Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kumau Dia


__ADS_3

AUTHOR


Seketika semua mata menatap Bara dengan ekspresi yang berbeda.


Maksudnya apa coba hubungannya suara merdu dengan kamar ?


" Maksud gue di kamar mandi, mandi sambil nyanyi gitu. Bayangan kalian pada kemana-mana ya ?! Ayo ngaku ! " Lanjut Bara jahil.


Para gadis itu jelas murni bingung dan tak memahami maksud Bara sebenarnya, dahi mereka tampak berkerut menunjukkan wajah polos penasaran mereka.


Sedangkan semua pria yang ada disana termasuk Hega sekalipun pasti mengerti maksud yang sesungguhnya dari candaan receh ala buaya macam Bara itu.


" Ayo satu lagu lah ! Momo satu lagu, Dea satu lagu. " Pinta Bara lagi malah ngelunjak dan cengengesan.


Moza dan Deana masih membisu, menatap acuh pada pria yang masih kekeh meminta merrka bernyanyi, mereka sama-sama tidak dalam mood untuk melakukan permintaan Bara.


" Atau Amira duluan. " Amira menggeleng dan menolak tegas.


" Nanti Amira malah khosidahan bang. Kasihan ntar setan di badan abang pada kepanasan. " Lanjut Amira cuek setelah menggelengkan kepalanya.


Disambut tawa membahana yang tentu saja mentertawakan Bara.


" Cih, dikira gue sarang setan apa. " Bara bedecak dan menatap kesal pada gadis-gadis itu, kemudian matanya berhenti pada sosok Renata.


" Rena cantik deh nyanyi ya, abang yang main gitar. " Merayu Renata yang memang paling mudah untuk dibujuk daripada ketiga sahabatnya.


" TIDAAAAKKKKK. " Serempak Amira, Deana dan Julian berteriak kompak.


" Eh... " Baru saja Rena hendak mengangguk malah dikejutkan oleh penolakan kompak dari sahabat-sahabtanya.


" Pfft.... " Moza hanya diam menahan tawa melihat ekspresi ketiga sahabatnya.


" Segitu gak enaknya ya suara gue. " Ucap Renata memelas, bibirnya mengerucut lucu.


" YUP. " Lagi-lagi Amira, Deana dan Julian kompak menjawab disertai anggukan kepala beberapa kali memantapkan jawaban mereka.


" Kalian jahat banget sama gue, cih... Bohong sesekali napa coba, jujur amat ngatain suara gue gak enak. "


Tubuh Renata beringsut lemah di kursinya, Moza menepuk pelan punggung Renata tertunduk lesu menjatuhkan kepalanya di atas meja.


" Pada gak seru nih pada. Ya udah gue aja yang nyanyi kalau gitu. " Omel Bara kesal.


Bara yang sedang asyik menggerutu tak menyadari seseorang mendekat ke arahnya dan menyambar gitar di tangannya.


Pemuda itu kemudian duduk di salah satu kursi panjang di dekat meja Moza dan kawan-kawannya.


Heh... Gue gak salah lihat apa ? Beneran nih beruang kutub mau nyanyi ? Ehh... Kayaknya lagi 'kucing anggora mode on' nih.... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Bara kemudian duduk mendekati kekasihnya Aliza yang ada di sisi kolam yang lainnya.


Semua mata tampak menunggu-nunggu penampilan bermusik seorang Hega Airsyana.


Hega menyilangkan kakinya dan memangku gitar berwarna coklat muda.


Sebelum mulai memainkan alat musik di tangannya, diam-diam menatap sekilas gadis yang duduk tak jauh darinya.


Setelah beberapa saat hening, mulai terdengar lantunan irama yang mengalun dari petikan senar gitar yang dimainkan pemuda itu.


๐ŸŽธ ๐ŸŽถ ๐ŸŽต ๐ŸŽถ ๐ŸŽถ ๐ŸŽต ๐ŸŽธ


Kuharap semua ini bukan sekedar harapan


Dan juga harapan ini bukan sekedar khayalan


Biarkan kumenjaganya sampai berkerut dan putih rambutnya


Jadi saksi cintaku padanya

__ADS_1


'Tak main-main hatiku


Apapun rintangannya kuingin bersama dia


Semua orang terpana saat mendengar suara setiap lirik lagu Kumau Dia milik Andmesh itu dilantunkan dengan begitu merdu oleh pemuda yang selama ini dikenal dingin dan kaku itu.


Rasanya tidak mungkin pria secuek Hega bisa menunjukkan sisi lembut dan romantis seperti itu.


Hega menatap lagi ke arah kekasihnya, kemudian melanjutkan nyanyiannya.


Kumau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Biarkan ku menjaganya sampai berkerut


Dan putih rambutnya jadi saksi cintaku padanya


'Tak main-main hatiku


Apa pun rintangannya 'ku ingin bersama dia


Suara Hega yang terdengar sangat menjiwai setiap liriknya benar-benar menyihir telinga siapapun yang mendengar nyanyiannya.


Dan tentu saja Moza seolah merasakan getaran cinta yang ditujukan pemuda itu padanya dalam setiap tatapan mata mereka yang saling bertemu.


Gadis manis itu merona setiap kali Hega mencuri pandang ke arahnya, tidak semua orang menyadarinya karena terlalu terhanyut pada permainan musik dan suara pemuda tampan itu.


Beberapa diantara mereka ikut melantunkan syair lagu itu, ada yang hanya menggerakkan kepala atau badannya ke kanan dan ke kiri menikmati lantunan musiknya.


Kumau dia, 'tak mau yang lain


Hanya dia yang s'lalu ada kala susah dan senangku


Kumau dia, walau banyak perbedaan


Kuingin dia bahagia hanyalah denganku


Tapi kucinta dia (yang kucinta hanya dia)


Kumau dia (yang kumau hanya dia)


Kumau dia


Dan hanyalah dia


Semuanya benar-benar dibuat terkesima oleh penampilan Hega, hingga tak menyadari jika pemuda itu bahkan sudah selesai dengan permainan gitarnya.


[ Tapi mereka bukannya ketiduran ya, emangnya dikira Babang Hega nyanyikan nina bobo apa ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ ]


Hingga suara tepuk tangan seseorang menyadarkan mereka yang seolah tersihir oleh suara merdu pemuda itu.


Bahkan setiap liriknya terdengar penuh penghayatan dan seolah memang mendengar nyanyian seseorang yang sedang jatuh cinta.


Prok prok prok......


" Yeyyyy..... Suara abang bagus banget, udah ganteng, kaya, suaranya merdu. Seneng banget yang jadi pacar abang pasti ya, setiap hari dinyanyiin lagu romantis yang bikin baper. " Teriakan antusias Viola yang tanpa malu sama sekali mengembalikan kesadaran mereka sepenuhnya.


Dan tentu saja tepuk tangan tadi juga adalah dari gadis mungil yang level ngablak nya sudah melewati level ngablak akut milik Renata.


Deana yang sempat menangkap tatapan mata antara pemuda itu dengan sahabatnya membuatnya sedikit gelisah.


Tapi Deana sedang tak mau membahasnya, takut malah akan merusak suasana.

__ADS_1


Di sudut lain seseorang juga semakin menaruh curiga pada hubungan antara kedua orang itu.


Kenapa Kak Hega selalu menatap cewek itu dengan pandangan yang lembut begitu si ? Ada apa dengan mereka berdua sebenarnya ? ~ Alina ~


Dan malam panjangpun terasa berjalan cepat dengan canda tawa dan nyanyian sumbang Renata.


Hingga satu per satu memutuskan meninggalkan acara kumpul-kumpul yang tidak jelas bahasannya itu.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


~ Keesokan Harinya ~


Seperti biasa selepas sholat subuh, Hega akan melakukan rutinitas paginya.


Tidak peduli dimanapun dia berada, olah raga pagi sudah menjadi kebiasaan yang wajib dilalukaannya.


Memakai kaos biru dengan celana hitam selutut, sepatu olahraga dan tak lupa botol air mineral di tangannya.


Suasana Villa masih sepi dan tenang, menandakan belum ada aktifitas apapun di sana.


Pukul 05.30 pemuda itu keluar kamar dan berhenti di depan kamar yang ada di samping kamarnya.


Tidak ada tanda-tanda suara apapun dari dalam sana, Hega mengira gadisnya pasti masih terlelap di mimpinya.


Diputuskannya turun tanpa mengganggu gadis itu karena semalam Moza mengalami insomnia seperti biasanya dan baru terlelap jam satu dini hari.


Itupun dengan jurus jitu Hega yang berhasil membuat gadisnya terlelap lebih awal, karena sebelum-sebelumnya mungkin Moza minimal baru akan tidur pukul 3 pagi.


Saat pemanasan sebelum lari pagi ke area perkebunan, dilihatnya seorang gadis yang dikenalnya sedang duduk bersandar di kursi panjang yang ada di pinggir kolam renang.


Melihat piyama beruangnya yang sudah tergantikan kaos polos dan celana training panjang.


Hega pikir mungkin gadis itu juga berniat untuk olah raga pagi.


Didekatinya perlahan kursi tempat Moza duduk bersandar, namun kulihat tak ada respon sama sekali dari gadis itu.


Apa langkah kakiku tidak terdengar ?!


Ternyata dugaannya salah saat dilihatnya sebuah kabel putih panjang tengah tergantung diantara rambut panjangnya yang tergerai.


Pantas saja tidak sadar ada orang datang, pakai headset ternyata. Dan sepertinya dia tertidur.


Hega mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di samping kursi Moza, duduk menghadap gadis itu sehingga tatapannya tepat mengarah pada kedua mata kekasihnya yang sedang terpejam.


Hega sedang menikmati wajah cantik kekasihnya di pagi hari, benar-benar pagi yang indah.


Jarinya tanpa sadar menyentuh pipi gadis itu, merapikan anak rambut Moza yang berantakan tertiup angin.


Aaahhh aku sudah tidak sabar menunggu waktu dimana aku bisa melihat wajah ini setiap pagi, lebih tepatnya setiap aku terbagun diatas tempat tidur.


Pikiran Hega sudah melayang-layang entah kemana.


Dan tak lama dilihatnya bola mata bulat itu terbuka perlahan, kemudian mengerjap beberapa kali.


" Arrrggghh.... "


๐Ÿ–ค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ–ค๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿ’™โค


Hega : Kenapa tiap lihat wajah cantiknya gue kepikiran kasur ya thor ?


Me : Ya kali ja wajah calon bini lu mirip kasur ๐Ÿ˜‘


Hega : Enak aja wajah cantik gitu dibilang mirip kasur ๐Ÿ˜ค


Me : Otak lu kali yang mirip kasur, ngeres karena jarang dibersihin. ๐Ÿ˜


Harusnya tadi Amira aja yang nyanyi khosidahan biar syetan di otak lu minggat... Hush... hush...

__ADS_1


Hega : Syetan ngatain Syetan lu...


Me : ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ


__ADS_2