Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Dama's Brother and Sister


__ADS_3

AUTHOR


Ryuza masih kekeh pada pada keputusannya, bahkan pemuda itu sampai tidak mau memandang sang kakak karena ia tahu jika ia menatap mata kakaknya, maka ia akan luluh seketika. Namun kalimat sejanjutnya yang keluar dari bibir sang kakak membuatnya mau tak mau menoleh pada kakak tercintanya itu.


" Kak Hega, pria yang kakak cintai dan pria itu juga mencintai kakak. Dalam dirinya hidup bagian dari orang yang juga sangat kakak sayangi, seseorang yang juga sangat mengasihi kakak bahkan sampai akhir hidupnya kakak adalah prioritasnya. "


" Setelah lebih dari 10 tahun kakak menderita karena kepergian Kak Hyuza, kakak bertemu dengannya, pria yang sedikit demi sedikit mampu menghangatkan hati kakak yang selama ini membeku, memberikan ketenangan dan kenyamanan pada kakak. Membuat kakak merasakan apa itu cinta, dan setelah kakak tahu jika dalam tubuhnya berdetak jantung milik kak Hyu, kamu tahu bagaimana perasaan kakak saat itu ? "


" Sedih dan bahagia di saat yang bersamaan, merasa bersalah sekaligus bersyukur di waktu yang sama. Tapi kemudian kakak berusaha menerimanya sebagai takdir dari-Nya. Dua pria yang sangat mencintai kakak ada bersama kakak saat ini. Bukankah kakak seperti mendapatkan berkah luar biasa ?! " Sambung Moza masih menatap ke langit.


Ryuza tahu kemana arah pembicaraan ini, bisa dikatakan takdir lah yang mempertemukan Moza dan Hega 20 tahun lalu, takdir juga yang membuat mereka berpisah 11 tahun yang lalu. Dan takdir juga lah yang menyatukan mereka kembali saat ini.


Jantung Hyuza yang berdetak di tubuh Hega bukan lah satu-satunya alasan cinta mereka, tapi bisa dianggap jika jantung itu lah yang menjadi penguat cinta diantara keduanya. Mereka sudah ditakdirkan menjadi satu dan tidak ada hal apapun atau siapapun di dunia ini selain yang Kuasa yang bisa memisahkan mereka.


Moza menoleh ke arah Ryuza, membalas tatapan mata sang adik dengan tatapan lembut.


" Kakak tahu diam-diam kak Hega menemui kamu selama beberapa minggu ini kan ?! " Ucap Moza.


Ryuzaa mendelikkan kedua bola matanya, tentu saja pemuda itu terkejut karena Hega sudah sepakat dengannya untuk tidak mengatakan pertemuan mereka itu pada Moza.


" Bunda yang menceritakannya beberapa hari yang lalu. " Sambung Moza cepat melikat raut muka adiknya yang tiba-toba berubah.


Nyatanya memang Hega menyembunyikan pertemuannya dengan Ryuza, Hega ingin berusaha mengambil hati calon adik iparnya itu. Dan Moza sendiri baru mengetahuinya beberapa waktu yang lalu dari sang bunda jika pria yang dicintainya itu benar-benar berjuang sangat keras untuk mendapatkan restu dari si adik bucinnya itu.


" Bukankah selama itu juga kak Hega sudah berusaha keras untuk meyakinkan kamu jika dia adalah pria terbaik untuk menjadi suami kakak ?! Dan yang lebih penting kakak sangat mencintainya, dan kakak tidak bisa jika harus berpisah dengannya. Kamu sendiri tahu kan bagaimana sakit dan terlukanya kakak beberapa bulan lalu karena harus berpisah darinya ?! Kakak tidak mau mengalami hal itu lagi. " Rasanya sangat sakit mengingat kembali perpisahannya dengan Hega. Suara Moza bahkan bergetar saat mengatakan kata 'berpisah'.


" Apa itu tidak cukup untuk membuatmu yakin jika Kak Hega akan bisa menjaga kakak dengan baik, dan membuat kakak akan benar-benar bahagia bersamanya ?! " Lanjutnya lagi seraya membelai lembut kepala sang adik.


" Tapi aku kan juga bisa menjaga kakak ?! " Ryuza masih belum rela melepas kakanya.

__ADS_1


" Fyuuh.... Kamu kan juga harus menikah suatu hari nanti, Dek. " Dengus Moza lirih.


" Aku akan tetap bahagia biarpun tanpa menikah, asal aku bisa terus menjaga dan membahagiakan kakak. Hanya kebahagiaan kakak lah yang paling penting untukku, aku tidak bisa menyerahkan kakak pada siapapun yang belum aku yakini seratus persen kompetensinya. "


Tapi pria seperti kak Hega kan tidak bisa dibandingkan dengan siapapun Ryu. Aaargh... Ingin rasanya aku meneriakkan kalimat itu.


Haish.... Memangnya anak keras kepala ini akan luluh begitu saja jika aku mengatakan hal itu ?


Moza kembali tersenyum menatap adik kesayangannya, " Ryu, Apa kamu tahu apa penyesalan terbesar dalam hidup kakak ? "


" Kakak tidak bisa melihat Kak Hyuza bahagia untuk dirinya sendiri. Selama hidupnya hanya kakak lah prioritas Kak Hyu. Baik itu waktu, kasih sayang dan semua perhatiannya hanya dia curahkan untuk kakak. Hingga mungkin Kak Hyu tidak pernah mengalami yang namanya jatuh cinta dalam hidupnya. " Moza menunduk lesu mengingat masa lalu yang menyakitkan, nada suaranya terdengar getir, kedua tanga nya kini berada di atas kakinya meremas ujung dress yang dikenakannya.


