Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Pengakuan


__ADS_3

AUTHOR


Deana yang melihat perlakuan lembut Hega pada sahabatnya, membuat ingatannya kembali pada kalimat yang diucapkan pemuda itu saat di kolam renang.


Kemudian beralih pada pengakuan Moza tentang dirinya yang dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya.


Gadis itu tak tahan untuk tidak bertanya, jiwa keponya meronta-ronta. Apalagi ini ada hubungannya dengan sahabat karibnya yang sudah bagaikan saudaranya sendiri.


" Bang Hega, eum.... yang abang bilang di kolam renang tadi itu ? " Mendengar pertanyaan Deana, seketika Amira dan Renata mendekat dan ikut duduk di atas ranjang besar itu.


" Hm..." Jawab Hega singkat.


Jawaban macam apa itu ?


Dahi ketiga gadis itu mengerut, bola mata mereka menyipit menuntut jawaban lebih.


" Jadi maksudnya ? " Tanya Deana lagi.


" Detailnya kalian akan mendengar langsung sahabat kalian, karena Moza ingin kalian mengetahuinya langsung darinya. Tolong kalian jaga dia sebentar. Beri tahu saya jika dia sudah bangun. " Pinta Hega kemudian mengecup kening gadis yang masih tertidur itu dengan lembut.


Deana mengangguk, Hega beranjak dari kursinya yang mendekat ke arah Derka dan Bara.


Mengisyaratkan kedua pria itu untuk mengikutinya, Hega menjatuhkan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah lantai 3 tak jauh dari kamarnya, tepatnya ada di depan kamar Moza.


" Gimana keadaanya ? " Tanya Hega saat Derka dan Bara juga sudah duduk di sofa.


" Stabil, untunglah tidak sampai mengalami hipotermia. "


" Dan apa maksudnya tadi dia sudah bangun ?! Lo ngerjain gue Der ?! " Ucapannya terasa sinis menghujam.


" Eh itu, sepertinya dia syok berat, jadi gue kasih suntikan obat tidur dengan dosis kecil. Gue kira tadi dia akan segera bangun. Mungkin efeknya sedikit lebih lama karena kondisi tubuhnya yang sedang lemah, sebentar lagi juga dia akan bangun. " Elaknya membela diri, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kedua bola matanya tidak berani menatap langsung ke arah Hega.


Derka benar-benar merinding dibuatnya, benar kata Bara, Hega memang sangat menakutkan jika sedang marah.


Salah sedikit saja dia bicara, bisa-bisa dia akan berakhir di kutub utara. Merawat para saudara Hega, para beruang kutub. Begitu pikir Derka saat ini.


" Pantau terus Der ! Ada yang harus gue selesaikan. " Hega hendak berdiri saat Julian muncul dari pintu kamar Hega mengatakan jika Moza sudah bangun dan mencarinya.


Dengan cepat Hega melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya. Mendekat ke arah ranjang, dan duduk di tepi ranjang.


" Bagaimana perasaanmu sekarang ? Apa ada yang terasa tidak nyaman ? " Tanya Hega cemas.


Moza menggeleng lemah, " Bantu aku duduk kak. " Pinta gadis itu lirih.


Hega tak menjawab, melirik ke arah Derka seolah bertanya apakah tidak apa-apa gadisnya duduk dalam kondisinya yang masih lemah itu.


Derka mengangguk, kemudian mendekat dan kembali memeriksa kondisi dari gadis itu.


" Deana akan menemanimu, aku ada diluar jika kamu membutuhkanku. " Ucap Hega lembut, pemuda itu masih kekeh dengan niatnya, menyelesaikan apa yang seharusnya sudah dituntaskannya beberapa minggu lalu.


Hega menyesal kenapa tidak langsung membereskan wanita bernama Selena itu. Jika waktu itu dia sudah mengambil tindakan langsung, maka hari ini tidak akan terjadi hal mengerikan yang sekali lagi membahayakan nyawa kekasihnya itu.


" Kak Hega mau kemana ? " Tanya Moza lirih.


