Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Menginap


__ADS_3

AUTHOR


~ Flashback ~


Satu jam sebelumnya


Moza mengintip jam tangan pemberian Hega yang melingkar cantik di pergelangan tangan kirinya, jam stengah tujuh malam, gadis itu membereskan kertas-kertas yang berserakan di meja kerjanya dan beberapa buku sketch miliknya.


Sedari datang ke butik, Moza lebih banyak melamun. Matanya memang menatap lembar kertas di atas meja di hadapannya, tangannya memainkan pensil dan memutar-mutar benda itu dengan jarinya. Jelas pikiran gadis cantik itu tidak ada disana, melayang entah kemana.


Deana sudah pergi terlebih dahulu karena harus menuju ke kafe Dimas untuk menggantikan saudara sepupunya itu mengawasi kafe.


Moza yang biasanya jam 5 sore sudah ada di rumah, menyambut Hega yang juga pulang dari kantor. Sudah seperti pasangan pengantin baru, seorang istri yang menunggu suaminya pulang kerja.


Beberapa hari ini gadis itu tampak menyibukkan dirinya di butik, seolah ingin menghibur dirinya sendiri agar tidak terlalu gelisah menanti-nanti kabar Hega yang memang seolah menghilang selama beberapa hari ini.


" Kakak dimana ? Kenapa tidak memberi kabar apapun padaku ? Apa kakak sedang marah padaku ? Apa aku tanpa sengaja membuat kakak kesal ? Tolong jangan menghilang seperti ini ! Aku merindukanmu. " Gumam Moza lirih seraya menatap layar ponsel miliknya dengan wallpaper foto dirinya dan Hega.


Dan sebuah panggilan terlepon menyadarkan Moza dari lamunannya.


Drrrt....drrrt.... 🎢🎡🎢🎡


~ Damn Brat Calling ~ [ Bocah Sial Memanggil ]


Itu nama kontak Bara, tentu saja bukan Moza yang menyimpan dengan nama absurd yang menjurus kurang ajar itu. Meskipun Bara itu genit dan menyebalkan dimata Moza, tapi Moza tetap menganggap Bara sudah seperti kakaknya sendiri.


Apalagi saat gadis itu sedang dalam kondisi patah hati dan menginap di kediaman keluarga Prasetya, Bara lah yang selalu memberi nasihat layaknya seorang kakak lelaki untuk Moza.


Sudah bisa ditebak siapa yang mengganti nama kontak Bara, Hega lah yang menyimpan nama sahabatnya itu di ponsel kekasihnya dengan nama yang semau dia. Dan sudah pasti Hega melarang keras Moza mengganti nama kontak tersebut.


~ Dalam Panggilan Telepon ~


" Assalamualaikm. Bang. "


( Waalaikmsalam. Dek, lo lagi dimana ? )


" Di butik. Ada apa, Bang ? "


( Suami nyebelin lo lagi sakit. )


Raut wajah Moza tampak gusar dan cemas, menggigit-gigit ujung jarinya gelisah.


" A-apa ? Kak Hega sakit ? Sa-sakit apa ? Dimana dia sekarang ? "


( Satu-satu tanyanya, Dek. Pokoknya dia lagi sakit, abang gak tahu sakit apa. Yang jelas hari ini si monster kutub workaholic yang gak pernah bolos kerja meskipun lagi gak enak badan itu akhirnya untuk pertama kalinya absen gak masuk kantor. Dan abang lagi gak bisa cek kondisinya karena abang ada urusan dan Julian pun lagi ada urusan bisnis di Korea buat gantiin boss galaknya itu. )


" Abang..... " Sela Moza cemas setengah berteriak menghentikan ocehan Bara yang kesana-kemari, tidak langsung pada intinya.


( Eh... Iya, Dek sorry abang jadi ngoceh gak jelas. Abang share loc alamatnya, lo buruan kesana ya, Dek ! )


" Iya, bang. "

__ADS_1


Tut tut tut....


Moza segera menyambar tas kecilnya memesan ojek online dari ponselnya dan setengah berlari keluar butik mengabaikan dua karyawan penjaga butik.


Awalnya Moza memilih naik ojol dengan harapan bisa cepat sampai dan tidak terkena macet, tapi sial sungguh sial gerimis datang ditengah-tengah perjalanannya menuju alamat yang dikirim Bara lewat chat.


Alhasil gadis itu sampai di tujuan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Meskipun tidak hujan deras, 30 menit perjalanan cukup membuat kacau penampilan Moza.


Rambut basah, kucel dan berantakan, pakaian juga basah di beberapa bagian.


~ Flashback End ~


⚘⚘⚘


Kembali ke apartemen Hega


Canggung...


Itulah kata yang menggambarkan situasi yang ada diantara Hega dan Moza saat ini.


Hega yang merasa gelisah sendiri melihat godaan di depan matanya, godaan yang sengaja dihindarinya selama beberapa hari ini justru muncul di depan batang hidungnya secara tiba-tiba.


Dan lebih mengesalkan, kenapa dia harus memilih kemeja dari sekian banyak pakaian yang dimilikinya untuk dipakai gadisnya.


