu pasti senang bisa membantumu. " Bujuk Arya sedikit memaksa berharap ini bisa menjadi kesempatan untuk mendekatkan sang istri dengan putranya dan semakin memperbaiki hubungan mereka.
" Haish... Baiklah. Hega akan menemui tante Rasti di tokonya. Sampai jumpa Pah, Hega pamit. " Hega segera beranjak berdiri dan menium punggung tangan sang papa.
Hega sudah tidak punya pilihan lagi, waktu menjelang pernikahan sudah semakin dekat. Jadi secepatnya ia harus mempersiapkan lamaran spesial untuk kekasih hatinya.
Dengan langkah yang tidak bersemangat, Hega meninggalkan ruangan sang papa.
" Hei, tinggal lah sebentar lagi ! Kopimu bahkan belum datang, kamu malah pergi. "
" Untuk papa saja ! Hega pergi, Pa. Assalamualaikum. " Jawab Hega lesu bahkan tanpa menoleh pada sang papa dan hanya melambaikan satu tanganbya ke atas.
" Waalaikumsalam. Hiiiss... Dasar anak kurang ajar. Datang hanya karena ada maunya dan pergi seenak jidstnya saja. "
•
⚘⚘⚘
• H&R Cake •
Hega memarkirkan mobil putihnya di depan bangunan bertingkat dua, beberapa orang terlihat keluar masuk dari pintu kaca dengan logo besar H&R itu.
__ADS_1
Toko cake dan pastry milik istri kedua papanya yang dirintis sejak empat tahun yang lalu. H&R sendiri diambil dari inisial nama kedua anak Aryatama, Hega & Rania.
Nama yang dipilih sendiri oleh Rasti sebagai bentuk kasih sayangnya pada kedua anaknya itu, meskipun Hega bukan lah darah dagingnya dan tidak lahir dari rahimnya, tapi Rasti sangat menyayangi pemuda itu seperti putranya sendiri.
Hega masih terdiam di balik kemudi, menatap gelisah pada bangunan bernuansa cream dan coklat dengan beberapa sentuhan warna baby pink itu.
Sepertinya Hega belum mampu untuk menghadapi wanita yang selama ini diperlakukannya dengan sangat dingin itu. Kesalahpahaman yang terjadi selama ini menjadi jarak diantara Hega dan ibu sambungnya.
Kenyataan dibalik pernikahan kedua sang papa yang baru ia ketahui beberapa hari yang lalu masih belum bisa sepenuhnya membuat Hega membuka hati untuk sang ibu tiri.
Hega menyandarkan kepalanya di sandaran jok mobilnya, memejamkan kedua matanya seolah sedang mengumpulkan keberaniannya untuk melangkah memasuki bangunan yang bahkan tidak pernah dikunjunginya itu.
Bayangan senyuman sang kekasih sekelebat melintas saat ia menutup kedua matanya. Setiap kata-kata yang diucapkan Moza untuk menghiburnya beberapa waktu yang lalu terus terngiang-ngiang di kepalanya.
Berdamailah dengan masa lalu, Kak. Seperti aku yang juga berusaha melakukannya, maka sekarang adalah giliran kakak yang melakukannya. Jika kita berdua sama-sama berhasil menghadapinya, maka kebahagiaan kita akan jadi sempurna.
Hega menghela nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, melepas seatbelt dan keluar dari mobilnya berjalan menuju bangunan yang hampir setengah jam ditatapnya dengan hampa.
Hega mendorong pintu kaca dan memasuki toko milik ibu tirinya, usaha dari istri sang papa yang selama ini bahkan enggan untuk diliriknya.
Dan ini untuk pertama kalinya Hega menginjakkan kakinya di toko kue yang interiornya bernuansa cream dan ivory itu.
Dua orang gadis penjaga toko yang berdiri di dekat pintu masuk terbengong melihat kedatangan sosok tampan yang membuat mereka terkesima.
" Ekhem.... " Hega mengibaskan telapak tangannya di hadapan kedua gadis yang yang salah satunya terlihat seumuran dengan kekasihnya itu, bahkan mungkin lebih muda.
Keduanya terlonjak bersamaan, " Ah... Selamat datang di H&R Cake, ada yang bisa kami bantu ?! " Sapa seorang penjaga pintu masuk toko, seorang gadis berusia sekitar 20 tahunan yang masih menatap terkesima menyambut kedatangan Hega.
