Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Sampai Kapanpun Tidak Akan Melepaskan Putri Om !!! ( End ??! )


__ADS_3

AUTHOR


Pertanyaan Moza membuat hati Hega mencelos seketika. Matanya terbelalak, menatap lekat ke arah gadis yang masih duduk dengan tenang di ranjang.


Memastikan memang suara itu berasal dari gadis itu.


Dilihatnya mata kecoklatan Moza tengah menatap heran dan penuh tanda tanya bergantian ke arah dirinya, wanita di pelukannya dan juga pada pria yang masih berdiri di ambang pintu, yaitu Ayah dari Arka.


Hega yang sempat lupa alasan keberadaannya di sini mulai mengumpulkan kembali kesadarannya.


Apa tujuannya datang kesini ?


Apakah dia masuk ke ruangan yang salah ?


Bagaimana Moza bisa ada di ruangan itu ?


Apa yang terjadi pada gadis itu ?


Darimana datangnya luka-luka di wajah dan lengan Moza ?


Bagaimana Hega bisa fokus jika saat memasuki ruangan dengan pikiran gelisah, dia justru mendapati gadis yang sangat dicintainya ada di ruangan itu.


Dan lebih buruknya dengan kondisi yang terbilang sangat membuatnya syok dan khawatir.


Bagaimana tidak khawatir, gadis yang tidak dilihatnya selama satu minggu ini, gadis yang sangat dicintainya dan selalu ingin dia lindungi.


Didapatinya dalam kondisi yang tidak baik, ada luka memar dan baret di wajah cantiknya dan beberapa goresan di lengannya. Belum lagi jarum infus yang terpasang di salah satu pergelangan tangan putihnya.


Apalagi tadi sempat dilihatnya Moza tengah berjalan tertatih-tatih yang membuatnya yakin jika ada luka di bagian tubuh gadis itu yang tak terlihat olehnya.


Tapi saat mendengar gadisnya menyebut wanita paruh baya yang ada di pelukannya dengan sebutan bunda, Hega mulai kembali pada kesadaran dirinya sepenuhnya.


Mencerna satu per satu situasi yang tengah terjadi. Otaknya berputar berfikir dengan cepat.


Memasang kembali kepingan-kepingan kejadian yang sepertinya terlewatkan dari perhatiannya.


" Apa kamu baik-baik saja selama ini Nak ? "


Kesadaran Hega sepenuhnya kembali saat mendengar wanita di hadapannya menanyakan keadaannya. Seolah kepingan terakhir dari puzzle yang berantakan ini sudah terpasang di tempat yang seharusnya.


" Saya baik dan sehat. " Jawab Hega sambil tersenyum.


" Bolehkah saya menanyakan sesuatu ? " Hega menyusun kalimatnya, ada gurat keraguan saat ingin mencari tahu kebenaran yang muncul di kepalanya.


Meyakinkan dirinya sendiri agar siap jika jawaban yang dia dapat mungkin tidak sesuai dugaannya.


" Tentu saja. " Jawab wanita lembut.


" Apa Moza adalah....? " Hega tak mampu menyelesaikan kalimatnya seolah belum siap jika ternyata jawaban yang akan keluar dari mulut wanita paruh baya itu tak sesuai dengan harapannya.


Bunda Ayu langsung mengerti kemana arah pertanyaan pemuda itu.


" Dia adik Hyuza. Ah maaf, kamu selalu memanggilnya Arka selama kalian bersama. "


Wanita itu menjawab dengan nada sendu, seperti itulah yang selalu terjadi setiap kali menyebut nama putra sulungnya yang sudah tiada itu, sembari menyeka air matanya dan berusaha tersenyum.


Deg . . .


" Jadi... "


Hega tak tahu apalagi yang akan dikatakannya, bibirnya kelu, tenggorokannya terasa tercekat. Kedua tangannya yang tadi berada di bahu wanita itu langsung lunglai, terjatuh di kanan dan kiri badannya.


" Iya, dialah gadis yang dijodohkan denganmu, tunanganmu. " Suara sang kakek menyela dari arah pintu.


Hega mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara, sang kakek sudah memasuki ruangan.


