Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Meminta Ijin


__ADS_3

AUTHOR


" Arya, mana putramu ? " Tanya Suryatama saat semua sudah sampai di halaman rumah namun batang hidung cucunya tidak nampak olehnya.


Arya seketika berbalik badan, mencari-cari sosok sang putra begitu pula dengan Rasti.


" Bara, Derka, mana Hega ? " Tanya Arya pada kedua sahabat putranya yang baru nampak keluar dari pintu utama rumah Ardi Dama.


" Masih di belakang, Om. " Jawab Bara seraya mengangkat ibu jarinya di atas bahunya dan mengarah ke belakang.


" Mas Arya, Hega bilang akan tinggal sebentar lagi. Jadi tidak perlu menunggunya. " Ujar Ayu yang barusaja menyusul ke teras rumah.


" Hais . . . Anak itu seenaknya saja. Ben, bilang pada amak itu agar segera keluar ! " Titah Surya pada kepala pelayannya.


" Baik, Tuan Besar. "


" Tidak perlu, Om. Biarkan saja, nanti Ayu minta dia segera menyusul. " Sela Ayu.


" Baiklah jika nak Ayu sudah bicara begitu. Jewer saja telinganya jika nanti dia macam-macam. Jangan kamu manjakan calon mantumu itu, nanti ngelunjak. " Ujar Suryatama yang memang tahu betul bagaimana Ayu memperlakukan Hega dengan sangat baik, bahkan cenderung memanjakan pemuda itu.


" Iya, Om Surya tenang saja. Gini-gini Ayu juga bisa galak kok. " Ucap istri Ardi Dama itu dengan senyum merekah.


Yah, Suryatama bisa memahami bagaimana kontak batin yang terjalin antara wanita paruh baya itu dengan cucunya.


Sejak Hega masih kecil, Ayu memang sangat menyayangi Hega seperti putranya sendiri, tidak pernah membedakan antara Hega dengan putra kandungnya Hyuza.


Dan ikatan batin itu sepertinya semakin kuat saja sejak jantung putra kandungnya berdetak di tubuh putra Nadira itu.


πŸƒ πŸƒ πŸƒ


~ Taman Belakang ~


Sesampainya di taman, Hega yang sudah terlalu merindukan kekasih hatinya itu seperti tidak bisa lagi menahan diri. Dengan gerakan cepat Hega menarik tubuh mungil kekasihnya ke dalam pelukannya.


" Aku sangat merindukanmu. "


" Aku juga merindukan, kak. " Balas Moza seraya ikut melingkarkan tangannya di punggung Hega.


Setelah cukup lama mereka berpelukan dalam diam, Hega melepaskan pelukannya dan menarik tangan gadisnya untuk duduk di kursi taman yang ada di dekat kolam ikan milik Ardi Dama.


" Apa saja yang kamu lakukan dua hari ini, hem ? " Tanya Hega sambil memainkan rambut panjang Moza dan merapikannya ke belakang telinga gadis itu.


" Aku hanya bersantai di rumah, paling hanya menonton drama korea dan baca buku. Itupun bunda sering mengomeliku karena aku pasti akan berakhir dengan menangis jika ada adegan sedih di film yang aku lihat ataupun novel yang aku baca. " Tuturnya sembari mengingat setiap omelan sang bunda.


" Akhirnya bunda menyita seluruh cd film dan novel yang ada di kamarku. Katanya tidak bagus nanti kalo aku menangis, nanti mataku jadi sembab, masa waktu acara pernikahan mataku bengkak, ntar orang-orang akan mengira aku menikah karena terpaksa, begitu kata bunda. " Sambungnya lagi.


" Aaarrrgh. . . Memangnya bunda kira aku akan menangis semalaman apa, mana mungkin mataku bisa sembab hanya karena menangis beberapa menit saat nonton drakor. Lagipula kan acara pernikahannya masih lusa. Huuh. . . " Keluh Moza, tampak bibir mungilnya sedikit cemberut.


" Aku bosan setengah mati, kak. " Hega melingkarkan tangan kanannya di bahu Moza saat gadis itu menjatuhkan kepalanya bersandar di bahunya.


Hega mendengarkan curhatan kekasihnya sambil sesekali tersenyum melihat ekspresi kesal yang menggemaskan di wajah calon istrinya itu.


" Kenapa tidak jalan-jalan saja dengan Ryu atau Deana ? " Ucap Hega memberi saran.


