Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Malas Terlibat


__ADS_3

AUTHOR


Sedari tadi main kembang api punggung Moza terasa merinding, gadis itu seolah menyadari jika ada yang sedang memperhatikan dirinya dari belakang.


Bukan ge er , tapi memang gadis itu selalu punya kepekaan terhadap sikap lawan jenisnya. Selama ini keacuhannya bukan berarti gadis itu tak menyadari jika banyak pria yang menyukainya.


Justru gadis cantik itu kelewat peka, makanya dia akan segera melancarkan sikap dingingnya jika dirasa ada pria yang tengah ingin pdkt padanya. Seolah alarm pertahanan dirinya langsung menyala jika ada signal ketertarikan dari lawan jenisnya. Seperti mode pertahanan yang otomatis aktif saat dalam keadaan bahaya.


Berbeda jika dia berhadapan dengan pemuda yang dia tahu tak memiliki maksud lain diluar pertemanan, seperti hubungannya selama ini dengan Julian yang normal-normal saja sebatas persahabatan.


Sedekat apapun mereka, Moza tahu Julian tidak memiliki motif tersembunyi pada dirinya. Lain halnya dengan Dimas, sedari awal gadis yang dijuluki ice queen ini sudah menyadari maksud pemuda itu mendekatinya.


Tapi demi menjaga persahabatan dirinya dengan Deana yang adalah sepupu Dimas, Moza memilih untuk pura-pura tak menyadari perasaan Dimas.


Tentu saja sesuatu yang disembunyikan tidak bisa ditutupi selamanya, Dimas menyatakan perasaannya pada gadis itu. Alhasil hubungan pertemanan mereka sempat menjadi renggang,


Moza yang selama ini berusaha acuh dan bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa, harus kembali membangun dinding antara dirinya dan Dimas. Menunggu pria itu memilih satu diantara dua pilihan, menghapus perasaan yang tak akan pernah bisa dibalasnya atau mengakhiri persahabatan mereka.


Melihat dari hubungan mereka saat ini tentu saja Dimas memilih pilihan pertama, menghapus rasa dihatinya. Meskipun kenyataannya diam-diam pemuda itu masih belum bisa move on dari rasa cintanya pada gadis itu.


Namun bukan Moza Artana jika dia tak tahu perihal kenyataan tersebut, tapi untuk kedua kalinya ia memilih diam, pura-pura tidak tahu jika ternyata Dimas masih menyukai dirinya.


Demi persahabatan yang sudah cukup lama, untuk saat ini gadis itu memilih untuk menunggu sang sahabat mengatasi perasaannya sendiri. Selama pemuda itu tak mengungkit kembali perihal isi hatinya, Moza akan tetap diam, bersikap layaknya teman.


Dan tentu saja itulah yang diharapkan gadis itu, agar Dimas bisa sepenuhnya menghilangkan rasa yang ada di hatinya. Menyisakan hubungan pertemanan yang murni diantara mereka, seperti dengan Julian.


🍒🍒🍒


MOZA


Semenjak kembali duduk selepas bermain kembang api, aku memilih diam menikmati kentang goreng dan coklat panas di depanku. Menjadi pendengar pasif dari obrolan yang tengah berlangsung, bukan tak mau ikut bergabung dalam obrolan mereka, hanya saja aku malas terlibat lebih jauh pada bahan pembicaraan yang menurutku tidak menarik.

__ADS_1


Sekilas kuperhatikan pria dihadapanku juga tampak tenang-tenang saja, tak berkomentar apapun meskipun kudengar beberapa kali dirinya menjadi bahan perbincangan.


Duh kenapa duduknya harus tepat didepanku sih ? Situ sengaja ya bikin aku gak bisa duduk santai dan tenang.


Sampai akhirnya aku sedikit ikut terkejut saat mendapati pria di depanku itu sedang tersedak air yang diminumnya setelah mendengar komentar Renata tentangnya, saat Rena bilang jika teman kak Bara itu termasuk pria yang bagus buat cuci mata tapi sebagai pacar sangat mengkhawatirkan.


" Uhuk...." kulihat sekilas dahinya mengerut dan kemudian mengelap air di mulutnya dengan tissu.


Rasanya ingin tertawa tapi aku menahannya, berusaha untuk tak terlibat sama sekali.


" Kenapa begitu ? " Julian menuntut penjelasan Renata.