Tatapan Hega seolah meminta kepastian jika dia tidak salah dengar, dan apa yang baru saja diucapkan kakeknya bukanlah candaan.

__ADS_1


Pria tua itu mengangguk dan tersenyum datar, begitu pula saat Hega bergantian menatap ke arah Ayah Ardi dan Bunda Ayu.


Mereka menjawab tatapan mata pemuda itu dengan cara yang sama, sebuah anggukan disertai senyum untuk meyakinkan pemuda itu jika apa yang didengarnya adalah kebenaran.


Semburat rasa bahagia dan juga tak percaya terpasang jelas di wajah pemuda itu, bahkan Bara yang tengah ada di samping kakek Surya pun mulutnya menganga tak percaya.


Hah.... Udah macam drama televisi nih kisah cinta lo Ga. Berbulan-bulan lo udah kayak orang gila karena patah hati.


Elah.... Ternyata tunangan lo itu si gadis singa, cewek yang udah bikin lo udah macam monster beruang kutub yang siap mengamuk kapan saja.


Bara menepuk jidatnya speechless, kemudian mengusap wajahnya dengan telapak tangannya dan menghembuskan nafas lega mendapati kebahagiaan sahabatnya itu sudah ada di depan mata.


Sedangkan apa yang dirasakan Hega sudah pasti adalah rasa bahagia yang tak bisa diutarakannya. Hatinya terasa mau meledak begitu senangnya, Hega berjalan lagi mendekat ke arah ranjang.


Baru saja ingin memeluk lagi gadisnya, sang kakek kembali bersuara, kali ini kalimat pria tua tersebut bagaikan lemparkan bom yang meledak tepat di hadapannya.


" Bukankah kamu ingin membatalkan perjodohanmu ?! "


Duar.....


Semua mata kembali tercengang dengan kalimat Kakek Suryatama, dan menatap ke arah Hega menuntut penjelasan.


" Jadi karena kamu sudah bertemu dengan tunanganmu dan orang tuanya, maka seperti yang kakek katakan. Memohonlah sendiri pada mereka jika kamu tidak menginginkan perjodohan ini. " Lanjut Kakek Suryatama dengan nada datar namun terasa mengintimidasi.


Glek.....


Hega seperti mendapat tamparan keras di wajahnya, kedua tangannya yang tadinya ingin memeluk Moza masih mengambang diudara.


Dia menelah salivanya, seperti kehilangan kata-kata. Dan lebih menyebalkan adalah saat ini kerja hati dan perasaannya tengah mendominasi dirinya, sehingga kerja otak dan logikanya melemah seketika.


Saat dimana seharusnya dia bisa memikirkan dengan cepat kalimat untuk menyanggah ucapan sang kakek yang terdengar memojokkan dirinya.


Tapi kebahagiaan mendapati jika ternyata gadis yang dijodohkan dengannya adalah gadis yang dicintainya, membuat pemuda itu diselimuti rasa bahagia yang luar biasa.


Dengan satu gerakan, segera direngkuhnya gadis di hadapannya tanpa memperdulikan tatapan mata semua orang yang ada di sana. Gadis itu malah masih terbengong saja seolah belum memahami situasi yang dihadapinya.


" Apa kakek kakek ?! Jangan bilang kamu berubah pikiran dan mendadak setuju dengan perjodohan yang kamu tolak mati-matian selama ini setelah melihat tunanganmu yang cantik itu. "


Kakek Suryatama masih terus menjahili cucunya menunjuk ke arah Moza dengan ekor matanya, dengan tetap mempertahankan intonasi datar di nada suaranya, sesekali tersenyum sinis pada cucunya itu.


Bara terkikik di samping kakek Suryatama, meledek sahabatnya dalam hati.


Rasakan lo Ga dikerjain sama kakek lo sendiri. Kapan lagi lihat ekpresi teraniaya di wajah jutek lo itu. Hahahaha.....


" Apa selama ini Kakek sudah tahu kalau.... ? " Tanya Hega curiga.


" Tidak, kakek baru tahu beberapa jam yang lalu. " Jawab Kakek Suryatama yang sudah duduk santai di sofa single yang ada di ruangan itu.