" Aku sedang malas kemana-mana, lagipula Dea juga baru datang hari ini. Sedangkan Ryu sedang sibuk bimbel sebelum ujian masuk universitas. "


Alis Hega sedikit naik mendengar cerita tentang Ryuza, " Eh, bukannya Ryu ikut kelas akselerasi ya ?! "


" Hem. "


" Kenapa repot-repot bimbel kan tinggal tes masuk saja. Pasti dia bisa lolos dengan mudah mengingat kemampuannya yang luar biasa itu. Dan biasanya sebagai siswa berprestasi pasti dia sudah mendapatkan banyak tawaran beasiswa kan ?! " Ucap Hega sedikit heran, karena dirinya pun dulu mengalami hal serupa, mendapatkan banyak tawaran beasiswa dari universitas terbaik dalam negeri dan luar negeri.


" Sebenarnya dia tawaran beasiswa dari universitas di US, tapi sepertinta Ryu masih memikirkannya. Katanya dia mau jeda dulu satu tahun ini sekalian membantu Ayah di restoran. Jadi waktu luangnya dia gunakan untuk bimbel. Mungkin tahun ajaran depan dia baru mau masuk kuliah. "


" Ah, dari tadi hanya aku yang bercerita. "


" Tidak apa, aku senang mendengar suaramu. "


" Ceeh. . . Bukankan kakak juga dengar suara aku lewat telepon. "


" Beda sayang, kalo sekarang kan aku bisa sambil melihat ekspresi wajahmu yang imut ini sambil mendengar suara merdu kamu secara langsung. "


" Hiii. . . Kakak bikin aku merinding. " Ujarnya sembari memeluk kedua bahunya sendiri.


Hega yang melihat tingkah imut gadisnya, hanya menatap Moza dan kemudian tertawa kecil, " Kamu harus terbiasa. " Ucapnya kemudian sambil mencapit hidung mancung Moza dengan dua jarinya.


Tiba-tiba Moza mengangkat kepalanya dari bahu Hega, membuat si pemilik bahu yang masih belum puas memeluk sang kekasih sedikit tersentak kaget.

__ADS_1


Moza memiringkan tubuhnya, menghadap Hefa dan kemudian menatap manik mata pemuda itu dengan ekspresi ragu.


" Kak, ada yang mau aku katakan. " Ucap Moza sedikit bimbang, tampak gadis itu menggigit ujung jarinya dengan wajah gusar.


Hega yang menyadari ada sesuatu yang aneh tetap berusaha tenang, " Hem. . . Ada apa ? "


" Aku mau meminta ijin kakak untuk menemui seseorang. "


Hega membulatkan matanya dan menautkan kedua alisnya.


" Siapa ? " Hega menatap lekat manik mata Moza, berharap bukan nama yang ada di pikirannya yang akan keluar dari bibir gadis itu.


" Fabian. "


" Haaaaah. . . " Hega hanya bisa menghela nafas dalam dan memijat celah diantara kedua alisnya, merasa sesak ketika benar nama yang diduganya itulah yang disebutkan oleh Moza,


Hega kembali menatap sang kekasih, menelisik kedua manik mata gadis itu dengan lebih dalam, " Ada apa kamu ingin menemuinya ? "


" Ada yang ingin aku selesaikan dan aku perjelas padanya. " Jawab Moza lugas dan penuh keyakinan.


" Sebenarnya aku sendiri juga bingung bagaimana harus menyelesaikan ini. Tapi setelah aku mendengar sedikit banyak dari Deana, dan mempertimbangkan dengan baik. Sepertinya aku memang harus menemuinya. " Sambungnya sembari menunduk dan memainkan jari-jemarinya sendiri.


Hega meraih dagu Moza agar gadis itu kembali menatapnya, " Apa tidak bisa ditunda setelah acara pernikahan kita selesai nanti ?! " Pinta Hega kemudian, mencoba membujuk secara halus agar sang calon istri menunda niatnya.


" Aku hanya ingin memulai kehidupan baruku bersama kakak tanpa meninggalkan sesuatu ganjalan di masa laluku, kak. Aku berharap semua orang-orang yang aku sayangi memberikan doa mereka untuk kebahagiaanku. Setidaknya aku ingin melangkah menuju kebahagiaanku dengan langkah yang ringan tanpa beban. Dan aku hanya bisa melakukannya jika aku bisa menuntaskan hal-hal yang menjadi beban hatiku. "


" Apa kamu yakin dia akan melepaskan perasaannya padamu dengan mudah ?! " Tanya Hega sedikit menekan.


