
Selamat Membaca ππ
β’
β’
AUTHOR
Pukul 8 pagi, Hega sudah rapi dengan kemeja lengan panjang berwarna putih dan celana hitamnya. Penampilan sempurna seperti biasanya, hanya kali ini tanpa vest, dasi dan jas.
Lebih terlihat santai namun tidak mengurangi kadar ketampanannya.
Saat keluar dari kamar mandi sudah dalam kondisi tampan dan wangi, jelas tercium aroma sabuh mandi yang entah mengapa terasa sangat segar menguar dari tubuh pemuda itu.
Menggelitik Moza untuk memeluk pria yang saat ini tengah berdiri di samping ranjangnya sembari menatap penuh arti padanya.
Sedangkan Moza ?! Tentu saja keadaanya berbanding terbalik dari kekasihnya itu.
Gadis itu masih bersandar di ranjang rumah sakit, masih dengan muka bantalnya yang baginya sangat memalukan.
Namun tentu saja tetap terlihat imut dimata Hega, memang dasar cinta bisa membuat siapapun menjadi buta.
Gadis itu ingin mandi juga sebenarnya, tapi beberapa bagian tubuh yang masih terasa ngilu membuatnya tak bisa melakukannya seorang diri.
Jadi mau tak mau Moza menunggu sang bunda untuk membantunya membersihkan diri.
Jika saja Moza tidak sedang kesal pada kekasihnya itu, sudah pasti gadis itu akan berhambur memeluk Hega yang benar-benar menggoda iman untuk dipeluk itu.
Tapi saat teringat bagaimana menyebalkannya tingkah Hega yang sedari pagi terus menggodanya, membuat gadis itu menahan keinginannya.
Selepas sholat subuh tadi, mereka berdua tidak kembali tidur dan mengobrol kesana kemari entah apa yang mereka bicarakan.
Dan satu hal yang pasti, mulut manis Hega sepertinya tak henti-hentinya beraksi , terlihat dari ekspresi merona sekaligus kesal yang tampak menghiasi raut muka Moza.
Sudah jelas Hega benar-benar menepati ucapannya sebelumnya, jika mereka akan melanjutkan sesi sayang-sayangan yang sempat tertunda.
( Untuk apa yang terjadi silahkan kalian bayangkan sendiri saja yah, yang jelas belum ada adegan 18+ nya apalagi 21+ hahaha....)
" Kenapa kamu cemberut seperti itu ?! " Tanya Hega sembari duduk di tepi ranjang Moza.
Bukannya menjawab pertanyaan Hega, gadis itu malah membuang muka. Membuat Hega mendengus dan geleng-geleng kepala.
" Kamu masih marah, hm ? " Tanyanya lagi sambil meraih jemari tangan Moza dan kemudian mengecupnya singkat.
Moza menggeleng lemah, kemudian mencoba menarik tangannya dari genggaman Hega.
Namun Hega tak semudah itu mau melepaskannya begitu saja.
" Maaf ya, aku tidak akan mengulanginya lagi jika kamu tidak suka. "
" Memangnya kakak bisa ?! " Tanya Moza sanksi dengan janji pemuda itu, melirik malas pemuda yang ada di hadapannya itu.
" Hehehe.... Akan aku coba. " Hega meringis, menggaruk belakang telinganya ragu pada ucapannya.
Nyatanya menggoda Moza sudah menjadi hobi menyenangkan baginya. Melihat ekspresi gadis itu yang sangat menggemaskan baginya.
Belum pernah selama hidupnya memiliki keinginan sejahil ini pada seorang wanita.
" Tuh kan ! " Moza menyebik kesal, dahinya berkerut imut.
" Duh, lagipula kenapa kamu begitu menggemaskan begitu si ? Aku kan jadi tidak tahan untuk terus menggodamu. " Elak Hega kemudian mencubit mesra hidung mancung Moza.
__ADS_1
" Kak, hentikan ! Rambutku berantakan, membuatku semakin jelek saja. " Menampik tangan Hega yang sudah menguyel-uyel kepalanya dan mengacak rambutnya.
