
AUTHOR
Moza masih menatap sebal ke arah ponsel yang tadi dilemparnya pada boneka beruang di hadapannya. Dan dengan enggan berjalan menuju kamar mandi.
Hiks..... padahal ini masih jam 8, lagipula ini kan hari Minggu. Aku ingin tidur sepuasnya.
Gerutumya kesal, meratapi dirinya yang tidak bisa menolak permintaan gadis kecil yang baru saja menelponnya.
Sudah dua minggu berlalu sejak pertemuan mereka, Moza pikir tidak akan ada kesempatan kedua untuk bertemu. Lagipula selama dua minggu juga tidak ada kabar apapun dari gadis kecil itu. Mungkin gadis kecil itu bahkan tidak mengingatnya.
Moza mengira seorang anak kecil tidak akan mengingat hal sepele seperti itu, janji bertemu dengan orang asing yang tak dikenalnya dan baru pertama ditemuinya.
Tak terpikirkan di benak Moza jika dibalik ini semua ada rencana licik Hega yang menggunakan adik perempuannya untuk bisa bertemu dengannya.
Setelah sekitar setengah jam bersiap diri, memakai dress selutut berwarna soft tosca, dengan rambut yang sengaja dibiarkan terurai ditambah tas kecil berwana putih dan flatshoes putih.
Saat duduk tengah menyisir rambutnya dan duduk di kursi riasnya, gadis itu teringat sesuatu.
Dibukanya laci mejanya dan mengeluarkan kotak hitam yang baru saja disimpannya tadi malam.
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengembalikannya.
Gumamnya menatap isi kotak berwarna hitam di tangannya. Kemudian menutupnya kembali dan memasukkan kotak itu ke dalam tasnya.
โข
โข
๐๐๐
Hega mengemudikan mobilnya dengan antusias menuju kosan Moza. Sudah tersusun banyak rencana yang akan dilakukannya hari ini bersama kedua gadis yang paling disayanginya.
Sang adik sedari tadi tampak bingung melihat tingkah sang kakak yang kelihatan sangat senang. Tapi Rania terlampau kecil dan polos untuk mengerti pikiran orang dewasa.
Yang dia tahu hanya hari ini dirinya akan bersenang-senang dengan kakak tercintanya. Dan juga bertemu dengan kakak cantik yang disukainya.
Hari ini dia membawa mobil Range Rover Velar kesayangannya. Hega menghentikan mobilnya di depan gerbang kos gadis itu, kemudian keluar dari mobilnya tak lupa membawa Rania dalam gendongannya.
Menunggu sosok gadis yang ingin mereka temui, Hega mendudukkan Rania di atas kap mobilnya sedangkan dia sendiri bersandar disamping gadis kecil itu.
Saat terlihat sosok yang mereka tunggu, Hega sekali lagi membisikkan sesuatu di telinga gadis manis itu. Dan menurunkan Rania dari atas mobil kemudian seketika gadis mungil itu berlari berhambur ke arah gadis cantik yang baru saja keluar dari gerbang kosan.
" Kakak cantik, Rania merindukanmu. " Teriak Rania antusias sambil mengangkat kedua tangannya.
" Hei, jangan berlari, nanti kamu terjatuh lagi dan terluka. " Ucap Moza menghampiri gadis kecil itu, duduk berjongkong memeluk Rania.
" Rania terlalu senang bertemu kakak cantik. " Jawab gadis kecil itu antusias dan membalas pelukan Moza.
" Kakak juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Apa lukamu sudah sembuh ? " Tanya Moza sembari menyentuh lutut gadis kecil itu.
" Hmmm. Semua karena kakak cantik yang mengobatiku. " Rania tersenyum menggemaskan.
" Ayo kakak akan menggendongmu. " Moza mengangkat tubuh mungil dihadapannya dan berjalan menghampiri pemuda yang masih bersandar dengan tenang di mobilnya.
Hega tampak sangat tampan dengan penampilan kasualnya. Kaos berwarna hitam dilengkapi jaket berwarna hijau army dengan lengan sengaja digulung hingga siku, dipadu dengan celana jeans hitam dan sepatu sneakers kombinasi hitam dan putih.
__ADS_1
Belum lagi jam tangan hitam melingkar di tangan kiri serta kacamata hitam bertengger di hidung mancungnya. Membuat kadar ketampanan Hega naik berkali-kali lipat, penampilan santai yang jarang ditunjukkan pemuda itu pada orang lain.
Dan hari ini spesial sengaja Hega berpenampilan yang jauh dari kesan Presdir yang selalu lekat dengan kesehariannya.
Hari ini Hega hanya ingin menjadi dirinya sendiri, pemuda berusia 26 tahun, tanpa embel-embel pengusaha sukses ataupun pewaris Golden Imperial Group didalam penampilannya.
Dia hanya seorang pemuda biasa yang tengah jatuh cinta dan sedang mengejar dan memperjuangkan gadis belahan jiwanya.
Deg... deg...
Glek...Bagaimana aku bisa move on jika kakak terus membuatku berdebar seperti ini.
Benar saja, penampilan Hega benar-benar menggoyahkan keteguhan hati Moza, gadis itu menggelengkan kepalanya beberapa kali berusaha mengembalikan kesadarannya.
Sedangkan pemuda itu terlihat tersenyum tipis penuh kemenangan.