Diikuti oleh Ayah Ardi dan Bara, serta Aryatama yang baru saja datang bergabung di ruangan itu, sedangkan Paman Ben berdiri di sisi sofa sang kakek.


" Ada apa ini Om Surya ? Apa yang terjadi sebenarnya ?! Apa benar Hega tidak menginginkan perjodohan ini dan ingin membatalkannya ?! " Tanya Ayah Moza pada kakek Suryatama.


" Tentu saja tidak Om Ardi, ini salah paham. " Justru Hega yang menyambar saja seperti petir padahal bukan dirinya yang sedang ditanya.


Akhirnya Hega menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, mulai dari perasaannya pada Moza dan hubungannya dengan gadis itu yang terpaksa harus berakhir karena berita perjodohannya.


Hingga dirinya yang memutuskan untuk tetap mempertahankan dan memperjuangkan cintanya pada Moza.


Ayah Ardi dan Bunda Ayu mendengarkan apa yang terjadi hanya bisa menghela nafas dalam dan geleng-geleng kepala.


" Jadi apa kamu masih ingin membatalkan perjodohanmu dengan putri Om ? " Giliran Ayah Ardi yang menjahili pemuda itu.


" Pft. " Reflek Bara nyaris tak bisa menahan tawanya membuat dirinya mendapat pelototan dari sahabatnya.


" Tentu saja tidak Om. Sampai kapanpun Hega tidak akan melepaskan putri Om. " Ujar Hega masih mendekap posesif gadis itu dalam pelukannya, dahinya berkerut dan tatapan mata elangnya seolah mengatakan,


Akan kulawan siapa saja yang berani memisahkan kami !!!

__ADS_1


" Hahahhaa..... " Gelak tawa memenuhi ruangan menjadi saksi kekonyolan tingkah seorang Hega.


Pemuda yang selalu bisa bersikap cool dalam situasi apapun. Tapi mendadak berubah bersikap sangat manis jika sudah berkaitan dengan gadis yang masih menempel erat di pelukannya.


Hah.... Apakah ini tanda-tanda tumbuhnya kebucinan yang hakiki dari seorang pria yang selama ini selalu dingin, cuek dan jutek seperti Hega ?!


Sedangkan Moza yang hanya bisa pasrah dan mendengarkan saja semua pembicaraan yang terjadi di ruangan itu. Jantungnya berdegup kencang dan hatinya berdebar-debar tak karuan, sangat bahagia.


Wajah putihnya berulang kali merona merah setiap mendengar ucapan pemuda yang masih tampak tak rela melepaskan tubuh gadis itu dari pelukannya.


Terima kasih kak, atas cintamu yang begitu besar untukku.


Aku juga sangat mencintaimu, aku juga tak akan melepaskan kakak lagi.


Mulai saat ini aku tidak akan lari lagi


Apapun yang terjadi


Aku juga akan berjuang bersamamu.


Untukku, untukmu dan untuk kita.


Batin Moza sembari tersenyum dalam dekapan pria yang dicintainya, membalas pelukan Hega dengan satu tangannya.




( End Story ???! )




➡️ Semoga bisa lanjut sesion 2 jika banyak peminatnya 😚🤗🙊


🌟


🌟


🍁🍁🍁



🍁🍁🍁


Terima kasih untuk dukungannya selama ini ya teman-teman.


Tanpa like dan komentar kalian aku pasti udah lama down dan menyerah untuk melanjutkan tulisan akuh.


💝 SPESIAL THANKS untuk para Pembaca yang sudah VOTE HEGA & MOZA yah... 😍😘🤗


Salam penuh rasa TERIMA KASIH dari Akuh


SHERINANTA author PRESDIR JUTEK, JODOHKU DARI SURGA.....😘😘🤗🤗


💙💚💛🧡💜❤💙💚💛🧡💜❤


Terima kasih yang masih setia membaca kisah HEGA dan MOZA 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...


✔ LIKE 👍


✔ COMMENT ✍💌

__ADS_1


✔ VOTE 💱💲 yah 💋💋💋


__ADS_2