Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Cemburu


__ADS_3

AUTHOR


" Ekhem.... Apa yang mau kamu lakukan Julian ?! "


Hega muncul dengan wajah dinginnya menatap ke arah sofa dimana kekasihnya sedang duduk bersama Julian.


" Ehhh... Bang, enggak itu, gue cuma mau lihat luka di kepalanya Momo. Hehehe.... " Tangan Julian mengambang di udara.


Dih kok gue berasa seperti ketahuan godain pacar orang si ?!


Julian menggaruk tengkuknya canggung.


" Jangan sentuh, kalian bukan mahram ! " Ancam Hega datar lalu menjatuhkan tubuhnya duduk di samping kekasihnya, mengelus kepala gadis itu.


" Deileh... dikit doang bang. " Ujar Julian sewot, dan segera mengambil jarak dan duduk di posisinya semula.


Lagipula abang juga tuh belum boleh kali pegang-pegang Momo, kan kalian juga bukan mahram... Cih...


Gerutu Julian dalam hati.


Eeehhh mahram apaan yak ?!


Batin Julian lagi dan lalu garuk-garuk kepala bingung ngapain juga ikut-ikutan kata-kata boss galaknya itu.


Maklum saja ilmu agama Julian memang tidak dalam jadi dia tak begitu paham istilah-istilah agama.


Saat kembali melihat interaksi kedua orang di hadapannya yang tengah memamerkan kemesraan, Julian merasa tak perlu lagi menanyakan apa yang terjadi.


Karena kebersamaan dua orang itu sudah menunjukkan jika Hega telah memenuhi janjinya untuk segera menyelesaikan permasalahan perjodohannya dan membahagiakan sahabatnya.


Sedangkan Moza malah terlihat tersenyum tipis mendapati Julian yang terkena omelan Hega.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Hampir dua minggu ini gadis itu terkurung di tumah besar tanpa bisa keluar, ya meskipun dia sudah bisa jalan-jalan di taman atau sekedar menemani Hega jogging setiap pagi.


Walaupun dia hanya duduk di bangku taman dan menunggu kekasihnya itu menjalani rutinitas paginya.


Hari demi hari berlalu begitu cepat, tidak terasa liburan semester sudah hampir selesai.


Tapi bagi Moza yang menghabiskan waktu di rumah saja tetap terasa lama, hari-harinya hanya diisi dengan membaca novel, nonton drama korea dan berkutat dengan buku desainnya.


Hega juga dengan sabar menemani Moza disela-sela kesibukannya menghandle pekerjaannya sebagai seorang Presdir Golden Imperial Group.


Dan untuk sementara ini Hega menunda semua pekerjaan yang harus keluar kota apalagi luar negeri.


Jika mendesakpun maka Bara atau Julian yang akan dikirim untuk menggantikannya.


Meskipun lelah, Hega selalu meluangkan waktu untuk kekasihnya. Saat Moza sedang asyik membaca novel atau sibuk dengan desain untuk butiknya, Hega akan menemaninya sembari mengecek berkas-berkas perusahaan yang ssngaja dibawanya dari kantor ataupun yang dikirim oleh sekretarisnya melalui email.


Bahkan Hega juga bersedia menemani gadis cantiknya saat asyik menonton drama korea.


Kegiatan yang sangat jauh dari keseharian seorang Hega, apalagi yang di tonton adalah drama korea.


Yah, meskipun tak jarang di sela-sela film akan muncul tingkah menyebalkan Hega karena kecemburuannya yang tak kenal waktu dan situasi itu.


Seperti sore itu, saat Moza sedang menikmati tontonan drama korea yang diperankan oleh aktor favoritnya Lee Min Ho, berkali-kali Hega akan mengganggunya setiap kali aktor Korea Selatan itu muncul.

__ADS_1


Ada saja cara usil Hega untuk membuat kekasihnya itu mengalihkan perhatian Moza dari layar tv berukuran besar itu.


