Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Didiskon Saja, Bun !


__ADS_3

AUTHOR


" Kalau tidak bisa dibatalkan, bisa tidak pingitannya didiskon saja, bun ?! "


" Eh ??? " Ayu sejenak tercengang mendengar permintaan konyol si calon menantu, terlalu bingung hingga wanita itu bahkan belum sempat merespon apapaun.


Hingga Hega kembali bersuara untuk melanjutkan proses negosiasinya dengan sang calon mertua.


" Jadi satu hari saja ya bun, plisss. . . " Tawarnya pada sang bunda yang membuat semua orang geleng-geleng kepala melihat tingkah pemuda itu.


" Hahaha . . . Kamu ini ada-ada saja. Mana bisa begitu ?! " Ayu terbahak sembari memukul-mukul kecil bahu pemuda itu.


" Dua hari deh, bun, ya ya ya ?! " Tawarnya lagi, dan wanita paruh baya itu hanya menggeleng dengan masih tertawa kecil.


Terlihat Hega menunduk lesu, kemudian kembali menatap sang bunda dengan tatapan memelas.


" Ugh. . . Baiklah, kalau begitu tiga hari, ya bun ?! " Lagi-lagi Ayu Puspita hanya menggeleng mendengar permohonan calon menantu yang sudah dianggapnya sebagai putra kandungnya sendiri itu.


" Mih. . . " Diliriknya ibu tirinya Rastiana Kamila untuk meminta dukungan istri papa nya itu, namun ibu satu anak itu hanya menggeleng pelan dan tersenyum. Mengisyaratkan jika dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.


" Haish. . . Sudah, sudah. Abaikan saja bocah gila ini ! Ayo kita tinggalkan saja dia dengan kegilaannya ! " Maki Suryatama kesal melihat tingkah kekanakan cucunya.


" Kakek. . . Kenapa kakek tidak membelaku ? " Protes Hega yang merasa tidak mendapat dukungan dari siapapun.


" Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut ?! " Suara Aryatama yang terdengar dari arah tangga.


" Dan apa-apaan wajahmu itu, nak ? Kenapa wajahmu kusut begitu ? Jangan bilang kalau kamu bahkan belum mandi ? " Arya melihat tampilan kusut putranya yang bahkan terlihat jelas baru bangun tidur.


" Dasar kamu ini, tidak malu apa menemui mertuamu dalam keadaan kacau dengan wajah bantalmu itu ?! " Omel sang papa, kemudian pria itu ikut bergabung duduk di samping sang istri.


" Dimana Rania, Mas ? " Tanya Rasti.


" Dia masih tidur, aku meminta bibi menemaninya. " Jawab Arya.


" Kenapa kamu tidak mandi dulu saja sana, lihat wajah kusut bangun tidurmu itu ! " Kembali menatap Hega dan geleng-geleng kepala.


" Ck. . . Hega bangun tidur tetap tampan, Pah. " Mendengar omelan sang papa, Hega hanya menggerutu dan memalingkan wajahnya karena terlalu kesal usahanya untuk bernegosiasi dengan calon mertua gagal total.


" Haish. . . Putramu itu mana punya malu, Arya. Jangankan malu karena belum mandi, dia saja kepergok tidur memeluk calon istrinya saja tidak malu sama sekali tuh. " Cibir Suryatama dengan nada mencela, membuat sang cucu makin cemberut ditambah muka memerah karena malu.


" Kakek. . . "


" Hega, jangan bilang kamu tidur dengan Moza semalam ? " Tanya Arya dengan nada menyelidik.


Mendengar pertanyaan sang papa, pemuda itu hanya bisa garuk-garuk kepala.


" Kamu ini, pernikahan kalian tinggal satu minggu saja kamu sudah tidak tahan. Mau ditaruh mana wajah Papa di depan mertuamu. " Arya masih mengomel galak kemudian tampak memijat celah diantara kedua alisnya, frustrasi dengan ulah memalukan putranya.


Haish. . . Papa kan tidak tahu alasannya kenapa aku tertidur dikamar Momo. Memangnya aku sengaja minta digrebek biar segera dinikahkan begitu ?! Arrgh. . . Andaikan saja begitu, aku rela digrebek dan nikah sekarang juga.


Gerutu Hega dalam hati sembari memutar bola matanya malas mendebat sang papa.


" Sudahlah mas Arya, Hega punya alasan kok melakukannya. Dan kami percaya Hega bisa membawa diri untuk tidak macam-macam sebelum waktunya. Iya kan, Yah ?! " Ujar Ayu sembari melirik ke arah sang suami yang barusaja kembali setelah menjawab telepon dari pegawainya, dan Ardi Dama mengangguk setuju dengan ucapan sang istri.


" Tuh kah, sebenarnya Hega ini anak papa atau anak bunda sih ? Sepertinya bunda dan ayah lebih percaya pada Hega daripada papa Hega sendiri. Cih. . . " Bukan Hega jika tidak bisa membela dirinya sendiri di hadapan sang papa.


