Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kemana Julian ?


__ADS_3

AUTHOR


Julian yang merasa tak terima dengan ejekan sahabat-sahabat cantiknya langsung memasang muka cemberut menatap keempat gadis itu.


" Tega kalian sama gue, gitu amat ketawanya. " Gerutunya.


" Lah abisnya lo sendiri ngomong gak pake filter. " Protes Deana.


" Eh kalian tadi liat gak bang Hega melotot ke arah gue ? " Ucapnya saat teringat tatapan tajam Hega saat berpamitan tadi.


" Enggak tuh, sama gue tadi senyum kok. " Gumam Renata.


" Iya sama gue juga tuh tadi pamitan sambil senyum. " Dukung Deana membenarkan pernyataan Renata dan Amira pun mengangguk setuju.


" Perasaan lo aja kali Jul. " Hibur Amira.


" Iya juga kali ya. " Ucap Julian kemudian.


Tapi emang bener kok bang Hega melototin gue, nih ajah merindingnya masih berasa. Gumam Julian pelan.


" Apaan Jul ? " Tanya Amira.


" Oh, gak papa. Nih mau lanjut beresin apa lagi ? " Ucapnya mengalihkan pembicaraan.


Moza kembali menyibukkan dirinya mengatur beberapa ornament yang akan digunakan untuk wall decor. Tapi pikirannya selalu terganggu dengan kelakuan aneh Hega akhir-akhir ini.


Tuh orang kenapa si bikin pusing kepala aku, sering muncul tiba-tiba kayak setan. Bikin sport jantung....


Gerutu gadis itu lirih.


Sebenarnya Moza hafal betul tanda-tanda jika seorang pria mendekatinya atau istilahnya pdkt. Tapi ini bukan orang lain, tapi seorang Hega, pria yang diketahuinya sangat teramat jutek.


Beberapa kali dipergokinya pria itu tengah berkata ketus pada beberapa wanita yang mencoba mendekatinya.


Kalaupun sekarang pria itu memang benar-benar sedang melakukan pendekatan padanya, gadis itu masih geleng-geleng kepala membayangkannya.


Gak mungkin.... Kenapa juga harus aku gitu. Perempuan yang selama ini aku lihat mendekatinya bahkan lebih cantik, seksi dan tentu saja lebih dewasa dari aku. Enggak mungkin tuh orang pdkt sama aku.... Jangan ge er Mo, anggap aja tuh orang seiseng sahabatnya.


Lagi-lagi Moza bergumam sendiri.


Tentu saja yang dimaksud Moza adalah Bara, sikap Bara yang memang pecicilan dan cenderung genit pada semua wanita membuat Moza beranggapan mungkin saja Hega juga punya kelakuan yang sama dengan pria itu.


Sudah hampir dua minggu mereka berempat sibuk mempersiapkan butik mereka. Julian juga sering membantu, sedangkan Dimas beberapa kali berkunjung mengirimkan beberapa camilan dan membantu sebentar karena memang kesibukannya mengerjakan skripsi dan juga pekerjaannya di kafe.


Tapi sudah hampir tiga hari Julian tidak terlihat dan tak ada kabar sama sekali. Entah kemana perginya sahabat mereka yabg satu itu.


Bara pun bahkan tak muncul sama sekali karena usut punya usut pria itu tengah menjalankan tugasnya di Afrika.


Kasihan ya, jadi juga Bang Bara tersiksa di Afrika. 🤗🤗


Sedangkan Hega masih setia datang setidaknya dua hari sekali, mengajak keempat gadis itu makan siang di restoran mall atau sekedar mengirimkan makanan atau camilan melalui sekretarisnya jika dia berhalangan datang langsung.


Hari ini jadwalnya Moza mengecek beberapa desainnya yang sudah dikerjakan di pabrik konveksi keluarga Amira. Memastikan hasilnya semaksimal mungkin.


Baru saja mereka berdua hendak beranjak pergi menuju pabrik konveksi, Hega sudah muncul di ambang pintu butik.


" Mau kemana ? " Tanyanya lembut pada Moza.


" Konveksi. " Jawab Moza singkat.


" Saya antar. " Tawarnya.

__ADS_1


" Tidak, aku bersama Amira. " Tolak gadis itu sopan.


" Amira apa kamu keberatan jika saya mengantar kalian ? " Merasa akan terus mendapat penolakan, Hega memutar arah bertanya pada sahabat gadis itu.


Amira tentu saja menggelengkan kepalanya, membuat Hega tersenyum puas. Sedangkan Moza menatap tajam kearah Amira, dan dibalas sahabatnya itu dengan menaikkan kedua bahunya pertanda dia tak bisa berbuat apa-apa atas permintaan Hega.


