Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Nabung Duluan


__ADS_3

AUTHOR


Berbeda dengan Hega yang sibuk dengan pekerjaan yang diabaikannya selama beberapa hari ini.


Disisi lain Moza tetap pada aktivitas kuliahnya seperti sedia kala, gadis itu tengah becanda gurau dengan para sahabat gadisnya di kampus.


Ya sejak Julian menjadi Asisten Hega, sahabatnya yang satu itu selalu langsung pergi seusai kelas berakhir. Tidak ada lagi kesempatan untuk menikmati batagor atau nasi pecel andalan mereka, atau sekedar nongkrong di kantin.


Sedangkan Dimas yang sudah lulus kuliah sudah tidak lagi nongol di kampus karena fokus pada usaha kafenya. Akhirnya acara kumpul-kumpul lebih sering dilakukan oleh para gadis saja, si Empat Dara JF Genks.


Selepas kuliah pagi mereka berjalan menyusuri taman kampus, hendak menuju kantin untuk mengisi energi selepas dua jam lebih duduk manis di dalam kelas dengan banyak tugas dan presentasi.


" Jadi lo bakal nikah bulan depan, Mo ?! " Tanya Dea antusias disela-sela langkah kecil mereka.


Deana menggandeng lengan sahabatnya kembali memastikan berita yang di dengarnya hari Sabtu, seminggu yang lalu saat sang sahabat mendapat lamaran romantis dari sang kekasih.


" Sssttt.... Jangan keras-keras ! Itu mulut apa toa masjid si ? Kamu mau bikin pengumuman ke seluruh kampus apa kalau aku mau menikah ?! " Protes Moza seraya menepuk pelan lengan sahabatnya yang melingkar di lengan kirinya.


" Hahahaha.... Iya, iya maaf. Lagian kenapa juga lo takut mereka denger si ? Kan malah bagus kali beritanya meluas biar semua fans lo yang gak jelas itu pada patah hati berjamaah. Hahahaha.... Iya gak Re, Mir ?! " Seloroh Deana membela diri dan melirik kedua sahabatnya meminta dukungan.


" Dan seenggaknya lo bakal berhenti meladeni para cowok yang ngejar-ngejar lo itu, Mo. Kan lumayan menghemat tenaga, menjauhkan para buaya dengan menunjukkan jika lo sekarang udah ada yang punya dan mejaga lo dari buruan mereka. Dan satu lagi.... " Ucap Deana menggantung.


" Apa lagi ? " Dahi Moza mengerut.


" Yang jaga lo itu adalah S I N G A , hahahaha.... " Goda Deana sambil terkekeh geli tak lupa mengucapkan kata singa dengan penuh penekanan.


Renata dan Amira mengangguk-anggukkan kepalanya mendukung ucapan Deana dan ikut terkekeh geli.


Namun tak lama Amira seketika menghentikan langkah kakinya, mau tidak mau ketiga temannya mengikutinya, ikut menghentikan langkah mereka.


" Eh... Tapi kok kayaknya mendadak ya lo mau nikahnya, Mo ? Bukannya tempo hari kan lo bilangnya masih lo sama bang Hega mau tunangan dulu dan nikahnya nunggu lo lulus kuliah ya ?! " Tanya Amira sembari bersedekap dan manggut-manggut menatap Moza, dan sekali lagi Renata ikut manggut-manggut.


Sedangkan Deana tentu saja sedikit banyak tahu alasan dibalik berubahnya acara pertunangan sahabatnya menjadi acara pernikahan.


" Aiiitttsss.... Jangan-jangan abang ganteng udah nabung duluan kali ya ?! " Sambar Renata asal dan nakal seraya mengerlingkan satu matanyan ke arah Moza. Tidak lupa dengan bahasa gesrek nya yang membuat ketiga temannya saling pandang dan mengerutkan dahi mereka bingung dengan bahasa absurd sang sahabat.


" Nabung apaan ?! " Tanya Dea, melirik Amira dan Moza bergantian. Kedua sahabatnya itu kompak mengedikkan bahu mereka karena juga tidak paham maksud ucapan Renata.


" Itu... Maksud gue jangan-jangan lo udah.... " Ucap Renata sambil mengelus-elus perutnya sendiri dan melirik dan menunjuk ke arah perut Moza sahabatnya dengan dagunya.


Moza yang mengikuti arah pandangan sahabatnya ditambah gerakan mengelus perut Renata sontak terlonjak dan membelalakkan kedua matanya.


" Hehh.... Dasar gila ! Mulutnya itu loh ! Mau aku selotip nih ! " Protes Moza ketus memukul lengan Renata kesal.


" Hahahhaa.... Maaf, canda gue, Mo. Lo sensi amat udah beneran kayak ibu hamil aja. " Renata masih menggoda dan malah tergelak dengan kerasnya diikuti cekikikan kecil Deana dan Amira.


