
AUTHOR
Alina menatap Moza dengan tatapan memprovokasi, seolah yakin jika dirinya akan bisa mengalahkan gadis di hadapannya dalam hal memperebutkan cinta seorang Hega Airsyana Saint.
Sepertinya dugaan Moza ada benarnya, gadis yang tengah menatapnya dengan sengit itu sangat terobsesi dengan pria yang akan menjadi suaminya.
Sebenarnya Moza malas berurusan dengan hal seperti ini, pertengkaran sesama wanita karena seorang pria benar-benar hal yang memalukan baginya.
Itulah kenapa selama ini juga Moza enggan berdekatan dengan lawan jenisnya. Terutama dengan para pria yang populer di kalangan kaum hawa dan kedekatan itu bisa memancing komentar julid tentangnya.
Moza tidak mau berurusan dengan para wanita yang akan menganggapnya memanfaatkan fisiknya untuk dekat dengan seorang pria, yang justru para pria itulah yang selama ini berusaha mendekati dan mengejarnya. Meskipun selalu dihindari dan ditolak oleh Moza.
Dan siapa sangka kini dirinya terpaksa terjebak dalam situasi yang diluar keinginannya ini.
Jelas ada wanita yang menginginkan kekasihnya, dan wanita itu sedang duduk di hadapannya, menatap dirinya dengan tatapan yang seolah mengatakan,
Menyerah saja, kamu tidak akan bisa menandingiku, hanya aku yang pantas menjadi pendampingnya.
Moza memijat celah diantara kedua alisnya, mendengus pelan merutuki nasib yang membawanya dalam situasi yang menyebalkan baginya. Ingin rasanya Moza berteriak dengan keras, " Ambil saja jika kamu bisa ! "
Haish.... Tapi Moza punya harga diri tinggi serta logika yang bekerja dengan sangat baik untuk tidak mengatakan hal mengerikan seperti itu pada wanita yang terlihat tergila-gila pada Hega, kekasihnya.
Aaaa.... Kenapa aku harus berurusan dengan pemuja kakak si ? Kenapa juga aku bisa terjebak dalam situasi menyebalkan seperti ini, orang akan melihat kami sebagai dua wanita yang sedang berseteru memperebutkan pria. Ish....Sungguh memalukan...
Batin Moza menggerutu kesal, tapi ekspresi wajahnya tetap terlihat datar dan tenang.
Moza membalas tatapan sengit Alina dengan tersenyum, " Kak Alina terlalu cantik untuk menjadi orang ketiga. Untuk apa melakukan sesuatu yang sudah jelas hasilnya. " Ucap Moza datar.
" Maksudmu ? " Kening Alina mengerut bingung, menuntut penjelasan atas kalimat ambigu Moza.
Moza tidak langsung menjawab karena pelayan datang mengantar pesanannya, Moza mengangguk sopan dan berterima kasih pada pelayan wanita tersebut. Sedetik kemudian kembali menatap wanita yang terlihat jelas sedang menunggu penjelasannya.
" Mau bagaimanapun usaha kak Alina mendekatinya, itu akan percuma. Lebih baik kakak menggunakan waktu kakak untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna. Masih banyak cinta lain yang mungkin menunggu kak Alina entah dimana. Yang jelas pria itu bukan kak Hega. " Ucap Moza dengan santai namun entah mengapa suaranya seolah terasa mengintimidasi Alina.
" Ck.... Kamu terlalu percaya diri. " Decak Alina sembari tersenyum sinis.
Sekali lagi Moza masih menanggapinya dengan senyum, " Terima kasih. "
Alina tampak mulai geram melihat respon Moza yang biasa-biasa saja bahkan terkesan santai dan tidak terlihat tertekan sama sekali.
Bagaimana bisa gadis itu tetap terlihat tenang dalam situasi seperti ini ?
Wanita mana yang masih bisa terlihat biasa saja padahal ada seorang wanita yang barusaja mengatakan akan merebut kekasihnya ?
Alina yang mulai gusar dengan sikap tenang wanita yang dianggapnya saingan cintanya itu mulai melancarkan kembali serangannya.
" Memangnya sebesar apa perasaanmu pada Kak Hega ? Aku yakin tidak lebih besar dari cintaku untuknya. " Ucap Alina penuh percaya diri.
Lagi-lagi Moza menanggapi ucapan Alina dengan tersenyum, Moza sudah mulai lelah dengan pembicaraan yang terasa membuang waktunya itu.
Moza menghela nafas perlahan memajukan badannya dan meminum orange juice pesanannya.
__ADS_1
" Aku tidak pernah mengukur seberapa besar perasaanku untuknya, karena bagiku cinta bukan untuk diukur atau diperbandingkan. " Jawabnya santai seraya memainkan sedotan dan mengaduk juice miliknya.
Alina tersenyum menang mendengar jawaban Moza yang terdengar asal di telinganya, merasa yakin jika dirinya lebih mencintai Hega.
Namun senyum di bibir Alina perlahan memudar saat mendengar Moza kembali bersuara.
Senyum tipis tersungging di bibir Moza saat melihat ekspresi Alina.
" Tapi yang aku tahu hanyalah aku tidak bisa mencintai orang lain jika orang itu bukan dia. " Ucap Moza melanjutkan kalimatnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Ba-bagaimana bisa mereka mengatakan kalimat yang hampir serupa maknanya dengan ekspresi wajah yang sama ?!
Alina sekejap merasa kepercayaan dirinya tiba-tiba surut, wanita cantik itu beringsut di kursinya, gemetar dan menggigit-gigit bibirnya dengan ekspresi gusar.
β’
β’
~ Flashback ~
Di villa saat liburan tahun baru.
