
AUTHOR
Rutinitas harian yang sama, pukul 6.30 pagi Moza sudah bersiap menuju kampus. Untuk kali ini tanpa maraton pagi, sejak terakhir kali nyaris terlambat pada mata kuliah dosen killer yang membuat dirinya hampir saja dapat sanksi tugas yang dijamin mengerikan, mau tak mau dirinya harus mulai mengurangi hobi menggambarnya di malam hari.
Diganti dengan kunjungan di sudut perpustakaan kampus yang mulai dia lakukan pada setiap kesempatan, apalagi jika ada mata kuliah yang kosong, pasti akan dimanfaatkannya bertapa di perpustakaan yabg tenang untuk menikmati hobinya itu.
Tapi tentu saja sulit sekali meloloskan diri dari buruan teman-temanya untuk berkumpul atau jalan-jalan ke mall atau sekedar nongkrong di kafe Dimas.
🍒🍒🍒
MOZA
Hari ini aku tiba di kampus lebih pagi, kulirik jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ugh, masih jam tujuh kurang sepuluh, kelas masih 40 menit lagi, lebih baik ke perpus dulu, pikirku.
Aku duduk di kursi yang ada di sudut ruangan, mengeluarkan sketch book ku dan membuka halaman paling depan. Sebuah rumah dua tingkat yang cukup besar dengan perpaduan warna biru muda dan putih, taman yang cukup luas di area depan dengan pohon di samping kiri dan ayunan di bawahnya. Berjajar rapi bunga warna putih dan biru mengelilingi setengah taman dengan diikuti jalan setapak melingkar dengan rumput hijau dan sebuah kolam ikan kecil di tengah-tengahnya yang berada tepat di depan ayunan.
Disamping kanan terdapat dua meja bulat dan empat kursi taman berwarna coklat disekeliling masing-masing meja dengan pohon lebih besar daripada yang ada di sisi kiri, seolah memang didesain untuk memberikan keteduhan bagi siapa saja yang tengah duduk bersantai di kursi tersebut.
Sudah lebih dari sepuluh tahun aku menyimpan buku ini, menjadikannya penyemangat untuk diriku sendiri, terutama di saat hatiku mulai rapuh dan ragaku mulai lelah. Satu-satunya kenangan indah yang ditinggalkan oleh seseorang yang begitu penting dalam hidupku.
Tapi entah sejak kapan aku sudah tidak menangis lagi ketika melihat gambar itu, yang tersisa hanya perasaan hampa seperti hati yang terasa kosong.
Baru saja hendak kukeluarkan pensil dari kotak pensilku dan membuka halaman selanjutnya, sepasang tangan melingkar di leherku dan memberikan pelukan dari belakang.
" Are you okey ? ." Deana bertanya lembut sambil kemudian duduk di sampingku.
" Nope, " Jawabku dengan nada pura-pura kesal.
__ADS_1
" ". Dea mengernyitkan dahinya meminta penjelasan.
" Kamu datang udah kayak setan, bikin kaget, bikin jantungku yang sehat nyaris copot. " Gerutuku.
" Ke kantin yuk, sarapan. Gue bareng kak Dimas, dia ada kuliah pagi, jadi gak sempet sarapan? " Tatapnya setengah memelas.
Deana memang hampir setiap hari berangkat bersama dengan Dimas, kakak sepupunya itu. Cuma untuk pulangnya tidak tentu kadang bareng kadang enggak, tergantung jadwal kuliah mereka. Tapi lebih sering gak barengnya sih, karena Dimas sekarang sudah semester enam, jadwal kuliahnya lebih berat.
Dari kami berlima hanya Dea saja yang memanggilnya dengan embel-embel kakak, karena memang dia kakak sepupunya. Gak sopan katanya kalau hanya panggil nama. Sebenernya aku, Amira dan Renata awalnya juga sama seperti Deana, tapi Dimas menolak dengan alasan seperti ada jarak pertemanan jika memanggilnya seperti itu. Jadi diputuskan untuk saling memanggil nama. Beda dengan Julian yang memang dari awal sudah saling memanggil nama dengan Dimas.
