Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Beruang Kutub atau Kucing Anggora


__ADS_3

AUTHOR


~ Bandara ~


Hega baru saja turun dari pesawat yang mengantarnya pulang dari dinas kerjanya di Pulau Dewata Bali.


Pemuda itu benar-benar bekerja keras selama dua hari ini agar pekerjaannya di Bali bisa selesai lebih awal.


Mobil Range Rover Velar miliknya sudah siap di Bandara, Hega mengemudikan sendiri mobil itu menuju puncak karena Bara juga memutuskan membawa kendaraan pribadinya.


Baju dinasnya sudah berganti menjadi gaya kasual, kemeja santai berlengan panjang berwarna merah bata dipadu dengan celana jeans hitam dan sepatu sneakers.


Tak lupa kacamata yang menyempurnakan penampilannya yang mempesona.


Satu setengah jam perjalanan menuju villa pribadinya di puncak, rasa rindu pada gadisnya membuatnya lupa pada rasa lelah yang bersemayam di tubuhnya.


Dua hari ini Hega sengaja tidak menelpon kekasihnya agar tetap bisa fokus bekerja.


Karena setiap kali mendengar suara gadis itu, rasanya pemuda itu ingin segera berangkat ke bandara dan terbang kembali menemui pujaan hatinya.


Berkat kemampuannya serta bantuan Bara dan juga sekretarisnya yang kompeten. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam waktu 4 hari bisa diselesaikan dalam waktu 2 hari saja.


Tentu saja kegilaan Hega itu sempat membuat Bara pusing karena selama dua hari penuh harus lembur menyelesaikan peninjauan beserta lapran proyek resort baru itu.


Jika saja tak di iming-imingi cuti satu minggu plus dua tiket liburan ke Jepang yang akan digunakannya bersama kekasihnya, Aliza.


Mungkin Bara tak akan pernah mau menggantikan tugas Julian untuk menemani boss sekaligus sahabatnya yang tengah bucin pada pacar dua minggunya itu.


Keberangkatan ke Bali Julian dibatalkan karena Hega memberi tugas yang lebih penting pada asisten pribadinya itu, apalagi jika bukan mengawal gadis bernama Moza Artana.


Keputusan sepihak Hega disambut decakan malas oleh Bara yang selalu geleng-geleng kepala pada setiap hal gila yang dilakukan Hega jika berkaitan dengan kekasih hatinya itu.


Sedangkan Anita, sekretaris pribadi Hega itu sudah terbiasa dengan kegilaan bossnya.


Jadi mau mendapat tugas sebanyak apapun, Anita tetap sanggup menanganinya karena dia memang kompeten sebagai seorang sekretaris.


Dan itu jugalah yang membuat Anita menjadi salah satu orang kepercayaan Hega.


Dan untuk kerja kerasnya, tak lupa Hega memberi tambahan bonus dan cuti tahun baru untuk Anita.


Bara masih mengekor pada Hega, karena Aliza kekasihnya juga ikut dalam acara tahun baru di villa pribadi sahabatnya itu.


Hega dan Bara tiba di Villa pukul 3 sore, terlihat semua tamu villa nya sedang bersantai ria.


Mata elangnya langsung menemukan sosok yang dicarinya.


Gadis cantik itu memakai kaos bergaris berwarna biru dengan model U-neck berlengan pendek, ditambah paduan celana pendek putih diatas lutut dan rambut di cepol keatas.


Sangat imut dan menggemaskan.


Moza yang sedang menepuk-nepuk punggung salah satu sahabatnya itu masih belum menyadari kehadiran pria yang dirindukannya.


Sampai suara teriakan gadis dari arah kolam renang memanggil nama pemuda itu.


Seketika pula membuat Moza dan teman-temannya reflek menoleh ke arah sumber suara dan mencari sosok yang namanya diteriakkan oleh gadis bernama Alina itu.


" Kak Hega. " Sepupu Aliza itu berlari menghampiri pemuda yang baru saja ia sebut namanya.

__ADS_1


Wajah gadis itu terlihat sangat berseri, jelas sekali terbaca jika sepupu Aliza itu menaruh rasa pada Hega.


Jarak Alina yang sudah dekat di hadapan Hega hendak memeluk pemuda itu, lagi-lagi Hega melakukan hal serupa seperti yang selalu dilakukannya pada setiap gadis yang mendekatinya.


Hega menahan kepala Alina yang berusaha memeluknya, kemudian mendorongnya menjauh.


Pemuda itu tak menghiraukan ekspresi kecewa gadis itu. Dan malah berjalan melewati Alina tanpa sepatah katapun.


" Jaga sikapmu Alina ! " Bisik Bara saat melewati adik sepupu kekasihnya itu.


Sebenarnya Bara tahu pasti kehadiran sepupu kekasihnya itu akan menimbulkan ketidak nyamanan bagi Hega.


Bukan semata-mata karena sikap agresif Alina, jika itu sih Hega tak pernah ambil pusing.


Pemuda itu punya banyak cara untuk mengabaikan setiap wanita yang ingin dekat dengannya.


Bahkan dua tahun lebih Alina mendekatinya tanpa menghasilkan apa-apa.


Yang dicemaskan Bara adalah lebih pada bagaimana nanti perasaan Moza nantinya jika melihat perilaku agresif Alina pada pria yang kini sudah berstatus tunangannya itu.


โ€ข


โ€ข


~ Flashback ~


Sehari sebelumnya, di Bali.


" Ga, kalau Aliza ngajakin sepupunya lo keberatan gak ? " Tanya Bara saat Hega menawarkan untuk bergabung dalam acara tahun barunya di Villa pribadinya.


" Terserah. " Menjawab singkat dan masih fokus pada berkas di tangannya.