Sedang asyik bercanda gurau sembari berjalan menuju kantin, dari belakang ada sepasang tangan kokok menyambar tubuh Moza. Membuat gadis itu terkejut karena eratnya lengan itu mendekap tubuhnya.


Ditambah lagi aroma tubuh seseorang yang memeluknya tidak familiar di indera penciumannya.


" I finally caught you. [ Akhirnya aku menangkapmu. ] " Ucap pria itu dengan suara baritonnya seraya mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


" Le-lepas ! " Gadis itu terus meronta


Moza yang menyadari jika itu bukan lah Hega, segera memberontak berusaha melepaskan diri.


⚘⚘⚘


Waktu bergulir cukup cepat, tapi tidak bagi sang calon pengantin pria yang satu ini. Nyatanya waktu terasa sangat lambat baginya.


Hega sudah tidak sabar untuk bersanding dengan pujaan hatinya di pelaminan. Mengikrarkan janji suci pernikahan dan mengucapkan ijab qabul untuk menjadikan gadis kesayangannya menjadi kekasih yang halal baginya.


Siang itu selepas rapat dengan klien, Hega memutuskan makan siang di salah satu restoran dekat kantornya yang menjadi tempat pertemuannya dengan rekan bisnisnya. Tentu saja ditemani sang asisten pribadinya. Anita beberapa kali absen dalam mendampinya rapat karena mendapat tugas khusus untuk membantu persiapan pernikahannya yang tanpa terasa sudah tinggal dua minggu lagi.


Tengah menikmati menu makan siang, seorang wanita mendekat ke arah meja dimana Hega dan Julian sedang makan siang, dan wanita itu langsung duduk di salah satu kursi di samping Hega tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.


" Halo, Kak Hega. Alina boleh duduk disini, kan ?! " Sapa wanita yang ternyata adalah Alina.


Klotak...


Seketika Hega yang hendak menyendokkan makanan ke dalam mulutnya hilang selera begitu saja dan meletakkan dengan kasar sendoknya di atas piring marmer miliknya.


Apa lagi yang mau dilakukan sama mak lampir yang satu ini si ?!


Julian berdecak kecil seraya menatap sinis wanita di depannya.


Hega sama sekali tidak mengindahkan kehadiran wanita itu, " Julian, saya duluan. Kamu bisa melanjutkan makan siang kamu. " Ujar Hega seraya meletakkan sebuah kartu diatas meja di depan Julian.


Hega tidak melirik sama sekali ke arah Alina, Hega yang hendak berdiri dan meninggalkan mejanya, terpaksa mengurungkan niatnya saat wanita itu tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja.


" Kakak pasti akan menyesal jika kakak pergi begitu saja sebelum melihat apa yang ingin aku tunjukkan ini. " Ucap Alina dengan nada provokasi.


" Aku tidak merencanakan apapun, Kak. Kakak lihat saja itu ! " Ucap Alina dengan sombongnya menunjuk ke arah benda pipih di atas meja.


" Apa lagi mau kamu ? "


" Tidak ada. Aku hanya ingin menunjukkan sifat asli gadis yang kakak bela itu. "


" Saya sudah hampir muak dengan ulah kamu, Al. Hentikan sampai disini sebelum saya benar-benar benar-benar muak dengan tingkah konyol kamu. Apapun yang kamu lakukan tidak akan mengubah pendirian saya. " Tegas Hega dingin.


" Kita lihat saja setelah kakak melihatnya, apa kakak masih akan tetap berpikir jika gadis itu adalah pilihan terbaik untuk kakak. " Jawab Alina seraya tersenyum miring.


" Ini terakhir kalinya saya meladeni tingkah kamu yang kekanakan seperti ini ! " Tegas Hega dingin seraya meraih smartphone berwarna gold di atas meja tepat di samping piring bekas makanannya tadi yang bahkan belum setengahnya masuk ke dalam perutnya.


Hega menyentuh layar ponsel yang dalam keadaan terkunci itu dan mengusapnya kasar dengan ibu jarinya.


Hega menatap lekat foto di ponsel milik Alina itu, netra hitamnya sempat menyala marah sekilas. Namun dengan cepat Hega berusaha menahan emosinya, menormalkan kembali ekspresinya.


Klotak . . .


Hega melirik ketus pada si pemilik ponsel, " Apa maksudnya ini ? " Tanyanya seraya melempar benda kotak itu di atas meja.


Dengan cepat Julian menyambar ponsel pintar itu dan melihat apa yang membuat boss nya terlihat menahan emosinya. Dan bola mata Julian membelalak seketika saat melihat foto itu.

__ADS_1


Sikap tenang dan pertanyaan datar yang keluar dari mulut Hega benar-benar diluar perkiraan Alina dan tentu saja membuat gadis itu sempat kebingungan.