" Okey, yuk. " Jawabku sambil memasukkan kembali buku dan kotak pensilku ke dalam tas.
" Buruan, kelas 30 menit lagi. " Teriaknya sambil setengah menarikku untuk berlari. Untungnya kantin dan perpustakaan tidak terlalu jauh.
Sebenernya aku sendiri juga belum sarapan, bukan karena belum lapar, tapi memang gak terbiasa makan pagi. Lebih sering sih dirapel dengan makan siang. Tapi karena kasian sama wajah memelas ala anak kucing kelaparan yang ditunjukkan sahabatku ini, yah mau tak mau aku luluh juga.
Sudah terlanjur di kantin kuputuskan untuk ikut sarapan dengan Deana, setelah itu tepat jam 7.30 kami sudah berada di kelas. Disusul dengan Amira, yang duduk di belakangku, kemudian Renata dan Julian yang datang hampir bersamaan.
Julian sedang asyik kencan dengan pacar barunya anak sastra katanya, yang aku sendiri lupa namanya. Saking seringnya ganti-ganti pacar, entah sejak kapan aku sudah mulai tidak bisa mengingat nama cewek yang sedang dikencani Jul saat ini. Toh aku pikir tidak lama lagi akan berganti nama, ngapain diingat-ingat.
Sedangkan Dimas sepertinya sudah mulai sibuk mempersiapkan proposal skripsinya. Jadi tidak sesering dulu ngikut nongkrong bareng, meskipun kafe miliknya masih jadi base camp utama kami.
Entah kenapa ada sedikit rasa lega yang menyeruak dalam hatiku. Sepertinya memang kami sama-sama butuh waktu untuk membenahi perasaan kami. Dimas dengan perasaan sukanya padaku, dan aku dengan rasa bersalahku yang membuat kami seringkali berada dalam kecanggungan, dan tentu saja membuat sahabatku yang lain merasakan situasi canggung yang ada diantara kami setiap kali kami berenam berkumpul.
Setelah kejadian di kafe beberapa saat yang lalu, mungkin sudah hampir sebulan kami tidak bertemu. Awalnya karena aku yang sengaja menghindar, tapi selanjutnya karena memang kami sedang sibuk dengan urusan kami masing-masing, terutama sibuk dengan perasaan masing-masing.
Jika dulu, jangankan menghindar, aku bahkan akan bersikap acuh saja setiap kali bertemu laki-laki yang aku tolak pernyataan cintanya. Tapi sepertinya tidak bisa untuk saat ini, karena selain kami sudah bersahabat selama satu tahun ini, juga karena Dimas adalah kakak sepupu Deana, sahabat karibku. Dan untungnya Deana tidak menyalahkanku yang membuat sepupunya patah hati, karena dia tahu persis alasanku seperti ini.
__ADS_1
Aku bahkan sering menginap di rumah Dimas atas permintaan Deana tentunya. Dan malah sudah sering bertemu orang tuanya, membuatku akrab dengan mereka terutama dengan Maminya. Beberapa kali juga dengan Amira dan Renata, mungkin karena kedua anaknya yang kata Deana adalah laki-laki semua, mami Dimas selalu exited setiap kali empat sekawan cantik rupawan ini berkumpul dan menginap disana, yang selalu diisi dengan kegiatan ala ibu-ibu, memasak, bikin kue, menggosip.
Tentu saja Julian tidak ketinggalan jika Renata dan Amira ikut, maka Julian juga melengkapi, yang pastinya akan membuat acara sendiri ala boys style, apalagi kalau bukan main playstation atau game online.
Dan akhir-akhir ini sudah hampir tidak ada acara seperti itu. Actually I really miss those times. But I know this is the best, at least for now.
☘☘☘
☘☘☘☘
^^ Semua akan indah pada waktunya, persahabatan sejati tidak akan terpisah karena urusan hati.....^^ ( Sherinanta )
💕💕💕
Moza's Campus Style
Moza : Fokus kuliah dulu, pacarannya nanti.... ❤❤ Kalau jodoh dari surga sudah turun ke bumi.... 😉
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
__ADS_1
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😍💕