Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Dilema ! Harus Sedih atau Bahagia ?!


__ADS_3

AUTHOR


Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, dan sesuai hasil rekam medis, tidak ditemukan adanya indikasi luka dalam di seluruh tubuh Moza.


Gadis itu meminta pada Hega agar tak memberitahukan pada sahabat-sahabatnya perihal kecelakaan yang menimpa dirinya.


Karena ini sedang masa libur semester, semua teman-temannya pasti sedang bersantai dan menikmati hari libur mereka. Terutama Deana yang sedang pulang ke rumah orang tuanya di luar kota.


Hega mengangguk setuju dan begitu pula dengan Bara yang masih mengekor pada sahabatnya itu.


Tak berselang lama Bara pamit meninggalkan rumah sakit, membawa amplop coklat yang tadi diterima Hega dari sang kakek.


Sesuai permintaan Hega, Bara mencari informasi tentang isi amplop tersebut.


Hari sudah menjelang senja, Hega masih setia menemani kekasih hatinya di ruangan VVIP Rumah Sakit terbesar di kota itu.


Banyak yang mengganjal di hati Moza yang ingin dia ungkapkan pada pemuda yang masih menatap intens dirinya.


Jas Hega sudah tergeletak di sofa, tinggal kemeja putih yang sudah digulung hingga siku dan vest berwarna hitam, serta dasi yang masih terikat sedikit longgar di lehernya.


Kedua pasang mata mereka masih saling menatap satu sama lain, merasa benar-benar takjub dengan apa yang terjadi hari ini.


Hega tak henti-hentinya mengecup telapak tangan Moza dengan penuh kasih sayang dan menggenggamnya erat.


Seolah takut jika sampai tangan itu terlepas darinya maka akan membuatnya terpisah lagi dari gadis yang dicintainya itu.


" Kak.... " Moza berusaha merubah posisi badannya terduduk di pinggir ranjang dengan kaki menggantung ke bawah.


" Kenapa ? Mau ke kamar mandi ? " Tanya Hega seketika berdiri sembari membantu menggeser tubuh Moza, gadis itu menggeleng.


" Emmm.... " Moza menatap kembali mata elang Hega yang sangat mempesona, hatinya berdebar, jantungnya berlarian.


Hega sudah berdiri di hadapannya, saling menatap intens kedua mata masing-masing.


" Ada apa ? " Dengan lembut Hega mengelus sisi pipi kanan Moza yang masih mulus tanpa luka.


Pipi kirinya terdapat sedikit goresan namun tak mengurangi kecantikan gadis itu dimata Hega.


" Apa semua yang terjadi hari ini bukan mimpi ? " Tanya Moza lirih, seperti biasanya gadis itu tanpa sadar akan menggigit bibir bawahnya jika merasa canggung ataupun gugup.


" Huft.... Sudah sering aku katakan jangan lakukan ini. " Ucap Hega menghela nafas, memindahkan jarinya yang tadi mengelus pipi kini sudah beralih mengusap bibir gadis itu.


" ". Kening Moza mengernyit tak mengerti maksud ucapan Hega.


" Aku jadi ingin menciummu setiap kali kamu melakukan ini. " Lanjut Hega sambil tersenyum penuh arti.


Glek...


Ehhhh..... Kenapa sudah berani bilang cium si ? ~ Moza~


Pipi Moza merona merah mendengar perkataan Hega, tenggorokannya langsung tercekat dan susah payah menelan salivanya.


Segera mengalihkan pandangannya dari tatapan mata Hega yang entah sejak kapan selalu terasa menggetarkan dan menggoda.


" Tapi kalau kamu ingin menggodaku aku tidak keberatan. "

__ADS_1


Hega mencondongkan wajahnya mendekat tepat di depan wajah Moza. Melihat rona merah di pipi gadisnya membuatnya sangat gemas dan ingin menggoda gadis yang kini sudah menjadi tunangannya itu.


" KAK.... " Protes Moza sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Iya...Iya. Maaf, aku sudah lama menahannya jadi tidak masalah jika aku masih harus menahan diri lagi. " Nada bicaranya masih terdengar nakal.


" Ini semua bukan mimpi, semua yang kamu dengar dan lihat hari ini bukan mimpi. Ayah dan Bunda juga pasti sudah menceritakan semua padamu kan ?! Meskipun ada satu hal yang kuharapkan adalah benar-benar hanya mimpi. " Lanjut Hega sambil membuka telapak tangan yang menutupi wajah gadisnya.


Mengelus lembut dahi memar dan pipi baret gadis itu.


Moza berhambur dalam pelukan Hega, membenamkan wajahnya di dada bidang pemuda yang dicintainya.


Jantungnya kemudian berdegup kencang saat merasakan dan mendengar detak jantung pemuda itu di telinganya.


Tanpa sadar telapak tangannya mengarah ke dada bidang Hega dan mengelusnya perlahan.


Seketika juga gadis itu menitikkan air matanya, sedih, terharu, dan merasa ini semua seperti sebuah keajaiban.


Sedih karena mengingat jika pemilik jantung itu sudah tidak ada di dunia ini, kakak tercintanya, Hyuza Arkana Dama.


Namun sekaligus terharu dan takjub, karena jantung sang kakak yang dikasihinya masih berdetak dan hidup di dalam tubuh pria yang dicintainya.


Takdir apa yang tengah berputar di kehidupannya ? Mencintai pria yang memiliki jantung kakaknya ?


