Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Cinta dan Persahabatan


__ADS_3

AUTHOR


Kedua pasang mata Deana dan Julian saling mengunci, ada sesuatu diantara mereka yang tidak mereka sadari. Atau memang mereka yang memang sama-sama tidak mau mengakuinya.


DEG...


Deana menepis tangan Julian dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


" Em-eum... Gimana kondisi Momo setelah kecelakaan itu ? " Tatapan lembut Julian membuat Deana gelisah.


" Bukannya Momo udah cerita sama kalian ?! " Julian bertanya balik, canggung itulah yang dirasakan Julian saat ini.


Pemuda itu berdiri dan mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Deana.


" Iya dia bilang dia udah baik-baik saja, tapi mengingat kalian bersekongkol menyembunyikan ini dari gue. Gue gak yakin sepenuhnya jika Momo udah benar-benar baik-baik saja. " Ujar Deana sembari melirik ke arah Julian yang sudah duduk di sampingnya.


" Sepertinya Momo sudah sembuh total, bahkan memar di dahi dan baret di pipinya juga sudah hilang kan ?! " Nyatanya wajah mulus Moza memang sudah kembali seperti sedia kala, seolah gadis itu tidak pernah terluka sama sekali.


Tentu saja untuk hal ini harus berterima kasih pada Derka Raharsa yang memang adalah dokter yang berkompeten dibalik sifat pecicilannya itu. Dengan koneksinya dia bahkan mampu mendapatkan salep terbaik dari dokter ahli dermatologi terbaik di negara tetangga yang terkenal dengan oppa-oppa K-Pop nya.


Julian menyilangkan kakinya dan melipat lengannya di belakang kepala, menatap langit dengan tatapan kosong.


" Jadi lo gak perlu khawatir lagi, dan yang lebih penting jangan tunjukkan kecemasan berlebihan di depan Momo. Karena itulah alasan Momo memilih tidak menceritakan apa yang dialaminya pada kalian, terutama sama lo. " Jelas Julian mengingatkan.


" Tapi kenapa lo bisa tahu ?! " Deana masih merasa dikhianati oleh sahabatnya, seolah Moza lebih mempercayai Julian daripada dirinya.


" Jangan cemburu sama gue Dea, gue tahu juga karena gak sengaja. Kalau saja gue gak lihat foto-foto tadi di ruangan bang Hega, sampai saat ini mungkin juga gue sama seperti lo, gak tahu apa-apa. " Ucap Julian membela dirinya sekaligus sahabatnya Moza.


Deana memalingkan wajahnya, " Haaahhhh. " menghembuskan nafas kasar.


" Bagaimana kalau Selena sampai nekat lagi... "


" Untuk urusan itu lo tenang aja. " Julian memotong ucapan Deana dan tersenyum smirk.


" Eh ? "


" Emang lo pikir bang Hega akan biarin begitu saja tuh perempuan ular yang udah berani macam-macam sama calon bininya ?! " Terang Julian santai.


" Emang bang Hega mau ngapain ? " Deana yang memang tak tahu apa-apa perihal status sosial dan kedudukan tunangan sahabatnya itu hanya bisa mengerut penasaran. Yang dia tahu hanyalah jika Hega itu pengusaha kaya raya yang tampan.


" Dia bisa melakukan apa saja, jangan lo ambil pusing. Dan gue kasih tahu sesuatu biar lo tenang, sahabat lo itu calon menantu dari keluarga paling berpengaruh di negeri ini, jadi lo gak usah cemas lagi jika Selena akan berbuat nekat lagi. Toh sebentar lagi tuh wanita ular juga pasti segera dibereskan. Hehehe... " Ucap Julian lagi.


" Seberpengaruh itukah kekuasaan bang Hega ?! " Deana meragukan ucapan Julian.


" Hem... " Jawab Julian singkat.


" Dan soal Selena, lebih baik jangan dibahas lagi oke. " Sambung pemuda itu.


" Hei... Jangan bilang Momo gak tahu soal ini ?! " Deana melotot tajam, dan Julian mengangguk membenarkan dugaan Deana.


" Yang penting semua sudah diatasi, lagipula Dimas gak tahu apa-apa soal ini. Akan jadi canggung jika Momo tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik insiden kecelakaan yang menimpanya. Lo tahu maksud gue kan ?! "


Deana memejamkan matanya sejenak, lagi-lagi menghela nafas berat, berusaha mengembalikan ketenangan hati dan pikirannya.


" Gue mau lihat Momo. " Deana segera beranjak dari posisi duduknya.


" Dea.... " Menahan lengan Deana, kemudian berdiri dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


" Jul... " Deana terperanjat mendapati perlakuan Julian yang sedemikian rupa.


" Berhentilah over protective sama Momo, lagipula dia sudah punya seseorang disisinya yang akan menjaganya dengan sangat baik. Sekarang giliran lo yang fokus sama diri lo sendiri, lakukan apa yang bikin lo bahagia. " Ucap Julian kemudian menyeka sisa air mata di pipi Deana.


" Eh... "


" Lo tahu kan kalau kalian itu sahabat-sahabat gue yang paling berharga. Lo, Momo, Renata dan Amira. Gue akan lakukan apapun supaya sahabat-sahabat cantik gue bahagia. " Lanjutnya lagi sebelum Deana mengucapkan apapun dari mulutnya.


DEG...


Lagi-lagi ucapan Julian menimbulkan getaran aneh di hati Deana.


" Lebih baik lo cuci muka dulu. " Sambung Julian lagi dengan tersenyum penuh arti.


