
AUTHOR
Keduanya masih duduk diam tanpa saling bicara, Moza yang tengah mengatur nafasnya yang sempat ngap-ngapan karena perlakuan Hega yang membuat jantungnya berlarian tanpa bisa dikontrolnya.
Sedangkan Hega, si pelaku utama yang membuat gadis di sampingnya itu sempat gelagapan justru terlihat santai dan tetap fokus pada kemudinya.
Sesekali melirik ke arah Moza yang menggemaskan dengan pipinya yang tengah merona.
Entah sejak kapan menjahili gadis ini menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Ahhh... memang nyatanya cinta bisa merubah karakter seseorang hingga 180 derajad jika sedang bersama seseorang yang dicintainya.
Buktinya Hega yang berwatak keras, dingin dan kaku mendadak melunak dan hangat jika sedang bersama Moza.
Presdir yang punya tingkat gila kerja di level mengerikan itu bisa dengan mudahnya meluangkan waktu untuk menemui gadisnya di tengah-tengah padatnya jadwal rapat dan tumpukan pekerjaan yang seolah tak ada habisnya.
Pria yang bahkan enggan meluangkan waktunya untuk sang Papa dan memilih menggunakan alasan 'sibuk' jika sang Papa meminta bertemu dengannya, justru dengan santainya mengatakan pada gadis yang dicintainya jika dia punya banyak waktu untuk gadis itu.
Dasar bucin bucin bucin.....
Begitu pula halnya dengan Moza, gadis yang selama ini seolah menyembunyikan dirinya yang sebenarnya. Sikap dingin dan ketus serta tak banyak bicara, berbeda dengan sosok gadis itu sepuluh tahun yang lalu.
Gadis ceria, banyak bicara dan manja, menyembunyikan dirinya dibalik sikap tangguh dan acuhnya sejak ditinggalkan untuk selama-lamanya oleh laki-laki yang dikasihinya.
Saat ini perlahan menunjukkan dirinya yang sebenarnya semenjak dekat dengan seorang Hega Airsyana. Tanpa sadar gadis itu mulai menunjukkan sisi cerewet dan manjanya, dan menampakkan berbagai macam ekspresi di wajahnya saat sedang bersama dengan pemuda itu.
Tersenyum senang, bibir menyebik kesal, tatapan mata dongkol dan marah, merona merah tersipu, gelagapan canggung dan salah tingkah hingga wajah sayu kesedihan.
Semua ekspresi yang selama ini tak pernah ditunjukkannya pada pria manapun, seolah selama ini gadis itu hanya memiliki ekspresi dingin dan acuh saat menghadapi lawan jenisnya.
" Kita mau kemana pagi-pagi begini kak ? " Tanyanya setelah lelah menduga-duga kemana mereka akan pergi.
" Sarapan bersama. " Jawab Hega santai sambil menoleh sekilas ke arah gadis di sampingnya.
Jangan seenaknya sendiri dong !!! ~ Moza ~
" Aku tidak biasa makan sepagi ini. " Elak gadis itu sebal.
" Biasakanlah......! Melewatkan sarapan tidak bagus untuk kesehatanmu. " Tegasnya.
Aaaaaa.... Kenapa kamu malah menasehatiku ? Memangnya aku anak kecil apa ? ~ Moza ~
" Kamu memang seperti anak kecil yang imut dan menggemaskan saat sedang menggerutu. " Ucap Hega menggoda sambil melirik gadis yang tengah menggerutu dalam hati itu.
Hei berhenti membaca pikiranku. ~ Moza ~
" Aku akan berangkat ke Seoul sore nanti, dan akan beberapa hari di sana. "
" Lalu ? "
__ADS_1
Untuk apa kakak melaporkan itu padaku ? ~ Moza ~
" Tentu saja aku ingin mengisi energiku. " Ucap Hega mantap.
" Haa ???? "
" Kita tidak akan bisa bertemu selama beberapa hari, aku pasti akan sangat merindukanmu. Jadi aku datang untuk melihatmu sepuasnya hari ini. " Ucap pemuda itu sambil tersenyum.
" Aaaa.... Kenapa kakak lakukan ini lagi padaku ? " Teriak Moza sambil menutup kedua telinga dengan tangannya.
" Memang aku kenapa ? " Mendengar pertanyaan gadis itu malah membuat Hega kembali bertanya tak mengerti.
Ah dasar, ternyata Presdir ini memang hobi menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Bener kan kata Bang Bara ?! Hahaha ..... ~ Author ~
" Kan sudah aku bilang, berhenti mengatakan kalimat mengerikan seperti itu. " Protes Moza sambil menatap tajam ke arah pria yang membuatnya kesal itu.
" Kenapa ? Kamu tidak suka ? " Tuh kan malah balik tanya.
