Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Sayang untuk dilewatkan


__ADS_3

AUTHOR


Ketiga sahabatnya masih menatap ke arah Moza dengan tatapan menyelidik. Penasaran dengan apa yang terjadi diantara gadis itu dan pria pemberi bingkisan.


Mereka merasa ada sesuatu yang terlewatkan dari perhatian mereka.


Sedangkan gadis yang tengah menjadi pusat perhatian sahabatnya itu tampak setengah tertegun, ada rasa lega menyeruak dalam dirinya setelah mengetahui alasan pria itu seolah hilang tanpa kabar selama beberapa hari ini.


Ternyata dia pergi ke luar negri. Aku kira.....


Batin Moza dengan tanpa disadarinya terukir senyum tipis di bibirnya.


Ketiga sahabatnya semakin intens menatap ke arahnya, dengan mata berbinar-binar seolah mereka sudah bisa menebak jika memang sedang terjadi sesuatu antara sahabat cantik mereka itu dengan pria tampan yang sekarang menjadi atasan Julian sahabat mereka.


" Apa ? " Tanya gadis itu saat menyadari dirinya tengah dikepung oleh tatapan penuh tanda tanya dari ketiga sahabatnya.


" Apa maksudmu dengan "apa" ? " Decak Renata menyelidik.


" Aku gak ngerti maksud kalian. Dan apa-apaan tatapan mata mengerikan kalian itu ? " Ucapnya acuh.


" Ada apa antara lo dan bang Hega ? " Tanya Deana yang sebenarnya sudah tahu jika sahabatnya sedang didekati oleh teman Bara itu.


Tapi Deana tidak tahu sudah sejauh mana tahap pendekatan dan hubungan dua sejoli tersebut.


" ". Moza mengernyitkan dahinya seolah tak paham arti pertanyaan sahabatnya.


" Jangan pura-pura Momo sayang, ini apa ? " Tanya Deana lagi sambil menunjuk ke arah paperbag putih di atas meja.


" Mana aku tahu. " Elak Moza masih acuh, perlahan ditariknya paperbag putih berukuran sedang itu.


Renata juga tak kalah cepat, dengan antusias dibukanya paperbag biru berukuran besar. Yang ternyata berisi tiga kotak coklat dan tiga buah parfum wanita. Masing-masing untuk Amira, Renata dan Deana.


" Parfum dan coklat mahal nih. " Renata bersorak sambil mengeluarkan semua isi paperbag.


" Selera orang kaya emang beda ya. " Komentar Deana.


" Coba buka punya lo Mo. " Ucap Amira bersemangat.


" Iya, iya buka. " Renata mendukung Amira tak kalah semangatnya.


Dengan enggan gadis itu membuka paperbag yang ada di hadapannya. Mengeluarkan sebuah kotak yang juga berwarna putih, membukanya perlahan yang ternyata berisi sebuah jam tangan berwarna kombinasi putih dan silver dengan hiasan beberapa permata swarovsky, sebuah jam dengan merek terkenal yang harganya pasti cukup mahal.


Renata dengan antusias meraih kotak jam tangan itu dari tangan Moza.


" Wah abang cakep pilih kasih nih, masa Moza dapat jam tangan mahal, cantik pula jam nya, kita dapat parfum sama coklat doang. " Goda Renata sambil mengedipkan mata ke arah Amira dan Deana.


Moza malas berkomentar, diambilnya sebuah kartu yang masih tertinggal di dalam paperbag.


Aku tidak tahu bagaimana hari-harimu sebelum kita bertemu, yang aku tahu waktu terasa begitu berharga setiap aku bersamamu. Kuharap kamu bersedia menghitung waktu dan melaluinya bersamaku.


~ Hega Airsyana ~


Deg...deg...

__ADS_1


Tidak tahu apalagi yang dirasakannya saat ini, jantungnya seolah tak henti-hentinya melompat-lompat, jari-jemarinya yang memegang kartu terasa kaku.


Digigitnya bibir bawahnya, perlahan memejamkan mata dan menghembuskan nafas dalam.


Deana, Amira dan Renata yang menyaksikan ekspresi wajah sahabatnya itu semakin penasaran, tanpa ijin Renata meraih kartu ucapan berwarna putih dengan beberapa hiasan berwarna perak yang masih ada di tangan gadis itu.


Membacanya perlahan kemudian tersenyum penuh arti, Amira dan Deana yang semakin penasaran menyerbu ke arah Renata, ikut membaca beberapa baris kata yang tertulis disana. Lalu ikut tersenyum penuh arti kearah gadis yang pipinya mendadak bersemu kemerahan.


" Ekhem.... Sejak kapan nih ? " Goda Deana sambil menjatuhkan kembali pantatnya di kursi di sebelah Moza.


" Apaan ? " Jawab Moza pura-pura tak mengerti.


