
AUTHOR
" Eh... Kak Hega punya hobi yang sama dengan Kak Arka ? " Tanya Moza kemudian, gadis itu terlihat antusias.
Tapi Hega malah terdiam mendengar pertanyaan yang reflek keluar dari bibir kekasihnya itu.
Eh kok malah diam ? Apa aku salah bicara ? ~ Moza ~
Keheningan menyelimuti keduanya untuk beberapa saat. Hega masih fokus menatap langit-langit kamar, dan sekarang giliran Moza yang memiringkan badannya menghadap kekasihnya itu.
Entah kenapa Moza merasakan ada gurat kesedihan di sudut mata pemuda yang kini tengah dipandang olehnya itu.
Gadis itu masih menatap kekasihnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Menunggu dalam diam sampai pemuda itu kembali mengucapkan sesuatu.
" Aku sama sekali tidak punya ketertarikan atau bakat dalam hal arsitektur ataupun menggambar dan sejenisnya. Setidaknya aku yakin akan hal itu sampai usiaku 15 tahun. " Ucap Hega memecah keheningan.
" Dan saat melihat Arka begitu fokusnya setiap kali memegang pensil dan menorehkannya di atas buku sketch nya. Disaat semua siswa sedang asyik menghabiskan waktu istrirahat mereka di kantin ataupun berkumpul bersama teman-temannya. Anak itu malah memilih bersembunyi di sudut perpustakaan sekolah. Ekspresi nya yang benar-benar serius dan seolah tidak ada hal apapun yang bisa mengganggunya saat melakukan hal itu. " Hega kembali terdiam sejenak, seolah sedang mengumpulkan kembali ingatannya.
" Aku tidak paham apa asyiknya hobinya itu dan membiarkannya begitu saja. Meskipun aku tetap mengekor padanya setiap hari di perpustakaan yang aku isi dengan membaca hampir semua buku yang ada disana. " Lanjut pemuda itu kemudian, sepertinya memori tentang masa lalu nya bersama sabahatnya itu mulai muncul di ingatannya.
Moza masih diam mendengarkan kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir Hega, mencoba memahami maksud dari ucapan pemuda itu.
Sudut hatinya terasa ikut merasakan kesedihan saat nama sang kakak disebut-sebut oleh Hega.
" Sebagai cucu pertama keluarga besar Saint, sejak kecil aku sudah dibebankan tanggung jawab untuk melanjutkan bisnis keluarga di masa depan. Dipersiapkan sebagai penerus bisnis keluarga membuat keseharianku hanya diisi dengan belajar dan belajar. Saat itu aku tidak sempat memikirkan hal-hal diluar mata pelajaran sekolah. Nilai dan prestasi menjadi fokus utamaku. " Lanjut Hega dengan suara parau.
" Aku bahkan masih ingat salah satu ucapannya saat aku bertanya apa asyiknya hobi yang dilakukannya itu. Menghabiskan berjam-jam dengan satu pensil dan satu buku yang sama tiap harinya yang bahkan tidak menambah pengetahuannya. Setidaknya aku merasa lebih baik darinya, meskipun mengekor padanya setidaknya aku berhasil membaca minimal dua buku tiap harinya. " Hega kembali mengingat satu kenangan di masa lalunya.
" Apa gunanya prestasi akademik dan pengetahuan tentang banyak hal jika kau tak bisa menikmati apapun dalam kehidupanmu. Belum tentu semua buku yang kau baca itu akan berguna untukmu. Cobalah kau cari setidaknya satu hal yang menyenangkan saat kau melakukannya. Hal yang membuatmu bahagia. " Sambungnya menirukan kalimat sahabatnya yang telah tiada itu.
Moza bingung harus berkomentar apa, gadis itu masih menyimak cerita masa lalu kekasihnya bersama sahabatnya yang juga adalah kakak kandung gasis itu.
Di satu sisi Moza merasa bahagia bisa mendengarkan sesuatu tentang kakaknya yang tidak diketahuinya.
Tapi di sisi lain juga terasa teriris sembilu karena teringat kembali sosok kakaknya yang sudah tidak ada lagi di dunia.
" Yah, aku akhirnya benar-benar merasakan jika ucapan Arka memang ada benarnya. Aku memang tahu banyak hal, bisa melakukan banyak hal. Bisnis pribadi dan keluarga yang terbilang sukses aku tangani, tapi benar kata Arka, aku tidak bahagia dengan itu semua. Yang ada hanya kebanggan diri, tapi hatiku hampa. " Lanjutnya kemudian menoleh sekilas pada gadis di sampingnya.
Melihat kekasihnya itu mengerutkan kening, Hega tersadar akan sesuatu.
__ADS_1
" Tentu saja itu sebelum aku bertemu kamu dan mengenalmu. Untuk pertama kalinya aku menemukan sesuatu yang bisa menggetarkan sudut hatiku, dan untuk pertama kalinya aku ingin tahu apa yang namanya bahagia. " Pemuda itu tersenyum sendu dan memainkan rambut Moza yang terurai di ranjang.
