Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Bagai Sinetron 'Kumenangis'


__ADS_3

AUTHOR


Hega dan Moza tertawa bahagia, mensyukuri waktu kebersamaan mereka yang terasa begitu berharga. Hega kembali menguasai Moza dalam pelukannya, dan kedua tangan gadis cantik itu melingkar di leher kekasihnya.


" Ah iya, kakak tadi bilang peri kecil, siapa itu Peri Kecil ?! " Tanya Moza teringat sesuatu yang seolah terlewat dari perhatiannya.


" Hem... Maksudku Rania, adikku. "


" Ahh... Iya aku ingat, bagaimana kabarnya si cantik Rania ?! "


" Baik, dia beberapa kali merengek padaku untuk membawanya menemuimu. Tapi aku belum mengabulkannya. " Ujar Hega datar.


" Kenapa begitu ? " Dahi Moza mengerut heran mendengar penuturan kekasihnya.


" Dia akan terus mengganggumu, apalagi jika aku mengatakan kamu tinggal di rumah utama. Setiap hari anak itu pasti akan datang kesana. " Gerutu Hega sedikit malas.


[ Dasar kakak lucknut, kalau ada maunya saja manis-manis sama adiknya. πŸ˜”πŸ˜” ]


" Tapi aku tidak keberatan, Kak. " Seru Moza sembari tersenyum.


" Aku yang keberatan. " Hega bersungut tipis.


Manik mata Moza menyipit menatap wajah Hega yang terlihat sebal, " Eh... Kenapa malah kakak yang keberatan ?! "


" Kita kan baru saja bisa bersama, aku baru saja mendapatkanmu kembali, aku tidak mau diganggu. Kalau Rania datang padamu, dia akan membuat waktu kebersamaan kita berkurang. Dan aku tidak mau itu terjadi, aku masih belum puas menikmati waktu berduaan denganmu, dan aku sepertinya tidak akan pernah merasa puas. " Gerutu Hega seraya memainkan satu tangannya membelai-belai kepala Moza.


Moza menepuk pelan keningnya kemudian menggelengkan kepalanya heran.


" Ya ampun Kak, kakak kekanakan sekali si. " Moza tergelak, tertawa kecil mendengar keposesifan kekasihnya itu.


" Aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengganti waktu kebersamaan kita yang terbuang sia-sia karena kebodohanku. Coba saja waktu itu aku lebih gigih mencari tahu siapa gadis yang dijodohkan denganku. Mungkin kita sudah bisa bersama sejak lama. Dan bukannya menjadi kisah cinta yang bagaikan sinetron televisi dengan soundtrack "Kumenangis " itu. " Omel Hega kesana kemari semakin terdengar melantur.


" Hahahhaa... Jadi kakak penggemar sinetron 'Kumenangis' ? " Mendengar penuturan pria di hadapannya seketika membuat tawa Moza meledak.


Moza masih terus tertawa dan menjatuhkan wajahnya di dada bidang kekasihnya, kemudian memukuk-mukul kecil bahu dan dada Hega secara acak dengan kedua tangannya yang sudah mengepal.


Mendengar ucapan kekasihnya dahi Hega seketika mengernyit, mendorong pelan lengan Moza agar ia bisa menatap wajah kekasihnya yang masih belum puas mentertawakannya.


" Eh... Enak saja, tentu saja tidak. " Elak Hega.


Jangankan menonton sinetron di televisi, menyalakan benda persegi panjang itu saja jarang dilakukannya. Baginya menonton televisi seperti membuang-buang waktu saja, untuk berita dan informasi penting Hega lebih mengandalkan situs berita online melalui ponsel atau tablet miliknya.


Dan hanya bersama Moza sajalah yang membuat Hega rela menghabiskan waktu berharganya untuk duduk manis di depan layar itu berjam-jam lamanya hanya untuk sekedar menemani kekasih cantiknya menonton drama korea favorit Moza.


Meskipun tidak jarang akan berakhir dengan ulah Hega yang menyebalkan yang mengganggu ketenangan Moza menonton.


" Lalu apa itu tadi ? Kan kakak bilang jalan cinta kita seperti sinetron itu ?! Pffft.... " Seru Moza berusaha menahan tawanya.

__ADS_1


" Issh.... Bara si bocah sialan itu yang mengatakannya, kamu tahu setelah kejadian di rumah sakit waktu itu, hampir setiap hari Bara mengejekku dengan mengatakan jika kisah cinta kita hampir menyerupai sinetron televisi 'Kumenangis'. Bahkan bocah gila itu masih sempat-sempatnya menyanyikan lagunya segala. Membuatku ingin melemparnya segera ke Kutub Utara. " Ucap Hega geram.


" Pffft.... " Moza selalu gemas melihat tingkah Hega yang saat mengumpati sahabatnya yang bernama Bara, dua pria itu bersahabat namun entah mengapa setiap bertengkar atau berselisih paham kelakuan mereka sungguh kekanakan bahkan mengalahkan kelakuan bocah sekolah dasar.


" Dan kenapa kamu malah mentertawakanku, hem ?! " Protes Hega dengan semakin mengeratkan lengannya di pinggang Moza dan otomatis membuat tubuh mereka berdua semakin menempel satu sama lain.


DEG....


" Eh... Kak. " Moza terpekik saat menyadari posisi tubuh yang menempel ketat ke tubuh Hega, membuatnya gugup dan jantungnya berdetak kencang.


" Hm... " Jawab Hega dengan santainya.


Moza berusaha melonggarkan lengan Hega yang merengkuh tubuhnya dengan sangat erat, " Le-lepaskan aku kak ! " Ucap Moza tegagap.


