Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Seserahan Lamaran dan Pernikahan


__ADS_3

AUTHOR


~ Ruang Presdir ~


Wajah tampan Hega tampak serius saat Bara memasuki ruangan sahabat sekaligus boss nya itu.


" Heh, calon penganten wajahnya kecut amat lo, Ga. " Celetuknya kesal saat mendapati ekspresi horor pria yang akan melepas masa lajangnya beberapa hari lagi itu.


Tanpa permisi Bara mengambil sebotol air mineral di lemari pendingin dan menghempaskan badannya di sofa.


" Jangan gangguin gue, Bar ! " Melirik sekilas ke arah pria minim sopan santun itu.


" Kalo lo kesini cuma buat bahas yang gak penting mending lo minggat sana jauh-jauh ! " Sambungnya.


" Widiih, galak amat. Gue capek baru balik juga dari L.A bukannya disambut tangis haru malah dapet wajah angker lo itu. " Omel Bara dengan wajah kesal yang dibuat-buat sembari membuka tutup botol air dingin di tangannya dan meneguknya hingga tandas.


Tidak terdengar sahutan dari pria yang tengah duduk di kursi kebesarannya itu, membuat Bara semakin tergelitik untuk mengganggu ketenangan sahabatnya yang tengah dalam mode bigboss itu.


" Lo gak kangen apa lama gak ketemu temen lo yang super ganteng ini, huh ?! " Sambungnya narsis.


" Najis. Pergi lo, Bar ! Jangan ganguin gue ! " Hega memaki Bara tanpa melirik sedikitpun ke arah pria yang tengah bersantai di sofa.


Presdir muda itu tengah fokus mengerjakan semua pekerjaannya, sengaja lembur beberapa hari ini agar dapat mengambil cuti panjang untuk bulan madu setelah acara pernikahannya.


" Hish, emang napa lagi sih ? Bukannya bentar lagi lo bakal kawin. . . auwh. . . Sialan lo, Ga ! " Bara mengumpat dengan telapak tangan mengelus kepalanya.


Seperti biasa pasti akan ada adegan benda terbang yang mendarat mulus di salah satu bagian tubuh Bara jika pria itu bersikap menjengkelkan di mata Hega.


" Nikah, Bar, bukan kawin. Lo kira gue kambing apa kawin ?! " Protes Hega mau tidak mau menatap ke arah pria yang memang satu minggu ini pergi untuk mengecek perusahaan Hega di L.A itu.


Dan terima kasih untuk loyalitas sahabatnya itu, karena berkat Bara yang mewakilinya memantau perusahaan pribadinya di L.A itu, Hega jadi tidak perlu repot-repot berangkat kesana.


" Hahaha. . . Ujung-ujungnya kawin juga kali. "


Seolah tidak pernah lelah Bara mengganggu sahabatnya itu, bahkan mungkin bagi Bara hidup itu terasa hambar jika tidak melihat wajah jengkel di wajah pria yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama.


Meskipun untuk itu, Bara harus merelakan salah satu dari bagian tubuhnya yang akan menjadi korban amukan sang sahabat.


" Sialan ! Males gue ngeladenin lo. Pergi sana ! "


Hega memang dua hari ini tengah uring-uringan gak jelas karena tidak berhasil menggagalkan acara pingitan dan terpaksa berpisah untuk sementara waktu dengan kekasihnya.


Ditambah lagi sang calon ibu mertua melarang dirinya menghubungi sang calon istri melalui video call. Dan untuk mengobati kerinduannya, Hega hanya bisa menelepon sang pujaan hati lewat panggilan suara biasa, itupun dengan diawasi oleh sang mertua dengan sangat ketat.


Yah, pria serba bisa dan multitalenta, pengusaha muda yang sukses dan berkuasa itu nyatanya harus tunduk pada aturan sang ibu mertua.


Jika saja dirinya tidak dalam tahap bucin parah pada gadis cantik putri wanita berhijab itu, mungkin Hega sudah mengabaikan segala larangan yang dibuat ibu kandung dari sang gadis.


Nyatanya demi mendapat restu sepenuhnya dari sang ibu mertua, dan memiliki sang putri dengan seutuhnya, Hega harus menahan diri selama satu minggu yang dirasakannya sudah seperti satu tahun.