Akhirnya Moza terpaksa menerima tawaran pemuda itu, duduk di kursi depan disamping Hega, sedangkan Amira di belakang.


Sampai di konveksi, Renata sudah tiba disana menunggu kedua sahabatnya, Amira keluar terlebih dulu.


" Terima kasih. " Ucap Moza saat hendak turun dari mobil.


" Saya tunggu. " Balas Hega datar.


" Kami akan lama, lebih baik kakak .... " Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hega sudah membuka pintu, keluar dari mobil dan membuka pintu mobil untuk gadis itu.


" Saya punya banyak waktu, jadi kalian tidak perlu terburu-buru. " Ucapnya setelah menutup kembali pintu mobilnya.


Sekali lagi Moza harus menyerah menghadapi kegigihan pria ini, apalagi dia lebih tak ingin berdebat dengan Hega di hadapan kedua sahabatnya.


" Baiklah, terserah. " Jawabnya pasrah dan berjalan menghampiri kedua temannya.


Setelah sekitar dua jam ketiga gadis itu melihat dan mengecek beberapa model dress untuk display butik mereka, memastikan semua detailnya rapi dan sempurna.


Pastinya Renata yang paling aktif untuk tugas ini, selain karena kecintaannya pada fashion juga karena Renata lah yang memang paling teliti mengecek setiap detail pakaian.


Setiap kali mereka berempat berbelanja, Rena paling cerewet dan teliti memastikan pakaian yang akan mereka beli tidak ada cacat sama sekali.


Seringkali ketiga sahabatnya merasa lelah jika meladeni Renata memilih baju, yang jahitannya tidak rapi lah, warnanya agak luntur lah, ada noda bekas jari orang lah, kancingnya longgar lah, inilah itulah.


Dan karena itulah Rena mendapat tugas penting yaitu melakukan quality control produk yang akan mereka keluarkan.




Disisi lain Hega tampak sedang berbicara dengan seseorang lewat ponsel.


" Kembali saja dan serahkan sisanya pada Robby. "


( Sepulang gue ke Indo, lo harus kasih gue cuti seminggu )


" Bagaimana kalau lo cuti aja selamanya ? "


( Tega bener lo sama sahabat sendiri, mentang-mentang lancar sama si gadis singa. )


" Sini datang langsung dan ulangi kalimatmu barusan "


( No... gue masih pengen hidup. )


" Segera balik karena banyak pekerjaan lo yang terbengkalai. "


( Atur lah si Julian buat handle sementara. )


" Dia personal assistant gue, bukan tugasnya ngerjain pekerjaan lo. "


( Sadis lo Ga. )


" Pesan tiket sekarang atau gue perpanjang penugasan lo di sana ! "


( Oke oke.... Tapi gue tetep mau cuti. )

__ADS_1


" Tiga hari. "


( Tambahin lah bro. )


" Dua hari. "


( Gue mintanya ditambahin bukan malah dikurangi. Gimana sih boss ?! )


" Sa....."


( Oke oke dua hari, pliss jangan dikurangi lagi 😤😭 )


Tut tut tut


Belum juga Bara sempat memaki sahabat sekaligus boss nya itu, Hega sudah menutup sambungan teleponnya. Tersenyum puas setelah berhasil membuat Bara kesal.


Dilihatnya Moza dan kedua temannya keluar dari pintu pabrik.


" Sudah selesai ? " Tanyanya.


Ketiga gadis itu mengangguk hampir bersamaan.


" Mau kemana lagi ? " Tanyanya lagi.


" Langsung ke butik aja bang, Deana sendirian disana. " Jawab Renata.


Hega mengangguk pelan, membukakan pintu mobil untuk Moza. Renata reflek membuka pintu belakang dan masuk bersama Amira.


Sebelum menyalakan mobilnya, Hega sekali lagi melakukan panggilan telepon melalui headset bluetooth yang terpasang di telinganya. Menunggu sambungan sambil menyalakan mesin mobil dan memutar arah menuju Golden Mall.


" Julian apa tugas kamu sudah selesai ? "


( ...... )


" Saya akan ke butik, datanglah kesana dengan membawa makan siang seperti biasa. "


( ...... )


" Sisa pekerjaan serahkan pada Anita. "


( ...... )


" Oke, sampai ketemu di sana "


Klik.


Ditekannya tombol headset di telinganya, mengakhiri sambungan telepon.


Percakapan yang baru saja terjadi tentu saja membuat ketiga gadis yang tengah duduk manis itu bertanya-tanya. Saling melempar pandangan satu sama lain.


Julian ? Julian mana nih ?


Batin ketiga gadis itu penasaran.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....

__ADS_1


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


__ADS_2