" Ini. " Lanjut Amira sambil melambaikan kartu di tangannya.


" Itu.... " Belum juga sempat mengelak dari godaan para sahabatnya, ponsel Deana bergetar. Moza manjatuhkan kepalanya di atas meja, menyembunyikan wajahnya yang tengah blushing diantara kedua lengannya.


Drrrrt drrrt drrrt....


" Halo. "


( Kalian masih di kampus ? )


" Iya, masih. "


( Dimana ? )


" Di kantin. "


" Okey. "


( Jangan kemana-mana. )


" Siap. "


( Terima kasih. )


" Sama-sama. "


Tut tut tut........


Deana mengakhiri panggilan telepon sambil tersenyum.


" Siapa De ? " Tanya Moza.


" Julian, dia tanya apa kita masih di kantin. " Jawab Deana berbohong.


Nyatanya yang baru saja menelponnya adalah Hega, dan berselang sekitar setengah jam kemudian terdengar beberapa keriuhan di pintu masuk kantin.


Seorang pria berjalan memasuki kantin, matanya menyusuri setiap sudut kantin, mencari sesuatu, ketampanannya menghipnotis setiap gadis yang dilewatinya.


Mengenakan kemeja putih dengan lengan kemeja digulung sampai siku, dilengkapi dasi hitam dan vest berwarna abu, serta celana abu senada dengan vestnya.


Renata yang yqng dari tadi paling ceriwis dengan suara cemprengnya yang khas mendadak terdiam. Karena kursinya menghadap ke arah pintu kantin, maka dialah yang pertama menyadari kehadiran pria tampan itu.

__ADS_1


" Hei apa ya lo liat sampe tuh muka mupeng gitu ? " Tanya Deana nyinyir.


" Pangeran..... Eh bukan sih Malaikat.... Em bukan-bukan... Lebih tepat disebut Pangeran tampan berwajah Malaikat..." Cerocos Renata sambil menatap kearah pria yang tengah menjadi pusat perhatian dan menimbulkan beberapa keributan di kantin.


" Lo mulai gak waras ya ? " Cibir Amira yang tahu kemana arah pandangan Renata.


" Kalian mungkin tak paham keindahan atau mungkin kalian buta. " Protes Renata berdecak.


" Iya sih emang tampan, tapi katanya bukan tipe lo ? " Sindir Amira.


" Iya emang. " Gumamnya.


" Bukan tipenya tapi mandangnya gitu amat, sampai ileran gitu..." Ejek Deana.


" Habis tuh muka sayang banget untuk dilewatkan....." Renata masih bergumam mengagumi pria yang tengah meghampiri meja mereka.


" Angkot kali dilewatkan.... Sinting. " Ucap Moza dengan senyum kecut.


" Cih, kalian ini nyebelin. Abang cakep sini duduk. " Panggil Renata saat pria itu sudah semakin dekat dengan meja mereka.


Semua mata yang tadinya menatap dengan tatapan terpesona tersadar karena teriakan sumbang gadis itu.


" Boleh saya pinjam teman kalian sebentar. " Ijin Hega saat sudah berdiri tepat di samping meja keempat gadis itu, sambil memandang ke arah Moza yang tampak salah tingkah karena mendapat tatapan jahil dari ketiga temannya.


" Iya boleh dong bang, makasih juga buat oleh-olehnya ya. " Ucap Renata sambil menunjuk ke arah paperbag yang isinya sudah keluar di atas meja.


Hega hanya tersenyum sambil mengangguk, kemudian menatap Moza mengisyaratkan untuk ikut dengannya.


Deana yang melihat sahabatnya masih duduk manis itu segera menarik lengan gadis itu agar segera berdiri. Tak lupa memasukkan kotak berisi jam tangan kedalam paperbag dan menyerahkannya kepada sahabatnya itu.


Julian yang baru saja datang dari kantor akademik dengan terburu-buru mendekat ke arah mereka. Mengira jika boss nya itu sedang mencari dirinya dan hendak memberi tugas baru.


Baru juga turun dari pesawat, masa udah dapat tugas baru. Gue masih jetlag bang.... 😭😭😭 ~ Julian ~


" Momo cantik mau kemana, bukannya mau pulang bareng ya. " Goda Julian sambil mengangkat satu tangannya hendak mengarahkannya ke bahu gadis itu.


Namun dengan sigap Hega lebih dulu merangkul pundak Moza, menarik tubuh gadis itu mendekat padanya dan menjauhi Julian.


Menoleh kearah ketiga gadis yang masih duduk di kursi mereka dan kemudian melambaikan tangan mengisyaratkan bahwa dia akan pergi membawa sahabat cantik mereka.


Setelahnya melempar tatapan tajam menusuk ke arah Julian.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕

__ADS_1


__ADS_2