" Tentu saja tidak. Aku merinding mendengarnya. Jangan meniru kelakuan bang Bara. " Protes Moza lagi.
Jangan panggil bocah itu seakrab itu. Aku tidak suka. ~ Hega ~
" Memang kenapa dengan Bara ? " Hega tampak kesal gadis itu menyebut-nyebut nama Bara.
" Tidak ada. "
" Katakan ! " Ucapnya sambil menghentikan mobilnya.
" Katakan atau aku akan melakukan yang lebih dari yang kulakukan kemarin saat mengantarmu pulang ! " Senyum menyeringai terukir di bibir Hega sambil menatap lembut gadis itu.
" Aaaa... iya iya. Bang Bara itu memiliki skor yang sempurna untuk kegenitannya. Dan aku selalu merinding setiap ada di dekatnya. " Ucapnya akhirnya menyerah karena posisi Hega yang semakin mendekat padanya.
" Apa ???!!! Jadi bocah sial itu pernah menggodamu ?! " Tanyanya geram sambil mengepalkan tangannya.
" Tidak, bukan begitu kak. Maksudku, aku hanya tidak suka pria seperti itu, yang terlalu genit pada setiap perempuan. " Bantahnya khawatir melihat nada kesal pria di sampingnya.
Kenapa tiba-tiba marah sih ? Bikin kaget saja....
Lagipula dia kan sahabatmu, harusnya kak Hega lebih tahu bagaimana kelakuan bang Bara itu. ~ Moza.~
Mendengar penjelasan Moza membuat Hega sedikit melunak, kembali ditatapnya lembut gadis di sampingnya yang tengah berekspresi terkejut sekaligus takut.
" Maaf, aku hanya tiba-tiba kesal. Beraninya bocah sial itu mengganggumu ? " Ucapnya lembut.
" Tidak apa, aku selalu mengabaikannya. Jika terpaksa, aku bahkan bisa membalasnya dengan sempurna, hingga bang Bara tidak akan berani lagi membuatku kesal. " Seringai Moza mengingat wajah Bara yang mati kutu saat dirinya membalas setiap kalimat jahil pria itu.
Ini baru gadisku, berani dan tegas. Dan yang terpenting bisa mengalahkan Bara si bocah tengik itu. Awas lo Bar, tunggu pembalasan gue entar. ~ Hega ~
__ADS_1
Hega tersenyum puas mendengar kalimat gadis itu, mengangkat satu tangannya hendak mengelus kepala gadis itu. Namun dengan cepat Moza mengalihkan perhatian pria itu.
" Ayo kak, jalan lagi kenapa berhenti ? " Tanyanya menyela agar terhindar dari perlakuan Hega yang akan membahayakan jantungnya.
" Kita sudah sampai, mau kemana lagi ? Apa kamu mau pergi ke pantai lagi ? " Goda Hega.
" Aaaa.... Sudahlah cukup kak. Jangan menggodaku lagi. "
" Kenapa ? Aku kan bukan Bara, dan aku hanya bersikap seperti ini padamu. "
" Cih.... Mana aku tahu itu benar atau tidak ?! " Cibir gadis itu ketus.
" Bukankah kamu yang paling tahu bagaimana sikapku pada setiap perempuan yang mendekatiku ? " Ucap Hega sambil lagi-lagi tersenyum jahil.
" Apa maksud kakak ? "
" Kalau tidak salah temanmu Renata pernah cerita jika kamu sering melihatku bersikap ket......." Ucapnya seketika sambil memainkan jari telunjuk di dagunya pura-pura seolah sedang mangingat-ingat sesuatu.
" Aaaa..... Cukup cukup. Aku percaya kak Hega hanya begitu padaku. Jadi jangan diteruskan kalimat itu. " Sambar Moza memotong kalimat Hega sambil membekap bibir pemuda itu dengan kedua telapak tangannya.
Dasar Renata menyebalkan, kenapa mulut embermu itu tidak ada rem nya sih ?
Gumamnya dalam hati dengan posisi tangannya masih membekap mulut pria di hadapannya.
Hega meraih kedua tangan Moza yang membekap mulutnya, menggenggamnya kemudian mengecup kedua punggang tangan tersebut.
Cup... Cup...
Moza yang masih sibuk dengan gerutuannya memaki Renata dalam hati seketika terlonjak menarik kedua tangannya dari genggaman Hega.
Duhhhh kenapa suka sekali membuat orang jantungan sih ? Aku masih ingin hidup lama. ~ Moza ~
Melihat ekspresi wajah tegang, canggung dan pipi merona gadis itu tentu saja membuat Hega semakin gemas padanya.
Tuh kan wajahmu begitu lagi, sangat imut aku suka. ~ Hega ~
🌟
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍
__ADS_1
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