" Saya ingin bertemu pemilik toko. " Jawab Hega datar.
" Ah... Ibu Rasti sedang ada tamu, kalau boleh tahu ini dengan siapa saya akan sampaikan pada beliau. " Tanya penjaga toko sangat ramah.
" Tolong katakan putranya datang ! " Ucap Hega datar.
" HAAH ?! " Gadis penjaga toko langsung terlongo mendengar ucapan pemuda yang sangat tampan itu, lebih terkejut lagi saat tahu jika pria itu adalah putra dari ibu bossnya.
" Hega, kamu disini, Nak ? " Suara tidak asing menyela, seorang wanita paruh baya memakai dress sepanjang mata kaki berwarna putih tulang dengan cardigan berwarna coklat mendekati pemuda itu dengan wajah bahagia.
" Apa kedatangan saya mengganggu ? " Tanyanya dengan wajah canggung.
" Disini saja. " Jawab Hega singkat seraya menunjuk satu set meja kursi berwarna coklat di dekat ia berdiri.
" Baik lah, ayo duduk ! Mau minum apa ? "
" Tidak perlu. Saya hanya ingin minta bantuan dari anda. " Ucapnya saat mereka sudah duduk di salah satu kursi pengunjung di sudut ruangan.
" Kamu kan baru pertama kali berkunjung kesini, harus minum sesuatu. " Suara Rasti terdengar sedikit muram mendengar Hega masih memanggilnya dengan kata 'anda'. Tapi ia tetap berusaha tersenyum, setidaknya hubungannya dengan putra sambungnya itu sudah ada peningkatan.
Dan tentu saja gurat kekecewaan wanita itu terlihat jelas di mata Hega.
" Terserah an.. maksud saya terserah tante saja. " Rasti seketika tersenyum mendengar Hega merubah panggilan untuknya..
" Ah... Tunggu sebentar ! " Pamitnya menuju salah satu karyawannya memerintahkan untuk membuatkan dua cangkir minuman untuknya.
Netra hitam Hega menyusuri setiap sudut toko, ruangan luas desain interior bergaya modern minimalis, dilengkapi beberapa ornamen sederhana namun tetap terlihat elegan menghiasi beberapa sudut ruangan.
Etalase-etalase terpasang di beberapa sudut ada yang besar dan kecil dengan berisi macam-macam cake dan pastry. Tidak lupa beberapa set meja kursi yang disiapkan untuk pelanggan yang datang untuk menikmati cake dan pastry sambil mengobrol atau sekedar nongkrong bersama teman atau koleganya.
Ada sekitar sepuluh karyawan yang ada di dalam toko, belum terhitung staff dapur.
Hega cukup terkesima dengan penataan interior toko, sepertinya produk cake dan pastry sang ibu tiri cukup populer, terlihat dari cukup ramainya pengunjung yang datang.
Yang pernah Hega dengar bahwa istri sang papa itu adalah lulusan salah satu kampus ternama dengan jurusan patissier terbaik yang ada di Prancis. Tidak heran jika produk toko itu digemari banyak orang.
Rasti datang membawa dua cangkir kopi di atas meja, dan menyodorkan salah satunya pada putra tirinya.
" Minumlah ! " Suara Rasti sedikit mengejutkan Hega, tapi dengan cepat pemuda itu kembali bersikap tenang.
" Terima kasih, tan. "
" Papamu sudah bercerita sedikit tadi di telepon. Jadi apa yang bisa tante bantu ? " Sedikit terasa getir setiap Hega memanggilnya dengan sebutan 'tante' dan bukannya ibu, bunda atau mami.
Namun Rasti tetap senang, baginya ini merupakan langkah awal untuk bisa memperbaiki hubungan mereka. Meskipun dalam hatinya ingin sekali dipanggil dengan sebutan 'mami' oleh putra suaminya yang sudah dianggapnya putranya sendiri itu.
Akhirnya Hega menceritakan niatnya untuk melamar kekasihnya, dan meminta bantuan dari istri sang papa untuk mempersiapkan lamaran romantis untuk gadis kesayangannya.
__ADS_1
Setelah mengobrol dan bertukar pikiran lebih dari satu jam, Rasti menyanggupi untuk membantu sepenuhnya mempersiapkan acara lamaran romantis untuk kekasih putranya itu. Hega kemudian pamit untuk kembali ke kantor dan mempercayakan semuanya pada ibu dari adik kesayangannya, Rania.