" Aku tidak akan kemana-mana, hanya di depan membicarakan sesuatu dengan Bara dan Derka. " Jelasnya.


" Eum...." Belum juga Moza mengiyakan Bara menyela dengan tegas.


" Lo tetap disini aja Ga, sepertinya Momo akan merasa lebih baik jika lo yang menemaninya. " Bara tahu hanya Moza yang dapat menahan Hega, setidaknya di dekat Moza, Hega akan lebih tenang.


Deana mendelik seketika ke arah Bara seolah merasa keberadaannya diabaikan, ya begitulah Deana, pencemburu pada siapapun yang lebih dekat dengan sahabatnya.


Moza juga ikut mengalihkan pandangannya ke arah pria itu, tapi berbeda dengan Deana, tatapan mata Moza seperti tahu ada sesuatu yang coba diucapkan Bara padanya.


Gue mohon dek, tolong tahan monster ini disini. Setidaknya kalau sama lo dia bakal jadi kucing anggora.

__ADS_1


Batin Bara, berharap tatapan matanya dapat menyalurkan rintihan hatinya saat ini.


" Bisakah kak Hega tetap disini ?! " Pinta Moza menarik kecil kemeja Hega, gadis itu yang sepertinya menangkap arti tatapan Bara padanya yang seolah memohon agar menahan Hega disisinya.


" Hm... Baiklah. Tunggu sebentar, ada yang mau aku katakan pada Bara. "


HUFT.... πŸ˜“πŸ˜“


Bara dan Derka menghela nafas lega dengan kompak.


" Eum..." Moza mengangguk.


Deana, Amira dan Renata kembali mendekati Moza, secara singkat Moza menceritakan garis besar bagaimana tiba-tiba dirinya bertunangan dengan Hega.


Termasuk insiden kecelakaan yang menimpanya, meskipun ketiga gadis itu sempat menunjukkan ekspresi marah pada Moza tapi itu tak berlangsung lama.


Mereka bahagia akhirnya sahabat mereka kembali mendapatkan kebahagiaannya.


Hega kembali ke ruang tengah bersama Derka dan Bara, Dimas mengekor di belakang mereka.


" Bereskan sampai tuntas Bar ! Atau gue yang akan turun tangan sendiri beresin perempuan itu. " Perintah Hega tegas.


" Ya ya..." Jawab Bara singkat.


Julian baru saja keluar dari arah kamar Deana setelah memindahkan Viola yang ketiduran di sofa kamar Hega. Bara memberi isyarat pada Julian untuk mengikutinya.


Dimas yang tak tahu apa-apa hanya bisa menjadi penonton. Ingin bertanya tapi situasi sepertinya tak memungkinkan baginya, apalagi pikirannya tengah kalut setelah mendengar kabar pertunangan Moza dan Hega.


Lagipula sepertinya pikiran Dimas sedang tidak berada disana, sehingga tidak begitu memahami pembicaraan mereka.


Pemuda itu kemudian menuruni tangga, menuju lantai dasar dan berjalan ke arah taman.


Hega kembali ke kamarnya menemui kekasihnya, namun tidak langsung masuk dan mengganggu obrolan para gadis itu.


Satu per satu sahabatnya keluar meninggalkan ruangan saat menyadari keberadaan Hega, memberi kesempatan pada sepasang kekasih itu untuk menikmati kebersamaan mereka.


Amira dan Renata yang merasa lelah memilih kembali ke kamar mereka. Beristirahat sejenak setelah insiden yang cukup menguras tenaga mereka.


Deana sendiri masih merasa tidak tenang, memilih menuruni tangga hendak menuju dapur untuk mengambil minuman.


Saat sampai di lantai dua, didengarnya teriakan tak asing dari salah satu kamar yang ada di salah satu sudut lantai dua villa.


" Sialan ! " Suara seorang pria tengah memaki di salah satu kamar.


Julian ? Itu suara Julian ?! Siapa yang dimaki olehnya Siapa yang membuatnya marah dan kenapa ?


Deana mendekat ke arah sumber suara, tubuh mungilnya sudah dekat dengan ambang pintu saat kembali didengarnya amarah Julian yang sedikit tertahan.