Moza menangkap kedua telapak tangan Hega dan menggenggamnya, " Setidaknya aku ingin berusaha memperbaiki persahabatan kami, tapi jika kali ini aku tidak bisa membuatnya menyerah, setidaknya aku sudah memberi batasan untuknya. "


" Tapi jika kakak keberatan, aku . . . " Sambung Moza kemudian menundukkan kepala pasrah pada apapun keputusan calon imamnya itu.


" Haish. . . Baiklah. "


" Ah. . . ? " Moza kembali menatap wajah Hega dan memastikan kembali ucapan pemuda itu.


" Temui dia ! Selesaikan apa yang memang harus kamu selesaikan, tapi kamu harus janji satu hal ! "


" Apa itu ? "


" Terima kasih, kak. "


" Ah, satu lagi ! " Tambah Hega seraya mengangkat satu jari telunjukknya.


" Ya ? "


" Ajak Deana bersamamu ! "


" Baiklah. Terima kasih, kak. " Moza melingkarkan tangannya di leher Hega dan memeluk sang calon suami dengan nafas lega.


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


⚘ Epilog ⚘


~ Kantin Fak. Ekonomi, beberapa hari sebelumnya ~


Setelah berbincang dengan Fabian dan mendengar banyak hal dari sahabatnya itu, Deana bagaikan merasa terjepit diantara kedua sahabatnya.


Di satu sisi, Deana memahami bagaimana perasaan Moza, ketika dengan susah payah Moza membuka hatinya untuk uluran persahabatan Fabian, tapi pemuda itu justru menghilang tanpa kabar.


Tapi di satu sisi, Deana juga merasa iba setelah mendengar cerita Fabian, Deana tidak bisa mengabaikan permintaan Fabian untuk mempertemukannya dengan Moza.


" Mo, gimana pembicaraan lo sama Fabian kemarin ? " Tanya Dea ragu.


" Aku sedang tidak ingin membahasnya, Dea. Maaf. " Jawab Moza dengan pandangan masih fokus pada makanan di piringnya.


Dea meenelan salivanya dengan susah payah, mengaduk-aduk es jeruk di gelasnya beberapa kali dan kemudian menyedotnya hingga tersisa setengah gelas.


Menghela nafas dalam dan kembali mengumpulkan keberaniannya, " Mo, Bian bilang kalau selama ini dia terus berusaha menghubungi kita. Tapi. . ."


Ting. . .


Moza meletakkan dengan sedikit kasar sendok di tangannya, hingga benda logam itu beradu dengan piring porselen dan menimbulkan denting yang cukup keras yang menarik beberapa mata menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Moza menatap lekat Deana, mencari tahu maksud dari ucapan sahabatnya itu, " Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Dea ?! "


" Emmm. . . Gue gak ada niat untuk membela Fabian, tapi gue hanya ingin kesalah pahaman diantara kalian berakhir. " Suara Deana terdengar suram.


Moza menghentikan sepenuhnya aktivitas makannya, sedikit menunduk, sikunya bertumou pada meja dan menopang dahinya dengan jari yang memijat-mijat keningnya yang tampak mengerut.


Tak lama Moza kembali mendongakkan wajahnya menatap sahabat karibnya.


" Dea, tidak ada kesalahpahaman diantara kami. Apapun alasan dia pergi saat itu ataupun apa yang membuatnya tidak bisa memberi kabar pada kita. Aku sudah tidak ingin mempermasalahkannya. " Moza sepertinya memahami maksud dan tujuan Deana.


" Mo. . . " Suara Dea sekarang terdengar sedikit bergetar, Moza memahami dilema sahabatnya segera membuka suara kembali.


" Kamu tahu kan bagaimana berartinya kalian berdua buat aku. Kalian berdua yang selalu ada di masa terburukku. Kalian berdua adalah dua orang yang tidak akan bisa tergantikan oleh siapapun. " Ujarnya seraya meraih kedua tangan Deana yang ada di atas meja. Menggenggam erat tangan sahabatnya.


" Dan aku menghindarinya bukan untuk menjauhinya, Dea. Aku hanya butuh waktu menenangkan hatiku. Aku tidak bisa menemuinya saat ini bukan karena aku tidak ingin lagi berteman dengannya. . . Aku hanya sedikit kecewa, Dea. Aku. . . " Lagi-lagi Moza hanya menghela nafas dalam, masih terlalu berat baginya untuk memutuskan apa yang terbaik.