Tapi sekilas tadi jelas Alina melihat sorot mata menakutkan di manik mata pria tampan pujaan hatinya itu. Dan Alina tahu jika dirinya berhasil memprovokasi pria itu.


" Bukankah itu sudah jelas, Kak ! Gadis pilihan kakak itu ternyata tidak sebaik yang kakak pikirkan. Dia hanya gadis yang sok polos padahal aslinya hanya wanita murahan. " Ucapnya dengan tersenyum menyeringai licik.


B R A K . . .


" CUKUP !!! Dan jaga bicaramu Alina ! Berhenti disini atau mungkin untuk pertama kalinya saya akan melanggar prinsip saya untuk tidak memukul seorang wanita. " Hega menggebrak meja dan berdiri menatap tajam dan menakutkan ke arah wanita yang barusaja menghina kekasihnya.


Julian yang ada disana juga ikut tersulut emosi, pemuda itu mengepalkan tangannya dan menatap murka pada wanita yang sempat mencelakai sahabatnya di villa beberapa minggu lalu.


Meskipun Julian belum lama bersama Moza, tapi Julian tahu betul bagaimana karakter sahabatnya itu.


Tidak mungkin Moza seperti yang dikatakan oleh wanita gila yang tergila-gila pada calon suami sahabatnya itu.


Memang benar banyak pemuda yang tergila-gila oada Moza, dan mengejar sahabatnya itu. Tapi selama ini gadis itu tidak pernah sekalipun menggubris satupun diantara mereka. Bahkan Julian sendiri harus berusaha sangat keras untuk menjadikan Moza dan Deana sebagai sahabat mereka.


Dan kata murahan benar-benar tidak pantas diucapkan untuk sahabatnya itu.


" Kakak bisa tanya sendiri pada gadis yang kakak puja-puja itu, apakah foto itu asli atau rekayasa ? " Ucap Alina dengan angkuhnya meskipun sempat merinding mendapati amarah pria itu.


" Julian. " Hega menatap asistennya dengan tatapan penuh arti.


" Oke, bang. " Jawab Julian yang memahami maksud isyarat sang Presdir.


Hega melangkahkan kakinya keluar dari restoran, tanpa menoleh dan menggubris teriakan wanita yang membuatnya kesal setengah mati itu.


" Kak Hega, tunggu Alina ! Al belum selesai bicara. " Julian mencekal tangan Alina yang hendak menyusul Hega.


" Lebih baik lo berhenti sebelum gue yang turun tangan. Bang Hega mungkin gak mau mukul cewek, tapi gue beda. Gue bisa ngelakuin apa saja buat sahabat gue. Termasuk merobek mulut dajal lo ini. " Ancam Julian dengan tatapan membunuhnya, salah satu batasan yang tidak boleh dilanggar orang lain barusaja dilanggar oleh wanita yang tengah meringis menahan sakit dari cengkraman Julian.


Ya, batas terlarang itu adalah menghina atau menyakiti sahabat-sahabatnya. Dan wanita ini barusaja melakukan salah satunya, menghina sahabatnya dengan mengatakan kata 'murahan' pada sahabatnya yang berharga.


" Lepas ! " Teriak Alina yang merasa kesakitan.


" Lo pergi sekarang juga atau gue beneran robek mulut laknat lo ini ! " Julian kembali memelototi Alina membuat wanita itu gemetar ketakutan dan segera pergi saat Julian melepaskan cengkraman tangannya.


Meskipun sebenarnya Julian juga berbohong dengan mengatakan akan merobek mulut Alina. Nyatanya Julian itu sama dengan Hega, anti menggunakan kekerasan pada lawan jenisnya.


" Dan gue ingatkan lagi ! Jangan ganggu sahabat gue atau gue bakal kejar lo sampai ke lubang semut sekalipun, itupun kalau badan lo muat bersembunyi disana. " Teriak Julian bernada mengejek sekaligus mengintimidasi di waktu yang bersamaan.


Alina yang sudah berjalan cepat meninggalkannya meskipun sempat menoleh kembali ke arah Julian dan bergidik ngeri mendengar ancaman pemuda itu.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


SEDIH KARENA LEVEL BANG HEGA TURUN DRASTIS. 😭😭😭


TAPI SEBISA MUNGKIN INI TIDAK MENGURANGI SEMANGAT SAYA BUAT UP YA... DUKUNGANNYA YA TEMAN-TEMAN AGAR LEVELNYA BISA NAIK LAGI.


TIDAK PERLU VOTE KOK, [ KARENA INI BUKAN RANKING YA ]

__ADS_1


HANYA THOR MINTA LIKE DAN KOMENTAR SAJA CUKUP. πŸ€—πŸ€—πŸ˜πŸ˜


TAPI KALAU ADA YANH MAU VOTE JUGA SAYA TIDAK MENOLAK πŸ€—πŸ€—πŸ˜πŸ˜


__ADS_2