" Lo gak punya otak hah ?! Berani-beraninya lo nyentuh sahabat gue, segila apa pikiran lo karena terobsesi sama Dimas ? Brengs*k ! " Suara umpatan yang sedikit tertahan.


" Sabar dek, modelan kayak gini gak bakal mempan meskipun lo maki-maki sampai tenggorokan lo kering juga. " Ucap Bara bernada menenangkan.


Apa maksud ucapan Julian ? Dan siapa yang membuatnya sampai semarah itu ?


Deana mengintip di ambang pintu yang sudah terbuka lebar itu, Bara dan Julian ada di sana. Julian berdiri membelakangi Deana, sedangkan Bara duduk di sofa dan seorang wanita tengah berdiri di depan Julian, sedikit gemetar namun tetap menampakkan wajah sombongnya.


Selena ? Ada apa ini sebenarnya ?


" Kalian berdua yang gila ? Memang apa dasarnya kalian menuduh gue seenaknya ?! "


Julian dibuat geram oleh ketidak tahu maluan Selena, dengan cepat mengambil sesuatu di dalam amplop coklat di tangannya, dan melemparnya pada gadis di hadapannya.


" Psycho ni cewek. " Maki Julian lagi.


Beberapa lembar foto berserakan di lantai, Selena melihat salah satunya dan tubuhnya kembali gemetar dan kakinya lemas seketika dan gadis itu jatuh terduduk di pinggir ranjang.

__ADS_1


Deana memang tidak bisa melihat wajah Julian, tapi dari suaranya Deana tahu pemuda itu sedang sangat emosi.


" Ba-bagaimana bisa foto ini ? " Suara sombong Selena berubah gemetar ketakutan.


" Jangan sok polos lo jadi orang, wujud ular lo itu gak bakal bisa lo sembunyikan selamanya. " Julian benar-benar sudah kehabisan kesabarannya.


" Iya, gue akui memang gue yang rencanain kecelakaan itu, dan gue juga yang pengaruhi Alina buat dorong tuh cewek gatel ke kolam renang. Puas lo pada ?! Terus lo mau apa ? Pukul gue ? Nih, silahkan gue gak takut. Hahahahaa.... "


Merasa terpojok dan tidak bisa mengelak lagi dengan bukti yang ada di depan mata, akhirnya Selena mengakui semua yang dilakukannya. Menunjuk pipinya untuk ditampar.


Kemudian tertawa puas seolah tidak menyesali sedikitpun perbuatannya dan malah tertawa dengan sombongnya.


" Aaarrrrghhhh..... "


Julian sudah seperti singa yang hendak menerkam musuhnya, amarahnya sudah tidak bisa dikendalikan.


Hingga dia bahkan tak menyadari kehadiran Deana yang tengah mengawasi mereka di ambang pintu dengan raut wajah penasaran.


...πŸ–€πŸ§‘πŸ’œπŸ’™πŸ’›β€πŸ’š...


Kira-kira Deana gimana ya reaksinya kalau tahu sahabat tersayangnya di celakai oleh Selena ?


Jambak thor, tabok sekalian, atau cakar-cakar muka tuh ular. Terus cekik tuh lehernya biar kapok 😑😑


Wuidiiihhh.... Netijen ngeri ya..... πŸ˜–πŸ˜–πŸ˜–


Gue dukung lu Deana 😏😁😁


Ini nih yang namanya tukang kompor meleduk... Syetannya pindah ke netijen.... 😁😁


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


...All the authors whose works you read...


...Please appreciate their efforts...


...Please support us......


...πŸ’š...


...Like...


...❀...


...Comment...


...πŸ’œ...


...Vote 😘...


...🧑...


...Follow Author ya 😘...


...🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟...


Yang udah Vote makasih ya sayang


Akuh padamu... Lancarlah rejeki kalian πŸ˜˜πŸ€—


( Maaf yang belum ter screen shot ya, itu update vote jam 14.00 hari ini )


I LOPE YOU PULL


__ADS_1


__ADS_2