" Tidak mau. "


" Ish.... Kaaak.... " Teriak Moza geram.


" Aku akan melepaskanmu, tapi tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu padaku terlebih dahulu, hem ?! " Hega tersenyum menyeringai yang tentu saja ekspresi itu tidak asing di pandangan Moza.


" Mengatakan apa ?! " Dahi Moza kembali mengerut tak mengerti.


" Apa ya ?! Terserah padamu, pokoknya hal yang akan membuatku senang dan melepaskanmu. " Seringai tipis terukir di bibir Hega.


" Eh... ??! "


Gumam Moza dalam hati saat menyadari arti senyum yang terukir di bibir kekasihnya itu.


Aaah.... Sepertinya aku harus mengucapkan terima kasih.


Gumamnya lagi mengingat semua kejutan yang diberikan Hega sejak kehadirannya di villa.


" Aaa.... Baiklah. "


" Hemmm. " Hega tersenyum puas mendengar jawaban kekasihnya.


Moza kembali melingkarkan kedua lengannya di leher Hega, menatap lekat kedua mata elang kekasih tampannya.


" Terima kasih atas semua kejutannya ya, Kak. Aku sangat menyukainya. " Ucap Moza lembut.


" Hanya itu yang mau kamu katakan ?! " Kening Hega kembali mengerut, tampak kurang puas dengan ucapan gadisnya.


" Memang apalagi yang harus aku katakan, Kak ?! " Bibir Moza menyebik kesal.


" Hem, entahlah. Aku hanya merasa belum rela melepaskanmu dari pelukanku. " Ucap Hega kemudian tampak mengalihkan pandangannya sejenak ke sembarang arah.


Moza tersenyum melihat tingkah pria di hadapannya itu, dan entah darimana muncul keberanian dalam diri Moza. Gadis itu tiba-tiba mengeratkan tangannya yang masih melingkar di leher Hega, kemudian sedikit berjinjit dan menarik kepala Hega agar sedikit menunduk. Dan....

__ADS_1


CUP...


Sebuah kecupan mendarat dengan mulus di pipi kanan Hega, yang sontak sukses membuat Hega tercengang dan tanpa sadar melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Moza dan beralih menyentuh pipi yang barusaja mendapat kecupan manis dari kekasih cantiknya. Yang pastinya langsung memberikan serangan mematikan untuk jantung Hega.


Hega kembali menatap wajah cantik di hadapannya, " Mo... " Belum sempat Hega melanjutkan kalimatnya Moza sudah kabur dari kuasa Hega.


Gadis itu berlari tanpa melihat wajah Hega, Moza terlampau malu untuk menatap Hega setelah apa yang barusaja dilakukannya. Moza terus berlari keluar kamar Hega sambil menutupi kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.


Entah seberapa merah meronanya wajah Moza saat ini, yang jelas gadis itu kalang kabut karena ulahnya sendiri.


Jantungnyaa tak kalah berdebarnya seperti yang dirasakan Hega, jika Hega merasakan bahagia luar biasa atas hadiah sederhana kekasihnya itu. Moza justru sebaliknya, gadis itu tampak sangat malu atas apa yang barusaja dilakukannya.


Sepanjang perjalanan kembali ke kamarnya, Moza tidak henti-hentinya mengumpati tindakan konyolnya sendiri.


Moza memasuki kamarnya dan segera menutup pintu, kemudian tampak berjalan linglung menuju tempat tidurnya, dan duduk di tepi ranjang.


Aaaarrgh.... Apa yang barusaja aku lakukan ?! Kenapa aku malah menciumnya si ? Bagaimana aku menghadapinya besok ? Aku malu, aaaaahhhh.... ini sangat memalukan.


Moza bergumam sendiri merutuki tingkah agresifnya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Kemudian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang dan menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.


Aaah.... Masa bodo, besok pura-pura lupa saja. Tapi dengan sifat kak Hega, aku yakin dia tidak akan membiarkanku begitu saja. Huuuu..... Kenapa juga tadi aku nekat menciumnya, pasti besok dia akan menggunakannya untuk menggodaku.


Moza terus menggerutu sambil sesekali mengetuk-ngetuk dahinya dengan buku-buku jarinya.


Sedangkan disisi lain, Hega berjalan linglung memasuki kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Mengelus-elus pipinya yang seolah masih menyisakan sensasi manis dari kecupan kekasih cantiknya.


Aaaa..... Hega Airsyana Saint, sepertinya kamu benar-benar akan menjadi budak cinta kekasihmu.


Gumam Hega lirih menutup kedua matanya kemudian tersenyum saat bayangan wajah Moza melintas di kepalanya.


~ Flashback End ~


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Lu mah udah lama bucinnya Babang Hega. Baru nyadar ya ?! Ckckck....πŸ˜œπŸ˜²πŸ™„


...INFO UNFAEDAH...


...( GAK SUKA SKIP AJA )...


Punya pacar bucin dan posesif ala dunia nyata itu tidak seindah dan semanis seperti di dunia halu ya. Jadi jangan kelewat baper kalau baca ginian. Nyatanya kalau aslinya punya pacar posesif gini pasti menyebalkan, ruang gerak terbatas dan cemburuan.


Tapi kalau GANTENG ya gak papa lah apalagi KAYA, bisa dikondisikan gitu 😘


Tapi Kalau udah Posesif dan cemburuan terus tampang dan dompet pas-pasan ya... Pikir ulang lahhhhhh 🀣🀣🀣


[ Maaf Thor Canda ya, jan diambil hati ]

__ADS_1


...JAN LUPA LIKE, KOMENTAR DAN VOTE YA SAYANGKUH.... 😘😘😘...


__ADS_2