" Terima kasih untuk bantuannya. " Ucap Hega menatap wanita di hadapannya.
" Tidak masalah. Tante malah senang kamu meminta bantuan tante. " Terlihat jelas dari rona bahagia di wajah Rasti jika wanita paruh baya itu benar-benar senang melakukan hal yang bisa membantu Hega.
" Saya pamit, Assalamualaikum. " Pamit Hega sopan.
" Waalaikumsalam. Hati-hati menyetirnya. " Jawab Rasti penuh kasih.
•
•
🍁 Side Story 🍁
Seperginya Hega, beberapa karyawan Rasti berbondong-bondong mengerumuni wanita itu.
" Ibu... Kenapa ibu tidak bilang-bilang kalau punya putra yang setampan itu ?! " Tanya si gadis kasir.
" Iya ibu ini jahat, punya anak lelaki yang ganteng gitu di kekepin aja di rumah. " Celetuk si gadis penjaga coffee corner.
" Ibu... Sering-sering ajak anaknya kesini dong, Amel kan jadi bisa cuci mata biar seger ini hati Amel yang baru patah hati. " Seloroh si gadis penjaga pintu masuk bernama Amelia yang tadi menyambut kedatangan Hega.
" Iya ini ibu Rasti, kalau tahu ibu punya anak seganteng itu saya bakal bawa anak peremouan saya kesini, kali aja mau sama anak saja. " Gantian si ibu-ibu bagian dapur yang melihat Hega saat sedang mengeluarkan kue dari dapur dan hendak menatanya di etalase.
" Ehh.... Hush...hush... Kalian semua ini pada ngomongin apa sih ? " Sela Rasti bingung dengan ocehan para karyawannya.
" Kan itu tadi anaknya ibu kan ?! " Tanya si gadis kasir bernama Yesi.
" Eh... Siapa yang bilang begitu ? " Kedua mata Rasti menyipit.
" Ini kata si Amel begitu. " Jawab Yesi seraya menunjuk temannya.
" Eh... emang bener kok, tadi waktu Amel tanya mas ganteng itu bilang gini ' Tolong katakan putranya datang' gitu. " Ucap Amel menirukan gaya bicara Hega yang datar sedatar layar TV LCD.
Rasti termenung sejenak mencerna ucapan karyawannya.
" Betul dia bilang begitu ?! " Tanya Rasti memastikan.
" Iya ibu, masa Amel bohong ? Tanya deh sama Rika yang tadi bareng sama Amel di depan ! " Cemberut Amel yang merasa tidak dipercaya.
" Sudah.. sudah kalian bubar sana ! Kembali bekerja ! " Titah Rasti seraya mengibaskan kedua tangannya pada para karyawan yang mengerubutinya.
" Iiihhh.... Ibuuuu....Kenalin sama anaknya iihhh... " Gerutu beberapa karyawan kecewa.
" Hush... Anak saya sudah ada yang punya. Bulan depan saya mau mantu tau. Sudah sana bubar !!! " Omel Rasti dengan hati berbunga menyebut Hega sebagai anaknya.
" Iiiiihhhh.... Ibu.... "
Rasti tak mengindahkan gerutuan para gadis itu, malah kembali duduk di kursinya dan tersenyum saat mengetahui jika Hega memperkenalkan dirinya pada karyawan toko kuenya sebagai putra Rasti.
Hati Rasti menghangat seketika,
Mbak Dira, aku akan terus menyayangi putra mbak seperti putraku sendiri. Dan sepertinya putra kita sudah mulai menerimaku di hatinya.
Terima kasih sudah mempercayakan aku menjadi ibu untuk putra kesayangan mbak Dira.
Terima kasih telah menjadikanku ibu dari putra setampan Hega.
Meskipun dia sangat mirip dengan papanya, kaku dan tidak romantis.
Dasar, like father like son.
Batin Rasti sembari tersenyum bahagia.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
...EPISODE TERPANJANG INI...
...2000 kata 😖...
...TERNYATA SEBANYAK INI...
APPLAUSE BUAT PAA AUTHOR YANG BISA UP 2000 KATA PER EPISODE...👏👏👏
__ADS_1
SALUT UNTUK ANDA, KALAU SAYA MENYERAH SAJA DEH, GAK SANGGUP 😓😓😓