SUNGGUH MENYIKSA, itulah yang dirasakannya saat ini.


Aaahhh. . . Aku merindukan wajah cantik itu.


Satu kalimat yang entah sudah berapa ratus kali digumamkan Hega selama dua hari ini sudah bagaikan merapal sebuah matra.


Untung saja sebelum berpisah, gadis cantiknya itu sedikit mengobati kekecewaannya dengan memberikan vitamin padanya sebelum pergi, meskipun dalam dosis kecil yang jauh sekali dari keinginannya.


~ Flashback ~


Hega kembali mengikuti kekasihnya ke dalam kamar, mengamati sang kekasih yang terlihat sedang memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas kecilnya.


Hega bersandar di ambang pintu dengan kedua tangan tersembunyi di dalam saku celana kain berwarna putihnya.


Setelah memakai tas selempang mininya, Moza berjalan mendekat ke arah pemuda yang sedari tadi menatapnya dalam diam.


" Kak, aku pamit ya ?! " Ucapnya saat berada tepat di hadapan pemuda itu.


" Hem. "

__ADS_1


Gadis itu tersenyum cantik, dengan lembut meraih kedua pipi Hega dengan telapak tangannya. Mengusapnya perlahan dan kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher calon suaminya.


C U P . . .


Sebuah kecupan singkat mendarat di pipi kanan Hega, membuat pemuda tampan itu luluh dan dengan perlakuan manis kekasihnya yang tiba-tiba itu.


Suatu keajaiban gadisnya mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk melakukan skinship.


Moza yang malu dengan perbuatannya sendiri langsung memeluk Hega dan membenamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya.


" Aku akan menunggumu, kak. Sampai ketemu lagi di acara pernikahan kita. " Ucapnya lembut.


" Hem. Baik-baik di rumah bunda ! Jangan nakal ! " Balas Hega jahil sambil mengusap lembut rambut panjang Moza dan menghirup wangi strawberry di pucuk kepala gadisnya itu.


" Eum. . . " Moza hanya bedehem dan mengangguk menjawab ucapan sang kekasih, kemudian mengeratkan pelukannya pada tubuh kekar calon suami yang tidak akan dilihatnya selama seminggu ini.


~ Flashback End ~


Sebuah kecupan singkat di pipi kanan, namun tetap mampu menjadi obat penawar rindu untuknya. Meskipun pemuda itu hanya bisa mengusap pipi kanannya sembari membayangkan wajah cantik yang dirindukannya itu.


Tanpa sadar pemuda dibalik meja kerjanya terus terus saja menyunggingkan senyuman yang jika para kaum hawa melihatnya sudah dipastikan akan membuat para wanita itu lumer seketika dan semakin tergila-gila pada pria tampan itu.


Dengan wajah jutek dan dingin saja banyak yang suka, bagaimana jika mereka melihat sisi manis seorang Hega Saint.


Tapi tidak bagi Bara, senyuman sahabatnya itu justru tampak mengerikan baginya, membuat bulu kuduknya merinding seketika.


" Lo mending pasang wajah jutek aja deh, Ga. " Umpat Bara sembari bergidik melihat ekspresi khas orang yang sedang kasmaran di wajah pria berjas abu-abu itu.


Sedangkan orang yang dimaksud hanya menautkan kedua alisnya tampak tidak memahami maksud ucapan sahabatnya.


" Liat senyum lo itu lebih nyeremin ketimbang liat muka jutek nyebelin lo itu. " Sambung Bara.


" Siyalah. Pergi sana, Bar ! Makin pusing gue dengerin ocehan lo. " Dan lagi-lagi sebuah benda terbang ke arah Bara, namun kali ini pria itu bisa dengan sigap menghindari benda itu agar tidak mendarat di salah satu bagian tubuhnya.


" Cih. . . Calon pengantin yang lagi dipingit sensian amat dah. Hahaha. . . " Bara tergelak karena berhasil membuat manusia jutek itu semakin kesal.


Bara sendiri tahu soal pingitan itu dari asisten Hega, siapa lagi kalau bukan Julian Adiputra.