Moza memejamkan matanya, menahan sesak di dadanya, gadis itu kemudian menghela nafas dalam-dalam mencoba mengumpulkan kekuatan agar hatinya sanggup mengucapkan kelimat yang sudah tertahan di ujung lidahnya.


Moza memiringkan badannya kembali menatap lekat wajah adiknya, menangkup wajah tampan itu dengan kedua tangannya.


" Kakak tidak mau kamu seperti itu, sekarang kamu adalah anak lelaki satu-satunya keluarga Dama. Kamu satu-satunya harapan ayah dan bunda untuk meneruskan nama keluarga kita. Kamu harus menemukan kebahagiaanmu, belahan jiwamu. Setidaknya dengan begitu, akan sedikit mengurangi rasa bersalah kakak pada Kak Hyuza. Berbahagialah untuk dirimu sendiri Ryu, dan jika kebahagiaan kakak adalah hal terpenting untukmu seperti yang kamu katakan tadi, bisakan kamu mempercayai keputusan kakak untuk memilih Kak Hega menjadi suami kakak, hem ?! Maukah kamu merestui kami dan mendoakan kebahagiaan kami ?! " Pinta Moza dengan suara parau.


" Terima kasih adikku sayang. " Ucap Moza penuh syukur.


" Dan mulai lah memikirkan dirimu sendiri Ryu, masa depanmu dan kebahagiaanmu. Dengan begitu kebahagiaan kakak juga akan semakin sempurna. " Moza masih menatap lekat manik mata adiknya, bulir air mata nyaris lolos dari kelopak mata Moza, begitu juga dengan Ryu, kedua mata pemuda itu terlihat berkaca-kaca.


" Kaaak.... Aku menyayangimu, sangat sangat sangaaaat menyayangimu. " Ryuza merengkuh tubuh sang kakak dalam pelukannya. Air mata pemuda itu akhirnya tumpah sudah.


Moza membalas pelukan adiknya, mengelus lembut punggung dan kepala pemuda itu. " Eumm, kakak tahu. Kakak juga sangat menyayangimu. " Ujarnya sembari sesekali menepuk-nepuk pelan punggung Ryuza.


" Apa kakak akan mengacuhkanku jika kakak sudah menikah nanti ?! " Gerutu Ryuza di tengah tangis kecilnya.


Ryuza jadi teringat pada gurauan kakaknya beberapa bulan lalu saat mereka berada pada panggilan video ketika ulang tahun Moza.

__ADS_1


~ Flashback ~


( Selamat ulang tahun kak, semoga kakak cepat dapat pacar. ) ~ Ryuza ~


" Kamu akan menyesal jika kakak punya pacar, kakak akan mengabaikan tingkahmu yang manja itu. "


( Tidak, tidak. Aku tarik kembali doaku barusan. Pokoknya kalau kakak mengabaikanku karena seorang pria, maka akan kuhajar pria itu sampai tidak berani mendekati kakak. ) ~ Ryuza ~


~ Flashback End ~


Moza tersenyum gemas mendengar gerutuan adiknya, Moza kemudian melepaskan pelukannya, kembali menatap wajah tampan dengan mata yang basah dan memerah karena menangis.


" Eemmmmm..... Kalau kamu secengeng ini, mungkin kakak tidak hanya akan mengacuhkanmu, kakak akan mengabaikan semua sikap manjamu ini. " Goda Moza seraya menghapus air mata di pipi adiknya.


" Kaaaak..... " Ryuza malah merengek manja.


" Cup... cup...cup.... Jangan merengek lagi ! Mana mungkin kakak mengabaikan adik yang tampan, manja dan bandel ini. " Bujuk Moza masih membersihkan wajah adiknya yang basah.


" Selamanya kamu adalah Ryuza Arvana Dama, adik tampan dan manja yang paling kakak sayangi. " Ucapnya lagi, kali ini mencubit kedua pipi adiknya dan menariknya ke kanan dan ke kiri, kemudian mengelus pucuk kepala Ryuza penuh kasih sayang.


Pemuda itu terlihat tersenyum bahagia.


" Ayo kita masuk, dek ! Beri salam yang sopan pada kakek dan Om Arya, jangan bersikap kekanakan lagi seperti tadi ! Kamu datang sudah seperti petasan banting saja, tiba-tiba berteriak-teriak bikin heboh. " Seloroh Moza dengan nada menggoda seraya mengacak rambut adik kesayangannya itu. Dan keduanya kemudian tergelak bersama.


Di balik dinding tak jauh dari tempat dimana dua bersaudara itu tengan berbicara dari hati ke hati, Hega mengintip menyaksikan kehangatan kedua saudara itu. Terharu sekaligus nyeri di hatinya saat mendengar obrolan sang kekasih dengan calon adik iparnya itu.


Reflek Hega menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya. Ada sebersit rasa sesak disana.


" Arka, aku pasti akan membahagiakan adikmu. Aku tidak akan mengecewakanmu, aku akan selamanya mencintai dan menjaganya, menjadikannya wanita paling bahagia di dunia ini. Itu janjiku padamu. Tenang lah dan berbahagia lah di surga, cukup awasi saja aku dari sana ! "

__ADS_1


Gumam Hega lirih dan tersenyum ke arah gadis cantik yang sangat dia cintai itu, kemudian berbalik badan kembali ke ruang keluarga.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2