" Bicaralah, waktumu hanya 5 menit. " Ucap Hega dingin, memunggungi Alina dan tidak berniat sedikitpun melihat ke arah gadis itu.
" Kak, tidak adakah kesempatan untukku ? Kakak tahu kan selama ini aku terus mengejarmu karena aku begitu mencintaimu. Tapi kenapa harus gadis itu ? Bukankah aku lebih pantas untukmu ?! " Ucap Alina dengan nada parau, jelas terasa jika gadis itu gemetar saat mengatakan kalimat-kalimat itu.
Hega berbalik badan, menatap tajam gadis yang sudah mengejarnya selama beberapa tahun ini.
" I-itu... " Suara Alina terbata, ekspresi wajahnya terlihat muram, tubuhnya masih gemetar dan sesekali terlihat gadis itu meremas ujung gaunnya berusaha untuk tetap terlihat tenang di hadapan pria yang ingin dia takhlukkan hatinya itu.
" Siapa yang saya cintai atau siapa yang berhak berada di sisi saya, semua itu mutlak adalah keputusan saya. Bahkan keluarga saya tidak memiliki hak mencampuri hal itu. Lalu siapa kamu berani-beraninya menilai semaumu ?! " Tegas Hega penuh penekanan, aura dingin dan memancarkan kemarahan membuat Alina tidak mampu lagi berkata-kata. Tapi Alina belum mau menyerah, dia tidak bisa menyerah.
" Ta-tapi a-aku .... " Ucap Alina terbata.
" Cukup ! Saya memberi kesempatan untukmu bicara karena permintaannya. Kamu pikir saya mau bicara dengan wanita yang hampir mencelakai gadis terpenting dalam hidup saya jika bukan karena dia yang memintanya. " Amarah Hega sepertinya mulai memuncak, pria itu terlihat sudah tidak tahan lagi berbicara lebih lama dengan wanita yang membuatnya sangat kecewa itu.
Hega tidak pernah membenci Alina, dia membiarkan saja setiap tingkah Alina selama ini karena apapun yang diperbuat oleh gadis itu masih dalam taraf normal dan tidak mengganggunya.
Selama tiga tahun ini Hega memutuskan membiarkan saja Alina, selain karena hubungan baiknya dengan Aliza yang adalah sepupu Alina, juga karena Hega yakin Alina tidak seperti tipe wanita yang mengejarnya selama ini.
Hega menganggap sikap Alina sebagai bentuk sifat kekanakannya saja, rasa kagum dan cinta monyet yang akan luntur seiring berjalannya waktu. Toh Hega tidak pernah sedikitpun menanggapinya ataupun memberikan harapan pada gadis itu.
Jadi Hega mengira akan tiba saatnya Alina menyerah pada perasaannya yang tidak terbalaskan. Tapi insiden kolam renang membuatnya benar-benar kecewa pada gadis itu, seorang wanita melakukan hal gila karena cemburu. Jelas itu membuat Hega tidak bisa bersabar lagi menghadapi Alina.
" Kak.... " Alina menatap Hega penuh pengharapan.
" Seperti yang saya katakan sebelumnya, nikmati saja liburanmu, jangan mengharapkan sesuatu yang lebih dari saya. " Tegas Hega dengan ekspresi dingin.
" Tidak bisakah kakak.... " Alina mendekat berusaha menyentuh Hega dengan kedua tangannya tapi Hega menghindar dan mengangkat satu tangannya, mengisyaratkan agar gadis itu mengurungkan niatnya.
" Hentikan sampai disini ! Satu hal yang harus kamu tahu. Satu tempat di hati saya hanya untuk gadis bernama Moza Artana. Jika bukan dia, maka kamu ataupun gadis manapun tidak akan bisa. " Jawab Hega dengan lugas tanpa keraguan sedikitpun.
__ADS_1
Jelas terlihat di wajah Hega yang mengatakan tidak ada tempat untuk wanita lain di hati, pikiran dan hidupnya. Karena ketiga tempat itu sudah terisi penuh oleh satu orang gadis bernama Moza Artana Dama.
~ Flashback End ~
β’
β’
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
IKLAN ( Gak suka bisa skip ) :
Me : Awuwu.... Babang Hega kasih cinta kamu sedikit aja dong buat akuh....ππ
Hega : Ogah thor... Lu kan udah punya suami..π
Me : πβΉ Jadi kalau aku belum punya suami, mau ? π€©
Hega : Tetep ogah gue ...π
Me : Kenapa ?π€
Hega : Gue cinta mati sama Momo doang.π
Me : Idih... Bucin. Ya udah mati aja sono...π‘π€
Hega : Jan dulu thor... Kawin dulu lah....π
Me : Nikah dulu woy, baru kawin....π
Hega : Nah itu maksud gue thor... Jadi kapan thor ?
Me : Tahun depan, π
Hega : Kelamaan thor....
Me : Masih ada corona π
Hega : Apa hubungannya coba gue nikah ma corona ?!π€
Me : Lah kan gue mau buat acara nikahan lu berdua 7 hari 7 malam dengan undangan ratusan ribu orang ( balik lu gue karena kezel ). Kan masih PSBB..ππ
Hega : Lebay lu thor... Orang corona nya kagak bisa masuk di novel ini juga ....ππ
Me : Siapa bilang kagak bisa ? Sini gue masukin dia (corona)π
Hega : Aaaa... Jan thor ampun, biarkan dunia halu ini damai aman sentosa tanpa corona. Cukup dunia lu aja yang ada dia (corona). π²π²π
Me : Asyem lu... π
...JANGAN LUPA...
__ADS_1
...β LIKE β KOMENTAR β VOTE β...