Ada secercah rasa bersalah dalam diri gadis itu, dilema menguasai hatinya. Apakah dia harus merasa sedih atau bahagia mendapati kenyataan ini ?


Apakah salah jika dia merasa sedih karena jantung milik kakaknya itu hidup di tubuh orang lain, tapi justru kakaknya sudah tak bernyawa. Pergi untuk selamanya.


Dan apakah juga sebuah dosa jika hatinya berdebar bahagia, karena jantung itulah yang membuat Hega kini bisa berdiri tegak di hadapannya. Tapi benar-benar jahat rasanya jika ia merasa bahagia.


Jantung itulah yang seolah membawa pemuda itu padanya.


Seolah mengatakan jika Sang Kakak yang sudah tenang di surga mengirim jodoh untuk sang adik yang paling dikasihinya.


Mengirimkan teman terbaiknya, sahabat yang paling dipercayainya untuk menjadi pendamping dan menjaga adik perempuan kesayangannya.


Hega sedikit menunduk, menangkup wajah gadis itu agar menatap ke arahnya.


" Moza Artana Dama. "


Gadis itu seketika kaku mendengar namanya disebut oleh pria yang sangat dicintainya itu dengan nada yang sangat lembut.


" Aku tahu apa yang kamu pikirkan, rasa bersalahmu telah mencintai pria yang memiliki jantung kakakmu. Tapi aku tak akan membiarkan alasan itu membuatmu menyerah padaku. Aku tidak bisa hidup terpisah darimu. Berbulan-bulan ini sudah terasa seperti neraka untukku dan aku tidak ingin mengalaminya lagi. Aku akan membuatmu bahagia disisiku. Dan aku tidak akan membuat pengorbanan kakakmu sia-sia. Terlebih lagi tak akan kubiarkan siapapun atau apapun yang dapat memisahkan kita lagi. Aku sangat mencintaimu, maukah kamu menerimaku dengan segala kekuranganku. "


Kalimat demi kalimat terucap lembut dari bibir pemuda itu seolah sedang mengalunkan syair cinta untuk gadis paling berharga untuknya.


Hega menagih jawaban dari gadis yang dicintainya, mengulang pernyataan cintanya yang seharusnya mendapat jawaban dari gadis itu berbulan-bulan yang lalu.


Seketika tubuh Moza bergetar hebat merasakan keharuan yang luar biasa, relung hatinya bergetar hebat, air matanya tak bisa dibendung lagi.


Hega menatap lekat-lekat mata kecoklatan Moza, bola mata bulat indah yang selalu membuatnya terpesona.


Gadis itu mengangguk dan tersenyum.


" Aku juga mencintaimu kak. Jangan tinggalkan aku, karena aku tidak akan sanggup kehilangan lagi. " Ucapnya lirih masih membalas tatapan mata elang Hega.

__ADS_1


" Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, tidak akan pernah ! " Kedua sudut bibir Hega melengkung membentuk senyum yang sangat mempesona.


Moza kembali tersihir pada pesona pemuda itu, Hega mendekatkan wajahnya ke arah gadisnya.


Cup


Sebuah kecupan lembut mendarat di kening gadis itu, Moza memejamkan matanya merasakan getaran yang terasa menggelitik di sekujur tubuhnya.


Wajah Hega perlahan turun, sejajar dengan wajah gadisnya. Mendekat ke arah bibir mungil berwarna peach yang sudah berbulan-bulan selalu menggoda untuk dikecupnya.


Hega menempelkan keningnya dengan kening gadisnya. Kemudian memiringkan kepalanya.


Bola mata Moza masih terpejam, tapi gadis itu bisa merasakan hembusan nafas beraroma mint dari pria yang wajahnya sudah sangat dekat dengan wajahnya itu.


Deru nafas yang terasa hangat dan menimbulkan gelenyar aneh dalam dirinya.


Baru saja bibir Hega hendak sedikit menyentuh bibir gadisnya, suara pintu terbuka dan teriakan seseorang mengacaukan adegan romantis yang mungkin akan terjadi.


Ceklek ..... Kreeeek.....


โ€ข


โ€ข


โค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’šโค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š


โฌ‡๏ธโฌ‡๏ธโฌ‡๏ธ


โ˜˜ IKLAN โ˜˜


Me : Duh ilehhhh lagi-lagi ada gangguan.... Mapkan yah ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


Readers : Yaelah Thor sapa lagi coba yang gangguin... Gue tampol juga nih... โœŠ๐Ÿ‘Š


Me : Jiah... Jangan dong....๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™€


Readers : Mang sapa si yang dateng ? Ngeselin....๐Ÿ˜ก


Me : Mana diriku tahu.... Besok lah hahhay... Lagian ngapa juga situ yang sewot, babang Hega aja adem ayem wae 'galsor' Momo cantik....


Readers : Bukannya adem ayem dianya mah udah kelewat muak sama lu thor, lu pendingin mulu first kissnya hahahha....


Me : Hehehehe.... Suorry ...


Sabar yah semua, akan datang kok waktunya mereka ber sweet-sweet ria.....


Awas ntar muntah ye gegara kelewat muak sama keawuwuan mereka hahahaha....


๐Ÿ‘‰ Thanks for reading this chapter.....


Sampai jumpa besok...


Moga besok bisa update 2 langsung....

__ADS_1


Salam Haluwers ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


Jan lupa jempol nya pencet LIKE yupz.... ๐Ÿค—


__ADS_2