" Lalu bagaimana bisa kakak mendesain bangunan seindah ini jika tidak ada bakat ataupun ketertarikan dalam hal itu ?! "
" Hm, dulu aku kira kalau aku sepertinya terlewat jenius hingga tanpa aku ketahui aku bahkan berkompeten dalam bidang yang tidak pernah menarik perhatianku itu. " Ucapnya sambil tertawa miring.
" Tanpa sadar aku mengikuti kebiasaan Arka yang seringkali membuatku bertanya-tanya bagaimana bisa kakakmu itu betah berlama-lama di perpustakaan hanya fokus pada hobinya itu. Setiap ada waktu aku menghabiskan waktuku di perpustakaan ataupun ruang kerjaku, melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan kakakmu. " Sambungnya lagi, Moza tetap menyimak dengan baik, menunggu waktu yang tepat untuk kembali buka suara.
" Tapi lucunya aku selalu merasa bahwa aku tidak punya hak untuk menggunakan kemampuan itu untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai materiil.
Padahal banyak orang yang tertarik pada hasil desainku saat aku masih kuliah dulu, beberapa buku sketch di apartemenku tersimpan rapi tanpa ada satupun yang berwujud nyata. "
Moza semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan pemuda itu. Dahi gadis itu berulang kali mengerut bingung.
" Hingga saat aku kembali ke Indonesia dua tahun lalu, ada keinginan yang sangat besar untuk mewujudkan salah satu desain itu menjadi satu bangunan yang nyata. "
Mencoba mencerna apa sebenarnya yang hendak disampaikan oleh Hega dalam setiap kalimat nya yang terasa memiliki arti yang sangat dalam itu.
" Apa kamu tidak merasakan sesuatu saat melihat villa ini ?! "
" Eh... " Moza tampak berfikir sejenak.
Memang ada rasa familier saat tiba di villa itu, setiap sudut bangunan itu memberikan rasa nyaman untuknya meskipun tempat itu asing baginya.
" Hmm, karena kakak menanyakannya, sebenarnya aku hanya langsung merasa nyaman saja saat tiba di sini. Rasanya tidak seperti berada di tempat yang asing. "
Hega ikut memiringkan tubuhnya, sekarang keduanya saling berhadapan.
" Buku sketch berwarna coklat milik Arka yang selalu kamu bawa itu. "
" Ah.... " Moza terlonjak dari posisi berbaringnya, meraih tasnya yang ada di atas nakas.
Mengeluarkan buku bercover coklat milik almarhum kakaknya.
" Bukalah ! " Pinta Hega sembari merubah posisinya yang kini duduk bersila di atas ranjang Moza.
Moza membuka satu per satu halaman buku yang selalu dia bawa itu.
Entah kenapa rasanya seperti ada sesuatu yang tak asing dalam pandangan matanya.
__ADS_1
Gadis itu mencoba mencari tahu apa hubungannya buku sketch milik Hyuza Arkana Dama itu dengan cerita Hega tadi ?
Bagaimana Hega tahu buku itu selalu dibawa oleh kekasihnya kemanapun gadis itu pergi ?
Dan kenapa tiba-tiba pemuda itu memintanya membuka buku itu ?
Saat sampai di satu halaman, sepertinya benang merah yang sejak tadi dicari oleh Moza mulai tampak.
" Aaakhhhpp !! " Moza menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya, dan membiarkan buku sketch itu terjatuh di pangkuannya.
Sebuah desain rumah yang belum selesai sepenuhnya, eksterior dan interior bangunan hampir menyerupai villa yang saat ini menjadi tempatnya berlibur tahun baru bersama teman-temannya.
Hega meraih buku milik Arka itu dan meletakkannya kembali di atas nakas.
Kemudian duduk kembali menghadap gadis yang terlihat tengah menahan diri untuk tidak menangis.
Bagaimana bisa ? Buku ini bahkan hanya aku yang melihatnya setelah kepergian kak Hyuza. Dan setelah itupun Kak Hega bahkan tidak pernah terlihat batang hidungnya. Ah... pasti Kak Hega sering melihat isi buku ini kan saat bersama dengan kak Hyu ?! Ya pasti begitu.
Moza menerka-nerka dalam hati apa yang sebenarnya terjadi.
๐ค๐๐งก๐๐๐โค๐ค๐๐งก๐๐๐โค
Nih penampakan Moza cantik berkaca mata bulat. Kesan pertama di mata babang Hega ๐๐๐
Hega : Calon bini gue cantik ya thoorr ? ๐
Me : Ya iyalah cantik bambank, siapa dulu yang milihin. Gue gitu !! ๐
Hega : Eh ya juga si, tapi percuma cantik kagak boleh gue icipin...
Pletak
Hega : Aduh... Apaan si thoor ? ๐ต๐
Me : Otak lu mah perlu diruqiyah, tapi berhubung gue kagak tahu doanya, gue tampol dulu pake centong emak gue.... Lagian tuh si Momo orang ya bukan martabak main icip-icip. Kagak sopan lu sama calon bini. Gue batalin juga nih kawin sama yang bening satu itu.
Hega : Huuuu jangan dong, udah cinta mati ni thorr.
__ADS_1
Me : Makanya nurut ama gue...
Hega : (angguk-angguk)