" Kak, ngapain si kakak mondar-mandir di situ. Aku kan jadi tidak bisa lihat filmnya ! "


Protes Moza sembari kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri mencari celah saat dengan sengaja Hega berjalan mondar-mandir berulang kali di hadapannya, dengan alasan ambil minum lah atau ambil buku dan lain sebagainya.


Respon Hega ?! Dia cuek saja tak peduli dengan muka cemberut Moza. Asalkan mata gadis itu tidak memandang pria lain terlalu lama. Jika bisa Hega ingin Moza tak menatap sama sekali.


" Kak, kok dimatikan si ? Film nya belum selesai, lagi seru-serunya juga ! "


Lagi-lagi Moza memberengut kesal, saat tanpa sengaja Hega menekan tombol power di remote televisi yang ada di sofa. Yang sebenarnya memang adalah sebuah kesengajaan.


Alhasil layar besar itu menghitam dalam sekejap.


" Aaaahhh...Kak Hega nyebelin. Itu tadi kan lagi romantis-romantisnya. " Moza benar-benar kesal, tengah fokus pada adegan romantis film ketika dua tokoh di film sedang dalam kiss scene ( adegan ciuman ).


" Ngapain nonton adegan gituan ! " Jawab Hega datar dengan tetap fokus pada layar ipad nya.


Aku saja belum berhasil menciummu, kenapa juga harus lihat adegan ciuman yang membuatku kesal ! ~ Hega ~


Eh... Itu kan cuma cium ?! Lagipula semua drakor yang aku lihat selama ini pasti ada adegan ciumnya ?! Apa juga yang kak Hega maksud dengan ' adegan gituan' ?! ~ Moza ~


" Memang kenapa kak ? Kan memang drakor itu pasti ada kiss scene nya tau ?! Memangnya aku lihat adegan apaan ?! " Protes Moza sewot seolah yang dilihatnya adalah adegan terlarang.


Hega meletakkan ipad di atas meja, menggeser badannya menghadap Moza yang dalam posisi bersandar di sofa.


" Kenapa kamu polos sekali si ? Aku ini pria normal yang juga bisa tergoda Momo sayang ! " Mengelus pipi gadis itu pelan, membuat tubuh Moza seperti tersengat listrik.


Deg..


Sebuah senyuman penuh arti tersungging di bibir pria di hadapannya. Membuat Moza gugup, berusaha menelan salivanya dengan susah payah.


Aaarrrgghhhh.... Sampai kapan aku bisa menahan diri. Ternyata benar kata kakek, mungkin imanku belum cukup besar untuk membuatku bisa menahan diri dengan godaan besar di dekatku.


Dan godaan itu adalah kamu ! ~ Hega ~


Hega semakin mendekat ke arah Moza, matanya fokus pada bibir mungil berwarna peach kekasihnya.


Aaaaaa.... Kak Hega mau ngapain ? Jangan bilang dia mau cium aku ?! Aah... aku belum siap, tapi kenapa badanku jadi kaku begini si ?


Jarak mereka semakin memudar, kini wajah Hega hanya berjarak beberapa centi dari wajah gadis cantik di hadapanbya.


Glek...


Kedua mata Moza mengerjap beberapa kali, kedua telapak tangannya meremas bantal sofa yang ada di pangkuannya.


" Aku tidak suka kamu melihat pria lain dengan tatapan terpesona seperti tadi. " Ucap Hega memecah keheningan.


" Eehhh.... " Moza tertegun sesaat


" Kenapa ? " Tanya gadis itu kemudian.


" Kenapa ?! Tentu saja karena aku cemburu ?! " Jawab Hega tegas.


" Tapi kan itu hanya film kak ! " Elak Moza lirih.


" Tetap saja yang kamu lihat itu juga pria kan ?! Bahkan kamu pernah memintaku membawanya sebagai oleh-oleh. "

__ADS_1


" Pffft.... "


" Kenapa kamu malah tertawa ?!


