Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Lamaran Romantis ?


__ADS_3

AUTHOR


β€’ Ruang Presdir β€’


Beberapa hari kemudian,


Hega terlihat gelisah duduk di kursi kebesarannya, menatap dengan pandangan kosong ke arah layar laptop berlogo apel tergigit di atas meja kerjanya. Jarinya memainkan pena di tangannya dengan gusar, sesekali mengetuk-ngetukkan benda itu pada meja karena merasa kesal.


Kacamata dengan kaca bening masih bertengger di hidung mancungnya, tapi Hega benar-benar tidak bisa fokus pada berkas-berkas di hadapannya.


Ucapan Bara terus terngiang-ngiang di kepalanya, membuat pikirannya jadi tidak karuan


~ Flashback ~


β€’ Dua jam yang lalu β€’


Hega tengah mengecek berkas yang dibawa Bara dari hasil peninjauan proyek resort yang ditangani Bara beberapa waktu yang lalu.


" Jadi lo bakal segera nikah nih, Ga ? " Tanya Bara di sela-sela penjelasannya tentang proyek resort.


" Hm. " Menjawab singkat dengan masih fokus pada berkas di tangannya.


" Dari pertunangan menjadi pernikahan ? Secepat ini ? Heeem... Gue jadi curiga nih ! " Bara menatap curiga, Hega melirik tajam sekilas ke arah Bara kemudian kembali menbolak-balik berkas di tangannya.


" Jangan-jangan . . . " Menaik turunkan alisnya dan menatap jahil sahabatnya.


Pletak. . .


" Auwh . . . Bener-bener sahabat sialan lo, Ga ! Gak bisa apa lo hilangkan kelakuan menyebalkan lo itu. " Omel Bara seraya mengusap-usap dahinya yang terkena pena terbang.


" Hilangkan dulu pikiran mesum lo itu baru gue akan memikirkan apakah gue juga akan berhenti menyiksa lo atau tidak ?! " Ujar Hega datar.


" Cih . . . " Tentu saja itu tidak mungkin terjadi dalam hidup Bara, kemesuman adalah salah satu ciri khas seorang Bara. 😁😁


" Ah. . . Berarti lo udah bikin lamaran romantis dong buat Momo cantik ? " Langsung terduduk di kursi di depan meja Hega, memandang penasaran sahabatnya.


Pertanyaan Bara sedikit mengejutkan Hega, terlihat Hega sedikit tersentak Bara saat menyebutkan kata 'lamaran romantis'. Hega menghentikan aktivitasnya, reflek meletakkan berkas yang sedari tadi dibacanya di atas meja.


Terdengan desahan kasar dari pemuda itu.


Dan melihat ekspresi sang sahabat, Bara tahu jelas apa jawaban dari pertanyaannya, dan tentu saja itu membuat Bara menggelengkan kepalanya dan berdecak frustrasi.


" Ck ck ck. . . Payah lo, Ga ! Setelah lo nembak Momo di depan banyak orang waktu tahun baru kemarin dengan begitu romantis, gue pikir pasti lo udah melamar atau setidaknya menyiapkan sebuah lamaran romantis buat calon istri lo itu. " Cibirnya.


Hega menaikkan satu alisnya menatap sahabatnya yang masih mengoceh, " Memangnya itu penting ? " Tanyanya dengan ekspresi datar, membuat Bara merutuki ketidak pekaan sahabatnya itu.


Bara menepuk-nepuk keningnya semakin frustrasi, " Huft . . . Sebagai pengusaha lo memang luar biasa, Ga. " Ucap Bara mengacungkan kedua jadi jempolnya.


" Tapi lo benar-benar payah sebagai seorang pria. " Cibir Bara lagi seraya geleng-geleng kepala dan membalikkan kwdua jari jempolnya ke arah bawah.


" Memangnya playboy macam lo punya pengalaman apa soal lamaran romantis sehingga lo berani mengajari gue soal itu ?! Cih. . . ! " Hega balas mencibir.


" Haish. . . Tidak butuh pengalaman untuk bicara soal lamaran, Ga. Itu kan hal mendasar yang memang harus kita para pria ketahui ketika menjalin hubungan serius dengan seorang gadis. " Ujar Bara serius dan kesal sekaligus.

__ADS_1


" Cih. . . Seolah lo pernah serius saja dengan semua perempuan yang lo kencani itu. " Decak Hega membalas mencela Bara.


" Hahaha. . . Suatu saat gue pasti serius, Ga. Dan bagaimanapun mendapatkan lamaran romantis adalah impian semua wanita. Lagipula lamaran kan juga salah satu proses penting menuju pernikahan. " Bara terus berkilah, kali ini lidah Bara sebagai seorang buaya panakhluk wanita benar-benar sangat berguna dalam melawan Hega.


" Haish. . . Gue benar-benar kasihan sama Momo, punya pacar yang kaku dan tidak peka seperti lo ini. Huft... " Tanpa ragu Bara memaki kebodohan sang sahabat.


" Cih . . . " Untuk pertama kalinya Hega sama sekali tidak bisa berkutik berdebat dengan Bara saat ini. Kepalanya menadak pening memikirkan ucapan Bara yang dengan berat hati harus diakuinya benar adanya.


~ Flashback End ~


Kepala Hega masih berdenyut mengingat kembali obrolannya dengan Bara beberapa waktu lalu, Hega memijat-mijat celah diantara kedua alisnya.