" Kalian para pria gak akan ngerti soal seperti ini. " ucap Renata tampak kesal.


" Yah gue aja yang bukan pria juga kagak ngerti Re. " kata Amira kemudian, didukung anggukan Deana dan entah kenapa aku reflek ikut mengangguk.


" Ish.... Gini ya, bang Hega kan cakep, cakep banget malah, udah gitu kaya, juga pinter banget, ditambah lagi setia. Bisa dikatakan the perfect man. Gue lihat tiap kali abang ke kafe nya Dimas tuh pasti banyak perempuan yang entah dari mana tiba-tiba berdatangan pada caper sama abang atau sekedar pengen liat muka abang yang bak pangeran.


" Iya juga ya, tapi kan gak masalah kalo bang Hega gak tergoda. " kata Deana sambil melirik nakal kearahku yang kubalas dengan dahi mengerut.


Apa sih maksudnya ngomong gitu sambil lirik aku ? Gak ada hubungannya denganku kali.


" Ya iya gak tergoda, tapi emang lo bisa tenang gitu tiap jalan berdua banyak mata perempuan yang mandangin pacar lo. Udah gitu pas gak ada lo, apa lo gak kepikiran tuh cewek-cewek akan pake cara apa buat caper sama pacar lo. Ada lo aja mereka gak takut terang-terangan ngintipin pacar lo, apalagi kalo gak ada lo ? Pokoknya gak tenang lah. Makanya kalo jadi pacar dari cowok kayak bang Hega tuh butuh hati sekuat baja, cuek, dan gak baperan. Kalo gue mah kagak sanggup he he he..... " lanjut Renata menggebu.


" Bener juga lo dek, makanya nih orang jomblo terus. hahaha. " ucap kak Bara yang sepertinya tak sanggup menahan tawanya.


" Maaf ya bang kalo abang marah sama ucapan Rena. " kata Renata kemudian sambil menyatukan kedua telapak tanganya di depan wajahnya memohon maaf pada pria yang sedari tadi seolah menjadi bahan penilaiannya.


Kulihat sekali lagi pria itu hanya tersenyum, dan lagi-lagi melirik ke arahku.


Duh pliss deh kondisikan tuh mata, bukan aku yang komentarin kamu. Tuh tatap aja Rena yang dari tadi menilai kesempurnaanmu.

__ADS_1


Sebenarnya aku malas mengikuti arah pembicaraan yang masih dengan bahan yang sama, hanya berganti objek penilaiannya tapi tetap Renata sebagai juru bicara seolah seperti sedang penjurian kontestan menantu idaman.


Benar-benar nyaris tak bisa kutahan keinginan untuk tertawa, Renata memang paling nyablak diantara kami berempat. Tapi tak kusangka dia seberani ini mengutarakan isi hatinya mengomentari pria yang bisa dibilang belum akrab dengannya.


Mau tak mau aku harus tetap tenang di kursiku dengan menahan lelah, masih asyik dengan kentang goreng yang sudah dingin yang hampir habis.


Untung saja Deana mengajakku masuk ke villa mengikuti Amira dan Renata yang sudah lebih dulu memutuskan masuk kamar.


" Deana juga mau masuk aja deh, capek. " beranjak dari kursinya sambil menarik lenganku.


" Yaelah kok ikutan pergi sih dek, sini aja ntar kalo ketiduran abang gendong kayak kemarin malam, ya kan Ga ? " ucap kakak sepupu Deana sambil melirik kearahku dengan tatapan menyebalkan, membuat wajahku terasa panas.


Dih... Nih orang maunya apa sih ? Aku sudah hampir tak sanggup menangani keusilannya. Kalo seumuran udah aku tabok tuh mulutnya yang ngeselin.


" Ish... Modus abang mah.... Yuk Mo kita masuk. " kata Deana sambil menatapku.


" Duluan ya. " pamit kami berdua sambil menatap bergantian kearah keempat pria yang masih tenang di kursi mereka.


Tanpa sengaja tatapanku tertangkap oleh sepasang mata hitam tajam yang aku hindari dari pagi. Membuatku membeku sesaat saat kulihat dia tersenyum, kemudian segera kulangkahkan kakiku berjalan menuju villa.


Huft... syukurlah Deana buru-buru menarikku pergi.


☘☘☘


☘☘☘☘


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘

__ADS_1


__ADS_2