Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Akhirnya Melihatmu


__ADS_3

AUTHOR


Hega baru saja menyelesaikan sholat maghrib, masih memakai baju koko dan sarung lengkap dengan peci. Membuat aura ketampanannya semakin bertambah dan juga berkesan teduh dan menenangkan.


Dilepasnya peci di kepalanya sambil melangkah menuju sofa, mengambil ponselnya yang sedari tadi berbunyi di atas nakas. Membuka aplikasi chat, terlihat Bara yang mengiriminya banyak pesan.


Okey, ketemu disana jam 7.


Ping


Ping


Helooooo.... Jadi ya kita ketemuan di kafe Dimas ?


Pliss bro jangan rencanain hal kekanakan lagi buat bales gue.... Gue udah kapok.....


Ga, gue udah mau otewe.


Bara yang dengan gelisah pikirannya karena chat nya tak kunjung mendapat balasan dari Hega, cemas jika sahabatnya sekaligus boss nya itu sedang merencanakan sesuatu yang lebih kejam untukknya.


Padahal nyatanya alasan Hega tak kunjung membalas pesan tersebut tidak seperti dugaan Bara.


Hega tersenyum kecut melihat kelakuan sahabatnya itu. Tanpa harus berbuat apa-apa, Bara yang tadinya menolak, dengan sendirinya menuruti permintaan Hega untuk bertemu di kafe Dimas.




🍒🍒🍒


HEGA


Seharian ini Bara membuatku kesal dengan kelakuannya, tentu saja jangan memanggilku Hega Airsyana jika tidak bisa membalas kelakuannya yang menjengkelkan.


Bara tahu bagaimana aku bisa sangat kekanakan dan bahkan juga bisa sadis saat membalas siapapun yang membuat mood ku memburuk.


Aku rasa sudah cukup pembalasan yang sudah aku lakukan pada bocah itu tadi siang. Sekarang saatnya aku kembali pada diriku sendiri, malam minggu yang biasanya akan kuhabiskan di apartement atau mengunjungi kakek di mansionnya.


Hari ini aku sedikit keluar dari kebiasaanku, kuminta Bara bertemu di kafe Dimas, tapi bocah sial itu malah memakiku. Benar-benar perlu diberi pelajaran tuh anak, tapi belum juga aku melakukan apapun dalam sekejap Bara berubah pikiran.


Aku tertawa puas dalam hati melihat wajah dongkolnya tadi sore saat kuberi dia tugas ke Afrika untuk mengecek cabang hotel disana, yang memang sebenarnya bisa dilakukan oleh orang lain.


Salah sendiri melawanku, pikirku saat itu. Tapi sejenak muncul sedikit rasa bersalah padanya, jadi kuajak dia bertemu di kafe Dimas sekalian jika beruntung aku bisa bertemu dengan gadis itu.



__ADS_1


🍒🍒🍒


MOZA


Satu kata untuk hari Sabtu, lazy day..... Tapi motto itu tidak berlaku hari ini, setelah siangnya bertemu dengan ketiga sahabatku di mall, aku berharap mereka akan membebaskanku bersantai di kosan saat pembicaraan tentang rencana Rena sudah mendapat solusi.


Nyatanya tidak, disini aku masih terjebak dengan mereka. Selepas makan siang mereka menyiksaku dengan jalan-jalan di mall dan shopping. Tak cukup dengan itu, saat ini mereka tengah asyik menjadikan kamar kosku seolah kamar mereka sendiri.


" Kenapa kalian gak pulang saja sih ? Mandi dan dandan sana di rumah. " Ucapku kesal.


" Sekalian aja Mo, jadi berangkatnya barengan aja, kita kan udah lama gak malming di kafe Dimas. " Ujar Rena sambil mengoleskan lipbalm di bibirnya.


Mereka mungkin bisa menduga jika mereka pulang dan bersiap dirumah, berangkat sendiri-sendiri dan bertemu di kafe. Sudah dipastikan aku tak akan muncul, itulah alasan mereka bertahan disini dengan segala omelanku dari tadi. Memastikan aku ikut bersama mereka.


Dengan enggan aku masuk kamar mandi, membersihkan sisa-sisa keringat setelah hampir setengah hari mengikuti kemauan sahabat-sahabatku yang kadang menjengkelkan ini.


Dan disinilah sekarang kami berada, taksi online sudah berhenti tepat di depan kafe Dimas. Sudah banyak sekali kendaraam yang terparkir disana, maklum malam minggu memang selalu penuh.