" Kalau kangen kenapa gak lo datengin aja sih, Ga ?! Pakai alasan apa gitu. " Saran Bara yang tahu alasan di balik kebetean sahabatnya.


" Ck. . . Lo pikir gue gak puter otak apa selama dua hari ini buat cari alasan yang logis buat kesana ?! "


" Hahaha. . . Bertekuk lutut nih ceritannya sama calon ibu mertua ?! " Kembali Bara tergelak tanpa akhlak mentertawakan kegalauan sahabatnya.


" Haish, lo tahu kan bunda itu bukan sekedar calon ibu mertua gue, Bar. " Ucap Hega dengan wajah dan nada super serius.


Bara yang mengerti kemana arah pembicaraan sahabat karibnya itu hanya bisa manggut-manggut setuju. Memang nyatanya hubungan antara sang sahabat dengan wanita bernama Ayu Puspita Dama itu lebih erat daripada sekedar hubungan mertua dan menantu.


Sejak kecil Hega memang sudah dekat dengan ibu dari calon istrinya itu. Bahkan jauh sebelum lahir gadis cantik bernama Moza Artana dari rahim wanita paruh baya itu.


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


Hega kaluar dari mobilnya tanpa semangat setelah mengakhiri panggilan telepon beberapa menit yang lalu.


Semangatnya merosot tajam karena belum puas melepas rindu.


Dua hari tanpa melihat wajah sang calon istri, dan hanya bisa mendengar suaranya dari sambungan telepon, itupun dengan waktu yang dibatasi oleh sang ibu mertua.


Pamali katanya kalau kelamaan ngobrol saat dipingit, haish entah itu benar apa tidak, sebagai anak yang baik sepasang kekasih itu hanya bisa menurut saja pangaturan sang bunda.


( Momo sayang, ayo tutup dulu telponnya ! Itu orang salonnya sudah datang buat perawatan kulit dan tubuh kamu. )


Suara Ayu menggelegar dari ambang pintu saat mendapati sang putri malah asyik ngobrol dengan calon suaminya padahal beberapa orang dari salon perawatan khusus pengantin yang sengaja didatangkan Ayu ke rumah sudah datang dari setengah jam yang lalu.


( Kak, kita lanjutkan nanti ya. Aku harus pergi dulu sebentar. Dagh. . . )

__ADS_1


" Mo, tunggu jangan ditutup dulu ! Mo. "


Tut tut tut


Dan begitulah selama dua hari berlalu ada saja interupsi yang muncul dari sang bunda untuk menjeda obrolan pelepas rindu kedua calon pengantin itu. Padahal tadi keduanya baru saja berbincang sekitar 5 menit.


Hega memasuki rumah utama dengan wajah lemah letih leyu loyo, dua hari ini benar-benar hari yang berat untuknya.


" Ada apa dengan wajah kusutmu itu ?! " Tanya Arya yang ternyata sedang berada di rumah utama.


" Ah, papa disini. "


Memang setelah mengakhiri telepon Hega langsung masuk saja ke rumah tanpa memperhatikan sekitarnya hingga tidak menyadari beberapa anggota keluarga tampak berkumpul di ruang keluarga.


Hega duduk di salah satu sofa dan tersenyum seadanya pada beberapa orang yang dia sendiri tidak hafal siapa mereka.


Yang dia tahu hanya wajah-wajah itu beberapa kali dilihatnya di beberapa acara keluarga besar.


" Ada apa ini ? " Tanyanya kemudian saat melihat banyak barang tertata rapi di meja dan beberapa di lantai beralas permadani itu.


Beberapa tas branded, sepatu dan high heels , setelan baju, make up dan peralatan mandi, serta banyak benda keperluan wanita. Tidak lupa beberapa perhiasan dan aksesoris wanita dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Dengan jumlah yang tidak sedikit yang ditaksir harganya bisa mencapai puluhan milyar itu.


" Ini barang-barang untuk acara lamaran kamu dan seserahan saat ijab kabul, nak. " Jawab Rasti sembari menunjukkan beberapa barang yang tengah dihias oleh beberapa orang kepercayaan ibu sambungnya itu.