" Iya, iya maaf. Lagipula siapa yang bilang kamu jelek ?! Kamu selalu terlihat cantik kok ! " Lagi-lagi Hega tak bisa menghentikan godaanya.
" Aahhh.... Hentikan, bukankah kakak barusaja berjanji untuk berhenti menggodaku. " Omel Moza.
" Hahaha.... Maaf, aku benar-benar tidak bisa mengendalikan mulutku setiap kali melihatmu. Memangnya kenapa kamu begitu kesalnya jika aku bersikap seperti itu ?! Bukankah biasanya para gadis sangat suka jika pacarnya bersikap manis dan romantis ? Kenapa kamu justru sebaliknya ?! " Tanya Hega heran
Astaga, seketika bulu kuduk Hega meremang mendengar kata pacar keluar dari mulutnya sendiri. Terasa menggelikan, seolah dirinya masih abg saja.
" Aku geli mendengar gombalan kakak. " Jawab Moza acuh.
Tanpa sadar Hega malah menggaruk canggung tengkuknya sendiri. Nyatanya pemuda itu juga sempat merasa geli mendengar apa yang barusaja diucapkannya.
Sebenarnya bukan itu alasannya Moza selalu kesal jika Hega mengucapkan kalimat-kalimat gombal dari bibirnya itu dan bersikap manis padanya.
Tapi karena perlakuan Hega membuat gadis itu benar-benar takut jika dirinya akan mati jantungan jika terus mendapat serangan gombal dari wajah tampan Hega.
Saat tanpa peringatan selalu membuat jantung Moza terpompa cepat seolah baru saja ikut lomba maraton.
" Kamu merasa geli atau berdebar, hm ? " Goda Hega.
Ah... Dasar mulut ini kenapa tidak bisa dikontrol si jika berhadapan dengannya ? ~ Hega ~
Aaaahhh..... Aku ingin memukul wajah tampan itu sekali saja. Tapi kenapa aku tidak tega ya ?! ~ Moza ~
" Kaaakkkk..... " Moza yang memanggil Hega dengan sangat lembut dan manja membuat pemuda itu merasa senang, tapi sejenak entah mengapa pemuda itu juga merasa merinding.
" Hmmm. Kenapa ? "
" Boleh tidak, emm..... sekali saja aku memukul wajah tampan kakak yang menyebalkan itu ?! " Tanya gadis itu ragu.
Hega terbelalak mendengar permintaan gadisnya itu, bukan hanya karena apa yang baru saja di dengarnya. Tapi juga saat melihat ekspresi di wajah Moza saat mengucapkan kalimat tadi.
" Pfft... Dengan senang hati gue akan menyaksikan moment itu Dek. Hahaha.... "
Tentu saja itu bukan suara Hega, melainkan Bara yang muncul tiba-tiba dari arah pintu dan sudah duduk manis di sofa tanpa dipersilahkan.
" Cih... Ngapain lo pagi-pagi sudah ada disini Bar ?! " Omel Hega.
" Tentu saja ingin melihat Presdir Galak yang dipukul oleh istri kecilnya yang manis ini. Hahahha... " Bara terbahak dengan wajah tanpa dosanya.
" Ayo dong Dek, abang udah nunggu nih moment bersejarah itu. Anggap saja mewakili keinginan gue yang selama ini belum kesampaian. " Lanjut Bara mengompori Moza.
Pletak .....
" Auwh.... Sial lo, pagi-pagi gue udah dapat sandal terbang. "
Bukan hanya makian yang diterima Bara, tapi juga sandal terbang mendarat di tubuhnya. Sandal siapa lagi jika bukan sandal yang dipakai Hega.
Melihat kelakuan dua pria itu membuat Moza terkikik geli, dua pria dewasa yang terlihat seperti anak TK.
" Kalau lo masih ngoceh aja, bukan sandal lagi yang akan mendarat di badan lo. " Ancam Hega.
" Haish..... Padahal gue datang bawa yang lo minta. Ya udah gue pergi aja kalau gitu, kerja keras gue gak dihargai disini. " Ucap Bara pura-pura merajuk.