" Ada atau tidaknya dia tidak berpengaruh apapun sama gue Bar. " Tegas Hega dengan gaya angkuhnya dan tetap tidak melirik sama sekali lawan bicaranya.


" Hehe... Iya si, mana pernah lo gubris tuh anak. Tapi yang gue maksud itu soal Momo, Ga. "


" ". Mendengar nama Moza disebut sudah seperti menjadi matra sakral yang selalu berhasil menarik perhatian Hega. Dahi Hega mendadak mengerut menatap ke arah Bara.


Hehehe.... Dari tadi gue udah berasa ngomong sama tembok, eh gue sebut nama calon bininya langsung deh gue dilirik. Coba dari tadi gue sebut nama lo Mo, pastinya gue akan merasa ngobrol dengan manusia, dan bukannya dengan tembok besar cina hahhahaa....


Batin Bara puas merasa menang telah berhasil menarik perhatian si muka datar di hadapannya.


" Apa coba yang dipikirkan si cantik lo itu kalau ada cewek lain yang mepetin tunangannya. Lagian lo kenapa gak bilang dengan tegas aja si kalau lo emang gak tertarik sama Alina ?! " Saran Bara.


" Lo tahu cara itu tidak akan mempan padanya kan ?! " Ucap Hega berdecak malas.


Benar kata Hega, selama ini memang dia tak pernah meladeni tingkah agresif sepupu Aliza itu. Tapi sikap acuh dan dingin Hega seolah tidak berpengaruh pada Alina.


" Kenapa ? Apa lo gak enak sama Aliza kalau sampai nolak langsung adik sepupunya ? "


" Cih... Sejak kapan gue punya sisi manusiawi seperti itu, Bar ?! " Tegas Hega.


" Hahaha... Iya juga ya, gue lupa kalau lo kan monster beruang kutub yang dingin tak berperasaan yang akan berubah jadi kucing anggora yang manis dan menggelikan dihadapan Moza seorang. "


Ejek Bara sambil mengangguk-angguk dan kemudian terbahak dengan puasnya.


Pletak

__ADS_1


" Auwhhh.... Kebiasaan lo Ga, seneng banget nyiksa gue. " Bara mengaduh setelah mendapat jitakan di kepalanya.


Anita yang juga ada di sana hanya diam dan tetap fokus pada tugasnya, sesekali menahan senyum mendengarkan obrolan yang lebih banyak unfaedahnya itu.


Seolah menjadi penonton dan pendengar pasif yang menjadi saksi keakraban dua boss nya yang memiliki dua kepribadian sangat berbeda itu.


Anita tahu dengan jelas batasan dirinya sebagai seorang sekretaris.


Aturan-aturan yang tertulis dengan jelas saat dirinya menanda tangani kontrak kerja sebagai sekretaris Hega, dan dua hal yang wajib selalu diingat oleh Anita ,


' Dilarang tertarik dengan urusan pribadi Presdir '


' Dilarang menyebarkan informasi apapun tentang Presdir '


Sudah jelas apapun yang didengarnya hari ini tidak akan pernah keluar dari mulut Anita.


Bara yang paham betul bagaimana watak Hega. Pendirian dan perasaan Hega tidak akan pernah terpengaruh oleh orang lain, jika tak suka pada seseorang maka artinya tidak suka.


Tidak akan ada rasa empati atau sekedar basa-basi tak penting pada seseorang meskipun orang tersebut adalah kerabat dari orang yang akrab dengannya.


Tidak ada istilah menjaga perasaan orang lain dengan basa-basi tak penting. Karena hal itu justru akan membuat mereka merasa mendapat kesempatan.


Seperti contohnya Alina, meskipun gadis itu adalah sepupu Aliza yang juga adalah sahabat Hega.


Tetap tidak akan membuat Hega bersikap baik ataupun pura-pura baik jika memang gadis itu tak disukainya.


Jadi intinya tidak ada istilah PHP dalam kamus seorang Hega Airsyana.


" Lah terus kenapa ? " Tanya Bara masih belum memahami maksud Hega.


" Lo tahu kan sekedar kata-kata saja tidak akan membuat gadis itu menyerah. "


" Iya juga si. Tuh anak udah ngejar lo hampir tiga tahun, padahal gak pernah lo gubris tapi masih aja kekeh ngintilin lo. Hihihi.... " Ucap Bara sambil geleng-geleng kepala dan cengengesan.


" Terus lo mau apa ? " Sambungnya penasaran.


Hega meletakkan berkas di tangannya, menatap serius ke arah Bara.


" Jika penolakan secara verbal tidak mempan, maka aku harus membuatnya sadar dengan mata dan telinganya sendiri. "


" Maksud lo apaan ? "


" Lo akan tahu nanti. Dan untuk Moza, gadis itu tahu persis jika di mata gue cuma ada dia. Jadi lo gak usah pusing-pusing mikirin tunangan gue Bar. " Ucapnya sinis sambil menepuk pundak Bara kemudian mengukir seringai mengerikan di bibirnya.


Yang pasti sukses membuat Bara berhenti bertanya saking ngerinya. Dan hanya bisa ngedumel kesal dalam hati.


Dasar bocah sial, baru aja punya pacar aja sombongnya lu Ga. Gue aja yang udah ganti pacar lusinan biasa aja tuh.


Ya tapi wajar aja si, lo kan jomblo dari lahir. Hehehe...


~ Flashback End ~


๐Ÿ–ค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™๐Ÿ–ค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™


Maaf ya hanya dikit up nya, ntar malam moga bisa tambah satu chapter lagi.


Akuh bonusin penampakan Babang Hega ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

__ADS_1



๐Ÿ’•๐Ÿ’• Style Hega yang baru turun dari pesawat.


__ADS_2