" Jadi mau kemana kita hari ini ? " Tanya Moza mengalihkan hati dan pikirannya yang sudah mulai goyah.
" Rania mau bermain ke taman hiburan, makan es krim dan cake, bermain di gamezone dan.... " Belum sempat gadis kecil itu menyelesaikan kalimatnya, Moza memotong ucapan Rania.
Hei... apa-apaan ini ?! Ini kan tidak sesuai dari rencana. ~ Moza ~
" Eehhh... Bukannya kita hanya akan makan es krim ? " Tanya Moza sedikit bernada protes.
" Rania mau jalan-jalan seharian. Apa kakak cantik tidak mau menemani Rania ? " Tanya gadis mungil itu dengan nada kecewa dan membuat ekspresi puppies eyes yang menggemaskan.
Aaaa... Bagaimana aku bisa menolakmu dengan wajah imutmu ini. ~ Moza ~
" Iya tentu saja kakak akan menemani Rania yang sangat imut ini. " Jawab Moza sambil mencubit lembut pipi gembul Rania.
Hati dan logikanya menjerit, Moza pikir hanya cukup makan es krim dan kemudian mengembalikan kalung berlian pemberian Hega selepas itu bisa pulang.
Tapi apa ini ? Bermain di taman hiburan saja pasti membutuhkan waktu minimal dua jam, belum lagi gamezone.
Bisa-bisa dia akan menghabiskan waktu seharian dengan kakak beradik ini.
Aaaargggg.... Kenapa aku bisa terjebak dengan mereka sih ? ! Dan kenapa tingkah mereka yang seenaknya sendiri dan pintar bicara ini sama persis sih ?! ~ Moza ~
Tanpa sepengetahuan Moza, gadis kecil yang digendongnya mengerlingkan satu matanya ke arah sang kakak dan dibalas pemuda itu dengan mengangkat dua jempolnya memuji kehebatan akting sang adik.
Kakak, Rania pintar kan ? ~ Rania ~
Kamu sangat pintar peri kecilku yang manis. ~ Hega ~
Mungkin itulah arti tatapan mata kakak beradik yang sedang saling memandang seolah berbicara dengan bahasa isyarat.
Hega membukakan pintu mobil untuk Moza, mengisyaratkan agar gadis itu segera masuk.
" Aku di belakang saja kak. " Pinta Moza sambil menurunkan Rania di kursi penumpang di samping kemudi.
" Tidak, Rania ingin duduk di pangkuan kakak cantik. " Protes Rania lagi-lagi menyerang Moza dengan tatapan imutnya.
Aaa... Apalagi ini ?! Kenapa aku tak bisa menang melawan wajah kakak beradik ini si ?!
Dasar curang, menggunakan wajah kalian untuk membuatku lemah.... ๐๐๐
__ADS_1
Moza bergumam dalam hati mendapati kelakuan yang mulai terasa aneh ini. Sesuka-sukanya gadis mungil itu padanya kenapa rasanya seolah Rania terlalu menempel padanya ? Padahal ini baru pertemuan mereka yang kedua.
Apa semua anak kecil akan semanja ini pada setiap orang yang disukainya meskipun orang itu baru mereka kenal ya ?
Berbagai pertanyaan berputar di kepala Moza.
" Maklumi saja, Rania tidak memiliki kakak perempuan untuk bermanja, dan akupun terlalu sibuk untuk meluangkan waktu untuknya. Mungkin dia sedang ingin bermanja-manja. " Jelas Hega menyela saat mendapati tatapan ragu dimata Moza.
Hega tak ingin gadis itu curiga padanya, apa jadinya jika Moza tahu kalau Hega hanya menggunakan Rania untuk menemuinya.
Meskipun memang benar jika Rania juga ingin bertemu dengan gadis itu. Tapi selebihnya adalah akal-akalan Hega saja untuk bisa menghabiskan waktu bersama Moza.
Akhirnya Moza pasrah, duduk sambil memangku gadis kecil yang memang terlihat sangat bahagia saat ini.
Dan sekali lagi Rania mengerlingkan matanya kearah sang kakak dibalas senyum tipis sang kakak, tentu saja tanpa sepengetahuan Moza karena gadis kecil itu duduk si pangkuan Moza dan membelakanginya.
Sehingga Moza tak mengetahui isyarat yang tengah terjadi antara kakak beradik itu, apalagi Moza masih tampak bingung dengan situasi yang dihadapinya saat ini.
๐๐๐
~ Cuplikan ~
" Mari kita akhiri disini kak, lepaskan aku. "
" Kita sama-sama tahu tidak ada kemungkinan bagi kita untuk bersatu. "
Moza meninggalkan Hega termenung di balik kemudi dengan menggenggan kotak hitam berisi kalung berlian pemberiannya. Menatap punggung gadis itu yang menjauh dan menghilang dibalik dinding kosan.
๐๐๐
Seharusnya Hega menyerah saja seperti permintaan Moza atau tetap memperjuangkan kesempatan 1 % nya ya ?
Vote ya ๐คฉ๐คฉ
๐
Bonus Penampakan Gaya Berkencan Babang Hega ๐๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Bantu VOTE agar karya ini naik RANK yah....
Terima kasih ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jika kalian suka Episode ini, jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...
โ LIKE ๐
โ COMMENT โ๐
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐
__ADS_1