
AUTHOR
Persiapan makan malam hari terakhir liburan di villa sudah hampir selesai, semua makanan telah siap didapur. Para gadis tengah membantu bu Ratna membawa makanan dan menatanya di meja makan yang sudah disiapkan di taman.
Dimas dan Julian menyalakan kembali perapian di taman, Bara membawa beberapa kembang api dari dalam mobil.
Hega baru saja menuruni anak tangga saat melihat seorang gadis tengah kesulitan membuka pintu villa sambil membawa dua piring berisi potongan buah di kedua tangannya.
Tanpa bicara sepatah katapun, pemuda itu mengambil alih salah satu piring dari tangan gadis itu, membuat gadis itu terhenyak sesaat. Hega lalu membuka pintu dan berjalan menuju ke tengah taman, diikuti langkah kaki gadis disampingnya. Kemudian meletakkan piring disalah satu sudut meja.
Beberapa pasang mata tengah memperhatikan dua orang yang berjalan beriringan dalam diam dengan membawa barang yang sama di tangannya. Tampak seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar dan tak saling bicara.
Deana mulai membaca ekspresi sang sahabat yang tampak tegang, mengingat kembali kecurigaannya atas sikap sang teman yang tidak seperti biasanya. Perubahan sikap yang hanya terlihat jika gadis itu sedang terlibat dengan sosok pria tampan itu. Deana bertekad jika malam ini ia akan mengorek lebih dalam isi hati gadis itu.
Sedangkan Bara tidak kalah terkejut melihat pemandangan dihadapannya, tersirat kesenangn tersendiri melihat wajah datar temannya yang seolah menahan diri untuk bersikap biasa saja, padahal dia tahu jika pemuda itu sedang berusaha keras mengontrol ekspresinya.
Dalam hati Bara merasakan kelegaan mengetahui jika saat ini mungkin telah muncul sosok perempuan yang sepertinya mampu meluluhkan dinding es yang dibangun selama bertahun-tahun dalam hati sahabatnya itu.
Sudut yang tak pernah bisa tersentuh oleh perempuan manapun, perlahan tapi pasti Bara tahu jika tanpa disadari sang sahabat mulai membuka dirinya pada perempuan disampingnya.
Tinggal menunggu waktu kapan pemuda itu akan mengakuinya. Yang pasti bukan hal yang mudah untuk membuat pria yang selama ini seolah anti wanita untuk mengakui bahwa dirinya telah jatuh cinta pada makhluk bernama "perempuan" yang selama ini dihindarinya.
Rasanya mulut Bara gatal ingin sekali menggoda sahabatnya itu. Jika saja pria dihadapannya itu tidak sedang melotot tajam kearahnya, mungkin Bara akan dengan senang hati melayangkan kalimat-kalimat yang akan membuat Hega terbakar kekesalan.
🍒🍒🍒
HEGA
Saat menuruni anak tangga kulihat dia tengah kesulitan membuka pintu karena membawa dua piring berisi buah potong di kedua tangannya.
Sejenak kuhirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya perlahan, mengatur nafasku kemudian mendekatinya. Mengambil salah satu piring dari tangannya, tanpa sengaja jariku menyentuh jarinya.
Deg deg.... Ehm jantungku tersayang plis jangan berulah sekarang....
__ADS_1
Ternyata mengatur nafas tak berpengaruh pada jantungku, nih organ tubuh yang satu ini tetap bertindak semaunya tanpa bisa dikontrol.
Tanpa sepatah katapun aku berjalan menuju meja di tengah taman, sengaja melangkahkan kaki perlahan diikuti langkah kecil gadis mungil menggemaskan disampingku.
Ughh..... apalagi ini.... 'mungil menggemaskan'..... apa aku mulai gila...
Kulihat Bara sekilas dengan senyum jahilnya menatap kearahku, kubalas menatapnya tajam sebelum bocah itu mengeluarkan kata-kata menyebalkan dari mulutnya.
Kuletakkan piring di tanganku di atas meja, menarik sebuah kursi dan mendaratkan diriku disana. Sedangkan gadis itu tampak kembali kedalam villa setelah meletakkan piring yang dibawanya.
