Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Jangan Ragukan Aku !


__ADS_3

AUTHOR


Moza membalas tatapan kekasihnya dengan tatapan lembutnya, menunggu pria itu mengutarakan sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya.


" Apakah tidak pernah sekalipun kamu memikirkannya sebagai seorang pria dan bukan sekedar sahabat ? "


" Tidak pernahkah ada perasaan lebih dari sekedar persahabatan atau setidaknya sedikit saja kamu berpikir untuk mencintai dia ? "


Moza tersenyum, melepaskan tangannya dari genggaman Hega dan menangkup wajah pria yang dicintainya.


" Tidak, Kak. Sedikitpun tidak pernah tumbuh perasaan lain selain rasa sayang sebagai sahabat untuknya. Meskipun banyak yang berpendapat jika tidak ada yang namanya persahabatan diantara pria dan wanita, maka aku akan mengatakan jika mereka itu salah. Yah meskipun kebanyakan akan berakhir dengan salah satunya memiliki perasaan yang lebih. Tapi aku yakin tidak pernah sedikitpun aku memiliki perasaan lebih pada Fabian selain persahabatan. "


" Berarti betul kan kalimat yang mengatakan jika pria dan wanita tidak bisa murni bersahabat, buktinya sahabatmu itu menyukaimu. " Ujar Hega sedikit kesal membuat Moza gemas melihat kecemburuan kekasihnya itu yang terlihat sangat imut, sangat berbeda dengan karakter Hega yang tegas dan penuh wibawa.


Tapi ada satu sisi dimana Hega merasa perlu berterima kasih pada pria itu. Dari cerita singkat Deana, Hega tahu bahwa Fabian lah yang mengajari Moza untuk peka terhadap sinyal-sinyal cinta lawan jenisnya. Dan mengajarkan pada gadis itu cara membentengi dirinya dari para pria yang memiliki maksud tersembunyi padanya.


Dengan kata lain, berkat Fabian lah Moza tetap terjaga kepolosannya dari yang namanya asmara hingga saat Hega bertemu dengan gadis itu. Yah. . . Tentusaja Hega tidak akan pernah mau mengakui secara langsung jasa pria itu, apalagi sampai mengucapkan terima kasih. TIDAK MUNGKIN !!!


" Iya, untuk hal itu aku tidak bisa menyangkalnya. Tapi apa kakak lupa dengan Julian, apa yang ada diantara kami benar-benar hanya persahabatan. Tidak pernah sekalipun kami memiliki rasa yang lebih. Itu berarti di dunia ini pasti ada pria dan wanita yang murni hanya bersahabat, meskipun kemungkinannya sangat kecil bahkan kurang dari satu persen. " Bantah Moza tegas, membenarkan ucapannya jika pria dan wanita bisa saja hanya murni berteman.


Satu alis Hega sedikit naik, " Kamu yakin ?! " Tanya Hega memastikan padahal dia sendiri sudah tahu jawabannya.


" Hem. . . Sangat yakin. " Jawab Moza percaya diri.


" Yah, baiklah. Sepertinya kamu dan Julian termasuk dalam kemungkinan yang kurang dari satu persen itu. " Pasrah Hega akhirnya.


Yah, Hega sendiri tidak bisa menyangkal kenyataan yang satu ini. Memang benar Hega sempat mengira jika Julian menyukai Moza ketika pemuda itu terlihat begitu menyayangi sahabatnya itu. Bahkan jika perlu, Julian rela menjaga Moza selamanya dalam ikatan pernikahan tanpa cinta sekalipun asal bisa melindungi sahabatnya itu.


Tapi setelah apa yang terjadi dan dilihatnya sensiri bagaimana hubungan kedua sahabat itu. Hega tahu jika persahabatan Julian untuk Moza begitu murni.


Karena itulah Hega juga sempat mempercayakan dan melepas Moza pada pemuda itu saat ia merasa jika dirinya tidak memiliki harapan untuk bersatu dengan gadis yang dicintainya ini.


Moza memainkan jemarinya di kepala Hega, menyisir rambut hitam pria itu dengan jari-jarinya. Kemudian menelusuri setiap jengkal wajah tampan calon suaminya dan tak henti-hentinya tersenyum cantik.


" Pertama kalinya hati ini berdebar dan gelisah adalah saat aku bertemu dan dekat dengan kakak. Pertama kalinya hati ini menginginkan sebuah cinta adalah saat aku bersama dengan kakak. "


" Pertama kalinya juga hati ini merasa begitu sakit adalah saat aku dipaksa untuk melepaskan kakak, saat aku harus berpisah dan jauh dari kakak. "


" Aku tidak ingin yang lainnya, hanya bersama dengan kakak itu sudah cukup bagiku. Jangan ragukan aku ! "


Hega mengulas senyum bahagia mendapati ungkapan hati terdalam kekasihnya. Rasa cintanya semakin besar saja pada gadis yang tengah menyatakan begitu besar cinta gadis itu untuk dirinya.


" Aku tidak meragukanmu dan tidak akan pernah meragukanmu. Karena hatiku bisa merasakan apa yang ingin hatimu katakan. Sudah pernah kubilang kan jika saat hati kita memiliki rasa yang sama, maka tidak sulit bagi kita mengetahui apa yang ada di pikiran dan hati kita. Dengan menatap mataku kamu akan tahu sebesar apa cintaku untukmu, begitu pula sebaliknya. "

__ADS_1


" Moza Artana Dama, I love you so much, will you be with me until the end of my life ? "


[ Moza Artana Dama, aku sangat mencintaimu, bersediakah kamu bersamaku sampai akhir hayatku ? ]


" Yes, i will. [ Ya, aku bersedia ] "


⚘⚘⚘


Kembali ke D' Cafe,


Amira dan Rena memutuskan meninggalkan kafe dan menuju butik mereka. Sebenarnya hari ini giliran Dea dan Moza yang memantau H-Mo Boutique, tapi karena insiden yang barusaja terjadi sepertinya akan membuat kedua gadis itu tidak bisa melakukannya.


Jadi Amira dan Renata lah yang harus turun tangan menggantikan ketidakhadiran kedua sahabat mereka.


Setelah mengantar kepergian kedua sahabatnya, Dea menghampiri Fabian yang masih duduk di kursinya dengan wajah kalut.


Gadis itu duduk di hadapan Fabian, di kursi yang tadi ditempati oleh sahabatnya, Moza.


Wajah pria tampan yang dulu menjadi idola sekolah itu terlihat kusut bak lembaran kertas yang barusaja diremas-remas dan dilempar ke tong sampah.


Tapi memang tidak dapat dipungkiri meskipun tampak kacau, miris dan memprihatinkan, wajah tampan seorang Fabian tidak bisa terelakkan.


Dan bagaimanapun menyebalkannya tingkah Fabian hari ini, pria itu tetaplah sosok penting dalam kehidupan Deana dan Moza.


" Fyuuuh. . . Berhenti memasang wajah menyeramkan seperti itu, Bian ! Lo akan membuat pelanggan kafe sodara gue ini pada kabur karena malas melihat wajah mengerikanmu itu. " Cibir Deana berdecih dengan nada sedikit bercanda.


" Kamu masih sempat-sempatnya memakiku Dea. Sungguh tidak punya perasaan, aku barusaja patah hati, huh. "


" Hahahahaha . . . Lalu gue harus bagaimana ? Menggibur lo, huh ?! Gue lebih ingin memukul kepala lo yang entah hilang kemana otaknya itu. " Kesal Deana sambil berdecak malas.


Fabian menarik kursinya mendekat ke arah meja, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, dan melipat kedua tangannya di atas meja.


Pria itu menatap lekat gadis di haladapannya dengan tatapan menyelidik, " Apa mereka benar-benar sudah bertunangan, De ?! "


" Hem, sebenarnya besok itu acara pertunangan resmi mereka, tapi dibatalkan karena. . . " Jawab Deana dengan santainya namun dipotong sepihak oleh Fabian dengan suara setengah berteriak.


" Apah ? Jadi mereka belum resmi tunangan ?! " Kedua mata Fabian yang tadinya sayu terlihat berbinar seolah barusaja mendapat secercah harapan.


Plak. . .


" Auwh. . . Dea, kenapa kamu masih bar-bar seperti dulu, huh ?! " Gerutu Fabian sambil mengusap kepalanya yang kena tampol sahabat judes bin bar-barnya itu.


" Damn you, Bian ! Gue belum selesai ngomong. Main potong aja lo. Dasar gak ada akhlak ! " Omel Dea kesal.

__ADS_1


" Sorry, jadi apa maksud kamu tadi ?! " Tanya Fabian masih meringis dan mengusap kepalanya.


" Makanya dengerin sampai gue selesai ngomongnya ! "


" Oke, oke. Maaf. "


" Harusnya besok acara pertunangan mereka. Tapi dibatalkan karena mereka memutuskan untuk langsung menikah saja. Dan acara pernikahannya itu dua minggu lagi. "


" Uhuk. . . Kenapa secepat itu mengubah pertunangan jadi pernikahan ?! Apa Momo sudah . . .? Auwhg. . . Dea, bisa-bisa kepala aku beneran benjol ini. "


Lagi-lagi sebuah pukulan mendarat di pucuk kepala Fabian sebelum pria itu melanjutkan kalimatnya.


" Memangnya kamu kira Momo seperti itu apa ? " Oceh Deana setelah mendaratkan pukulan kedua.


" Tentusaja tidak, aku tahu Momo punya prinsip kuat sebagai seorang gadis. Tapi kan aku tidak tahu dengan pria itu, bisa jadi kan dia yang memaksa Momo sampai Momo bisa ham. . . Aduh, Dea berhenti memukulku ! "


" Salah sendiri tuh mulut gak ada akhlak sama sekali. Bang Hega gak seperti itu ya, dia itu cinta banget sama Momo. Gak mungkin dia memaksa Momo melakukan hal seperti itu. Lo gila juga ada batasnya dong, Bian. " Omel Deana setelah berhasil memukul sahabatnya itu untuk ketiga kalinya.


Biarpun yang ketiga meleset dari sasaran utama karena Fabian sudah lebih dulu melindungi kepalanya dengan kedua tangannya. Dan itu tidak membuat Deana menarik lagi tinjunya, alhasil bukan di kepala melainkan pukulan Dea mendarat mulus di bahu kanan Fabian.


" Cih. . . Memang siapa yang bisa tahu seberapa besar cinta seseorang, huh ?! " Fabian mengedarkan pandangannya ke sembarang arah dan berdecih kesal saat sahabat lamanya itu justru membela pria lain yang merupakan saingan cintanya.


" Sudahlah, Bian. Lebih baik lo pulang aja ! Cuci itu otak lo biar bisa dipakai berpikir jernih ! Lo butuh menenangkan hati dan pikiran Lo yang kusut itu. " Saran Dea tulus.


Fabian mendongakkan kepalanya menatap gadis yang juga adalah sahabatnya itu.


" Kenapa kamu dan Momo mengatakan hal yang sama ?! Hati dan pikiranku normal Dea. Aku waras dan bisa berpikir jernih. Lalu apa yang perlu aku tenangkan ?! " Protes pria berusia 23 tahun itu.


" Hahaha. . . Memang bisa dibilang waras saat lo tiba-tiba muncul setelah lama menghilang tanpa kabar. Dan datang-datang malah langsung bilang suka sama Momo dengan wajah tanpa dosa begitu, huh ?! " Mengejek dengan sangat pedas tanpa ekspresi merasa bersalah sama sekali.


Fabian melengos dan mendengus kesal mendengar ocehan Deana, merasa percuma membela diri karena kenyataannya apa yang dikatakan Deana memang ada benarnya.


" Dimana Momo tinggal, Dea ? Aku masih harus bicara dengannya. " Tanyanya dengan tatapan memohon.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


...KASIH TAHU GAK YA ???...


...πŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š...


LEVEL TURUN DRASTIS...😭😭😭


TAPI GAK PAPA, THOR MASIH SEMANGAT LANJUT CERITA INI BIAR SEGERA TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2