" Bian bilang semua akses untuk menghubungi kita tertutup rapat. Dia bukan sengaja tidak memberi kabar pada kita, dia hanya . . . "


" Dea, dengarkan aku ! "


" Apa kamu berpikirΒ  jika kami bisa bertemu lebih awal, ada kemungkinan untuk hubungan lain selain persahabatan diantara kami ?! "


Deana menggeleng.


" Dea, aku tidak tahu apa yang membuat Fabian tidak bisa menemukan kita dan menemui kita lebih awal. "


" Tapi satu hal yang pasti, tidak akan ada yang berubah, Dea. "


" Hati ini sudah dimiliki oleh orang lain, bahkan mungkin jauh sebelum aku mengenal Fabian, sebelum aku juga mengenalmu, Dea. " Ucap Moza dengan sangat tegas.


" Kamu tahu kan apa maksudku ian, Dea ?! "


Dea mengangguk mengerti, " Ya, gue tahu. Gue cuma pengen bilang agar lo gak menghindari Bian, Mo. Gue berharap kita masih bisa bersahabat seperti dulu, gue, elo dqn Fabian. "


" Aku tidak berniat menghindari dia. Aku hanya belum siap menerima kehadiran Fabian yang . . . "


" Yang membawa rasa berbeda buat lo ?! " Ucap Dea melanjutkan kalimat Moza yanf terputus.


Moza mengangguk.


Jika boleh jujur, berat rasanya jika harus memutuskan persahabatannya dengan Fabian begitu saja.


Tapi Moza juga tidak bisa jika harus bertahan dalam persahabatan yang sudah tidak lagi murni itu, karena cepat atau lambat, suatu saat pasti akan menyakitkan bagi salah satunya.


" Ada hati yang harus aku jaga, Dea. Jika aku terus bertemu dengan pria lain yang memiliki perasaan padaku, aku akan menyakitinya, Dea. "


Ya, tentu saja saat ini Hega lah yang menjadi prioritasnya. Pria yang sudah memenuhi seluruh hati dan pikirannya.


" Dan untuk Fabian, tidak mungkin untuk aku membalas perasaan nya, Dea, tapi aku juga tidak bisa melihat tatapan terluka di matanya. Bagaimanapun, Fabian lah yang membantuku menjadi sosok yang tegar dan kuat. Membantuku belajar menyembunyikan kerapuhanku dari luar. "


Dea menghela nafas mengalah, " Yah, gue paham maksud ucapan lo, Mo. Mungkin kalian berdua memang sama-sama butuh waktu. Terutama Fabian yang butuh waktu untuk menerima jika lo udah bahagia dengan pilihan lo. "


" Ya, aku harap juga begitu. Inilah sebabnya sulit untukku membuka diri untuk persahabatan dengan seorang pria. Karena saat salah satunya memiliki rasa yang berbeda, maka persahabatan itu tidak akan lagi sama. "


" Jadi biarlah Fabian terlebih dulu menata hatinya kembali, dan jika saat itu sudah tiba maka aku akan dengan senang hati kembali menjadi sahabatnya. "


Lagi-lagi Deana mengangguk setuju, miris rasanya mendengar penuturan sahabatnya.


Entah kenapa hatinya sempat terasa ngilu mendengar kata sahabat dan cinta. Sekilas bayangan wajah tampan Julian melintas di kepalanya, dengan cepat Deana menggelengkan kepalanya dan mengibaskan tangannya di atas kepalanya seolah sedang mengusir sesuatu dari dalam pikirannya.


⚘⚘⚘


^^ Jika ingin melangkah menuju masa depan, maka terlebih dahulu tuntaskanlah segala sesuatu dimasa lalumu. Karena tidak ada yang tahu masa depan, bisa saja masa lalu yang kamu anggap sepele dan kamu abaikan, justru akan menjadi batu sandungan atas berlangsungnya kebahagiaanmu di masa yang akan datang. ^^ ( Sherinanta )



Ijinkan aku mendapatkan kebahagiaan yang sempurna bersamamu. ~ Moza Art ~


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Ayo yang mau nikah, putusin dulu semua mantannya !


Kalau ada orang yang pernah nembak tapi kamu abaikan, yang minta maaf saja daripada dianya sakit ati ditinggal kawin, eh mampir ke dukun dia.


Ngeri lu thor pake bawa dukun segala. . .


Ya, kali aja dia kang loundry yang lagi ngantar baju londryannya pak dukun ( negatif thinking sih lu )

__ADS_1


__ADS_2