🍒🍒🍒
AUTHOR
Selepas sholat Isya, makan malam dimulai dengan diselingi obrolan-obrolan ringan seputar kegiatan sehari-hari mereka, ataupun rencana liburan semester yang akan segera datang.
Setelah makan malam selesai semua hidangan berat di meja makan telah berganti menjadi beberapa camilan ringan, seperti kentang goreng, pisang bakar, buah-buahan dan beberapa makanan ringan lainnya serta minuman hangat dan juga beberapa kaleng minuman bersoda.
Bara tampak mengeluarkan beberapa kotak kembang api, dibantu Julian menyalakannya untuk memeriahkan suasana malam terakhir mereka di villa. Kemudian keempat dara cantik yang sedari tadi duduk manis menikmati camilan di atas meja perlahan beranjak dari kursinya, terlihat antusias mengikuti dua pria itu memainkan kembang api.
Tapi dengan bijaksana memilih menyimpannya sendiri dalam-dalam demi bisa memperbaiki hubungan persahabatan mereka yang sempat renggang.
Sedangkan Hega dengan tenang dan santai duduk di kursinya, menyesap perlahan secangkir kopi ditangannya sambil menikmati suasana kegembiraan yang tengah berlangsung dan sesekali menatap langit malam.
Dilihatnya rona bahagia di wajah gadis yang selalu diamatinya beberapa hari ini. Wajah yang selalu tampak canggung ketika berhadapan dengannya, saat ini terlihat senyum dan tawa yang begitu bebas tanpa tekanan.
Apa aku sebegitu menyebalkan hingga kamu selalu memasang wajah kesal setiap bertemu denganku ? Apa aku bisa melihat lagi senyuman dan tawa riang itu untukku, seperti saat pertemuan kita yang tak disengaja waktu itu. Pagi itu, ketika kita tersenyum dan tertawa ringan bersama. Batin Hega.
Hega memperhatikan wajah ceria gadis itu, tanpa sadar ikut menaikkan sudut bibirnya. Bahagia, mungkin itulah yang dirasakannya saat ini. Rasa yang sudah lama tak dia rasakan, hingga dia hampir terlupa bagaimana rasanya.
" Ehehm..... " tampak Bara mencoba menyadarkan lamunan sabahatnya, kemudian duduk disamping pemuda itu.
" Kalo lo liatnya sampe segitunya, lo harus siap-siap jika ada yang salting. " lanjutnya sambil tersenyum kemudian menyesap kopi miliknya.
__ADS_1
" Emang gue liat apa ? " Hega mencoba mengelak.
" Yah.... mana gue tahu apa yang lo liat sampe senyum gitu..."
" Yang jelas gak mungkin kan lo liatin Julian atau Dimas. " lanjut Bara menggoda.
" Pft... " membuat sahabatnya hampir tersedak kopi yang diminumnya.
" Gue masih normal Bar. " celetuknya kesal.
" Mana gue tahu lo normal apa gak, selama ini mana ada lo mau deket sama perempuan, jangankan deket, dicolek aja ogah. Makanya gue berusaha punya banyak cewek, buat apa coba ? " kata Bara panjang lebar.
" ". Hega hanya mengernyitkan dahinya tanda tak memahami maksud sahabatnya.
" Ya buat apa lagi, biar gue gak disangka pasangan gay lo lah. hahahahha...... " jawab Bara ngasal.
" Sialan lo, itu mah emang lo aja yang playboy. " jawab Hega kesal.
" Makanya cari pacar sana, lo cari model perempuan seperti apa sih ? " lanjut Bara.
" Yang bikin hati gue adem. " ucap pemuda itu tanpa sadar sambil melirik sekilas kearah gadis yang tengah asyik bermain kembang api.
" Ekhem... ekhem..... pengen adem masukin aja hati lo ke kulkas Ga. " cerca Bara menggoda saat mendapati kemana arah bola mata sahabatnya berada.
" Sialan lo. "
☘☘☘
☘☘☘☘
^^ Saat ini aku tak tahu perasaan apa ini pastinya. Hanya cukup bagiku melihatmu tersenyum dan tertawa. Aku tak akan sanggup melihat ada kesedihan dan air mata karena aku belum mampu berada disisimu untuk menghapusnya. ^^ ( Sherinanta )
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘🎶