
AUTHOR
Hega masih memeluk kekasihnya dalam dekapannya dan membelai rambut panjang Moza yang terurai.
Seolah menemukan hobi baru yang membuatnya selalu merasa nyaman.
Nyatanya menghabiskan waktu bersama Moza selalu membuatnya merasa bahagia. Sekecil apapun ataupun seremeh apapun kegiatan yang mereka lakukan.
Seperti saat ini, di kamar berdua, mengobrol dari hati ke hati. Atau hanya sekedar menjahili Moza dengan segala tingkah laku anehnya yang tidak pernah diperlihatkan di hadapan siapapun.
Pemuda itu seolah benar-benar merasakan apa artinya kebahagiaan dalam hidup sejak dekat dengan gadis itu.
Hega masih asyik menikmati kegiatannya recehnya, sesekali memainkan jarinya di telinga Moza membuat kepala gadis itu bergerak-gerak kegelian.
Belum lagi jari kaki Hega yang melanjutkan aksinya sesuai ucapannya tadi, menggelitik kaki Moza dengan gemas.
Membuat gadis itu menghujani dirinya dengan cubitan-cubitan kecil di lengan dan perutnya.
Hingga setelah beberapa lama, Hega tidak lagi merasakan pergerakan dari tubuh Moza.
Terdengar suara nafas gadis itu mulai berhembus teratur.
Entah karena kelelahan setelah cukup lama menangis atau karena terlalu nyaman berada dalam pelukan kekasihnya.
Gadis cantik itu jatuh tertidur dengan lelapnya, sentuhan jari Hega yang masih sesekali bermain di telinga Moza sudah tak lagi membuat gadis itu mendengus kegelian.
Pertanda memang Moza benar-benar sudah memasuki alam mimpi yang membuatnya tak lagi terganggu dengan apapun ulah Hega.
Melihat kekasihnya sudah terlelap, Hega membaringkan tubuh mungil gadis itu di atas ranjang dengan nyaman.
Menyelimuti tubuh Moza kemudian merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadisnya.
" Tidurlah yang nyenyak, aku akan selalu ada bersamamu. Mulai saat ini dan seterusnya, bergantunglah padaku. Karena apapun akan aku lakukan dan aku berikan untuk kebahagiaanmu. Bukan hanya karena kamu adalah adik sahabatku, tapi lebih karena aku sangat mencintaimu. " Ucapnya kemudian mengecup kening gadis itu dengan penuh kasih sayang.
๐ป๐ป๐ป
Hega keluar dari kamar kekasihnya, menutup pintu dengan sangat perlahan agar tak mengganggu tidur gadis itu.
Kemudian turun ke lantai satu, setelah sebelumnya mengganti baju terlebih dulu di kamarnya.
Sepasang mata terus mengamati setiap pergerakan pemuda itu saat Hega sudah ada di lantai satu.
Mata gadis itu tak sedikitpun berkedip saat menangkap sosok tampan yang sudah berganti baju dengan kaos santai dan celana pendek selutut.
Ya, gadis itu adalah Alina Setyawan, gadis yang hampir tiga tahun ini menyukai Hega dan mengejar-ngejar pemuda itu kemanapun pria pujaannya itu pergi.
Bahkan gadis itu rela menghabiskan waktu, tenaga dan uang hanya untuk bertemu Hega di LA saat pemuda incarannya itu masih kuliah disana.
Juga karena obsesinya pada pemuda itu, Alina menjadi tidak fokus pada pendidikannya. Dan membuat kuliahnya terbengkalai.
Dan saat Alina tahu jika kakak sepupunya Aliza akan menghabiskan libur tahun baru bersama kekasihnya, Bara Prasetya.
Alina merengek pada Aliza agar mengajaknya serta dalam liburannya, dengan harapan bisa mempertemukan dirinya dengan pria yang disukainya.
Karena memang sudah jadi kebiasaan sejak dulu, dimana ada Bara, maka kemungkinan besar disana juga akan ada Hega.
Dan Alina menjadikan ini sebagai kesempatan untuk mendekati pemuda itu.
Hega hendak duduk di sofa ruang tengah, dimana Julian dan Dimas tengah berada di atas karpet dan masih asyik menatap layar besar di hadapan mereka serta memainkan game Playstation yang sudah hampir tiga jam mereka mainkan seolah tak merasa bosan.
__ADS_1
Sebelum itu menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral dari dalam lemari es.
Tak menghiraukan keberadaan Alina yang tengah duduk bersama Selena dan Gita yang adalah teman di kampus sekaligus di pergaulan sosialitanya.
" Tuan Muda membutuhkan sesuatu ? " Tanya Bu As saat melihat majikannya itu ada di dapur.
" Tidak, saya hanya mengambil air minum. Ibu lanjutkan saja pekerjaannya. " Jawab pemuda itu sopan sembari mengangkat botol air mineral yang sudah digenggamnya.
Begitulah Hega, tahu bagaimana bersikap pada orang yang lebih tua darinya meskipun mereka adalah orang-orang yang bekerja untuknya.
Selama orang-orang itu memang layak untuk mendapatkan simpati dan kesopanan dari dirinya.
" Ah... Bu Astuti. " Hega berbalik badan mengingat sesuatu.
" Nanti tolong bu As bawakan secangkir coklat hangat untuk gadis yang ada di sebelah kamar saya. Tentu saja kalau dia sudah terbangun. " Lanjutnya lagi.
Bu Astuti mengangguk paham perintah dari majikannya. Dan tentu saja wanita paruh baya itu tahu siapa gadis itu.
Sebelum kedatangan mereka di Villa, Hega sudah mengabarkan pada Bu Astuti dan Pak Ahmadi jika tunangannya akan menghabiskan libur tahun baru di tempat itu.