" Deana, sini dek. " Teriak suara yang tak asing.


" Yuk kita kesana. " Deana menarikku menuju meja asal suara yang memanggilnya, duduk tepat dihadapan pria yang wajahnya hampir setiap hari menggangguku.


Beneran pengen ku tonjok sekali aja tuh muka.


Kulihat dia tersenyum kecil padaku, tenggorokannku mendadak tercekat. Tapi tak mungkin aku pergi dari sini tanpa alasan.


Ish... kenapa si aku selalu tiba-tiba malu setiap pandanganku bertemu dengannya ? Pliss jangan liat aku seperti itu.


" Mata kecolok sedotan rasanya gak enak loh dek, lo mau coba gak ? " Sambar bang Bara sambil melirik kearahku, kemudian dihadiahi pelototan tajam dari pria sebelahnya.


" Gak usah bang, cukup tahu cerita dari abang aja. Makasih udah dikasih tahu " Jawabku dingin berusaha mengalihkan pandanganku.


Deana, Amira dan Renata cekikikan mendengar perkataaanku.




🍒🍒🍒


AUTHOR


Cukup lama mereka berbincang tidak jelas kesana kemari, ditemani live music yang menjadi ritual setiap malam minggu di kafe Dimas.


" Jadi kapan kita bisa lihat tempatnya bang ? " Tanya Rena sambil mengaduk minuman yang dipesannya dan mengambil sepotong kentang goreng.


" Tinggal tunggu si boss tanda tangan. " Jawab Bara.

__ADS_1


" Lama ya bang ? " Buru Renata.


" Hei Re, lo kayak mau buka butiknya besok aja, buru-buru amat. " Sambar Amira.


" Yah biar kita bisa lihat tempatnya sambil rencanain buat dekor tuh tempat kali Amira, setting dekorasi butik kan juga butuh waktu lama, sembari mempersiapkan beberapa item dari desainnya Moza. " Cerocosnya tak mau kalah.


" Apa lo kata lah, gak bisa menang debat sama lo kalo lo udah ada maunya. " Amira menyerah menanggapi Renata.


" Jadi berapa lama bang kira-kira ? " Kembali Renata memburu.


" Kalau maunya cepet ya tinggal bilang aja sama orangnya langsung. " Ucap Bara sambil nyengir kuda.


Keempat gadis itu tampak bingung dengan ucapan pria dihadapan mereka itu.


" Tuh, si boss yang susah dimintai tanda tangan, coba lo rayu aja langsung dek. " Goda Bara pada keempat gadis itu sambil menunjuk ke arah pria yang tengah berjalan menuju ke arah mereka.


Hega yang baru saja kembali duduk setelah menerima panggilan telepon dari kakek Surya tampak bingung dengan tatapan keempat gadis di hadapan mereka.


" Kenapa Bar ? " Tanyanya pada pria yang masing nyengar-nyingir di sampingnya.


" Loh bang, katanya tuh tempat punya abang, gimana si ? " Protes Deana.


" Lebih tepatnya punya perusahaan dek, hehe..... Nih langsung aja bilang sama yang punya perusahaan. " Bara melemparkan tanggung jawab pada sahabatnya.


" Jadi gimana dong ? " Tanya Renata dengan tak besemangat.


" Gimana Ga ? " Tanya Bara sambil menyikut lengan Hega.


" Maaf tempat itu tidak bisa. " Ucapnya dengan nada datar sambil meminum kopi miliknya, membuat Renata semakin beringsut di sofanya.


Bara malah melotot tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.


" Saya minta maaf atas kecerobohan Bara yang tidak melakukan pengecekan sebelumnya jika tempat itu sudah ada penyewanya. Sebagai permintaan maaf, kalian bisa pakai satu tempat di Golden Mall, nanti Bara yang akan mengurusnya. " Lanjutnya masih dengan nada datar, kembali menatap gadis di hadapannya.


Dilihatnya mata bulat kecoklatan itu setengah melotot kearahnya sekilas dan kemudian memalingkan pandangannya ke arah lain, sedangkan ketiga temannya yang lain tak kalah terkejutnya.


Mulut ketiganya melongo menatap pria tampan yang saat ini tengah memakai kemeja putih bergaris hitam, dengan lengan dilipat hingga siku. Sangat tampan dan mempesona.


Respon Bara justru yang paling ekstrim, kopinya sampai menyembur dan belepotan di bibirnya.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....

__ADS_1


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


__ADS_2