" Itu kan hanya candaan kak ?! Aku hanya kesal karena kakak terus memberiku hadiah mahal dan bertanya aku minta oleh-oleh apa. Jadi aku hanya ingin menggoda kakak saja waktu itu. " Ujar gadis itu sembari tersenyum.


" Ck... Tetap saja aku kesal, gadis yang aku suka malah minta dibawakan pria lain sebagai oleh-oleh. " Ucap Hega membela diri.


" Hahahaha.... Kakak bahkan waktu itu tidak tahu Lee Min Ho ?! Ingat kan waktu itu kakak bilang apa ? Kakak bilang 'apa itu ?' saat aku menyebut Lee Min Ho ? Memangnya kakak pikir Lee Min Ho itu apa si ? Semacam barang atau kue begitu ? Hahahaha...." Moza terkikik mengejek Hega.


" Ssshhhh.... Jangan menyebut namanya ! Aku masih kesal. " Hega membating punggungnya di sandaran sofa, melipat kedua lengannya di dada.


Giliran Moza yang memiringkan badannya menghadap ke arah kekasinya yang sedang dalam mode ngambek dengan ekspresi cemberut.


" Hehehe.... Iya iya maaf tidak kusebut lagi. " Moza menutup mulutnya dan menggerakkan jarinya dengan gerakan seperti sedang mengunci bibirnya.


Hihihi..... Kenapa cemberut pun kakak masih terlihat tampan si ?


" Aku berharap kedua matamu itu hanya akan memandangku, aku ingin hanya bayanganku yang ada di sana, di matamu. Bolehkan aku meminta seperti itu ? " Lanjut Hega lembut kembali mendekat dan mengelus lagi pipi kekasihnya, Moza hanya terdiam lalu mengangguk.


" Apa aku kelewatan dengan permintaanku ?! " Tanya Hega lagi dan Moza masih terdiam kemudian menggeleng perlahan.


Terlihat kelegaan di wajah Hega, seulas senyum kembali terukir di bibir pemuda itu. Dan kali ini Moza yang sepertinya merasa tergoda, terus menatap lekat bibir seksi kekasihnya.


Bibir ?! Aaaaa.... kenapa aku malah terus melihat bibirnya si ?!!!


Moza langsung membuang muka, mengalihkan wajahnya dari Hega.


Pipi putihnya merona merah, terlihat jelas oleh Hega apa yang barusaja dipikirkan oleh gadis itu.


Cup....


Hega mendaratkan bibirnya di kening gadis itu, tepat di sisi yang masih tersisa sedikit memar yang sudah memudar.


" Jangan berfikir aneh-aneh ! "


" Arrhg... Memangnya apa yang aku pikirkan ?! "


" Wajahmu memerah, tubuhmu gugup dan gemetar, jantungmu berdegup kencang. Aku penasaran apa yang kamu pikirkan yang membuatmu terlihat menggemaskan seperti ini ?! " Goda Hega.


" Ah... Kakak menyebalkan. "


Moza hendak beranjak dari sofa, tapi tangannya dicekal oleh Hega. Membuat tubuh gadis itu terjatuh tepat di pangkuan Hega.


" Kak... " Jantung Moza semakin berlarian, sangat tak beraturan.


Kedua pasang mata mereka saling mengunci, Hega kemudian meraih kepala kekasihnya dan mendaratkannya di dadanya.


Mendekap erat gadis itu dengan penuh cinta sekaligus menahan hasrat lain yang muncul dalam dirinya.


Bersabarlah Hega, ini belum waktunya. Jika kamu terlalu cepat bergerak dan menciumnya sekarang. Maka tidak akan yang tahu apalagi yang kamu inginkan besok.


Karena jika kamu sudah mendapatkan satu hal maka kamu akan semakin serakah dan menginginkan lebih.


Tunggulah, semua ada waktunya.


๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค

__ADS_1


__ADS_2