" Kenapa ? " Senyuman aneh Julian membuat Deana bertanya-tanya.


" Mata lo ada beleknya... " Ucap Julian kemudian tergelak.


Deana reflek mengusap kedua matanya dengan jarinya, mencoba membersihkan apa saja yang menempel disana. Namun nihil, tidak ada kotoran apapun di mata Deana seperti yang dikatakan Julian.


" Hehehe.... Becanda, lo mau Momo bertanya-tanya kenapa mata lo sembab kayak gitu ? "


Aaahhh... Gue dikerjain.


" Ihh.... Dasar lo kampret nyebelin.... " Deana merasa dikerjai memborbardir tubuh Julian dengan pukulan.


" Hehehehe.... Ampun deh, udah sono pergi ke kamar mandi. " Ucap pemuda itu mengacak rambut Deana dan kembudian membalikkan tubuh gadis itu dan mendorongnya agar segera pergi.


" Cih... Awas lo Julian... " Gerutu Deana kesal, meninggalkan Julian sembari merapikan rambutnya dengan jari.


Julian kembali menjatuhkan badannya di kursi, menatap ke atas dan menutup matanya dengan lengan kirinya. Mencoba mencari ketenangan dari keheningan yang ada.


Seseorang mengamati interaksi kedua sahabat itu dengan tatapan yang sulit diartikan, namun tampak sebuah senyuman tersungging di wajah itu.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Diwaktu yang sama saat terjadi pertengkaran antara Deana dan Selena.


Renata yang merasa gelisah mencoba mencari keberadaan Deana yang tadi sempat mengatakan akan ke dapur untuk minum.


Namun setelah cukup lama Deana tak juga kembali ke kamarnya. Renata beranjak dari ranjang meninggalkan Amira yang sedang sholat, berjalan cepat menuju lift langsung menuju lantai satu.


Pintu lift berada di sisi luar villa, membuat Renata harus melewati kolam renang untuk menuju dapur. Saat hendak masuk, di sisi kanan villa manik mata Renata menangkap sosok pemuda yang sangat dikenalnya.


Di sudut taman, seorang pemuda tengah duduk dalam diam. Kepalanya menengadah menatap langit sore yang terlihat begitu cerah.


Namun birunya langit yang indah itu benar-benar berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang tengah mendung.


Dimas sedang menatap langit dengan tatapan kosong, hatinya hampa dan sudut relung hatinya terasa tersayat.


Sudah hampir satu jam pemuda yang menginjak berusia 23 tahun itu duduk dalam keheningan. Dimas sedang mencoba meyakinkan dirinya jika dia tak layak untuk kecewa.


Moza hanyalah sahabatnya, dirinya sudah berjanji untuk tidak lagi mengharapkan cinta gadis itu.


Bahkan Dimas sangat mengharapkan kebahagiaan dalam hidup gadis yang sangat dicintainya itu, meskipun kebahagiaan itu tidak bersamanya.


Sakit ? Tentu saja hatinya sakit, bahkan sangat sakit.

__ADS_1


Siapa yang tidak ingin bersama dengan orang yang dicintainya, seseorang yang sudah membuat seluruh pandangan matanya hanya tertuju pada orang tersebut.


Memenuhi hati dan pikirannya dengan wajah dan juga bayangan gadis itu. Namun kini harapannya benar-benar sudah terkikis habis oleh satu pernyataan dari pria lain yang mengatakan jika gadis itu miliknya.


Dimas tak bisa lagi berharap, dan tidak boleh berharap. Melihat senyum Moza setiap kali bersama Hega, meyakinkan dirinya jika gadis itu memang bukanlah takdirnya.


Selama beberapa tahun bersahabat, untuk pertama kalinya dilihatnya gadis yang menempati hatinya selama lebih dari dua tahun ini tampak bahagia.


Senyum merekah dan binar bahagia di manik mata Moza hanya tertuju pada satu pria, Hega Airsyana.


" Ekhem... " Suara Renata memutus rangkaian lamunan Dimas.


Pemuda itu menoleh sekilas, " Sejak kapan lo disitu ? "


Renata duduk di kursi yang ada di samping kursi yang diduduki Dimas, " Emmm... Sejak seseorang terlihat akan menangis dan terus menghela nafasnya seolah langit yang dipandangnya seakan mau jatuh menimpa dirinya. " Jawab Renata diselingi senyum jahilnya.


" Siapa yang mau nangis ? Lo kebanyakan nonton drakor. " Elak Dimas.


" Hihihi.... Iya juga kali. Mana mungkin seorang Dimas Prasetya yang hebat ini menangis, ya kan ?! " Cibir Renata seraya meninju pelan lengan Dimas.


Membuat keduanya tertawa bersama.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


" Cinta dan persahabatan bukanlah sebuah pilihan. Kita bisa memiliki atau bahkan kehilangan keduanya secara bersamaan. Kerana cinta yang benar akan mempererat persahabatan, aedangkan cinta yang salah justru akan menghancurkan persahabatan. "


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


...Jangan pelit like comment dan Vote ya....


...Semangat para author ada karena dukungan kalian...


...๐Ÿ’ฎ...


...All the authors whose works you read...


...Please appreciate their efforts...


...Please support us......


...๐Ÿ’š...


...Like...


...โค...


...Comment...


...๐Ÿ’œ...


...Vote ๐Ÿ˜˜...


...๐Ÿงก...


...Follow Author ya ๐Ÿ˜˜...


...๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ...

__ADS_1


__ADS_2