Apakah itu mempan pada seorang Hega ? Tentu saja jawabannya TIDAK. Tapi Hega berubah pikiran saat melihat amplop coklat di tangan Bara.
" Aku akan keluar sebentar. " Hega mendekat pada Moza, mengecup kening gadis itu dan kemudian keluar ruangan sambil merangkul Bara dengan kasar.
" Kita bicara di luar ! " Bisiknya pada Bara.
__ADS_1
" Lepasin dong Ga ! " Bara meronta kesal namun tak digubris oleh Hega.
β’
β’
πππ
~ Di Kafe Rumah Sakit ~
" Lo yakin informasinya benar ? " Hega menatap Bara setelah membaca data lengkap di amplop coklat yang isinya lebih tebal dari data yang sebelumnya diterimanya dari sang kakek.
" Seratus persen. " Jawab Bara mantap sambil menautkan jadi telunjuk dan jempolnya membentuk lingkaran. ( π )
" Masalahnya kenapa sasarannya si Momo Ga ? Bukankah hubungan kalian belum diumumkan ? Apa coba motifnya ? " Lanjut Bara, dahinya mengerut penasaran kemudian menyesap cairan hitam di cangkir yang ada dihadapannya.
" Yang lo bilang sama persis dengan yang dikatakan kakek. Makanya kakek minta gue menyelidikinya sendiri. Kakek menduga perempuan ini salah satu dari perempuan yang pernah mengejar gue, tapi lo tahu sendiri kan gue gak kenal juga sama nih perempuan. " Jelas Hega yang merasa ada sesuatu yang ganjil.
" Lo mungkin bukan gak kenal, tapi lo kelewat cuek dan menganggap perempuan yang suka sama lo selama ini adalah sosok transparan alias tak tampak di mata lo. " Cibir Bara.
" Aaah.... Tapi kembali lagi kenapa Momo bisa jadi sasarannya ? Secara juga sudah lama lo gak ketemuan dengan Momo kan ? " Tanya Bara semakin penasaran.
Tring.....
Belum juga pembahasannya selesai, ponsel Hega berbunyi, notifikasi dari sang kakek yang sudah tiba di rumah sakit.
" Gue harus kembali Bar. Kita bahas ini besok di kantor, dan ingat untuk tidak membahasnya di depan Moza dan keluarganya. " Hega memperingatkan sembari melangkah keluar kafe menuju ruang rawat Moza.
" Siap bos ! Tapi lo gak akan biarkan ini begitu aja kan ? " Bara masih mengekor, berjalan beriringan dengan Hega.
" Tentu saja tidak, tapi saat ini gue mau fokus pada kesembuhan Moza dulu. Lagipula untuk sementara ini setidaknya keamanan Moza sudah terjamin. "
" Hah.... Memangnya lo mau jagain dia di kosannya 24 jam apa ?! Yang ada lo digrebek satpam kosnya Momo, hahaha..." Ejek Bara.
" Ngapain gue jagain di kosnya kalau gue bisa jagain dia di rumah gue ?! " Ucap Hega santai.
" HAH ?! "
β€ππππ§‘πβ€ππππ§‘π
β¬οΈβ¬οΈβ¬οΈ
β IKLAN β
Apa susahnya si like dan komentar.... ?!
Gak sempet thor.
Gak sempet apa males ?!!! π
Hihihi..... Males si kadang thor.... ππ€£
Yasudah... akuh juga boleh dong males Up πππ
Ngambekan lu thor....
Hehehe... Gak kok, akuh nulis karena hobi kok jadi gak ada hubungannya mau kalian komen apa gak. Komentar kalian tuh bagaikan penyemangat biar kenceng UP nya....Kan kalian juga yang seneng kalau akuh rajin UP. . .
Nah gitu dong.... ya lah entar gue komen.
Kalo gitu akuh minta VOTE juga ya πππ
__ADS_1
Jiaaahhhh.... Itumah lu minta hati gak gue kasih tapi malah mintanya jantung ππ
Hehehee.... Iseng aja kali aja dikasih. Jan emosi kali .... βΊβΊβΊππ