Ahhhhh.... Memang tidak ada yang lain selain kemeja juga si. Celana pasti kebesaran, entahlah kemana pikiran Hega saat mencomot salah satu pakaiannya di lemari dan berakhir pada kemeja miliknya yang justru membuat Moza terlihat makin menggoda saja.


HAISH.... Waras kan pikiranmu Ga !


Tapi kenapa justru sekarang dirinya malah berada dalam posisi yang dimanjakan ?


Meskipun diam-diam Moza menikmati juga perlakuan Hega yang begitu lembut, aish.... tubuhnya sedang mengkhianati logikanya.


Moza meletakkan kembali cangkirnya di atas meja, mendongakkan kepalanya ke arah Hega yang masih sibuk dengan handuk mengusap-usap kepalanya.


" Kak, aku tadi membawakan bubur untuk kakak. Kak Hega belum makan, kan ? " Tanya Moza mencoba mencairkan keheningan diantara mereka.


" Hem, aku akan memakannya nanti. Aku harus mengeringkan dulu rambutmu. Kalau tidak kamu akan sakit kepala besok jika tidur dengan rambut basah. " Ucapnya seraya menegakkan kembali kepala gadisnya dan melanjutkan aktivitasnya di kepala Moza.


" Tidak apa, Kak. Aku akan mengeringkannya nanti di rumah. "


" Tidak ! Kamu tidak boleh pulang ! " Tolak Hega tegas.


" Eh ?!!! "


" Bajumu kan tadi basah semua. Tidak mungkin kamu pulang dengan berpenampilan seperti ini. Besok aku akan minta orang membawakan pakaian ganti untukmu, jadi malam ini tidur lah disini ! Aku akan memberi kabar pada kakek jika kamu menginap di apartemenku. " Terang Hega yang sudah mengambil hairdryer.


" Tapi... " Ingin rasanya mendebat pria itu, tapi Moza kembali memperhatikan pakaian yang dikenakannya saat ini.


Aaa... Apa jadinya jika dia pulang dalam kondisi seperti ini, pulang malam dengan memakai kemeja yang kebesaran, dan lebih buruknya itu adalah kemeja seorang pria.


" Tidak ada tapi ! " Putus Hega seraya menyisir rambut Moza dengan jari-jarinya agar angin dari hairdryer bisa merata dan rambut kekasihnya itu bisa cepat kering.

__ADS_1


Sekitar 15 menit Hega fokus pada aktivitasnya, hingga rambut Moza kering sepenuhnya.


Moza beralih ke dapur Hega saat pria tampan itu menuju kamar untuk menyimpan hairdryernya.


" Kak, ayo makan lah ! Aku sudah menghangatkan buburnya. " Ucap Moza yang sudah meletakkan semangkuk bubur di atas meja makan.


Hega melangkahkan kakinya menuju meja makan dan hendak duduk saat Moza terlihat akan berjalan kembali ke ruang tamu.


" Hem. Kamu sudah makan ?! "


Moza mengangguk, " Sudah tadi di butik. "


" Em. Duduklah dan temani aku makan ! " Pinta Hega sembari menggenggam tangan Moza dan membimbing gadis itu agar duduk di sampingnya.


Moza mengangguk dan mengikuti permintaan Hega, menatap wajah pucat kekasihnya. Bibir Hega yang biasanya terlihat merah dan segar tampak memucat, mata elangnya tampak sayu. Tapi tetap saja tidak bisa mengikis ketampanan hakiki seorang Hega Airsyana.


Moza mengarahkan punggung tangannya ke arah wajah Hega dan menempelkannya di kening pemuda itu. Panas...


Berpindah menyentuh pipi dan leher Hega, sama panasnya, bahkan mungkin terasa lebih panas daripada saat menyentuh kening tadi.


Sepertinya pria di sampingnya itu memang sedang benar-benar sakit.


" Ternyata kakak juga bisa sakit ya ?! " Gumam Moza lirih seraya memandangi wajah kekasihnya, memegang pipinya dengan kedua tangannya dengan siku yang bertumpu pada meja.


" Aku kan juga manusia, Mo. Tentu saja aku juga bisa sakit. Memangnya kamu kira aku ini malaikat apa ?! "


Kakak bukan malaikat si, tapi kakak itu jelmaan Dewa Yunani. Hihihi....


Batin Moza seraya tersenyum sendiri, kemudian terlonjak karena sadar jika gumaman pelannya terdengar oleh telinga Hega.


" Eh... Kakak mendengarku ?! "


Hega tertawa kecil, " Tentu saja aku dengar, telingaku ini peka tahu. " Hegaa menyentil pelan kening kekasihnya


" Hehe.... " Moza malah cengengesan sendiri sembari mengelus keningnya, tapi sedetik kemudian ekspresinya berubah muram.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...



Rumput liar di atas tikar


Ditumbuhi bunga mawar


Kalau rindu semakin mekar


Hanya wajah bang Hega yang jadi penawar,


eya eya ..... auwok...


Thor : Rindu itu berat, tapi lebih berat nurunin berat badan ketika godaan Gr*bfood dan G*Food selalu menggelitik dengan banyak diskonan.... πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2