" Lagipula Hega juga punya iman, Pah. Mana mungkin Hega berbuat yang macam-macam sama Momo. " Sungutnya lagi sebagai protes karena sang papa ternyata terlalu meremehkan dirinya.


Yah walaupun pernah juga gue hampir khilaf, tapi kan ya tidak sering, hahaha. . .

__ADS_1


Sambungnya dalam hati.


[ Sama ae khilaf namanya bambang πŸ™ˆ ]


" Iya, kamu memang kuat iman, tapi ada kalanya imron kamu yang goyah, iya kan ?! " Goda Suryatama dengan tatapan mengejek.


" Kakeeeek. . . " Tentu saja hanya kakek dan cucu itu yang mengerti maksud dari candaan Suryatama yang tidak sepenuhnya candaan.


Sedangkan yang lainnya hanya menatap dengan tatapan tidak mengerti.


" Sudah, sudah. Tinggalkan saja bocah ini disini ! Biarkan dia galau sendiri. " Titah Suryatama akhirnya, dan pria tua itu berjalan meninggalkan keributan yang sepertinya belum kelar.


Arya dan Ardi memilih mengikuti Suryatama menuju lantai satu, seperti biasa selalu bisnis yang menjadi bahan pembicaraan yang tidak pernah ada habisnya jika mereka bertemu.


" Sabar ya, Hega. Seminggu itu tidak lama kok. " Ayu menepuk-nepuk bahu calon suami putrinya itu dan berdiri hendak menuju kamar putrinya.


Tapi sedetik kemudian wanita cantik dengan setelan gamis berwarna dusty pink itu berbalik badan.


" Ah. . . Dan satu lagi . . . " Ucapnya seraya menatap calon menantunya, kemudian sedikit menunduk dengan tangan kirinya bertumpu di bahu kiri Hega.


" Kalau dipingit nanti kan jadi tambah kangen, jadi pas habis akad nikah dan sudah halal, acara temu kangennya waktu malam pertama bisa lebih hot. " Bisik si ibu mertua dengan sangat lirih hingga hanya dirinya dan sang mantu saja yang bisa mendengarnya.


G L E K . . .


Dan benar saja, bisikan ibu mertua barusan sudah bagaikan bisikan surga baginya. Pikiran Hega kosong melompong dalam sekejap, otaknya sudah traveling kemana-mana.


" Jadi kan bunda bisa segera punya cucu. " Imbuh sang calon ibu mertua seraya mengerlingkan satu matanya sebelum akhirnya meninggalkan pemuda itu dalam lamunannya.


Entah berapa lama pemuda itu dibuat linglung oleh bisikan maut sang mertua.


Tapi yang jelas, bisikan maut ibu mertua gaul dan kekinian itu berhasil membuat pemuda keras kepala itu akhirnya hanya bisa menghela nafas dan mengalah atas keputusan sang mertua untuk kekeuh dengan acara pingitan.


Akhirnya hanya tinggal Hega seorang diri di ruang tengah itu. Tentu saja dengan wajah setengah linglung karena otaknya yang tadi traveling belum kembali sepenuhnya.



" Haish. . . Bisa gila aku seminggu tidak melihatnya, aaarrrrgggg. . . buuuun. . . " Mengacak-acak rambutnya dengan terus berdecak sebal dan memanggil-manggil ibu mertuanya.


Tapi tentu saja yang dipanggil sudah tidak merespon lagi rengekannya.


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


~ Kembali Ke Kamar Bernuansa Peach ~


Gadis cantik yang sudah bagaikan putri tidur itu tampak menggeliat kecil di balik selimutnya, kemudian mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.


Membuka matanya perlahan agar matanya bisa beradaptasi dengan cahaya mentari yang semakin menelisik tajam melewati tirai yang menutup jendela kaca besar di sisi kamarnya.


Rasanya masih enggan untuk terbangun, namun samar-samar suara keributan yang berasal dari luar kamarnya membuat rasa kantuknya kalah oleh rasa penasarannya tentang apa gerangan yang terjadi di luar sana.


Baru saja hendak bangkit dan turun dari ranjang, suara wanita yang begitu familier di telinganya entah kenapa berhasil membuatnya merasakan kelegaan yang luar biasa atas kehadiran wanita itu.


" Sayang, kamu sudah bangun rupanya. " Ya, wanita itu tentu saja adalah sang bunda tercinta.


Dan entah dorongan apa yang membuat Moza merasa ingin segera berlari dan berhambur ke dalam pelukan hangat wanita yang melahirkannya lebih dari 20 tahun yang lalu.

__ADS_1


" Bundaaaa. . . " Moza memeluk erat sang ibu, dan tanpa bisa dicegah pula air mata mengalir dari pelupuk matanya.


" Hei, kenapa ini, kok malah nangis ?! Ada apa, hem ? " Tanya Ayu sembari menepuk lembut punggung putrinya.


Ayu sengaja tidak langsung bertanya perihal kondisi putrinya semalam, karena biasanya setelah meminum vitamin yang diberikan oleh dokter pribadinya, kondisi putrinya itu akan normal kembali pagi harinya.


Menurut sang dokter lebih baik menghindari pertanyaan yang dapat memicu trauma sang putri. Dan menunggu gadis itu bercerita dengan sendirinya tanpa tekanan ataupun ekspresi cemas orang-orang di sekitrnya.


" Ayo, duduk dulu sini ! Dan cerita sama bunda ada apa ? " Tanyanya lagi sambil menggiring sang putri untuk duduk di sofa.


" Buuun. . . " Rengek Moza di pelukan sang bunda.


Ayu melepaskan pelukannya dan mendorong bahu putrinya, menangkup kedua pipi gadis itu dan menatap lekat kedua manik mata kecoklatan sang putri tercinta, " Kenapa ? Ada yang terasa sakit ? Atau mual ? Sakit kepala ? " Tanya Ayu berusaha sebisa mungkin menyembunyikan kecemasannya.


Moza hanya menggeleng lemah, kemudian tersenyum manja.


" Terus kenapa tiba-tiba manja begini, hem ? Seperti tidak ketemu bundamu ini sudah bertahun-tahun saja. " Ayu mengelus lembut rambut panjang putrinya.


" Tidak apa-apa bun. Momo hanya tiba-tiba ingin dimanja. Apa tidak boleh ?! " Suara Moza terdengar sedikit suram.


" Tentu saja boleh, satu minggu ini kamu boleh manja-manja sama ayah dan bunda sampai puas. " Tutur Ayu diselingi senyum penuh arti.


Moza menatap sang bunda dengan ekspresi bingung, " Kenapa hanya satu minggu ? " Tanyanya heran dan sedikit bernada kecewa.


" Ya, tentu saja karena kamu sudah akan jadi seorang istri, masa kamu masih mau manja-manja seperti anak kecil begini ?! Malu sama suamimu. " Jawab Ayu dengan nada jahil membuat ekpresi kecewa di wajah gadis itu berubah menjadi merona malu.


" Buuun. . . " Moza menjatuhkan kepalanya di pangkuan sang bunda untuk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya.


Ayu tersenyum senang, kemudian membelai lembut kepala dan punggung putrinya, " Jika sudah menikah nanti, bermanjalah pada suamimu, hem ! "


Moza membalikkan posisinya menjadi terlentang, dengan wajah menghadap ke atas menatap sang bunda yang menunduk dengan masih mengelus kepalanya.


" Jadi bunda sudah tidak mau memanjakan Momo lagi kalau Momo sudah menikah nanti ? " Tanya gadis itu dengan wajah cemberut.


Lagi-lagi Ayu tersenyum, " Bukan begitu sayang, soalnya bunda harus menyiapkan banyak tenaga setelah kamu menikah nanti. "


Kedua alis Moza menyatu saat mendengar ucapan aneh sang bunda, " Eh ? "


" Karena nanti pasti bunda akan sibuk memanjakan cucu bunda, jadi bunda tidak akan punya waktu untuk memanjakanmu. Hahaha. . . " Goda Ayu sembari mencubit hidung mancung putrinya, dan gadis di pangkuannya itu semakin memerah saja wajahnya.


" Bundaaa. . . " Rengek Moza seraya menyembunyikan wajahnya yang memerah bak tomat itu di perut sang bunda dengan kedua tangannya melingkar di pinggang ibu kandungnya itu.


" Sudah dulu manjanya, nanti kita lanjutkan di rumah. Sekarang kamu buruan mandi dan bersiap ! " Titah Ayu sembari menepuk punggung putrinya agar gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya.


" Ah ? Memang kita mau kemana bun, pagi-pagi begini ?! " Beranjam bangun dan duduk tegap.


" Kita akan pulang. "


" Hah ?! Pulang ? Kenapa ? "


Kening Ayu mengerut, " Loh kok kenapa ? Kamu gak lupa kan kalau minggu depan kamu akan menikah ?! "


Gadis itu mengangguk, " Iya, Momo ingat. Terus ?! "


" Idih, kok terus ?! Ya kamu harus pulang lah, kan nanti akad nikahnya kamu sama Hega kan di rumah kita. "


" Kan masih minggu depan, bun. Kenapa harus pulangnya sekarang ? " Moza masih belum mengerti maksud sang bunda.


" Kok kenapa sih ? Ya kalian harus dipingit lah sayang. " Terang sang bunda gemas dan mencubit pipi putrinya yang terlihat bingung.

__ADS_1


" Eh ? Dipingit ? " Ekspresi Moza hampir sama dengan ekspresi yang dilihat Ayu beberapa saat yang lalu di wajah calon menantunya.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2