Dilihatnya ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja, dengan cepat Hega meraih benda pipih berwarna hitam itu dan membuka kunci layar dengan menempelkan jari telunjuknya pada sensor fingerprint di ponsel pintar itu.


Netra hitamnya fokus menatap layar berukuran 6,5 inch itu, jari-jarinya dengan lincah mengetikkan beberapa kata kunci dalam mesin pencarian internet.


πŸ” Lamaran Romantis


πŸ” Melamar kekasih


πŸ” Marriage Proposal


Klotak. . .


Hega menjatuhkan ponselnya di atas meja, raut wajahnya terlihat tidak baik, moodnya berubah buruk. Jelas terlihat jika pemuda itu tidak mendapatkan apa yang dicarinya dengan bantuan smartphone miliknya.


" Aaargh.... Sial ! Kenapa ucapan bocah gila itu membuatku jadi sepusing ini ?! " Umpat Hega kesal, mengacak rambutnya frustrasi kemudian membanting punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya.


" Huft... " Hega mendengus resah, memejamkan matanya dan berusaha menenangkan pikiran dan hatinya. Mengingat-ingat apa kiranya hal-hal yang disukai oleh Moza yang bisa ia gunakan untuk membuat acara lamaran untuk gadis kesayangannya itu.


Gumam Hega dalam hati.


" Aish... Masalah kami saja baru selesai dan aku malah langsung meminta bantuannya. Sungguh tidak tahu malu ! " Menggerutu lirih pada dirinya sendiri.


Merasa tidak mendapat solusi, akhirnya Hega menyerah, diraihnya lagi ponsel di atas meja, mencari kontak sang papa.


~ Dalam Panggilan ~


( Assalamualaikum. )


" Waalaikmsalam, Pah. "


( Ada apa, Nak ? Tumben kamu menelpon Papa ?! )


" Eumm... Pah, apa papa sibuk ? "


( Tidak, kenapa ? )


" Bisa Hega menemui Papa sekarang di kantor ? "


( Hem. Iya, datanglah ! Papa tunggu. )


" Iya, Pah. Hega berangkat sekarang. Assalamualaikm. "

__ADS_1


( Iya, hati-hati. Waalaikumsalam. )


Tut tut tut . . .


~ End Call ~


β€’


⚘⚘⚘


β€’ Empire Restaurant β€’


Hega sampai di tempat kerja sang papa, salah satu cabang usaha di bawah naungan Golden Imperial Group, restoran bintang lima yang dipegang dan dikelola oleh sang papa.


Memasuki restoran, Hega sudah disambut oleh manajer restoran dan diantarkan ke ruangan direktur di lantai tiga. Hega memasuki ruangan pribadi Aryatama, terlihat sang papa masih bergumul dengan berkas-berkas di atas mejanya.


" Pah. " Mengintip di ambang pintu.


Arya menatap ke arah pintu, pria paruh baya yang masih terlihat sangat gagah dan tampan di usianya yang sudah tidak lagi muda itu tersenyum menyambut kedatangan putra kesayangannya.


" Masuk dan duduklah ! Mau minum apa ? " Melihat kedatangan putranya, Arya segera membereskan berkas-berkas di atas meja, menghentikan sejenak pekerjaannya.


" Kopi saja, Pa. " Jawab Hega yang kini sudah duduk bersandar di sofa.


Arya menekan tombol di telepon dan meminta pegawainya mengirim pesanan putranya, dan kemudian beranjak berdiri dari kursi kerjanya dan menghampiri putranya untuk ikut duduk di sofa.


" Pah, boleh Hega bertanya ? " Tanpa basa-basi Hega langsung bertanya bahkan saat Arya barusaja mendaratkan pantatnya di sofa.


" Hem, ada apa ? Katakan saja ! " Ucap Arya seraya menyamankan posisi duduknya.


Hega membenarkan posisi duduknya, mencondongkan badannya ke depan dan menyatukan kedua tangannya di atas pahanya.


" Itu, emm. " Ucap Hega ragu kemudian menggaruk tengkuk canggung.


" Kenapa ? Apa kamu ada masalah ? Katakan yang jelas ! " Melihat gelagat sang putra yang tidak seperti biasanya, Arya tentu saja merasa cemas jika jangan-jangan ada hal buruk menimpa putranya itu.


" Ah, tidak Pah. Hega hanya ingin tanya bagaimana dulu papa melamar Mama ? " Pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut Hega dengan nada canggung.


Arya sontak membelalakkan matanya, sedikit terkejut dengan pertanyaan Hega.


" Hanya itu ?! Kamu menelpon papa dan buru-buru datang ke kantor papa hanya untuk menanyakan hal seperti itu ? Ha ha ha ha.... " Bukannya langsung menjawab, Arya malah balik bertanya dan tergelak membuat Hega sedikit kesal dengan papanya.


Pemuda itu kembali menyandarkan punggungnya di sofa dengan sedikit keras karena jengkel.


" Pah, berhenti mentertawakan Hega ! Katakan saja bagaimana Papa melamar Mama dulu ?! " Gerutu Hega dengan nada kesal.


" Ha ha ha... Iya, iya baiklah. Maafkan papa ! "


Arya seketika berhenti tertawa, berusaha menormalkan ekspresinya.


" Eum... Papa tidak melakukan hal itu, Nak. Kakekmu yang langsung datang pada orang tua mamamu dan meminta ijin pada mereka untuk menikahkan putri mereka dengan papa. " Jawab Arya datar.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...

__ADS_1


...Bapak sama anak ternyata sama saja !!! πŸ™ˆ...


__ADS_2