" Bagaimana ? Apa kamu suka ? Maaf kalau Mami memilih sesuai selera Mami, tapi Mami memilih yang pasti cocok untuk Moza kok. Dan semuanya juga Mami sempat diskusikan dengan calon istri dan mertua mu lewat telpon. " Sambung Rasti sedikit cemas jika barang-barang yang disiapkannya tidak sesuai standart putra tirinya itu.


" Ah, iya. Tidak apa-apa, Mi. Hega juga tidak mengerti urusan begituan. " Jawab Hega dengan tersenyum tipis, apalagi Hega tahu betul jika calon istrinya bukan perempuan yang rewel untuk urusan begituan.


Lagipula jika ada yang tidak cocok atau tidak disukai Moza, Hega bisa membelikannya lagi nanti setelah mereka menikah.


" Ah, iya. Itu di kamar kamu, tadi Mami sudah minta bibi untuk membawa kemeja batik yang akan kamu pakai besok. "


Kening pemuda itu mengerut, " Batik ?! "


" Iya batik, kamu tidak lupa kan kalau besok kita berangkat ke rumah Moza untuk acara lamaran, hem ? Ah. . . Atau malah kamu belum tahu ?! " Ujar Rasti seraya mengingat kembali apakah dirinya sudah membahas hal itu dengan putranya atau belum.


" Lamaran ?! " Alis Hega sedikit terangkat pertanda memang dirinya tidak tahu apa-apa tentang hal ini.


Sontak saja Rasti menepuk sendiri keningnya karena keteledorannya, " Aduh, maaf. Sepertinya Mami yang lupa mengatakannya karena terlalu sibuk mempersiapkan ini dan itu. "


" Kalian berdua kan belum melaksanakan lamaran secara adat, jadi besok pagi kita berangkat. Karena acaranya jam satu siang selepas dzuhur. Iya kan Pa ?! " Tanyanya memastikan kembali waktu lamaran yang sudah disepakai suaminya itu dengan ayah dari pihak pengantin wanita.


" Hem. " Aryatama hanya mengangguk saja sembari mengelus kepala putrinya yang tertidur di pangkuannya.


Wajah masam Hega seketika berubah cerah " Jadi besok Hega bisa ketemu Momo dong, Mih ?! " Tanyanya antusias.


" Hahaha. . . Calon penganten ini ternyata udah kangen berat sama calon istrinya. " Suryatama yang sedari tadi hanya diam mengamati akhirnya tergelak juga mendengar pertanyaan sang cucu yang tengah memasang wajah polos itu.


" Mih. " Hega tak menggubris cibiran sang kakek dan kembali menatap ibu sambungnya.


" Iya, tapi kalian cuma akan bertemu sebentar di acara lamaran loh. Habis itu kita pulang lagi kesini untuk persiapan pesta pernikahan. " Ujar Rasti.


" Nggak papa Mi, yang penting Hega bisa lihat Momo walaupun hanya sebentar. "


" Ya sudah, kamu istirahat sana agar besok bisa lebih segar wajahnya enggak kusut begitu. Masa mau lamaran wajahnya kusem, nanti kalau lamarannya ditolak karena kamu gak ganteng lagi gimana ?! " Rasti menepuk lengan Hega dan mendorong punggung pemuda itu agar segera naik ke kamarnya untuk beristirahat.


" Cih. . . Mau diapain juga wajah Hega akan tetap tampan Mih. " Lirih Hega sangat kecil hingga hanya Rasti saja yang bisa mendengarnya.


" Iya, Mami tahu anak mami ini paling ganteng. Sudah sana mandi dan istirahat. " Balas istri kedua sang papa itu.


" Iya, Mi. Terima kasih ya, Mi. "


" Pah, Kek. Hega naik dulu. " Kedua pria berbeda generasi itu mengangguk pelan.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_1


⚘Akhirnya chapter kemarin muncul juga manusianya, akuh sempet khawatir loh yg pencet jempol itu ghoib semua. Hahaha


Lumayan lah delapan biji yang terbukti manusia sungguhan. Yang lainnya masih belum ketahuan makhluk apaan 😁😁😁 (canda ya sayang, jangan marah πŸ˜‰πŸ˜˜)


__ADS_2