Meskipun Bu As belum pernah bertemu dengan tunangan majikannya atau sekedar mendengar namanya.
Dari sikap pemuda itu bu As langsung mengenali siapa gadis yang akan menjadi istri majikan mudanya itu.
" Siapa yang tidur Ga ?! " Sambar Bara yang juga sudah ada di dapur hendak mengambil air.
Bukan Hega namanya jika tidak bisa membuat Bara kesal dengan keacuhannya.
Pemuda itu malah melenggang cuek menuju sofa, Dimas sudah hendak beranjak dari karpet yang sudah didudukinya selama hampir tiga jam itu.
" Mau kemana lo dek ?! " Tanya Bara pada Dimas yang sudah berjalan menuju tangga ke laintai dua.
" Mandi Bang. " Jawab Dimas kemudian berlalu.
Masih mengacuhkan pertanyaan Bara.
" Nih bos sama asistennya mendadak gaguk kali ya, ditanya diem bae. " Omel Bara kesal.
" Bentar bang, capek nih pinggang gue kaku dari tadi ngesot di lantai. " Oceh Julian membela diri yang dibalas decakan malas dari Bara.
Julian meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, bersandar di sofa dan kaki panjangnya selonjor menjuntai lurus.
Kemudian melirik ke arah boss nya yang sedang memainkan ponselnya,
" Momo mana bang ? "
" Tidur. " Jawab pemuda itu singkat.
" Diiih.... Hampir dua jam dikamar berduaan tuh anak sampai ketiduran, bang Hega habis ngapain Momo si ๐๐๐ ? "
Ucapan Julian membuat Hega mau tak mau menghentikan aktifitasnya.
Bruk
Sebuah bantal sofa melayang dan jatuh tepat di wajah kusut Julian yang tetap tak membuat ketampanan pemuda itu memudar.
" Galak amat si boss, udah gue bantuin juga. Cih..." Omel Julian kesal.
Obrolan antara boss dan asistennya itu membuat Bara melongo penasaran.
__ADS_1
" Ekhem.... Jadi lo dua jam gak kelihatan bukannya istirahat tapi lagi ehem sama si cantik Ga ?! "
Sebuah bantal kedua baru akan melayang ke arah Bara, tapi diurungkannya.
Percuma meladeni dua pria sinting yang sama-sama berjenis buaya itu pikirnya.
" Apa yang kamu katakan pada Deana ? " Ganti Hega yang mengajukan pertanyaan pada Julian, Bara masih menatap bingung pada kedua pria itu.
" Gue bilang Momo tidur, yah syukurlah berarti gue gak boong lah orang tuh anak tidur beneran hehehe.... " Cengir Julian seolah bangga pada kebohongannya yang ternyata berubah menjadi kenyataan.
" Em. "
Dih, bilang makasih kek ? Em doang ?
" Jadi lo ngapain aja berduaan di kamar sama Momo selama dua jam. " Tanya Bara meledek sahabatnya, kedua alisnya naik turun jahil.
" Iya bang, gue juga penasaran. Sehebat apa bang Hega sampai si Momo ketiduran Hahaha... ? " Julian dan Bara benar-benar menjadi duo gila dan menyebalkan jika sudah membahas masalah percintaan.
" Cih... Jangan samakan saya dengan otak kotor para buaya macam kalian berdua. " Dengus Hega sinis mengaktifkan mode serius pada ekspresi dan gaya bicaranya.
Bara dan Julian terkikik mendengar jawaban sinis pemuda itu.
Bara sendiri tahu betul kehidupan pribadi sahabatnya itu yang terbilang bersih, terutama dalam hal percintaan. Hega hanyalah sosok pria polos yang memang belum punya pengalaman dengan wanita.
Tapi bukankah semua pria itu sama saja ?
Mungkin selama ini tidak ada noda hitam dalam catatan percintaan Hega, toh memang belum ada wanita yang bisa membuat pemuda itu jatuh cinta ataupun hanya sekedar tertarik semata.
Tapi sekarang kan sudah beda cerita, pangeran beruang kutub itu sudah menemukan tambatan hatinya.
Yang bisa merubah sosok pria dingin dan kaku itu menjadi semanis dan selembut kucing anggora.
Mengingat kejadian di rumah sakit saja sudah membuat Bara geleng-geleng kepala.
Sababatnya yang selama ini tidak pernah menggubris makhluk bernama wanita, sekalinya jatuh cinta membuat pemuda itu seolah berubah menjadi pribadi yang sangat berbeda.
Terutama jika sedang bersama kekasih hatinya.
Jadi apa jaminannya jika seorang Hega tidak akan menorehkan berbagai warna dalam kisah cinta pertamanya ?!
Tidak mungkin kan kisah cinta pemuda itu akan terus seputih salju selamanya ?!
Hega kan juga manusia biasa, lelaki normal yang punya hasrat dalam dirinya.
" Sekuat-kuatnya lo Ga, gue gak yakin lo bisa menahan diri terlalu lama. Kecuali kalau lo gak normal. Hehehe... " Ejek Bara tak lupa seringai jahilnya.
Julian mendadak jadi asisten durhaka yang ikut mentertawakan boss galaknya.
๐ค๐๐งก๐โค๐๐
Apakah Hega akan diam saja mendengar bullyan kedua buaya itu ?
Hega : Bukan gue kalau gak bisa balas mereka ๐
Me : Jan sadis2 jadi boss babang Hega, kita gak boleh jadi orang pendendam.
Hega : Cih... Lu juga kan yang bikin skenario nya thorr..
Me : ๐๐๐
__ADS_1
Hega : Lu yang nulis gue yang dikata sadis...Dasar syetan lu ๐
Me : ๐ญ๐ญ๐ญ