Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Terjebak Kakak Beradik Yang Mengerikan


__ADS_3

AUTHOR


Sekali lagi Moza dikalahkan oleh kelicikan kakak beradik tersebut. Hati dan pikirannya meronta-ronta, Moza seakan merasa dikhianati oleh perasaan dan logikanya sendiri.


Gadis yang selalu menghadapi semua hal dengan akal sehat, memiliki banyak cara menghadapi tingkah setiap pria yang mendekatinya.


Tapi kali ini insting bertahannya seolah melemah jika dihadapkan dengan pemuda yang satu ini. Dia benar-benar membuat keteguhan Moza terkikis.


Dan akhirnya mau tak mau, suka tak suka, rela ataupun tidak. Moza harus kembali menautkan jari kelingkingnya dengan si kecil Rania, si peri kecil yang ternyata tanpa disadarinya bersekongkol dengan sang kakak.


Moza memang sangat menyukai gadis kecil itu, tapi bukan berarti dia bersedia dengan sukarela bertemu dengannya setiap waktu seperti janji mereka, apalagi jika ada Hega bersama gadis itu.


Membuat hatinya goyah, mulai berharap lagi dan serakah.


Mo, dia bukan takdirmu. Bagaimanapun kamu tidak mungkin bisa bersamanya. Dia milik orang lain. Sadarkan dirimu segera sebelum kamu semakin terluka !!!


Moza terus mengulang kalimat demi kalimat yang dapat menyadarkan dirinya dari rasa ingin memiliki pemuda itu.


Pemuda yang terlalu sulit untuk ditolak keberadaannya.


Pemuda yang begitu menyilaukan mata dengan karismanya.


Pemuda yang menatapnya dengan banyak cinta yang membuat hatinya selalu berdebar saat menatap mata elang yang begitu mempesona.


Aaarrrrg..... Hentikan Moza Artana, jangan menatapnya lagi jika kamu tidak ingin semakin terjerumus dan sulit lepas darinya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya berulang kali, menepuk pipinya sendiri dengan telapak tangannya. Mengumpulkan kembali kesadaran dirinya.


Hega tentu saja tahu apa yang ada di kepala gadis itu dan pastinya pemuda itu tak akan membiarkan apapun yang dipikirkan Moza terjadi.


Bagaimanapun dan dengan cara apapun dia akan mengikat hati Moza untuk dirinya sendiri. Mengunci mata kecoklatan yang sangat disukainya itu agar hanya bisa memandang ke arah dirinya.


Jangan berfikir untuk lepas dariku, aku tahu kamu masih mencintaiku, seperti rasaku yang tak terkikis sedikitpun padamu.


Cepat atau lambat kamu akan jadi milikku. Dan tak akan aku biarkan seorangpun masuk dalam hati dan pikiranmu.


Hanya aku yang boleh ada di sana, di hatimu, di pikiranmu.


Dan hanya bayanganku yang boleh ada di mata itu.


Hega tersenyum penuh arti, memahami setiap gerak-gerik Moza dan apa yang sedang dipikirkan gadis itu.


โ€ข


โ€ข

__ADS_1


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Rania begitu bahagia menghabiskan hari minggunya untuk bersenang-senang dengan dua orang yang dia sukai.


Sedangkan Moza masih merasa sesuatu mengganjal di pikirannya, bagaimana dia bisa berakhir seharian bersama dua iblis yang mempesona ini.


Yang satu iblis kecil yang sangat menggemaskan, yang satu lagi iblis tampan yang mempesona. Namun hatinya meleleh lagi setiap melihat ekspresi imut si kecil Rania dan ditambah senyum penuh cinta dari pemuda yang masih menggenggam erat tangannya.


Aaaaa..... Apa yang baru saja kamu pikirkan Moza, jangan menatap lagi ke arah mereka. Atau kamu akan terjebak lebih dalam dengan kelicikan mereka. Bagaimana bisa kakak beradik ini memiliki wajah yang sangat luar biasa seperti ini si ? Huhuhuuuuuu....


Batin Moza menangisi nasibnya sendiri.


Untuk Hega, tak perlu ditanya. Dia adalah yang paling bahagia dengan acara jalan-jalan hari ini. Dan semakin meyakinkan dirinya jika memiliki gadis itu seutuhnya adalah tujuan terpenting hidupnya saat ini.


Setelah puas bermain di taman hiburan, mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu sebelum pulang.


Hega membawa kedua gadis cantik itu ke salah satu restoran ternama yang ada di kota. Salah satu restoran yang juga merupakan aset keluarga Saint.


Menggunakan area privat dan memesan bebebapa makanan dan minuman. Setelah sekitar saju jam menghabiskan waktu di restoran, Hega mengantar Moza kembali ke kosnya.


Rania akhirnya tertidur karena mungkin kenyang sekaligus kelelahan. Hega menidurkan gadis kecil itu di kursi belakang.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, seharian bersenang-senang, beraktifitas diluar membuat Moza kahabisan tenaga.


" Maaf sudah menyita waktumu hari ini dan membuatmu kelelahan dengan mengikuti semua kemauan Rania. Dan juga terima kasih. " Ucap Hega akhirnya setelah menghentikan mobilnya di depan gerbang kos gadis itu.


" ". Hega mengernyitkan dahinya, entah pura-pura tak mengerti atau memang benar-benar tak mengerti maksud ucapan gadis itu.


" Ayolah kak, jangan pura-pura tak tahu seperti itu. Kakak tahu kan apa maksudku ? " Gumam Moza lelah.


Sial... Apa dia tahu jika ini semua rencanaku saja ? ~ Hega ~


" Aku benar-benar tak tahu apa yang kamu katakan. " Hega masih berusaha tenang.


" Hmmm.... Baiklah teruslah pura-pura tidak tahu apa-apa. Aku masuk ya kak, terima kasih untuk hari ini. " Ucap Moza pasrah.


Hendak membuka pintu, Hega mengunci otomatis pintu mobil. Menahan lengan Moza dengan tangan kirinya.


" Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu kesal. Aku hanya ingin kita mulai lagi dari awal. Bisakah kamu memberiku kesempatan ? "


Pinta Hega melembut, tak ada gunanya lagi dia terus berpura-pura tak tahu. Nyatanya Moza sudah menyadari keanehan yang terjadi hari ini. Meskipun gadis itu tak menjelaskan dengan detail, tapi Hega sadar jika Moza sudah mengetahui akal-akalan licik yang direncankanya untuk hari ini.


" Huft.... Kakak tahu itu tidak mungkin untuk kita kan. Aku tidak keberatan menemani Rania bermain seperti hari ini, tapi jangan gunakan adik kakak untuk tujuan pribadi kakak, apalagi membuat gadis manis dan polos ini mengikuti setiap kemauan kakak yang aneh-aneh itu. " Sindir Moza.


" Aku ? Kapan aku meminta Rania melakukan hal seperti itu ? " Elak Hega.

__ADS_1


" Kak... "


" Sungguh aku benar-benar tidak melakukannya, memang benar aku yang memintanya untuk membuat kamu menemaninya seharian ini. Tapi semua yang dilakukannya adalah inisiatif Rania sendiri. Aku bahkan tidak memintanya pura-pura merengek padamu. Itu murni idenya sendiri. "


Aaaaaahhhh sial, aku keceplosan. Bagaimana kalau Moza jadi benar-benar kesal dan tidak mau bertemu lagi. ~ Hega ~


Apa ?! Jadi rengekan, mata memelas dan juga ekspresi kecewa Rania tadi hanya akting ? Aaaa.... Bagaimana aku bisa tertipu si ? Kalian berdua benar-benar kakak beradik yang mengerikan..... ~ Moza ~


Hega dan Moza masing-masing merutuki kebodohan mereka sendiri dalam hati.


Dan kemudian tanpa sadar terukir senyum kecil di bibir Moza, merasa lucu dengan apa yang terjadi hari ini. Bagaimana bisa kelakuan kakak dan adik begitu mirip, sama-sama pandai memanfaatkan wajah mereka untuk menakhlukkan orang lain.


" Maaf, apa kamu marah ? " Tanya Hega was-was melihat kediaman gadis itu, Moza menggeleng perlahan. Kemudian tersenyum, membuat Hega bernafas lega.


" Terima kasih untuk hari ini. " Lanjut Hega.


" Hmm. " Moza hanya berdehem menanggapi ucaoan terima kasih Hega yang terdengar begitu bahagia.


Beberapa saat suasana kembali hening, tak ada yang bersuara. Masing-masing sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, Hega sedang menyusun kata untuk membuat Moza menerima permintaannya memulai kembali.


Sedangkan Moza sedang memikirkan bagaimana mengembalikan kalung yang masih tersimpan di tas nya. Gadis itu sedikit ragu, namun akhirnya kalimat itu keluar juga dari bibirnya.


" Kak... "


" Hmm. Katakan. "


" Mari kita akhiri disini kak, lepaskan aku. "


" " .


๐ŸŒŸ


๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œโค๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œโค


Bantu VOTE agar karya ini naik RANK yah....


Terima kasih ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ’•๐Ÿ’•


Jika kalian suka Episode ini, jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...


โœ” LIKE ๐Ÿ‘


โœ” COMMENT โœ๐Ÿ’Œ

__ADS_1


โœ” VOTE ๐Ÿ’ฑ๐Ÿ’ฒ yah ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


__ADS_2